
Sebenarnya bukan lingerie sexi yang seperti Dira pernah kenakan untuk menggoda Elang,namun yang Lyra pakai hanya gaun tidur sedikit diatas lutut dengan bagian atas yang sedikit terbuka dan memperlihatkan sebagian belahan dadanya.
Namun,dipandang dengan tatapan yang entahlah seperti itu dari Dewa membuat Lyra merasa bingung sendiri.
"A-aku akan menggantinya" ucap Lyra gugup, kemudian menyambar outernya yang tersampir pada kursi riasnya.
Segera Lyra keluar dari kamar dengan membawa gelas kosong milik Dewa,dengan degupan jantung yang begitu hebat.
Dia pernah menjadi wanita penggoda, namun kenapa begitu sulit untuk menggoda suami sendiri? apa kah mencari sebuah kebaikan memang begitu sulit?.
Lyra mencuci gelas itu,kemudian menempatkannya pada tempat gelas dan mengambil yang baru.
Ia kemudian mengisinya dengan air hangat dari dispenser.
Tiba saat nya untuk kembali kekamar,dan terasa debaran jantungnya kembali berdegup kencang.
Cklek...
Dewa sedang duduk diatas ranjang dangan bersandar pada kepala ranjang,tidak lupa sebuah laptop menyala berada dipangkuannya.
Lyra berjalan mendekat,kemudian meletakan gelas itu diatas nakas disamping Dewa.
"Sudah makan malam?" tanya Lyra mencoba membuka percakapan.
"Hm" Dewa menjawabnya dengan mengangguk sambil masih fokus dengan laptopnya.
Lyra kemudian berjalan memutari ranjangnya,dan membaringkan tubuhnya disisi lain ranjang tersebut.
Dan tidak lupa,sebelum berbaring Lyra terlebih dulu membuka kembali outernya.
Ia kemudian menutup tubuhnya dengan selimut hingga batas dada,lalu memiringkan tubuhnya memunggungi Dewa yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ada perasan kecewa terselip dihati Lyra.Karna sikap Dewa yang begitu dingin terhadapnya.
Apalagi lelaki itu bahkan sama sekali tak memandangnya,bagai mana bisa Lyra menggodanya?.
Lyra hanya bisa menghela nafas kemudian segera berusaha untuk menutup matanya walau itu sulit, karna misinya telah gagal.
Ia harus bertanya lebih rinci pada Dira lagi. bagai mana caranya agar suami bisa memberikan cintanya.
Tapi mungkin Dira akan menertawakannya karna Lyra yang bahkan hanya menggoda suaminya sendiri saja tidak bisa.
Ah,sudah lah lebih baik Lyra segera tidur dan besok memikirkan cara yang lainnya.
Padahal,tanpa Lyra sadari sebenarnya Dewa sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut.
Hanya saja,saat Lyra terlihat melihat kearah Dewa,maka pria itu akan segera beralih pada laptopnya.
Dewa kemudian menaruh benda persegi itu diatas nakasnya dan meminum air hangat yang Lyra bawakan tadi.
"Sudah tidur?" suara Dewa melihat tubuh Lyra yang memunggunginya dan terlihat bahu putihnya yang terbuka.
__ADS_1
Lyra tak berani bersuara,padahal dia sama sekali belum tidur.
Sebuah tangan melingkari tubuh Lyra,Dewa memeluknya dari belakang.
Dan Lyra dapat merasakan sebuah kecupan pada bahunya yang terbuka.
"Kau sudah siap?" tanya Dewa karna ia yakin jika Lyra hanya berpura-pura tidur.
Lyra membuka matanya,kemudian memutar tubuhnya hingga menghadap Dewa.
"M-maksud mu?" tanya Lyra yang masih merasa bingung dengan pertanyaan Dewa.
Dewa mengulas senyum pada wajah tampannya,dan itu semakin membuat Lyra tak berdaya.
"Sudah lama aku menunggumu hingga siap" ucap Dewa mengusap bibir tipis Lyra dengan ibu jarinya.
Sebuah tanda tanya besar muncul dalam benak Lyra,apa maksud dari ucapan Dewa? begitu lama bagi Lyra untuk mengerti setiap kata yang Dewa ucapkan.
Sebuah kecupan Dewa berikan untuk Lyra. Bermaksud membuka pikiran Lyra yang masih meloading maksud Dewa tadi.
Ah,senyuman manis itu lagi. Baiklah Lyra benar-benar merasa tersanjung kali ini.
Ia merasa senang karna pada akhirnya Dewa bersedia membuka pintu hatinya untuk Lyra, walau belum sepenuhnya namun Lyra percaya, jika Dewa akan jatuh cinta padanya.
***
"Jadi,benar kau tidak mengijinkannya?" ucap Dira manja yang masih ada dipelukan Elang.
Ini sudah pagi,dan Dira sudah mulai berulah kembali.
Merasa kemarin ia belum selesai bicara dan Elang yang langsung pergi saat dering ponsel nya berbunyi.
Padahal waktu itu Elang sudah membaringkan Dira diatas ranjang,namun saat tiba waktunya untuk mengeksekusi ternyata ponsel sialan Elang berbunyi dan membuyarkan semua.
Elang langsung pergi saat itu karna ada koki di restorannya yang membuat masalah,dan saat Elang pulang semalam ternyata Dira sudah nyenyak dalam tidurnya.
"Syang...boleh ya,janji deh nggak akan capek kan yang ngurusin semuanya Lyra" Dira mengacungkan kedua jarinya sebagai tanda janji.
Elang memijit pangkal hidungnya yang terasa pening,tak tau lagi bagai mana cara untuk menolak keinginan istrinya itu.
"Syang" panggil Dira kembali,dan kini dua kali lebih manja dari sebelumnya.
"Hm?" jawab Elang hanya dengan gumaman.
"Ish..." Dira mendengus " Kamu saja yang seorang Chef bisa juga mengurus perusahaan,kenapa tidak memberiku kesempatan juga?"
Elang sedikit melirik kearah Dira yang masih mendusel pada dadanya "Memang dulu kau pernah kuliah dijurusan bisnis?" tanya Elang.
Dira mendongak,mencari wajah suaminya yang ternyata tetap tampan saat baru bangun tidur. Ia kemudian menggeleng tanda bahwa ia memang tak pernah kuliah bidang bisnis. "Memang dulu kau juga kuliah di bisnis?" tanya Dira merasa sedikit kaget.
Elang tak menjawab,dan Dira mengerti arti keterdiaman Elang berarti ia pernah melakukannya.
__ADS_1
Wah...ternyata selain tampan,jago memasak ternyata Elang juga seorang pembisnis, Dira jadi merasa semakin beruntung menjadi istri dari seorang Erlangga.
Hanya satu kekurangan Elang,yaitu menjaga mulutnya untuk tidak mengeluarkan kalimat pedas.
"Memangnya,kau pikir masa muda ku hanya ku lakukan untuk main-main seperti yang kamu lakukan?" Elang mencapit hidung Dira dan membuat wanita itu meringis.
"Memangnya siapa yang main-main" gerutu Dira mengelus hidungnya yang tampak memerah.
Elang kemudian beranjak dari tidurnya,saat Dira melepaskan pelukannya.
Dira mengikuti langkah Elang,dan tanpa sadar ternyata Elang berjalan menuju kamar mandi.
"Mau mandi bersama?" goda Elang dengan kerlingannya karna melihat Dira yang masih membuntutinya.
Dira mendongak,dan baru saja sadar ternyata kini mereka sudah berada didepan kamar mandi.
"Tidak" jawab Dira cepat kemudian memutar tubuhnya dan berjalan kembali menuju ranjangnya.
Masih terlalu pagi bagi Dira untuk mandi,jadi ia memutuskan untuk kembali tidur.
Elang sudah tampak segar setelah menyelesaikan acara mandinya,ia melihat Dira ternyata tengah meringkuk diatas ranjang.
"Aku ada rapat pagi ini," Elang berjalan mendekat karna tak ada sahutan dari Dira. "Sayang" panggil Elang.
Dira tak menjawab dan tetap pada posisinya memunggungi Elang.
Sebuah kecupan mendarat dipipi Dira,namun kemudian Dira mengusap pipinya sendiri yang tadi dicium oleh Elang.
"Marah?" tanya Elang dengan sebelah alisnya yang tertarik keatas.
Dira tetap diam,kemudian menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
"Hei!" Elang menghentikan tangan Dira yang memegangi selimutnya.
"Pergi sana! memang pekerjaan mu itu yang lebih penting!" Seru Dira.
Elang menghela nafasnya,kemudian duduk disamping Dira dan mengusap punggung wanita yang tengah hamil itu.
"Sebentar lagi mau jadi ibu lho... kenapa jadi suka marah-marah,hm?" suara Elang melembut untuk meredakan emosi bumil dihadapannya.
Elang memang harus lebih bersabar lagi untuk menghadapi emosi Dira.
"Ya abisnya,kamu cuma bilang iya aja susahnya pakai banget" Dira mengerucutkan bibirnya.
"Oke,aku ijinin,tapi janji ya kalau tidak berhasil kamu jangan kecewa" Elang memberi nasehat.
"Ish...belum juga dimulai,kamu doain nya yang jelek-jelek" Dira ngambek.
Elang terkekeh,kemudian menarik tubuh Dira kedalam pelukannya.
"Jangan marah-marah,jadi tambah jelek" ejeknya kemudian mendapat tabokan diperutnya dari Dira.
__ADS_1