Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
duapuluh tiga


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Dira yang sudah terbangun lebih dulu, langsung menyambar kemeja lengan panjang yang dipakai Elang malam tadi.Kemudian ia pakai dan dengan perlahan ia berjalan menuju jendela kamar hotel itu.


Berjalan pelan berusaha agar tidak membangunkan Elang yang masih terlelap. Disingkapnya tirai besar yang menutupi cahaya matahari untuk memasuki ruangan itu.


Dira menutup matanya seolah menyerap energi cahaya yang masuk kedalam serta menghirup udara dalam-dalam yang memasuki paru-parunya.Perasaan hangat menyelimuti tubuhnya.


Elang yang merasakan ketidak hadiran Dira disampingnya kemudian membuka matanya, dan menyapu seluruh ruangan kamar itu,ia mendapati Dira tengah berdiri didepan jendela, dengan menengadahkan kepalanya bermandikan cahaya.


Kecantikan sempurna bagi seorang wanita, walau hanya mengenakan kemejanya yang terlihat kebesaran, namun Elang tak memungkiri bahwa gadis dihadapannya itu terlihat bak malaikat rupawan tanpa sayap.


Dira menolehkan pandangannya saat menyadari Elang menatapnya dari atas ranjangnya. "pagi" ucapnya kemudian dengan senyum cerahnya.


Elang menjentikan jarinya,mengisyaratkan agar Dira mendekat padanya.


Menerima perintah,kaki Dira pun melangkah mendekat pada Elang disana.


"Ada apa?" tanya Dira kemudian setelah meletakan bokongnya diatas ranjang disamping Elang.


Elang menarik tengkuk gadis itu,kemudian mengecup bibir Dira yang pagi ini terlihat menggiurkan, Seperti pagi-pagi sebelumnya.


"Morning kiss" ucapnya setelah melepas pagutannya.


Dira mengernyit,memang kegiatan seperti ini sudah terbiasa mereka lakukan,tapi Dira merasa seperti ada yang tidak biasa dari sikap Elang kali ini.


"kenapa?" tanya Elang menunjuk kernyitan dikening istrinya.


"dari mana tuan tahu,aku menginap dihotel ini?" itu adalah pertanyaan yang ingin Dira lontarkan sejak semalam,namun karna Elang hampir tidak memberi waktu untuk Dira bicara, membuat Gadis itu mengurungkan niatnya.


"Kamu lupa,kartu yang kamu pakai untuk ceck in terhubung langsung ke phonsel ku?" Elang menyentik kening gadis itu, membuatnya mengaduh.


"Jadi aku seperti mengundangmu ya?" ucap Dira masih mengelus keningnya.


Elang tersenyum miring padanya, seperti tanda bahwa apa yang dikatakan Dira memang benar.


***


"Jadi bagai mana keputusanmu?" tanya Elang yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk kecil yang masih tersampir diatas kepalanya untuk menutupi rambut basahnya.


"mmm...bagai mana jika aku berdiam diri saja di apartemen mu?" Dira sudah duduk diatas sandaran sofa hotel,dan mempersilahkan Elang duduk disofa depannya untuk mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


Elang tersenyum "boleh...tapi tidak ada uang belanja tambahan ya...untuk seorang pengangguran" ucapnya membuat tangan Dira yang tadinya sibuk menggosok rambutnya jadi berhenti. "Kudengar Irfan masih butuh biaya kuliah,dan Anisa juga masih SMA juga kan? mereka pasti butuh biaya yang banyak".


skak matt...


Irfani aryasatya dan Anisa trifatma adalah kelemahan Dira,mereka berdua adalah adik dari Dira.


Alasan Dira bersedia menerima tawaran mama Mary saat itu juga adalah karna mereka.


Dira memiliki impian agar bisa menyekolahkan adik-adiknya hingga tahap lebih tinggi. Namun keterbatasan biaya menjadi kendalanya,karna orang tua Dira memang bukan keluarga berada. Mereka hanya tinggal dikota kecil dan hanya berpenghasilan dari bertani.


Dengan menikah dengan Elang,maka dia tidak memikirkan biaya kebutuhan hidupnya sendiri,jadi dia bisa fokus mencari uang untuk biaya sekolah adik-adiknya.


Tapi tunggu,jadi selama ini Elang tau apa yang ia lakukan?. Dira menunduk memandang Elang yang duduk dibawahnya.


" kenapa berhenti?" ucapan Elang membuyarkan lamunan Dira.


Dira terkesiap kemudian kembali menggosok rambut Elang sambil mengerucutkan bibirnya.


"Mmm...kalau begitu,aku mau deh kerja direstoran itu" ucap Dira lemah. Sebenarnya Dira tidak rela untuk pindah pekerjaan, dia sudah sangat senang dengan tempat kerjanya yang sebelumnya.


Elang tersenyum penuh kemenangan. Bukan maksudnya untuk menyuruh Dira agar bekerja, namun, Elang hanya tidak tega jika Dira harus dirumah seperti dipenjara. Karna sebenarnya tanpa Dira ketahui, Elang selalu mengirimi uang lebih kepada keluarga Dira, dan bahkan tanpa Dira tau kini kehidupan keluarga Dira dikampung sudah dikatakan berkecukupan.


Setelah dirasa rambut Elang sudah terasa mengering,Dira menarik handuk yang ia gunakan tadi dan menaruhnya diatas pangkuannya.


Elang memutar tubuhnya kemudian mendongak melihat wajah istrinya yang lebih tinggi darinya,karna posisi Dira yang masih duduk diatas sandaran sofa. "kau marah?" tanyanya kemudian.


Dira menggeleng, "Aku hanya tidak suka menetap disini terlalu lama".


" kalau begitu segeralah bersiap,kita keapartemen sekarang" ucap Elang.


Dira mencebik "maksudku kan, bukannya tidak suka hotel ini,tapi tidak suka jakartanya" gerutu Dira kemudian beranjak dan menuju kamar mandi.


Elang tersenyum melihatnya. kemudian menggantikan pakaiannya setelah asistennya mengantarkan baju ganti untuknya dan Dira.


***


"Bagai mana?" tanya Elang setelah memasuki apartemennya bersama Dira tentunya.


"hmmm...lumayan..." jawab Dira sambil menganggukan kepalanya,dengan kedua matanya menyusuri setiap sudut ruangan tersebut. Memang apartemen ini lebih mewah dari apartemennya yang di Surabaya,namun Dira merasa tidak perlu memuji apa yang dimiliki suaminya itu.

__ADS_1


Elang berjalan menuju lantai dua sambil menenteng belanjaan Dira kemarin yang tertinggal di jog mobilnya,diikuti Dira dari belakang menuju kamar mereka.


"Mau ku siapkan makan siang?" tawar Dira setelah selesai merapikan pakaiannya kedalam lemari.


"Tidak usah, sebentar lagi aku akan pergi" jawab Elang.


"Bagai mana dengan makan malam?" tawar Dira kembali.


Elang menggeleng, "tidak usah, mungkin aku pulang terlambat"


Dira yang mengerti kesibukan suaminya itu hanya menjawab oh tanpa suara." oh iya, apa kamu akan kerumah tuan Hermawan?"


Mendengar pertanyaan Dira,membuat Elang menaikan sebelah alisnya "kenapa?" tanya nya kemudian.


"mmm...kalau kesana, jangan lupa bawa jersey juve kamu yah!" Dira memberikan tatapan memohonnya"yang ada tanda tangannya delpierro dan buffonnya yah" rayunya lagi.


Elang memejamkan matanya,kemudian memijit pangkal hidungnya sambil tersenyum melihat tingkah konyol istrinya. "ku pikir ada apa," ucapnya sambil terkekeh geli.


"oh, ayo lah tuan chef tampan..." bujuk Dira dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya "kau tau kan,aku dari dulu sangat menginginkannya"


"Tapi aku tidak akan kesana" jawaban Elang membuat tangan Dira yang tadinya memeluknya jadi terasa lunglai dan terlepas dengan sendirinya.


Melihat reaksi Dira yang kecewa membuat Elang kembali terkekeh "aku akan mengajak mu ke Itali dan kau bisa memintanya sendiri nanti" ucap Elang kembali, membuat Dira yang tadinya menunduk menjadi mendongak melihat wajah tampan Elang.


"benar?" tanya Dira memastikan.


Dan Dira pun bersorak gembira mendapat jawaban anggukan dari suaminya tersebut.


Karna terlalu gembiranya, tanpa Dira sadari ia melompat kegirangan dengan mencium pipi Elang.


Dan tentu saja membuat gadis itu merona ketika menyadari perbuatannya barusan.


malunya...


Tapi tidak apa,karna Dira sedang sangat senang saat ini.


"hanya janji,kenapa kau sesenang ini?"


"Tentu saja, karna tuan Chef tidak akan mengingkari jan-mmmmhh....." Belum sempat Dira menyelesaikan ucapannya,namun Elang sudah membungkan mulutnya dengan ciuman panas siang itu...

__ADS_1


happy reading. . .


__ADS_2