Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tigapuluh tujuh


__ADS_3

"Jam berapa ini?" Dira baru saja membuka matanya,ia merasa sangat lelah karna pertempurannya dengan Elang sore tadi.


"Jam sembilan" Jawab Elang yang masih mendekap tubuh polos istrinya.


"Pantas saja"


"Kenapa?"Elang mengeratkan pelukannya.


"Aku lapar".


" Mau ku buatkan sesuatu?"tawar Elang.


"Wahhh...sepertinya tuan chef sekarang jadi suka memasak dirumah ya?" Goda Dira.


"Just for you babe" Elang kemudian mengecup kening Dira sekilah.


"Tapi,aku ingin makan diluar" ucap Dira.


"oke,kita bersiap",beberapa menit berlalu,namun Elang tak juga beranjak melepaskan Dira.


" Jika kau tidak melepaskanku,bagaimana aku bisa bersiap?"


Elang terkekeh,kemudian mengangkat tangannya agar Dira bisa bangun.


"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Dira setelah ia beranjak dari ranjangnya untuk menuju kamar mandi.


"Kau terlihat sexi" goda Elang.


Dira terkekeh "Aku tau...dan aku tidak akan tergoda" ucap Dira melanjutkan langkahnya.


Dira menyalakan shower untuk membasuh tubuhnya,dan tanpa ia sadari kini Elang sudah berada dibelakangnya,dan memeluknya.


"Kau tidak tergoda?" bisik Elang ditelinga Dira.


Dira tersenyum"Tidak" ucapnya mengelak,karna Dira tau jika dia macam-macam,Elang pasti akan menyerangnya lagi.


"Kau tidak tergoda,tapi aku yang tergoda" Elang mengecup tengkuk Dira.


"Jangan diteruskan El,itu akan lama,dan aku sudah lapar" ucap Dira yang masih memunggungi Elang dengan tangan Elang melingkar pada perutnya.


"Bagai mana aku bisa tidak tergoda,setiap kali kau memanggil namaku,aku akan langsung bereaksi"


Dira terkekeh,namun tidak menanggapi Elang. Karna tau,Dia pasti akan kalah.


***


"Jadi,kita akan makan malam dimana?" Tanya Elang. Kini mereka sedang berjalan menyusuri jalan dekat apartemen,karna Dira tidak ingin makan ditempat yang jauh.


"Disana ada penjual nasi goreng,dan rasanya sangat enak" ucap Dira menunjuk sebuah gerobak yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.


"Aku senang bisa seperti ini".


" Kenapa?" tanya Dira penasaran.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa menggenggam tanganmu untuk jalan-jalan" ucap Elang yang berjalan menuju penjual nasi goreng itu sambil menggenggam tangan Dira.


Dira mencebik,namun tersenyum juga "Bukankah itu yang kau ingin kan tuan?" Goda Dira "Bahkan dulu kau melihatku pun seakan tidak sudi" Dira tertawa sendiri jika mengingat masa lalunya.


"Dulu,aku hanya takut jatuh cinta padamu jika aku melihatmu".


"Waaaahhh....sepertinya sekarang mulutmu begitu manis tuan chef".


" Tentu saja...mau mencicipinya?" Goda Elang dengan kerlingannya.


Dira memutar bola matanya, "Sejak kapan kau ini menjadi begitu mesum?" Gerutu Dira.


Elang hanya terkekeh,kemudian pandangannya tertuju pada pedagang kaki lima yang tak jauh darinya "Aku ini seorang chef,bahkan bisa membuatkanmua makanan yang lebih enak darinya" Elang menunjuk penjual nasi goreng itu.


Dira mengikuti arah pandang yang dimasud Elang kemudian tertawa "Dirumah tuan chef tidak ada tungkunya tuan".


Elang melihat Dira dengan tatapan bertanya.


" Tuan tau kenapa nasi goreng yang dijual dipinggir jalan rasanya lebih enak dari pada yang direstoran?".


Elang hanya diam mendengarkan Dira berceloteh.


"Tentu saja karna nasi gorengnya dimasak dengan arang" jawab Dira tanpa menunggu Elang bertanya. Kemudian ia duduk di kursi plastik yang disediakan tukang nasi goreng itu.


"Nasi goreng dua bang!" teriak Dira.


"Siap neng cantik" Jawab penjual itu dengan santai,tak *** dia kalau disamping wanita yang dipujinya sedang ada singa yang siap menerkam mangsanya.


"Sepertinya kau suka makan disini bukan karna nasi gorengnya,melainkan karna abangnya yang suka godain kamu" Sindir Elang.


***


Dira baru saja menyelesaikan pekerjaanya, dan kini ia sedang meregangkan ototnya yang terasa kaku didepan restoran.


"Hai" Sapa seorang wanita padanya.


Dira yang sedang merentangkan tangannya kemudian memandang seseorang yang menyapanya "Hai juga" jawabnya "Mau cari Elang? dia sedang ada diruangannya,kau bisa langsung kesana" ucap Dira pada wanita itu yang tidak lain adalah Evalina.


"Aku kesini untuk bertemu denganmu" jawab Ev.


Dira hanya memandang Ev dengan beroh tanpa suara.


***


"Jadi,sudah berapa lama kau menikah dengan El?" Tanya Ev to the point. Kini mereka sudah berada disebuah kafe yang tidak jauh dari restoran tempat Dira bekerja.


"Emmm" Dira terlihat seperti berpikir "Hampir dua tahun" jawabnya kemudian.


"Hampir dua tahun dan El sama sekali tidak memberitahuku?" Ev terlihat syok.


"Kau ini benar-benar syok atau dibuat-buat?" cibir Dira.


"Kami bersahabat sejak SMA,dan hampir tidak ada rahasia diantara kami" ucap Ev membanggakan diri.

__ADS_1


"Hampir tidak ada rahasia pada hubungan kalian berdua?" Dira mengulangi ucapan Ev, dan dijawab Ev dengan anggukan mantap "bukankah hanya hampir?? buktinya,dia merahasiakan sesuatu darimu,itu artinya, hubunganmu tidak sedekat itu".


" Kau-...aduh..!" Ev memekik kesakitan dan memeluk perutnya sendiri.


"Kenapa?" Tanya Dira panik. Kemudian menghampiri Ev dan memapahnya menuju mobilnya.


"Kita kerumah sakit ya?" ucap Dira dengan nada khawatir, karna Ev masih saja merintih menahan sakitnya.


"Tidak" Ev menggeleng "Antar keapartemenku saja,nanti dokter pribadiku akan kesana" ucap Ev terbata dengan menahan sakit diperutnya.


"Baiklah,berikan alamatmu" ucap Dira.


Setelah Ev memberitahu alamatnya,Dira pun menyetir mobil milik Ev itu menuju aparetemennya.


"Bisa kau hubungi dokter Bayu?" ucap Ev menyodorkan ponselnya.


Dira menerima ponsel itu dan kemudian menghubungi dokter yang Ev maksud.


Setelah sampai apartemen Ev, disana Dokter Bayu sudah menunggu diluar gedung.


Dan segera membantu Dira memapah Ev untuk masuk kadalam apartemen.


Setelah pemeriksaan.


"Dia kenapa dok?" Tanya Dira penasaran.


"Biasa...magh akut" jawab dokter Bayu sambil memperhatikan Dira "Kamu Wulan kan?" ucap nya tiba-tiba membuat Dira terkejut.


"Ini aku...Bayu jurusan kedokteran".


Kini Dira ingat " Astaga...Bayu... Bayu mantan pacarnya Desi kan?" Dira memastikan, dan Bayu mengangguk "Haha...nggak nyangka bisa ketemu" Dira menepuk bahu pria tersebut.


"Kamu bagai mana bisa mengenal model besar seperti Ev?".


" Ah...itu...saingan cinta" jawab Dira. "Dan kamu, gimana udah menikah?" tanya Dira balik.


Namun Bayu tidak menjawab hanya memperlihatkan tangannya yang ada cincin melingkar pada jari manisnya.


"Wahhh...siapa gadis beruntung itu?" tanya Dira antusias.


"Desi, kami sudah bertunangan" Jawab Bayu dengan malu-malu.


"Benarkah...!!!dasar wanita itu,kenapa dia tidak cerita? bahkan dia bilang kalau kalian putus,karna kamu mau kuliah diluar negri"


"Iya,kami memang putus saat itu,dan setelah aku pulang,langsung melamarnya"


"Bagus...bagus...kamu memang jantan" Dira mengacungkab kedua ibu jarinya.


"Oh iya Wulan,ini obat yang harus dia minum, diminum sebelum makan ya" ucap Bayu memberikan beberapa obat pada Dira untuk diminum oleh Ev.


"Oh,baiklah..." jawab Dira.


"Oke,kalau begitu aku harus pamit, ada pekerjaan dirumah sakit" pamit Bayu, kemudian meninggalkan Dira bersama Ev di apartemen wanita itu.

__ADS_1


"Wah...seorang manager punya suami seorang dokter,kehidupan mereka pasti bahagia...urusan ekonomi pasti sangat mudah" gumam Dira setelah Bayu pergi.


__ADS_2