
"Jadi,ada apa antara kau dan kak Bayu?" Setelah Dira menceritakan panjang lebar tentang kisahnya,kini dia berbalik bertanya pada Desi.
Tanpa disangka wajah Desi berubah memerah "Bagai mana kau tau?" tanya Desi.
"Tuh kan??? wajah mu sampai memerah seperti itu,beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengannya" goda Dira.
Desi membelalakan matanya nyaris tak percaya dengan ucapan Dira,dia tau Bayu adalah orang sibuk,bahkan walau kini mereka sudah bertunangan,dia sangat sulit untuk bertemu dengan pria itu.
"Jangan berbohong".
" Tidak,aku tidak berbohong. Waktu aku mengantar Ev saat dia sakit waktu itu,Ev meminta ku untuk menghubungi Dokter pribadinya,dan kau tau? ternyata Dokternya adalah kak Bayu" ucap Dira.
Desi menganggukan kepalanya mendengar cerita Dira.
"Kau tau?aku iri padamu, kau punya pekerjaan yang bagus dan memiliki calon suami yang memiliki masa depan cerah" Tutur Dira.
"Aku lebih iri pada mu,bisa bertemu dengan suami setiap saat" balas Desi.
"Memangnya kak Bayu sesibuk itu?".
"Hm" Desi mengangguk "Dia hampir tidak punya waktu untuk masalah pribadinya".
" Setidaknya kau harus bersyukur, kelak tidak akan pusing untuk masalah keuangan" Dira terkekeh. "Eh,bagai mana dengan kafe paman?" Dira mengalihkan pembicaraan.
"Masih berjalan,walau tidak semewah restoran ini tapi pelanggannya juga tak kalah banyak".
" Benarkah? aku rindu paman sama bibik" ucap Dira.
"Minggu depan berkunjunglah, mereka juga merindukanmu".
" Iya,aku akan kesana" jawab Dira cepat.
***
Dira pulang dari Restoran dengan naik taksi online,karna Elang yang sejak tadi dia hubungi tidak juga menjawab telponnya. Mungkin Elang masih tidur pikirnya.
Benar saja, ketika Dira sampai di Apartemennya, Elang masih nyaman pada posisi tidurnya diatas ranjang.
Usai membersihkan diri, Dira kemudian duduk disamping Elang sambil menatap wajah rupawan suaminya.
Dengkuran halus yang keluar dari bibir suaminya membuat Dira semakin memperlebar senyumnya.
Elang yang merasa ada gerakan disampingnya,kemudian perlahan membuka matanya.
"Kau sudah pulang" ucap Elang dengan suara paraunya.
"Hm" Dira mengangguk "Mau kubuatkan sesuatu? kau pasti tidak makan dari tadi kan?" lanjut Dira.
Elang mendudukan tubuhnya "Buatkan teh saja".
__ADS_1
Dira mengangguk kemudian menuju dapur untuk membuat kan Elang secangkir teh dengan perasan jeruk lemon didalamnya.
" Sejak kapan kau tertidur?" tanya Dira setelah menyadari Elang yang duduk di sofa depan tv.
Elang mendongakan wajahnya,melihat jam yang menempel pada dinding "Mungkin sekitar jam lima tadi" jawaban Elang sontak membuat Dira melongo.
Bukankah tadi siang dia pulang karna akan segera tidur? tapi kenapa jam lima baru tidur?.
"Aku mengerti arti tatapan itu" ucap Elang yang melihat reaksi istrinya itu.
"Jadi,kemana saja kau siang tadi?" Dira kini sudah duduk disamping Elang,yang tengah menyerutup teh hangatnya.
"Dari perusahaan Hermawan,memeriksa kinerja Dewa" jawab Elang santai. "Jadi,apa kau bisa memeriksanya sekarang?".
"Memeriksa? memeriksa apa?" tanya Dira yang tidak mengerti maksud Elang.
Elang mengambil sebuah kantung plastik yang ada diatas meja didepannya,kemudian menyerahkan benda itu kepada Dira.
Dira kembali melongo saat membuka plastik tersebut.
"Kau serius?" Dira memastikan.
Elang mengangguk "Cobalah".
Dira hanya menuruti perintah Elang,kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk menggunakan alat yang Elang berikan padanya.
Alat testpeck adalah alat yang Elang beri pada Dira tadi.
Dira menyerahkan benda tersebut kepada Elang " Bagai mana hasilnya?" Tanya Elang.
"Bukan kah tuan bisa melihatnya sendiri?".
Elang mengernyit kemudian matanya tertuju pada benda yang Dira serahkan tadi.
Ada tanda satu strip disana dan Tuan Chef yang terhormat tidak mengerti maksudnya.
" Maksudnya?" tanya Elang yang tak mengerti.
"Apa waktu kau membeli itu,tuan chef tidak diberi pengarahan oleh apotekernya?"
"Apa kau bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban,bukan dengan pertanyaan?"
Dira merotasikan matanya,serasa malas menanggapi ucapan Elang yang menurutnya konyol. Apa bisa kehamilan bisa diketahui setelah beberapa hari berhubungan?.
"Itu tanda negatif tuan,jika aku hamil maka disana akan bertanda positif. Dan lagi pula kehamilan akan terlihat setelah paling tidak tiga sampai empat minggu dari pembuahan. Lah ini,kita saja baru program dua hari yang lalu,mana bisa tau?" jelas Dira panjang lebar.
Elang diam menanggapi penjelasan dari Dira, kemudian ia beranjak dari duduk "Kenapa tidak bilang dari tadi,kalau belum bisa mengeceknya?" Gerutu Elang yang melangkah menuju tangga. Dan Elang melemparkan testpack itu kedalam tempat sampah saat ia melewatinya.
Elang berhenti saat kakinya menapaki dua anak tangga "Kau tidak ikut?" tanyanya pada Dira yang masih duduk diam disofa.
__ADS_1
Dira terperanjat,kemudian berdiri dan berjalan menyusul Elang.
***
Elang mengecup pelipis Dira yang kini tengah tertidur disampingnya.
Kemudian dengan lembut membelai perut rata milik Dira,Elang sangat berharap akan ada sosok plagiat dirinya didalam perut perempuan yang kini berada disisinya.
Selalu berseteru dengan ayahnya membuatnya sangat pusing memikirkan cara untuk menghentikan papa Rian agar tidak mengusik rumah tangganya.
Setidaknya,jika tuan Hermawan mengetahui kehamilan Dira mungkin akan menghentikan seluruh rencananya untuk memisahkan Elang dengan Dira.
Setelah memastikan Dira tertidur pulas, Elang beranjak dari ranjang kemudian berjalan menuju balkon.
Diliriknya jam pada dinding kamar sudah menunjukan pukul dua dini hari,Elang berdiri mengapit pagar balkon,kemudian membuka sebungkus rokok dan mengambilnya satu batang.
Elang menyalakan ujung rokok tersebut kemudian menghisapnya kuat-kuat lalu ia hembuskan perlahan melalu hudungnya.
Elang memang bukan perokok aktif,hanya saja saat ia begitu banyak pikiran,ia akan mengalihkannya pada benda bernikotin tersebut.
Saat batang rokoknya hampir habis, tiba-tiba saja sepasang tangan melingkari perutnya.
Elang tau siapa pemiliknya "Kau terbangun?".
" Hm" Dira mengangguk,ia memeluk tubuh suaminya dari belakang "Apa yang membuatmu terusik?" tanya Dira kemudian.
Dira tau,Elang hanya akan merokok saat ada banyak beban pada pikirannya.
Elang melepas tangan Dira yang terkait didepan perutnya kemudian menarik sebelah tangan itu agar Dira berpindah didepannya.
Kini Dira berdiri didepan Elang,dengan kedua tangan Elang yang berada di kedua sisi Dira dan bertumpu pada pagar balkon.
Elang tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dira,ia hanya memandangi lampu jalanan ibukota yang tampak seperti bintang dibawah sana.
"Kenapa diam tuan Chef?" Dira kembali bersuara karna Elang nampak tak berniat untuk menjawab.
"Tidak bisa tidur...memang kenapa lagi?" jawab Elang.
"Hanya tidak bisa tidur?" Dira kembali memastikan.
"Kau sendiri,kenapa tidak tidur?"
"Hari ini ada final liga champion, Juve masuk,dan aku wajib nonton" Jawab Dira kemudia ia menepis tangan Elang dan masuk kembali kedalam kamar untuk menyalakan televisinya.
Elang menghela napasnya,kenapa ia harus susah payah memikirkan cara untuk gadis yang pemikirannya begitu pendek seperti istrinya?
Ya,itu karna Elang memang sudah jatuh hati kepada wanita bernama Sandira Wulandari itu, gadis penggila sepak bola, olah raga yang kebanyakan penggemarnya adalah pria.
Next?
__ADS_1
Like n coment please...