Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
ekstra part 7


__ADS_3

"Syang...hiks" Dira menangis saat menelpon Elang,dan itu membuat Elang terkejut.


"Sayang,kau menangis?" ucap Elang khawatir.


"Hiks...adikmu itu benar-benar menyebalkan" ucap Dira.


Alis Elang bertaut "Maksudmu?"


"Iya,tadi aku membawa mesinnya ke mansion dan dia malah memarahi ku...hiks"


"Apa? jadi kau menangis hanya karna itu?" Elang menghela nafas,ia fikir ada apa dengan Dira.


"Maksudmu apa dengan kata hanya karna itu!?"


Terdengar kekehan dari seberang sana dan itu membuat Dira merasa kesal.


"Setahu ku,kau tidak pernah menangis,apa lagi hanya karna masalah sepele seperti ini"


"Apa?! kau bilang masalah sepele?!" Dira semakin kesal "Awas saja kalau kamu tidak membantuku,ku jamin kau tidak akan bisa masuk kedalam rumah saat kau pulang".


Klik...


Dira langsung mematikan panggilannya.


" Sial,kenapa dia malah menertawakan ku?" gerutu Dira,dengan sisa senggukannya.


Kemudian menghapus sedikit air matanya,


Ia juga merasa aneh,tidak biasanya ia menangis hanya karna hal sepele,apa lagi sampai mengadu kepada Elang tentang masalah nya.


Biasanya ia akan berusaha semampu dia untuk menyelesaikan masalah nya sendiri, tapi kenapa ia jadi merasa lembek seperti ini? ada masalah sedikit langsung mengadu kepada Elang.


Hormon ibu hamil benar-benar membuat Dira merasa dirinya bukan lah dirinya lagi.


Setelah beradu argumen dengan Dewa masalah mesin jahit yang tidak boleh dimasukan kedalam Mansion, Dira kemudian langsung melarikan diri kekamar Elang yang ada di mansion dan menelfon Elang.


Berharap agar Elang membantunya,tapi yang terjadi malah ia ditertawakan oleh Elang.


Terdengar ponsel Dira kembali berdering dan saat diliriknya nama Elang tertera disana.


Dira memutar bola matanya jengah,tidak ingin mengangkat panggilan tersebut,namun ia juga takut kalau nanti Elang akan marah.


"Hm" jawab Dira saat menempelkan ponsel ditelinganya.


"Kenapa? marah?" tanya Elang.


"Tidak mau jawab" jawab Dira ketus.


"Ya,kalau begitu nggak jadi telfon Dewa nih aku?".


Dira sedikit melunak " Ya,telfon gih"

__ADS_1


Elang terkekeh "Emang masalah nya apa sih, coba kamu jelasin lagi" ucap Elang berusaha membuat kalimat agar tidak membuat Dira marah lagi.


"Ya itu..."


"Itu apa?"


"Kan tadi aku bawa mesin jahit ke mansion, tapi pas Dewa pulang,ia marah-marah, dia pikir aku mau jadiin mansionnya jadi konveksi kan nyebelin" Dira dengan wajah ngambeknya.


"Kamu bawa mesin ke Mansion?"


"Iya"


"Kenapa nggak sewa ruko aja sih?" Elang memberi saran.


"Tadinya maunya begitu,tapi kamu kan tau sendiri,ini bisnis baru mau di mulai... dan rencana nya aku bawa mesin-mesin tersebut kesini agar bisa di pakai Lyra buat bikin sample pakaiannya dulu, setelah berjalan nanti baru cari tempat" Dira menjelaskan.


"Oke,sekarang kasih ponsel kamu ke Dewa,biar aku yang ngomong" ucap Elang.


"Males amat...mending kamu telpon dia aja langsung"Sewot Dira,malas banget kalau musti datengin Dewa terus kasih ponselnya, bisa-bisa ia di cap sebagai istri yang suka mengadu. Pada hal sebenarnya ia juga.


Sementara itu,dikamar Dewa.


" Kamu mau berbisnis sama Wulan?" tanya Dewa begitu mereka masuk kedalam kamar.


"Iya" jawab Lyra yang sedang membawa jas Dewa untuk ia taruh di tempat baju kotor.


"Kenapa tidak bilang? aku bisa biayain semuanya".


Setelah menaruh baju kotornya,Lyra kemudian beralih pada Dewa yang sudah bersiap untuk masuk kedalam kamar mandi.


"Oke,tidak masalah kalian mau berbisnis,tapi kenapa bawa mesinnya kesini? kenapa nggak sewa ruko saja?".


" Tadi nya juga maunya begitu, tapi kalau sewa ruko,nanti papa nggak ada yang nemenin dirumah,makanya mbak Dira bawa mesinnya kesini dan untuk sementara kita jalanin disini dulu sambil jalan" Lyra menjelaskan.


"Terus,kenapa sebelum nya kamu nggak cerita dulu?" kembali Dewa bertanya.


"Kamu kan sibuk terus" Lyra mendekat kemudian melingkarkan tanganya memeluk Dewa dari belakang.


Dewa menghela nafasnya,kemudian melepas tautan tangan Lyra dan menariknya untuk Lyra berpindah kedepannya lalu memeluk tubuh wanita tersebut.


Lyra merasa senang karna Dewa membalas pelukannya,tadinya ia fikir saat Dewa melepaskan tangannya Dewa sedang menolaknya,ternyata Dewa hanya mengganti posisinya agar Dewa bisa memeluknya.


"Maaf,aku tidak punya banyak waktu untukmu" ucap Dewa kemudian mengecup puncak kepala Lyra.


Lyra mengangguk "Tidak apa-apa, justru aku lebih kasihan kapada mbak Dira,Kak Elang lebih sibuk dari pada kamu,aku iri sekali, kehidupan rumah tangga mereka masih tetap harmonis walau kak Elang jarang dirumah" ucap Lyra.


Ponsel Dewa tiba-tiba berbunyi, dan saat ia melihat pada layar tersebut tertulis nama kak Elang disana.


"Ini pasti mau bahas masalah tadi" Gerutu Dewa kemudian menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih tersebut pada telinganya.


"Ya kak?" ucap Dewa.

__ADS_1


"Kasih saja ruangan untuk mesin-mesin yang Dira bawa"


"Hm" jawab Dewa malas, ternyata benar dugaannya,kakaknya menelpon untuk membahas masalah yang tadi.


"Aku tidak menyuruh mu meminta maaf kepada kakak iparmu,kenapa jawaban mu terkesan malas-malasan?"


"Iya kak,ini aku sudah bicara dengan Lyra, dan dia sudah menjelaskannya pada ku" Dewa berkilah.


"Baik lah kalau begitu" ucap Elang kemudian panggilan itu terputus.


"See...sekarang Wulan bahkan menjadi seorang pengadu" ejeknya.


Namun itu ditertawakan oleh Lyra "Tidak masalah kan kalau mengadu kepada suami sendiri?".


Lyra kembali memberi pelukan sebelum Dewa memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dira melihat pantulan tubuhnya melalui cermin besar didepannya.


Kini ia memakai jersei Juventus lawas milik Elang yang size nya tentu lebih besar untuknya,namun karna perut Dira yang membuncit,membuat kaos itu terlihat pas ditubuhnya.


Ckrek...


Ia memotret dirinya sendiri didepan cermin,kemudian mengirimnya pada Elang dengan tag [ Fiks...jersey ini jadi milikku].


[All for you dear...hati ku juga untukmu] Balas Elang.


[Apa hp suami ku di bajak orang lain? manis sekali kata-katanya].


Elang tertawa saat membaca balasan dari Dira. [Dewa sudah ku telfon]


[Lalu?]


[Kau bisa mengeceknya sendiri di mansion]


[Lalu?]


Elang tau jika Dira sedang menggodanya.


[Aku merindukanmu]


Dira tertawa saat melihat balasan dari Elang kemudian mengetikan balasan kembali.


[Lalu?] Dira


[Aku merindukanmu] kembali Elang membalasnya


[Lalu?]


[Aku merindukanmu] lagi-lagi balasan yang sama.


[Apa tidak ada kata lain?]

__ADS_1


[Tidak...karna diotakku hanya merindukanmu]


[ Manis sekali] Dira membalas,namun tidak ada balasan kembali dari Elang,dan Dira mengerti kalau kini suaminya pasti sedang sangat sibuk.


__ADS_2