
"Mama!" panggil Dira saat melihat mama Mary berdiri didepan ruangan tuan Hermawan.
Mama Mary menoleh kemudian tersenyum melihat Dira yang berjalan mendekatinya "Sayang" sapa Mama Mary.
"Mama kenapa tidak masuk?"
"Tidak,mama cuma mau melihat keadaannya saja".
" Ayo ma,masuk bareng Dira" ajak Dira sambil menggandeng lengan mama Mary "Tuan besar pasti senang melihat Mama menjenguknya" ucap Dira.
"Kamu masih memanggilnya Tuan besar?" tanya mama Mary tak percaya.
Dira menyengir "Tuan masih belum menerima Dira ma" jawab Dira.
Mendengar ucapan Dira,mama Mary mendengus "Mau sampai kapan pria tua itu akan keras kepala?apa tidak malu dia sebentar lagi mempunyai cucu!" ucap mama Mary.
Tuan Hermawan mendengar obrolan Dira dan Mama Mary,karna kini mereka sudah berada didalam ruang perawatan Tuan Hermawan.
Tuan Hermawan menatap Dira kemudian beralih pada Mary yang kini membuang mukanya sehingga tak melihat kearah tuan Hermawan.
Ada sedikit senyum diwajah tua tuan Hermawan,dan perubahan eksperesi tuan Hermawan tak luput dari perhatian Dira.
mungkin tuan Hermawan begitu merindukan sosok Mama Mary,sehingga membuatnya bisa merasa senang walau hanya bisa melihatnya saja.Batin Dira.
"Kau temani saja pria tua ini,Mama akan pergi" Ucap mama Mary,dan tanpa menunggu jawaban Dira,mama Mary langsung meninggalkan ruangan tersebut.
Dira yang tak bisa berkata apa-apa kemudian beralih kepada tuan Hermawan yang ada didepannya.
Dengan sigap,Dira membantu ayah mertuanya itu untuk memiringkan tubuhnya.ini bertujuan agar tubuh bagian belakang bisa mendapat udara sehingga punggung Tuan Herwan tidak akan melepuh.
Setelah merapikan kembali selimut Tuan Hermawan,Dira kemudian hendak beranjak dari sana,namun sebuah tangan mencekalnya.
Dira tampak terkejut saat Tuan Hermawan menggenggam lengannya,walau sangat lemah,namun Dira tau,butuh tenaga yang ekstra bagi Tuan Hermawan untuk bisa menggerakan tangannya.
Dira kemudian memutar tubuhnya menghadap Tuan Hermawan.
"Ada yang bisa Dira bantu Tuan" ucap Dira.
oh iya,tuan belum bisa bicara. batin Dira kemudian mengambil sebuah pulpen serta buku memo dan ia arahkan didepan Tuan Hermawan.
Tuan Hermawan dengan susah payah menggerakan tangannya,berusaha menuliskan sesuatu pada memo tersebut.
'apa kau benar hamil' tulisan tangan Tuan Hermawan memang tak beraturan,namun Dira masih bisa membacanya.
Dira tersenyum,kemudian mengangguk "Benar tuan,jika didunia ini sudah tidak ada penyemangat untuk anda,saya harap dengan kehadiran cucu anda,akan membuat anda memiliki semangat untuk pulih kembali".
Tuan Hermawan kemudian terdiam tak menjawab,lalu sesaat kemudian ia menuliskan sesuatu kembali.
__ADS_1
'Aku tidak mau dirawat disini,aku ingin pulang'
Dira menghela nafasnya setelah membaca tulisan dari ayah mertuanya itu, kemudian berkata " Saya akan bicarakan dengan Elang terlebih dahulu tuan," Dira kemudian membungkuk lalu pamit dari sana.
Dira kemudian menuju kafe tempat jenjiannya dengan Lyra.
Setelah sampai,ia melihat seorang gadis melambai pada nya.
"Hai...sudah lama menunggu" Sapa Dira kepada Lyra kemudian ia duduk didepan wanita itu.
"Tidak,saya juga baru sampai" jawab Lyra.
Perbincangan mereka terjeda saat seorang pelayan perempuan mendatangi mereka.
"Pesan apa kak?" tanya pelayan tersebut.
"aku jus jambu,kamu pesan apa nona?" tanya Lyra.
"Jus lemon saja,tolong ekstra lemon ya... aku ingin agak asem" jawab Dira.
"Jadi benar berita yang tuan Elang umumkan?" tanya Lyra setelah pelayan itu pergi.
Dira melihat Lyra dengan tanda tanya.
"Maksud Lyra,tentang semalam tuan Elang yang mengumumkan pada media tentang pernikahannya dan tentang bagai mana bahagianya tuan Elang yang akan segera menjadi seorang ayah" Lyra menjabarkan.
"Oh,soal itu..."
"Jangan memanggilku nona,itu membuatku tidak nyaman" ucap Dira " Panggil saja Dira"
"Maaf nona,itu justru membuatku yang tidak nyaman"
"Kalau begitu,mulai sekarang tidak usah berbicara lagi denganku!" ancam Dira kemudian hendak beranjak dari tempatnya duduk.
"Tunggu!" cegah Lyra yang menyadari Dira akan pergi "Maaf,mungkin karna sudah kebiasaan memanggil beberapa orang dengan sebutan nona,jadi agak canggung"
Dira kembali duduk dikursinya "Tidak usah canggung,bukan kah kita seumuran?" ucap Dira.
"Kebanyakan wanita diluar sana yang memandang rendah diriku,jadi saya tidak berani membandingkan diri saya dengan anda"
"Tapi aku bukan termasuk dari kebanyakan wanita itu Lyra,aku hanya seorang Dira,bukan siapa-siapa"
"Anda adalah istri dari tuan Elang".
" Ya,kau benar,tapi itu sama sekali tidak mengubahku" ucap Dira, "Aku sama sepertimu Lyra,aku bukan berasal dari kalangan atas".
Mendengar ucapan Dira,Lyra pun terkejut,bagai mana mungkin seorang Chef Elang yang sudah terkenal dimana-mana hanya memiliki istri dari kalangan rendah?
__ADS_1
Apa lagi ternyata tuan Elang adalah anak sulung dari keluarga Hermawan? pikir Lyra.
" Kau benar Lyra,tuan Hermawan sampai saat ini belum mau mengakuiku sebagai menantunya"ucap Dira yang seakan tau isi hati Lyra.
"Tapi tetap saja,Lyra jauh lebih rendah dari pada Anda".
Dira menghela nafasnya" Karna apa kamu mengatakan seperti itu?".
"Lyra hanya seorang wanita penghibur disebuah klub malam" lirih Lyra.
"Percaya tidak,dulu aku juga pernah bekerja disebuah klub malam diSurabaya" Lyra membelalak kaget "Semua orang pasti memiliki alasan yang kuat sehingga membuatnya harus bekerja ditempat seperti itu,karna dulu aku juga seperti itu" ucap Dira dengan senyumannya.
Lyra tak menyangka wanita didepannya akan sangat menghargainya,tadinya ia pikir Dira adalah sosok wanita sosialita,yang agak sulit didekati.
Kini Lyra mengerti,bagai mana seorang Dewa sampai bisa jatuh cinta terhadap wanita dihadapannya ini,senyum tulusnya benar-benar membuat Lyra merasa tenang,seakan ia sudah berteman lama dengan Dira yang bahkan baru tiga kali bertemu.
"Oke,baik lah,sudah selesai membahas tentang aku,jadi apa yang membuatmu ingin bertemi dengan ku?"
"Jadi begini no- maksud saya Dira, setelah tuan Elang mengumumkan hubungannya dengan anda,tuan Dewa semakin terpuruk,semalam dia sampai mabuk berat dan-" Lyra enggan menceritakan kelanjutannya.
"Dan-?" Dira meminta Lyra melanjutkan ceritanya.
"Dan,tuan melakukan hal itu kepada saya" ucap Lyra ragu.
Dira tertawa lepas "kenapa wajahmu memerah?" ucap Dira saat melihat rona merah pada pipi Lyra "Bukan kah wajar,seorang pasangan suami istri melakukan hal itu" Dira kembali tertawa.
"Tapi,tuan Dewa menganggap saya adalah anda" lirih Lyra.
Sontak Dira menghentikan tawanya. Seakan ian mengerti maksud Lyra,mana ada seorang istri yang tidak akan kecewa saat bersetubuh dengan suaminya,justru yang dipikirkan suaminya adalah wanita lain.
Dira menggenggam tangan Lyra yang berada diatas meja "Terbuat dari apa hatimu itu Lyra?" Dira menatap manik hitam wanita itu "Jika aku jadi kamu,aku akan langsung menampar wanita itu saat bertemu dengannya" ucap Dira.
"Saya tidak akan seberani itu" ucap Lyra dengan senyum tipis dibibirnya.
"Lalu,kenapa kamu menceritakan itu semua pada ku Lyra?"
"Bisakah anda menasehati Tuan Dewa agar tidak mabuk lagi?"
"Sudah Lyra,bahkan sebelum kamu memintanya aku sudah menasehatinya"
Lyra tertunduk,ia seperti menemukan jalan buntu untuk membuat Dewa agar berubah.
"Lyra" panggil Dira "Kini Dewa sudah tidak mendengarkanku,itu berarti aku sudah terhapus dari hatinya" tutur Dira "Jadi,kau lah satu-satunya yang bisa merubahnya".
" Tapi,apa saya bisa?"
"Tentu saja,kau seperti air Lyra,kau begitu lembut,aku yakin hati batu milik Dewa pasti akan hancur dengan kelembutanmu" Dira menasehati "Buat lah Dewa jatuh cinta padamu" ucap Dira kemudian.
__ADS_1
Next?
Like n coment please...