
Perlahan,Ev membuka matanya, dan sosok pertama yang ia lihat adalah Dira yang sedang mondar-mandir melihat isi apartemen itu.
"Apa yang kau lihat" Ev berusaha untuk duduk.
Dira menoleh pada Ev,"Wah...apartemen mu bagus sekali,apa ini kau beli dengan uang mu sendiri?".
"Tentu saja" Ev bersidekap.
Dira mengangguk kemudian berjalan mendekati Ev "Ini" Dira menyerahkan pil yang diberikan Bayu tadi.
Ev menerimanya kemudian menelan pil itu,setelahnya Dira menyodorkan gelas berisi air putih untuk diminum Ev.
"Jam berapa ini?" tanya Ev.
"Jam delapan" jawab Dira setelah melihat jam tangannya.
"Oh,baiklah,kau bisa pulang sekarang"
"Apa kau sudah tidak butuh bantuan?" Dira memastikan.
"Tidak" Ev menggeleng,kemudian hendak beranjak.Namun tertahan karna masih merasa nyeri pada lambungnya.
Dira menghela nafas,karna tingkah Ev yang seakan sungkan padanya,Dira kemudian membantu Ev dan memapahnya hingga kamar mandi agar Ev bisa membersihkan dirinya.
"Kau mau mandi?" tanya Dira.
Ev memandang Dira dengan tatapan penuh heran "tidak,aku hanya ingin mencuci muka saja" jawab Ev kemudian.
"Oh...oke" Dira kemudian menunggu Ev didepan kamar mandi.
Setelah selesai,Ev kemudian menuju meja riasnya dan tentu dengan bantuan Dira.
"Apa kau selalu melakukannya?" tanya Dira.
"Melakukan apa?".
" Merias wajahmu itu,padahal kau kan sedang sakit,apa tidak lebih baik kau istirahat saja dari pada memikirkan kecantikanmu?".
Mendengar ucapan Dira,Ev jadi terkekeh "Ini adalah perawatan untuk kulit ku, dan kau tau?bagiku Make up itu adalah nyawa lain bagi seorang wanita" ucap Ev dengan mengeluarkan skincare nya.
"Wah...bukankah produk ini sangat mahal?" Dira merasa terkagum saat melihat beberapa macam produk kecantikan milik Ev "Apa kau menggunakan semuanya?".
" Tentu saja...apa kau tidak mengenal hal seperti ini?" Ev menunjukan bermacam skincare nya.
"Tidak,harganya terlalu mahal,lagi pula aku belum membutuhkannya"
__ADS_1
"Apa El bersikap pelit padamu? bahkan hanya untuk perawatan kulit saja dia tidak memberinya" ucap Ev sambil membersihkan wajahnya.
"Tidak juga,dia memberiku kebebasan untuk mengelola uang" Jawab Dira dengan memperhatikan Ev yang sedang merawat wajahnya "Tadi aku sudah siapkan makan malam,kalau kau sudah selesai dengan urusan mu,cepatlah makan, Aku harus segera pulang" ucap Dira kemudian.
"Apa kau selalu seperti ini?" Tanya Ev.
"maksudmu?"
"Apa kau selalu baik pada orang lain?" Ucap Ev dengan senyum kecutnya "Aku adalah saingan cintamu,apa kau hanya berpura-pura baik padaku".
"Sepertinya keadaan mu sekarang belum sepenuhnya baik,lebih baik kau segera makan dan istirahat" Jawab Dira "Aku bersikap baik kepada siapapun yang aku inginkan" Dira berbalik untuk meninggalkan Ev "Dan ku rasa aku memang sudah menang dari awal," Dira menoleh pada Ev "Kau tidak pantas menjadi saingan cintaku,karna bagiku kau terlalu cantik untuk menjadi wanita seperti itu" Dira kemudian melangkah "Oh iya, terimakasih sudah menjadi sahabat baik El, Setidaknya dulu dia tidak merasa kesepian saat ada kau" ucap Dira kemudian berlalu pergi.
"Dasar gadis bodoh" gumam Ev setelah Dira pergi dari apartemennya "Terima kasih".
***
Dira sudah sampai diapartemennya "Sepertinya dia belum pulang" gumam Dira saat mendapati ruangan itu gelap.
Dan ketika Dira menyalakan lampu,alangkah terkejutnya dia saat melihat Elang tengah duduk disofa ruang tamu.
"Kau sudah pulang?" tanya Dira "Kenapa tidak menyalakan lampu?" kembali Dira bertanya "Kau membuatku kaget" Kini Dira sudah duduk disamping Elang.
"Dari mana saja?" tanya Elang dingin kemudian meraih tablet yang ada diatas meja depannya.
"Dari Aparetemen istrimu" jawab Dira santai, namun tatapan Elang padanya seolah ingin mengulitinya "Apa aku salah bicara? bukankah publik taunya Ev adalah istrimu?" kini Dira sedikit menaikan intonasinya.
Elang kemudian menahan tangan Dira yang menempel pada rahangnya dan menggenggamnya erat "Kau baru bertemu dengan Ev? apa yang dia katakan padamu? Apa dia menyakitimu?" pertanyaan Elang beruntun,membuat Dira terkekeh.
"Kau tenang saja,dia tidak akan menyakitiku. Lagi pula jika berdebat aku jugalah yang pasti akan menang" ucap Dira.
Elang tau,Evalina bukan lah wanita yang mudah diajak bicara,dan jika wanita itu menginginkan sesuatu,maka dia tidak akan mudah melepasnya.
Apa wanita itu menyakiti Dira?
"Buka bajumu!" perintah Elang.
Dira sontak menyilangkan kedua tangannya sebagai pertahanan "Tidak,aku tidak akan melakukannya disini" Dira menggeleng kuat.
"Mau kau buka sendiri atau aku yang akan membukanya dengan paksa!" Elang memberi peringatan.
"Iya...iya...aku buka!" Dira membuka pakaiannya dengan bibir yang ia manyunkan.
Elang memperhatikan tubuh Dira yang kini hanya memakai bra saja,kemudian memutar tubuh itu untuk melihat punggungnya.
tidak ada memar.
__ADS_1
"Lepas celana mu!"
"Astaga kau-...!" Dira tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya menurut untuk membuka celana jeans nya "Sudah puas!".
Elang kembali memutar tubuh Dira untuk memeriksanya apa ada memar atau tidak.
Setelah memastikan tidak ada kekerasan yang Ev lakukan terhadapnya,Elang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan bernafas lega.
" Sudah, begitu saja?" Tanya Dira yang merasa heran dengan maksud dan tujuan Elang.
"Hmm" Elang mengangguk.
Dira melebarkan kedua matanya karna tampak tak percaya apa yang dilakukan Elang.
"Jadi,berakhir begini saja?"
"Iya...pakai kembali pakaianmu"
Dira tersenyum tak percaya, Elang menyuruhnya membuka seluruh pakaiannya dan Dira menuruti lalu kemudian menyuruhnya memakainya lagi? apa Elang sedang mempermainkannya.
"Hei tuan...! Aku sudah bersusah payah membukanya,dan kau menyuruhku untuk memakainya kembali?" Dira mendudukan bokongnya diatas pangkuan Elang,dan hal itu membuat Elang tersentak.
Dira kemudian melancarkan aksinya untuk merayu pria yang ada didepanya,dan itu berhasil.
beberapa saat kemudian...
"Jadi,maksudmu dulu Ev suka memukul orang yang dekat denganmu?" Kini Dira sedang ada diatas ranjang dengan tangan Elang sebagai bantalannya.
"Ya,aku ingat saat masih kuliah dulu, aku sedang dekat dengan seorang gadis dan Ev menyuruh seseorang untuk mengerjai gadis itu".
"Astaga...ternyata Ev wanita yang jahat". Dira menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Hampir setengah tahun aku tidak mau bicara dengannya"
"Wah...ternyata kau begitu menyukai wanita tersebut...Dimana dia sekarang!"
Elang terkekeh "Kau cemburu?"
"Tentu saja!! kau menceritakan wanita lain dihadapanku!"
"Mana yang lebih sakit,kau atau aku yang mengetahui ternyata kau pernah menjalin hubungan dengan Dewa,adik kandung ku?"
Dira langsung kicep mendengar ucapan Elang barusan. "Oke,lanjutkan ceritamu" Dira mengalihkan.
"Sebaiknya kita tidur saja..." ucap Elang kemudian mengelus rambut Dira agar gadis itu tidak bertanya lagi.
__ADS_1
Sebenarnya,Elang benar-benar tidak suka membahas masa lalunya.
Dia hanya akan berjalan kedepan untuk mengikuti arus kehidupan yang sudah tercatatkan untuknya.