
Kampus X.
Irfan yang baru saja memarkirkan motor maticnya dilapangan parkir area kampus,bermaksud untuk langsung saja menuju ruangannya.
"Siapa tu cowok?" seorang gadis cantik yang tengah asik menikmati jus jambunya bertanya pada gadis disampingnya.
"Mana?" tanya gadis yang bernama Mela sambil celingukan mencari sosok yang dimaksud sehabatnya itu.
"Itu,yang pake jeket hoodie ada tulisan J didadanya" si Gadis yang penasaran tadi menunjuk arah dimana Irfan sedang berjalan.
"Oh,itu maha siswa baru Sa" jawab Mela pada sahabatnya yang bernama Marisa itu.
"Cakep" Gumam Marisa dengan senyumannya.
Ternyata tak hanya Marisa yang diam-diam mencuri pandang dari sosok Irfan,tapi banyak gadis yang juga berbisik-bisik membicarakan pemuda tersebut.
Irfan bukan seorang yang tidak peka,ia bisa mendengar setiap apa yang dibisik-bisikan para gadis tersebut,namun ia sama sekali tak menanggapinya,ia hanya ingin fokus pada urusan kuliahnya,dan bisa lulus dengan nilai memuaskan,agar bisa membuat kedua orang tua serta kakaknya bangga.
Dulu saat sekolah ia sudah sering mendengar pujian dari para teman-teman gadisnya,dan itu sama sekali tak membuatnya jumawa.
Satu mata pelajaran berakhir...
"Lihat Yan,itu anak baru,katanya dia baru transfer dari kampus luar kota,kudengar dia jago main bola" ucap seorang mahasiswa bernama Reno.
Pemuda yang disapa Yan itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Irfan yang kini tengah asik membaca buku dipinggir lapangan.
Jaket yang berinisial J pada jaket Irfan seperti menandakan bahwa pemuda itu memang pecinta sepak bola.
Pemuda itu kemudian mendekati Irfan dengan didampingi teman-temannya.
"Hai bro...bisa bicara?" tanya pemuda itu.
Irfan hanya diam tak menjawab,karna ternyata sebuah head set terpasang dikedua telinga pemuda itu.
Irfan yang menyadari seseorang sedang berdiri disampingnya pun mendongak untuk melihat siapa yang datang.
Irfan menyipitkan matanya, menyesuaikannya dengan cahaya yang menyilaukannya itu.
"Maaf ada apa?" tanya Irfan yang tak mengerti,kemudian melepaskan head set nya.
"Kami dari klub sepak bola,kudengar kamu jago mendribling bola,apa berminat buat gabung?" Reno menawarkan.
Irfan menegrutkan keningnya,bagaimana pria ini tau kalau aku bisa sepak bola?. batin Irfan.
"Sorry bro,tapi saya nggak jago sepak bola" jawab Irfan merendah.
"Jangan bohong,kemarin saya lihat kamu main bola sama seorang anak kecil didepan gerbang kampus" Reno masih bersikeras.
"Udah lah,Ren,dia nggak minat mending nggak usah aja" ucap pemuda yang dipanggil Yan tadi.
Reno pun akhirnya pasrah,dan tidak lagi meminta Irfan untuk bergabung. Dan merekapun kemudian pergi dari sana meninggalkan Irfan sendiri.
__ADS_1
***
[Sayang]. sebuah pesan masuk di ponsel Elang, Elang membukanya dan sedikit menampilkan senyumnya namun tidak membalas pesan tersebut.
[Sayang]. Kembali,pesan masuk dan dari pengirim yang sama.Elang masih mengabaikannya.
[Sayang 😙😙😙]. Elang kemudian menghela nafasnya saat kembali mendapat pesan yang sama,namun kini di tambah dengan emotion, dari siapa lagi kalau bukan dari Dira.
Semenjak ia dikurung diAprtemen,Dira yang merasa bosan,selalu mengirimkan pesan singkat yang tidak penting untuk suaminya.
[Ada apa?] akhirnya Elang membalasnya.
[Kamu dimana?] Balasan dari Dira.
[Sama Siapa?] belum sempat Elang mengetikan balasan,sebuah pesan kembali masuk.
[Lagi ngapain?].Elang hanya menggelengkan kepalanya,heran,kenapa Dira hanya mengirim sepatah kata untuk satu pesan? kenapa tidak sekalian banyak saja,agar lebih mudah untuk Elang membalasnya,batin Elang.
[Aku di Kampus X,mau menyusul?] Balas Elang.
Dira tampak mengerutkan keningnya saat mendapat balasan pesan dari Elang, Apa yang dilakukan El di sana?. batin Dira.
[Boleh deh,dari pada bosan dirumah].
Usai membaca balasan dari Dira,Elang kemudian menelpon Irfan.
"Fan,masih dikampus?"ucap Elang yang tengah menelpon Irfan.
"Bisa kamu jemput Dira sekarang?"
"Bisa mas,tapi tadi aku kesininya pake motor apa nggak papa?".Tanya Irfan memastikan,karna yang Irfan tau,Elang kini benar-benar over protektif pada kaka perempuannya itu.
" Kamu langsung keparkiran VIP,nanti sopir saya akan kasih kunci mobilnya kekamu" perintah Elang.
"Eh tunggu,emang mba Dira mau diantar kemana mas?".
"Kekampus X".
"loh,emang Mas Elang disini?".
" Hm".
Mendengar jawaban Elang yang singkat,membuat Irfan mengerti bahwa pria yang tengah menelponnya ini sudah tidak ingin ada banyak pertanyaan dari Irfan.
Setelah mengatakan iya,kemudian Elang mematikan sambungan telponnya.
"Silahkan tuan" ucap seorang asisten dekan di kampus tersebut.
Elang mengangguk,kemudian mengikuti arah yang ditujukan wanita setengah baya tersebut.
***
__ADS_1
Irfan menerima kunci mobil dari supir Elang kemudian melajukan mobil mewah tersebut menuju apartemen Elang.
Dira yang sudah bersiappun menunggu Irfan didepan gedung apartemennya.
"Hai Pan" Sapa Dira saat wanita itu duduk disamping Irfan yang duduk dikursi kemudi.
"Hai Mba" Irfan membalas sapaan kakaknya, Kemudian melajukan mobil tersebut.
"Emang Elang ada dikampus kamu ya Pan?" Tanya Dira.
"Kayaknya sih iya mba,soalnya Ipan nggak liat mas Elangnya langsung,tadi cuma ketemu supirnya di parkiran" jawab Irfan.
"Oh..."
"Emang ada keperluan apa ya mba,kok mas Elang datang lagi ke kampus,setahuku, urusan kuliahku kan udah kela?" tanya Irfan penasran.
"Kamu nggak tau ya Pan?" Irfan menggeleng "Keluarganya Elang kan salah satu ivestor di kampusmu".
Sontak saja pemuda itu membelalak kaget mendengar ucapan kakaknya.
" Wah,jadi mas Elang tu bener-bener tajir ya mba?"ucap Irfan.
"Ya,karna itu,kita benar-benar berbeda jauh Pan,kayak bumi sama langit" lirih Dira.
"Tapi kalau Ipan lihat,mas Elang sama sekali nggak masalah tuh sama latar belakang mba," Irfan sambil fokus pada jalanan didepannya. Sesekali melirik kakak nya yang tengah menyandarkan kepalanya pada sandaran jog mobil.
"Untuk saat ini memang baik Pan,tapi nggak tau untuk seterusnya,mbak selalu menguatkan hati,kalau-kalau suatu saat akan keluar kata-kata pedas dari mulutnya" lirih Dira.
Irfan mengerti,maksud kakaknya adalah perbedaan latar belakang itu akankah bisa membuat rumah tangganya langgeng atau tidak,karna jika suatu hari ada masalah rumah tangga yang sampai membuat Elang menyebut tentang perbedaan itu,itu akan sangat menyakitkan bagi kakaknya.
Karna Irfan juga mengerti,tak selamanya kehidupan berumah tangga akan terus harmonis.
"Mba akan bertahan disisinya selama dia masih mau mempertahankan mba" tambah Dira lagi.
"Tapi,bukan kah sekarang ini mbak sudah hamil? bukankah anak kalian nantinya akan menjadi tali pengikat hubungan kalian sehingga menjadi lebih kuat?"
Mendengar ucapan Irfan,Dira jadi terkekeh "Kedua orang tua Elang saja yang sudah mempunyai dua anak saja bisa berpisah Pan, padahal mereka sama-sama dari kalangan berada".
" Jadi,maksud mbak, mbak sekarang sudah mulai menguatkan hati mbak kalau sewaktu-waktu mas Elang sampai melepaskan tangan mbak?".
"Dari awal pernikahan,mbak memang sudah mulai menguatkan hati Pan" ujar Dira.
"Tapi Ipan yakin,mas Elang selamanya tidak akan melepaskanmu mba,Ipan tau tatapan mas Elang setiap melihat mbak selalu menyiratkan rasa cinta yang mendalam,tapi kurasa ketakutan mbak sendiri yang membuatmu berpikiran buruk tentang masa depan pernikahan kalian". batin Irfan.
Â
Next?
like n coment please...
Â
__ADS_1