
"Tuan anda?" Lyra terkejut begitu membuka pintu kontrakannya,ada Dewa yang tengah terduduk tak berdaya disamping pintu.
Dengan lemah,Dewa mendongak dan melihat siapa yang memanggilnya,ia tersenyum miris saat melihat ternyata Lyra yang ada dihadapannya.
Lyra kemudian membantu Dewa untuk berdiri, kemudian memapah lelaki itu untuk masuk kedalam kontrakannya.
Dewa menghempaskan tubuhnya keatas ranjang sederhana milik Lyra,Lyra hanya menatap lelaki itu tanpa kata.
Saat akan beranjak,tiba-tiba sebuah tangan menarik Lyra hingga membuat gadis itu terhuyung dan jatuh menimpa Dewa.
"Tuan...!" pekik Lyra.
Dewa menatapnya dalam, tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir pemuda itu,tiba-tiba Dewa menarik tengkuk Lyra kemudian **********.
Lyra tersentak,namun tak menolak. Baginya bisa menyentuh seorang Dewa yang adalah suaminya adalah sesuatu yang memang ia inginkan sejak pertama kali Lyra mengenal pemuda itu.
Dewa yang tadinya berada dibawah Lyra,kemudian memutar tubuhnya, sehingga kini Lyra lah yang berada dikungkungannya.
"Tuan,anda mabuk" ucap Lyra berusaha untuk menyadarkan Dewa,agar tidak ada kata penyesalan jika memang akan terjadi sesuatu nantinya.
Dewa tak menghiraukan ucapan Lyra,ia masih ******* bibir Lyra,bahkan kini ciumannya bertambah menjadi lebih menuntut.
Bibir Dewa semakin turun,hingga pada perpotongan leher Lyra,gadis itu mendesis saat Dewa memberikan hickey disana.
Semakin turun hingga berada diatas dada Lyra,karna merasa terganggu dengan baju yang Lyra kenakan,Dewa dengan brutal kemudian menarik baju Lyra hingga koyak dan terpampanglah kedua gundukan indah Lyra yang masih tertutup bra merahnya.
"Tuan...ahhh...!" desah Lyra saat Dewa kembali menghisap kulit putih Lyra,hingga tercetak kiss mark disana.
Dewa semakin menjadi yang kemudian membuka pakaiannya sendiri hingga terpampanglah tubuh atletis pemuda itu.
Wajah Lyra merona saat melihat tubuh atas Dewa yang tak tertutup kain apapun.
Dewa kembali mencumbu Lyra,hingga gadis itu meringis untuk kesekian kalinya.
Usai pergulatan panas tadi,Dewa sudah terlelap disamping Lyra.Mungkin karna pengaruh alkohol membuat lelaki itu langsung tertidur.
Lyra menatap dalam pada wajah pria disampingnya itu,hatinya terasa sakit,apa lagi Dewa yang menyebut nama Wulan dalam sela-sela percintaan mereka,namun tubuhnya menerima dengan apa yang Dewa lakukan padanya.
Lyra memang bukan gadis suci,namun selama ini tak pernah ia merasa begitu mendamba akan sentuhan para lelaki yang dulu mendekatinya.
Dari pertemuannya yang pertama dengan Dewa,ia yakin Dewa berbeda dengan semua lelaki yang ia kenal,Dewa tak pernah menyentuhnya,apalagi sampai melecehkannya.
Tapi kenapa malam ini lelaki ini berbeda? kenapa lelaki ini bersedia menyentuhnya?.
Lama Lyra berpikir,lalu pada akhirnya ia pun tertidur juga.
***
Pukul 8 pagi,Dewa membuka matanya.
__ADS_1
Ia terkejut saat melihat Lyra disampingnya,yang masih tertidur dengan tubuh polos tanpa sehelai kain yang ia kenakan.
Dewa mengusap wajahnya."Apa yang kau lakukan Dewa?" Gumamnya.
Lyra yang merasa ada pergerakan disampingnya kemudian membuka matanya.
"Tuan?" lirihnya dengan suara paraunya.
"Maaf Lyra,aku menyakitumu" ucap Dewa.
Lyra yang baru sadar,ia melihat tubuhnya yang polos itu penuh dengan bercak kemerahan pada kulit putihny.
"Lyra tidak apa-apa tuan" jawab Lyra dengan senyumannya "Justru Lyra yang minta maaf,karna Lyra sebagai istri tak bisa menarik perhatian anda,sehingga anda harus menganggap Lyra orang lain baru anda bersedia menyentuh tubuh kotor ini" ucap Lyra,entah itu sindiran atau tidak,yang jelas Dewa tau pasti Lyra merasa tersakiti saat ini.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi" Ucap Dewa kemudian hendak beranjak.
Lyra mencekal tangan Dewa "Lyra lebih suka tuan bersikap seperti semalam,dari pada tuan memcari wanita lain sebagai pelampiasan" ucap Lyra.
Ada gurat sedih dalam mata Lyra,namun tak ada air mata yang hendak menetes disana.
Dewa mendekat kemudian memeluk tubuh mungil wanita itu.
"Maaf" Lirih Dewa kemudian mengecup puncak kening Lyra.
***
Elang yang baru selesai memakai kemejanya kemudian menoleh "oh itu, surat pengunduran diri mu,aku sudah menandatanginya".
Mendengar ucapan Elang,Dira sampai membelalakan matanya.
" Kau memecatku?"
"Tidak,aku tidak memecatmu...aku hanya menerima surat pengajuan resign dari mu" jawab Elang mengancingkan kacing pada unjung lengannya.
"Aku tidak pernah mengajukan resign" ucap Dira yang tak terima.
"Kau tidak pernah,tapi suami mu ia" jawab Elang dengan entengnya membuat Dira menautkan kedua lengannya dengan pipinya menggembung.
Elang yang sudah ada dihadapan Dira,kemudian mencuri cium pada wanita itu.
"Baik lah,karna sekarang aku sudah tidak bekerja,jadi,satu ciuman dipipi lima puluh ribu,dan satu kali di bibir seratus ribu" ucap Dira sambil memasangkan dasi pada Elang.
"Bagai mana jika kau yang menciumku? apa kau juga akan membayarnya?" ucap Elang.
"Aku tidak akan menciummu" Dira terkekeh.
"Benar kah?" goda Elang.
"Hm" Dira mengangguk.
__ADS_1
Baiklah,Elang mencium bibir Dira.
"Seratus ribu" ucap Dira,membuat Elang terkekeh,Dira kembali menarik kerah Elang agar suaminya itu menciumnya lagi "Dua ratus ribu", lagi " Tiga ratus ribu".
"Aku tidak akan bangkrut hanya dengan menciummu" tantang Elang.
"Benarkah?" Dira kembali menarik Elang "Satu juta" ucap Dira.
"Sampai dimana sekolahmu? berhitung saja tidak bisa" ejek Elang.
Dira mencebik,tak menjawab.
Elang menarik tengkuk Dira kemudian menyatukan kembali bibirnya diatas bibir Dira,kemudian **********,cukup lama hampir lima belas menit "Dua juta" ucap Elang setelah melepaskan ciumannya.
"Aku akan terlambat kalau kau terus menggodaku" Elang kembali bersuara lalu mengecup lembut dahi Dira "Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada mu dan anak kita,jadi jaga dirimu baik-baik,karna kalian sungguh berharga bagiku".
Dira tersenyum,kemudian mengantar Elang hingga luar pintu apartemen.
" Bagai mana dengan Dewa?" tanya Dira saat Elang baru keluar dari pintu.
"Aku akan mengurusnya nanti"
"Jangan terlalu keras terhadapnya,dia sangat menyayangimu dan lebih menghormatimu"
"Ya,baik lah...aku berangkat" ucap Elang kemudian meninggalkan Dira.
Dira kemudian masuk kedalam Apartemen, lalu ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
[Bisa kita bertemu nona Dira?]
[Tentu saja bisa Lyra,kemana kita bertemu?] balas Dira,ternyata pesan tersebut dari Lyra.
[Kita bertemu di kafe sunrise,saat makan siang] balas Lyra.
[Baik] jawab Dira.
Dira kemudian bersiap,hari ini ia akan kembali kerumah sakit untuk menjenguk tuan Hermawan.
Ia tetap saja tidak bisa menutup mata tentang kesehatan Tuan Hermawan,Semoga saja kali ini beliau tidak menolaknya lagi,maka Dira akan merawat tuan Hermawan.
Dira merasa semakin simpati,apalagi setelah mendengar bahwa ternyata nyonya Sarah juga pergi meninggalkan beliau.
next?
like n coment please...
__ADS_1