
Setelah tiba diapartement, Elang menidurkan Dira diatas ranjangnya.
Ketika hendak beranjak,tangan Elang dicekal oleh Dira.
Gadis itu membuka matanya yang terlihat sayu "Tuan chef mau kemana?"
Elang kembali duduk disamping Dira "Ada apa?" tanyanya mengusap lembut kepala gadis itu.
"Aku masih muda,kulitku masih kencang, jadi, aku lebih baik dari pada tante itu kan?" Ucapnya membuat Elang kembali tertawa.
"Memangnya kau ingin berlomba kecantikan untuk apa?"
Dira mengerucutkan bibirnya "kau tau tuan, bagai mana rasa nya dibanding-bandingkan? hem? Aku...aku..." Dira memperlihatkan raut wajahnya yang sedih.
"Kau mabuk, tidurlah" Elang menyelimuti tubuh Dira hingga batas dada.
Namun,Dira kembali membukanya. "Panas" ucapnya kemudian mengibaskan tangannya sebagai kipas.
Elang beranjak hendak menyalakan AC, namun tangannya ditarik kembali oleh Dira.
"Bagai mana jika aku terjatuh?" ucapan Dira membuat Elang mengerutkan keningnya kedalam. " Bagai mana jika aku jatuh cinta padamu?" Dira melanjutkan ucapannya.
"Akan ku nyalakan AC nya" Elang akan kembali beranjak,namun lagi-lagi Dira menarik tangannya. Dan tarikan kini lebih kuat,hingga membuat Elang hampir terjatuh diatasnya kalau dia tidak dengan sigap menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan.
Dua pasang mata itu saling manatap, seolah ada kilatan bara tersimpan didalamnya.
Elang seperti terlena dan tanpa sadar mendekatkan wajahnya,hingga bibir keduanya menyatu "Kau yang merayuku" ucapnya kemudian mendorong tubuh Dira.
Perlahan tapi pasti, mereka saling membutuhkan satu sama lain.Saling menyentuh,saling merengkuh.
Bersatu dalam satu ikatan tali yang tak kasat mata,menjadikan keduanya terbuai dalam keindahan dan kenikmatan dalam setiap sentuhan lembut.
***
Sorot cahaya matahari menyusup kedalam kamar,menyusuri selah gorden yang tak tertutup rapat.
Dira masih hanyut kedalam mimpinya, sedangkan Elang yang sudah terjaga, masih setia memeluk tubuh polos istrinya dari belakang.
__ADS_1
Merasa terusik,Dira mengerjapkan kedua matanya. Ia memperhatikan sekitar dengan posisinya yang masih memunggungi Elang.
Elang yang berada dibelakangnya tidak tinggal diam,ia terus saja menciumi pundak Dira yang terbuka, semakin naik keatas hingga tengkuk membuat Dira merasa geli.
Dira yang menyadari apa yang dilakukan Elang pada tubuhnya,Dira menggoyangkan pundaknya agar Elang berhenti menciuminya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Elang kemudian.
Dira mengangguk kemudian memijit pangkal hidungnya,karna merasa pening pada kepalanya. "Kepalaku rasanya mau pecah" gumamnya.
"Tetaplah disini,aku akan membuatkan sarapan" Elang beranjak dengan hanya mengenakan celana boxernya menuju dapur.
Dira hanya melirik sekilas, kemudian ia juga akan beranjak "Kenapa tubuh sakit semua?" Dira membuka selimutnya "Aaaah...!!!" betapa kagetnya dia saat melihat tubuh polosnya dan penuh dengan tanda merah.
Dira segera berlari dan dengan cepat ia masuk kedalam kamar mandi.
Terbelalak kaget saat Dira memandang tubuhnya pada pantulan dicermin "Apa yang terjadi semalam?" tanyanya pada diri sendiri sambil menyentuh tubuhnya yang berwarna merah yang Dira yakini adalah perbuatan Elang.
Sekelebat ingatannya tentang kejadian malam tadi membuat Dira merasa takut dan malu. Apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan Elang nanti?.
Dira ingat betapa liarnya dia malam tadi, wajahnya memerah jika mengingat bagai mana agresifnya dia saat melakukan itu bersama Elang.
Elang tidak pernah melakukan hal itu saat menyentuh Dira, karna setiap kali menyentuhnya,Elang selalu menjaga kenyamanan Dira.
Dan jika membuat hickey paling hanya satu atau dua, tapi kenapa kini ada banyak sekali hickey pada tubuh Dira? bahkan dipunggungnya pun ada.
Setelah membersihkan tubuhnya,Dira keluar dengan penampilan yang lebih segar,walau masih ada guratan merah diwajahnya. Nampak malu jika harus bertatap wajah dengan Elang.
Ia keluar dari kamar,dan kemudian menuju dapur saat telinganya mendengar ada suara dari sana.
Lebih dekat lagi,tercium aroma lezat dari sana, membuat cacing-cacing diperutnya seakan berdemo untuk diberikan makanan.
Pemandangan pagi yang jarang bahkan belum pernah ia lihat. Melihat sosok Chef Elang memasak didapurnya.
Walau Elang adalah seorang Chef,ia tidak pernah memasak dirumah,bahkan sama sekali tak pernah menyentuh peralatan memasak setelah ia menikah.
Tapi pagi ini, Dira melihat sosok Chef Elang tengah sibuk dengan spatulanya. Apa lagi punggung lebar dan terlihat kokoh begitu jelas terlihat,karna Chef Elang memasak dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxer saja.
__ADS_1
"Hapus tu ilernya" ucap Elang yang tanpa Dira sadari sudah ada disampingnya, menyajikan hidangan didepan Dira.
"Siapa juga" elaknya,namun tangannya juga reflek mengusap bibirnya sendiri,namun tertipu,karna memang Dira tidak ngiler.
Elang terkekeh melihat tingkah Dira,apa lagi dengan pipinya yang masih terlihat memerah. "Makan lah" Elang menggeser piring agar lebih dekat dengan Dira.
"Pasta?" ucap Dira agak ragu saat melihat makanan didepannya, Dia memang tidak terlalu suka makanan asing.
Elang mengangguk "Cobalah" Elang berbalik untuk mengambikan air putih didalam kulkas.
"Ada angin apa? tumben sekali kau memasak dirumah?" Bukannya memakan makanannya, Dira malah sibuk memperhatikan gerakan Elang yang sedang mengambilkannya minum.
Elang kembali dengan dua gelas air putih, kemudian duduk disamping Dira. Gadis itu masih memandanginya,seakan mencari sesuatu yang membuat Elang berbeda pagi ini.
Dan tanpa Dira sadari,Elang sudah menyodorkan garpu yang sudah berlilitkan pasta disana "Aaa..." ucapnya,membuat Dira reflek membuka mulutnya.
Dira mengunyah makanan itu yang biasa nya akan ia keluarkan lagi karna Dira yang tak suka dengan makanan seperti itu. Namun kali ini berbeda, dengan perlahan Dira merasai pasta yang ada dimulutnya "Waaaahhh.... enak" Ucapnya dengan wajah berbunga-bunga."Jadi ada angin apa yang membuat tuan chef memasak dirumah" Dira merebut garpu Elang kemudian menyantap makanannya sendiri.
"Ada angin senang" jawab Elang "Pelan-pelan" Elang menyodorkan gelas berisi air pada Dira, dan kemudian diminum oleh gadis itu. "Kau suka?"
"Tentu saja,ini pasta terenak yang pernah ku makan" jawab Dira antusias.
"Kau senang?" Tanya Elang lagi dan Dira mengangguk mantap dengan jawabannya "Kalau begitu katakan lagi" ucapan Elang membuat Dira bingung hingga membuat gadis itu terlihat berfikir.
"Apa?" tanya Dira kemudian karna tak mendapat jawaban atas apa maksud Elang yang memintanya untuk mengatakan sesuatu yang tak diketahuinya.
"Katakan apa yang kamu ucapkan semalam"
Ah...Dira ingat, dia bilang kalau dia sudah jatuh cinta pada pria didepannya ini. Tapi Dira tidak akan mengakuinya.
"Memangnya apa yang aku katakan tadi malam?" Dira masih berusaha mengelak.
"Kau lupa? ingin ku ulangi lagi kejadian malam tadi agar kau ingat?" Elang mencondongkan tubuhnya menggoda Dira.
"Ah...aku kan mabuk semalam...mana ada ucapan orang mabuk yang akan diingat setelah mereka sadar" Masih berusaha mengelak dan mendorong dada Elang dengan Telunjuknya agar pria itu menjauh darinya.
Sungguh, berdekatan dengan pria ini bisa membuat Dira spot jantung. Apa lagi dengan penampilan Elang yang sedang bertelanjang dada kali ini, terlihat sekali kotak-kotak enam yang ada di perutnya, membuat Dira semakin gelagapan.
__ADS_1
Dira yang memperhatikan tubuh putih suaminya itu tiba-tiba merasa panas pada wajahnya, saat mendapati ada beberapa tanda kemerahan pada tubuh Elang, ditambah lagi ada bekas gigitan pada leher pria itu.
Ya Tuhan...apa yang Dira lakukan semalam...