Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tigapuluh enam


__ADS_3

Dira sedang sibuk dengan mixer ditangannya, ia kini sedang membuat sebuah cake direstoran tempatnya bekerja.


Hanya dengan menyibukan diri Dira bisa melupakan masalahnya.Terutama tentang perasaannya yang gelisah masalah foto semalam.


Tidak pernah,dalam dua tahun ini Dira kepikiran masalah Elang yang dekat dengan siapa,dan baru kali ini dia merasa terganggu.


Apa sih yang sebenarnya ada dalam dirinya? Apakah kini perasaan Dira sudah berubah? Entahlah,Dira bahkan tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Usai memasukan adonanya kedalam oven, Dira kemudian membersihkan keringatnya yang ada pada dahinya.


Tanpa Dira sadari,tiba-tiba sebuah tangan memeluknya dari belakang.


"Astaga...!" Dira buru-buru melepaskan tangan yang melingkari perutnya,kemudian berbalik untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya. "El" ucap Dira terkejut.


Elang hanya menampilkan sedikit senyumnya,


"Kau sudah pulang?" tanya Dira sambil melihat sekeliling memastikan bahwa tidak ada yang melihat mereka.


"Kau takut ketahuan?" Goda Elang yang melihat gerak-gerik Dira seperti maling yang takut ketahuan.


"Kemana mereka semua?" Tanya Dira heran, pasalnya, sama sekali tidak ada orang dipantry itu "Apa kau mengusir mereka semua?"


Elang terkekeh,kemudian mengakat tubuh Dira agar duduk diatas meja.Kini posisi Dira lebih tinggi dibanding Elang,sehingga Elang harus mendongak disaat ingin melihat wajah istrinya.


"Segitu seriusnya kamu bekerja,sampai tidak sadar kalau rekanmu sudah pergi semua. Kalau begini,bagaimana aku bisa memecat mu,jika pekerjaanmu seserius ini"


Dira mencebik,kemudian mengerucutkan bibirnya "Kenapa pulang tidak kasih kabar?".


Elang menghela nafas kemudian menyandarkan kepalanya pada dada Dira "Semalam,setelah menelponmu,aku langsung menyelesaikan semua pekerjaan waktu itu juga.sampai tidak tidur semalaman".


" Harusnya kau langsung saja pulang ke apartemen dan segera tidur" Dira mengelus bahu Elang dengan lembut.


Merasa nyaman dengan posisinya,Elang merapatkan tubuhnya pada Dira.


Hal itu membuat Dira terheran,ada apa dengan Elang,kenapa bisa berubah seperti ini.


Tiba-tiba saja Dira mendorong tubuh Elang agar sedikit menjauh.


"Dimana suami ku?!" Ucap Dira membuat Elang mengerutkan keningnya. "Katakan, dimana kau sembunyikan suamiku!"


"Apa maksudmu?" Tanya Elang terheran.


"Kau...kau pasti bukan El kan? kau pasti seseorang yang menyamar menjadi dirinyakan?!" Tuding Dira kemudian "Awh...!" Dira mengelus keningnya yang mendapat sentilan dari Elang.


"Sudah puas berkhayalnya? makanya jangan suka membaca komik yang aneh-aneh atau kau mau mendapatkan hukuman lagi?" Nah, ini lah kata2 yang Elang miliki... karna seorang Elang tidak akan bersikap manja seperti tadi, kini Dira sudah percaya kalau pria yang ada dihadapannya adalah benar suaminya.


Kemudian tanpa babibu, Elang menarik Dira agar mengikutinya.


"Desi...! panggil chef bagian dessert untuk menggantikan Dira hari ini!" Titah Elang saat melewati para pegawai yang sedang istirahat di ruang istirahat.


"Baik pak" Jawab Desi.

__ADS_1


"Desi,ada adonan didalam oven, nanti sepuluh menit lagi tolong minta asisten Nia untuk mengangkatnya" Kini Dira yang berpesan, dengan masih posisi berjalan mengikuti langkah kaki Elang yang cepat.


"Baik" jawab Desi,kemudian mengepalkan tangan kanannya seperti memberi semangat untuk Dira.


Dira hanya menatap miris pada Desi yang ada dibelakangnya.


Para karyawan lain hanya menatap heran kepada bos mereka.


"Kalian cepat kembali bekerja!" perintah Desi pada para pegawai,agar tidak ada yang bergosip tentang Elang dan juga Dira.


Karna kalau saja Desi tidak tau hubungan mereka berdua,pasti Desi pun juga akan ikut bergosip ria dengan mereka semua.


***


Elang membawa Dira hingga kedalam mobilnya,banyak sekali kasak-kusuk dari para pegawai setelah mereka melewatinya.


Tapi Elang tidak peduli,namun Dira yang berusaha menutup wajahnya dengan telapak tangannya membuat Elang merasa geli sendiri.


"Masih mau main kucing-kucingan?" tanya Elang yang kini sudah duduk dibalik kemudi.


"Aku hanya tidak suka mereka membicarakan ku" jawab Dira.


"Kau adalah istriku,jadi wajar saja mereka membicarakanmu" ucap Elang santai.


Dira menghembuskan nafasnya,sepertinya percuma saja berdebat dengan Elang.


Sesampainya diapartemen.


tok...tok...tok...


Pintu kamar mandi diketuk dari luar.


"Kau sudah makan?" Tanya Dira dari balik pintu.


"Belum" Jawab Elang masih dengan aktifitas mandinya.


"Aku siapkan makanan" Ucap Dira kemudian berbalik dan pergi menuju dapur.


Dira yang sedang sibuk dengan panci didepannya,dapat merasakan kehadiran Elang yang kini sudah berada dibelakangnya.


"Kau sudah selesai? aku juga sudah hampir menyelesaikan masakannya" ucap Dira tanpa menoleh pada Elang yang berada dibelakangnya.


"Bagai mana kau tau aku disini?" tanya Elang.


"Bau sabun mu menusuk hidungku" Jawab Dira singkat kemudian menyajikan makanan yang ia buat. Hanya masakan rumah,karna Dira memang tak pandai memasak masakan rumit.


Namun walau hanya masakan sederhana, Elang justru menyukainya. Menurut Elang, masakan Dira itu begitu pas dengan lidahnya.


Dira kini duduk disebelah Elang yang tengah memakan makanannya.


"Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Elang,karna Dira yang dari tadi menatap padanya.

__ADS_1


"Hm" Dira mengangguk. "Kemarin,tuan Hermawan menemuiku".


Elang menghentikan aktifitasnya,kemudian menatap pada Dira " Apa yang dia katakan?"


"Dia ingin aku meninggalkanmu" ucapan Dira membuat Elang tertawa sumbang.


"Apa haknya mengatur hidupku?" ucap Elang dingin.


"Ya,walau bagaimanapun tuan Hermawan adalah ayah kandungmu"


"Dia tidak memiliki hak untuk mengaturku, begitu pun mama,mama pun juga tidak berhak mengatur hidup Dewa,kami sudah hidup masing-masing. Jika mereka memang masih ingin mengatur kehidupan kedua anak mereka, maka seharusnya mereka tidak berpisah" ujar Elang,kemudian meminum air putih pada gelas yang sudah disediakan Dira. "Apa mama masih memintamu untuk mengurus masalah Dewa lagi?"


"Ya,tapi hanya meminta pendapat saja" jawab Dira.


"Abaikan saja" ucap Elang kemudian beranjak dari duduknya.


Dan tanpa aba-aba langsung menggendong Dira dengan kedua tangannya.


"Ehh...!" pekik Dira karna terkejut,kemudian mengalungkan tangannya pada leher Elang. "Kita mau kemana?".


Dira merasa semakin panik saat Elang membawanya melewati tangga dan menuju kamar mereka.


" Melaksanakan rencana B" jawab Elang dengan senyum devilnya.


"Eh...tunggu dulu!!" pekik Dira. Tanggal berapa ini?.


"Hari ini tanggal 23" ucap Elang yang seakan tau apa yang ada dipikiran Dira.


"A-apa??".Dira berseru.


Elang terkekeh " Hari ini masa suburmu kan?"


Dira terbelalak kaget. Bagai mana Elang bisa tau masalah seperti itu?.


Ya,selama dua tahun ini Dira memang selalu menghindar dari Elang disaat masa suburnya.


Lalu,bagai mana Elang bisa menyadarinya?


"Maksud kamu apa?" kini Dira sudah berada diatas ranjang.


"Kau tau maksudku,kurasa, seorang bayi akan memperkuat hubungan kita" ucap Elang.


"A-aku tidak berfikir sampai sejauh itu" ucap Dira terbata.


"Jadi,apa yang kau pikirkan?" Kini Elang melepas kausnya,membuat Dira semakin gugup. "Kau gugup?" Ejek Elang.


Dira berusaha mendorong dada Elang saat pria itu mendekat.


"Kita bukan untuk pertama kalinya melakukan ini kan? kenapa wajahmu merah?" goda Elang lagi, dia begitu gemas melihat rona merah pada pipi istrinya. Dan tanpa aba-aba,ia langsung mengecup pipi Dira dengan lembu.


Astaga...jantungku...ini memang bukan untuk yang pertama,tapi untuk membuat anak?? astaga...aku tak pernah berpikir Elang akan melangkah sejauh ini. Pekik Dira dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2