Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
sembilanbelas


__ADS_3

Dira sudah dua bulan menjadi salah satu mahasiswi disalah satu Universitas diJakarta,dan selama itu juga ia berusaha menghindar jika berpapasan dengan Dewa.


Seperti tadi siang saat ia akan menuju kekantin bersama Desi,namun akhirnya ia urungkan karna melihat ada Dewa disana, dan berakhir hanya makan gorengan yang ada dipinggir jalan.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam,dan Dira baru saja medudukan bokongnya diatas kasur sederhananya.


Dia baru saja pulang dari pekerjaan barunya, yaitu menjadi seorang pelayan diKafe keluarga Desi.


Karna kini,Dira sudah tidak bekerja dirumah keluarga Hermawan lagi.Terlalu tertekan jika harus berurusan dengan nyonya sarah.


tok...tok...tok...


Dira mengusap wajahnya,siapa yang malam-malam begini bertamu?tidak taukah dia kalau ini waktunya istirahat?.


Astaga Dira hampir mengumpati seseorang yang sedang menunggu didepan pintu Kostnya.


Dira membuka pintunya, dan bola matanya hampir saja loncat keluar karna melihat Dewa yang bertamu saat ini.Mati-matian dia menghindar, namun kini seseorang yang paling tidak ingin ia temui malah berdiri didepannya.


"ada apa?" tanya Dira yang benar-benar merasa malas untuk menanggapi Dewa.


Dewa memperlihatkan sebuah gunting yang menggantung dijarinya,dengan cengiran kudanya. Membuat Dira memutar bola matanya malas "ini sudah malam Wak" Dira memutar tubuhnya, menuju kasurnya yang menunggu untuk ia rebahan.


"Wak...?kayak manggil Kakek aja!" protes Dewa yang terkejut mendengar nama panggilan yang Dira berikan.


"terus aku harus panggil De, gitu?" Dira memutar matanya "umur kamu aja lebih tua dibanding aku." ucap Dira duduk diatas kasurnya.nggak mungkin dong Dira memanggilnya Tuan lagi? karna sekarang dira sudah tidak bekerja dengan keluarga Dewa lagi.


"ya udah...terserah deh" ucap Dewa masih merasa jengkel,baru kali ini ada orang yang memanggil namanya hanya dengan sebutan Wak.


Dewa menyerahkan gunting pada Dira "ini udah malem...lain kali aja deh." tolak Dira. Dira tahu maksud Dewa yang memberinya gunting. Apa lagi kalau bukan untuk memotong rambutnya.


"lain kalinya kapan?" ucap Dewa ikutan duduk disamping Dira "kamu paginya kuliah,pulang kuliah kerja diKafe,terus sempetnya kapan?"


"eh,tumben kamu ngmong pake aku kamu, biasanya lo gue?" tanya Dira heran.


"nggak usah ngalihin topik,buruan keburu larut ini" Dewa mengambil kursi yang biasanya Dira gunakan untuk belajar, kemudian menaruhnya didepan Dira dan duduk disana.


Dira tak punya pilihan lain,ia pun berdiri kemudian mengambil sisirnya dan mulai memotong rambut Dewa yang terlihat sedikit memanjang.


"kenapa nggak keBarber Shop aja sih?!" gerutu Dira.


"aku lebih suka kamu yang motong Wul" jawab Dewa.


"Wul...Wul!" kini giliran Dira yang protes karna Dewa memanggilnya Wul.


"kamu manggil aku Wak,jadi aku panggil kamu Wul." Dewa hanya nyengir,ternyata dia memang merindukan gadis dibelakangnya ini.


Selama dia kuliah,Dewa merasa ada yang kurang dari hidupnya,tidak ada yang bisa ia jahili.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian,


Dira sudah membersihkan sisa rambut yang menempel dileher Dewa "pulang sana...! aku mau tidur" Dira mengusir Dewa secara terang-terangan.


Tapi,bukannya beranjak pergi,Dewa malah berpindah tempat naik keatas kasur Dira. membuat gadis itu makin naik darah.


"pulang nggak?!" Dira memukul wajah Dewa dengan bantalnya.


Dewa nyengir sambil memegangi perutnya. "lapar Wul...ada makanan?"


Dira memutar bola matanya, jengah dengan tingkah mantan majikannya itu. "adanya indomie mau?" tanya Dira akhirnya.


"boleh deh...lumayan buat ganjal perut"


Dira menuju dapurnya yang ada dibelakang jadi satu dengan kamar mandi. Kemudian memasak dua mangkuk mie instan. untuknya dan satu lagi untuk mantan bosnya.


"nih..." Dira menyodorkan mangkuk mie pada Dewa,dan diterima dengan senang hati tentunya.


Dewa menyantap mienya setelah mengucapkan terima kasih pada Dira.


"Wul...kok beda ya rasanya?" tanya Dewa setelah memakan satu suap mie nya.


"sama aja...sama-sama indomie rasa soto" jawab Dira.


"tapi kok kayaknya punyamu lebih enak?" Dewa melirik mangkuk milik Dira.


Dira menjauhkan mangkuknya dari jangkauan Dewa agar Dewa tak lagi mengulangi perbuatannya "iya lah beda,orang dibungkus mie punya kamu tadi nggak ada minyaknya" ucap Dira menjulurkan lidahnya.


"astaga Wul...! pantes aja...!" geram Dewa.


Dira tertawa lepas melihat tingkah Dewa yang melihat mangkuk mie nya penuh rasa iba.


"ya udahlah...lumayan,dari pada kelaperan" ucap Dewa pasrah. Kemudian menghabiskannya juga.


"pulang sana!" kembali Dira mengusir Dewa dari kost nya,setelah Dewa menyelesaikan makanannya.


"yaelah Wul...nanti ada bola kita nobar ya..ya..ya...?" rayu Dewa. "ada Juve lawan milan lho..." sekali lagi Dewa mencoba peruntungannya merayu Dira agar dia diperbolehkan untuk menginap.


Dira terlihat sedang berpikir,kemudian menghela nafasnya berat. Percuma dia mencoba menyuruh Dewa pergi, karna tau bagai mana keras kepalanya lelaki itu.


"yaudah..." Dira berjalan menuju kursi panjang disamping pintu,dan tak lupa membawa bantal serta selimut.


"assekkk..." seru Dewa kegirangan.


dasar!!! cowok apaan tu nggak gentle masak aku cewe tidur dikursi dia malah dengan senang hati tidur dikasur...hiks...kasurku... Dira merutuki nasibnya dalam hati.


kringgg....kriinggg...

__ADS_1


Alarm dari jam weker Dira berbunyi. Buru-buru ia mematikannya.


Jam dua dini hari ia menyetel wekernya. ia melihat arah ranjangnya,dan Dewa sudah tidak ada disana.


kemana bocah itu. Dira bangkit kemudian duduk dikursi untuk mengumpulkan nyawanya kembali.


"sudah bangun" Dira terkejut melihat Dewa yang datang dari arah dapur dengan secangkir kopi ditangannya.


"Aku kira kamu udah pulang" Dira mengusap wajahnya yang masih lusuh karna baru bangun tidur. "mau ngapain?" tanya Dira yang melihat Dewa sedang melepaskan kausnya.


"ganti baju" ucap Dewa santai menarik jersei Juve dari dalam tasnya. "aku bawa dua, kamu satu" Dewa melempar satu baju untuk Dira pakai.


"kamu dukung Juve?" tanya Dira menerima kaus jersey juve dari Dewa.


"iya dong" jawab Dewa senang.


Dira menghembuskan nafasnya berat,kemudian beranjak menuju lemari yang ada dibelakang Dewa.


"minggir!" seru Dira menyabetkan jarsey yang ia bawa tadi pada perut Dewa. membuat lelaki itu mengaduh.


Dira melihat kearah Dewa,namun perhatiannya tertuju pada lengan kanan Dewa yang ada tato disana.


"kamu punya tato?" tanya Dira heran.


Dewa melirik lengan atasnya yang memang ada tato disana "iya" jawabnya enteng.


Dira mencubit lengan Dewa yang bergambar itu,membuat lelaki itu meringis.


"sakit?"


"iya lah...kamu nyubitnya dikit banget gitu"


"nah...itu masih ngerasain sakit,sok-sokan mau jadi preman" ucap Dira bersungit-sungut.


"kan keren Wul"


"keren dari hongkong?"


"nggak ketemu dua tahun kenapa jadi urakan si?"


"makanya kamu jangan ikut-ikutan" Dewa merangkulkan lengannya pada leher Dira kemudian mengapitnya. Membuat Dira susah bernafas kemudian menyikut perut lelaki itu.


"bau ketek...!! astaga!!" seru Dira.



__ADS_1


__ADS_2