
cup
Elang mengecup pipi Dira dari belakang, sontak membuat wanita itu memutar kepalanya untuk melihat pria yang berdiri dibelakangnya.
"Kita makan siang dulu" ucap Elang saat tatapan mereka bertemu.
Kini Dira sedang duduk disofa ruang tamu,sedangkan Elang baru saja kembali dari kamar tuan Hermawan.
Dira mengangguk,kemudian mengikuti langkah Elang menuju ruang makan.
"Bagai mana keadaan tuan Besar?" tanya Dira kemudian duduk dikursinya.
"Sudah lebih baik,walau belum bisa berbicara dengan lancar,tapi sudah ada banyak kemajuan" Elang menjelaskan.
Dira mengangguk,"Apa tuan besar sudah makan siang?"
"Hm,tadi waktu aku disana,papa sedang makan dibantu suster"terang Elang."Setelah makan,kamu bisa bertemu dengannya" ucap Elang kembali.
Dira masih merasa gugup,walau bagai mana pun tuan Hermawan adalah tuan besar yang selalu ia segani.
Baru akan membalik piringnya,tiba-tiba ponsel Elang berdering.
"Aku angkat telpon dulu" ucap Elang saat melihat siapa yang menghubunginya.
Elang kemudian beranjak menjauh dari Dira untuk menerima panggilan tersebut setelah mendapat jawaban iya dari Dira.
Dira memandang hidangan mewah didepannya,rasanya begitu sepi ditempat yang sebesar ini hanya dirinya saja yang duduk diruang makan tersebut.
"Huft..." Dira menghela nafasnya, kemudian beranjak menuju dapur,dimana para maid sedang beristirahat dan makan siang bersama.
"Nona!" Ucap seorang maid yang melihat Dira masuk kedalam dapur.
Dira tersenyum kemudian ikut duduk dilantai untuk begabung dengan para maid yang sedang makan siang bersama dengan cara lesehan.
"Nona muda,kenapa ikut duduk disini?" pekik bik Siti.
"Bulek,jangan panggil Dira seperti itu, itu membuat Dira nggak nyaman". ucap Dira.
" Kamu ini,selalu saja susah dibilangin" gerutu bulek Siti.
Para maid senior sudah banyak yang tau hubungan Dira dengan bik Siti, jadi mereka tidak terkejut.
Namun ada beberapa maid yang baru bekerja sama sekali tidak mengerti.Sehingga merasa begitu segan saat Dira ikut bergabung.
"Dira mau ikut makan disini boleh?" tanya Dira,namun belum juga mendapat jawaban,Dira langsung menyomot piring didepannya kemudian menyendokkan nasi diatasnya.
Tingkah Dira sontak membuat para maid disana hanya bisa menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Apa tuan Elang nggak marah, kamu makan disini nduk?" tanya bulek Siti.
Dira menggeleng dengan mulutnya yang penuh dengan nasi "Dia lagi telfon bulek, paling urusan pekerjaan,kalau sudah menyangkut pekerjaan,dia pasti lama" jawab Dira setelah menelan makanannya.
Para maid pun sudah merasa nyaman dengan keberadan Dira disana,sehingga tidak ada perasaan segan lagi.
"Ternyata kamu disini" Suara Elang yang baru saja memasuki dapur langsung membuat para maid terdiam,mereka berbisik-bisik merasa takut kalau-kalau Tuan mereka akan memarahi mereka karna Dira ikut bergabung dengan mereka.
"Oh,Syang...Sini ikut gabung" ajak Dira dengan bibirnya yang masih terlihat basah karna terkena minyak dari ayam yang ia makan.
Elang tersenyum,membuat para maid muda disana merasa terkagum melihat tuannya yang terlihat begitu tampan dengan senyumannya.
"Kenapa makan disini?" tanya Elang kemudian berjongkok lalu mengelap bibir Dira dengan ibu jarinya.
Dira yang ditanya,tapi para maid itu yang merasa ketakutan,seketika suasana berubah menjadi mencekam.
"Disini banyak temannya,aku jadi napsu makan" jawab Dira diiringi cengirannya.
Elang mengangguk,kemudian meminta para maid untuk mengambil makanan yang ada dimeja makan untuk dipindahkan ketempat itu.
Elang ikut duduk disamping Dira,ia juga menikmati acara makan siang diatas lantai itu.
Namun perasaan mencekam dirasakan oleh para maid,mereka bahkan tidak berani bergerak.Merasa takut jika akan membuat masalah dan membuat tuan mudanya marah.
"Kalian tidak makan?" ucapan Elang bagaikan petir yang menyambar ditelinga para maid itu.
Dira menyikut perut Elang membuat pria itu kemudian menoleh padanya "Kau menakuti mereka" bisik Dira.
"Memang nya aku melakukan apa?" kilah Elang yang tidak tau perbuatannya yang bagaimana yang membuat para maid itu takut.
"Sudahlah...habiskan makananmu" ucap Dira yang tidak ingin berdebat.
***
"Kenapa?" tanya Elang saat Dira tiba-tiba berhenti didepan pintu kamar Papa Adrian.
"Syang...aku gugup sekali" ucap Dira sambil memegangi dadanya,karna berdegup begitu kencang.
"Memangnya kamu berbuat salah?" tanya Elang lagi.
Dira menggeleng.
"Kalau tidak,kenapa harus takut?...ayo" Elang kemudian menggandeng tangan Dira untuk memasuki ruangan tersebut.
Cklek...
Aroma bunga lily langsung tercium oleh indra penciuman Dira.
__ADS_1
Ia melihat seorang pria paruh baya sedang duduk diatas kursi rodanya dengan posisi memunggungi mereka.
Pria tua itu sedang menikmati pemandangan diluar sana melalu jendela kamar tersebut.
Perlahan Elang menarik tangan Dira untuk mendekat.
Elang dapat merasakan,betapa dinginnya telapak tangan Dira saat ini, ia sadar bagai mana gugupnya Dira sekarang.
Setelah jarak mereka semakin dekat,kursi roda itu dengan otomatis berputar,sehingga kini Tuan Hermawan menghadap mereka berdua.
Tanpa Dira duga,Seulas senyum terukir dibibir pria paruh baya tersebut.
Elang dapat merasakan,kini tangan Dira mulai menghangat,sepertinya istrinya kini sudah tidak begiti takut lagi, pikir Elang.
"Selamat siang Tuan" sapa Dira.
Tampak raut wajah dari tuan hermawan itu berubah,
Elang kemudian mendekati papanya tersebut,saat menyadari ayahnya sedang menuliskan sesuatu.
Elang mengambil memo ayahnya kemudian menyerahkan kepada Dira setelah ayahnya menyelesaikan tulisannya.
'kenapa masih memanggilku tuan? apa kau tidak akan pernah mengakuiku sebagai ayah mertuamu?'
Sebuah bulir hangat menetes dari netra Dira setelah membaca tulisan tersebut, Ia merasa terharu karna pada akhirnya Tuan besar Hermawan bersedia menerimanya.
"Terima kasih tuan besar...terima kasih" Dira membungkukan badannya berulang.
Elang kemudian mendekap tubuh istrinya tersebut,san dengan sayang mengecup pelipisnya.
Tuan Hermawan tersenyum,kenapa ia sama sekali tak pernah menyadari bagai mana manisnya gadis dihadapannya ini.
Dulu ia hanya berfikir tentang bagai mana ia bisa mengembangkan raksasa bisnisnya, sehingga sering mengabaikan bagai mana kebahagiaan yang diinginkan oleh istri dan anak-anaknya.
Mengengkang istrinya sendiri untuk selalu mematuhinya,mengendalikan kehidupan putra-putranya. Dan hal itu justru malah menghancurkan segala impiannya.
Istrinya meninggalkannya, anaknya pun juga menentangnya.
Dulu tuan Adrian selalu mengira, seorang Erlangga pasti tidak akan perna mau kembali lagi kesisinya,karna Adrian mengira, baik Mary atau pun Dira pasti tidak akan sudi berhubungan lagi dengannya.
Kekecewaan papa Adrian akan kehidupannya yang berantakan membuatnya putus asa,
Namun,setelah mama Mary mendatanginya satu hari yang lalu dan menjelaskan bagai mana wanita bernama Dira itu telah merubah kehidupan putranya, apalagi kabar mengenai kehamilan Dira membuat semangat hidup papa Adrian muncul kembali.
Perasaan ingin menimang seorang cucu membuatnya memiliki semangat untuk segera pulih, dan kini ia menjadi yakin bahwa Dira memanglah wanita baik ,walau pun tak memiliki pangkat sosial yang tinggi,Tapi wanita ini bisa mengubah arah hidup seseorang.
next?
__ADS_1
like n Coment please...