Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
ekstra part 9


__ADS_3

"Apa yang mengganggumu?" tanya Elang saat mendapati Dira masih belum juga menutup matanya.


Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari,dan Dira masih merasa gelisah.


Dira yang tadinya tidur dengan posisi memunggungi Elang,kini ia berbalik menghadap suaminya.


"Tentang Lyra" ucap nya kemudian,ternyata menyimpan masalah sendirian memang sangat sulit,apa lagi disaat posisi sedang hamil seperti ini.


Elang mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk Dira dari depan.


"Coba ceritakan" Elang mengelus rambut Dira.


Dira kemudian menceritakan apa yang terjadi saat di toko kain siang tadi.


Tentang kekhawatirannya dengan hubungan Lyra.


Ia takut kalau sampai Lyra akan menyerah karna takut akan terjadi apa-apa dengan karir Dewa.


"Kamu bilang orang yang mengancam Lyra adalah orang yang ada di perusahaan Hermawan?".


Dira mengangguk " Lyra bilang ia pernah melihatnya dikantor" Dira bicara tepat didada bidang Elang kemudian mengendusnya.


"Sepertinya sabun itu memang cocok untukmu" ucap Dira "Aku suka wanginya" Dira kemudian terkekeh.


Seperti itulah Dira,saat membicarakan hal serius ia akan mencari topik untuk mencairkan suasana.


"Ya kalau begitu cium saja sampai pagi" Elang kemudian mengangkat tangannya,dan jadilah ketek yang ada dihapan Dira.


Dira mendongak kemudian tertawa lalu menduselkan wajahnya pada ketek suaminya.


Dan sontak saja itu membuat Elang kelabakan kegelian "Hentikan...sayang...geli..." pekik Elang.


"Bukan kah kemu yang menyuruhku mencium nya sampai pagi" bukannya menjauhkan wajahnya,Dira malah mencegah tangan Elang yang hendak diturunkan.


Dan itu membuat Elang semakin kelabakan "Sayang...!" ucap Elang semakin tak tahanerasa geli karna tingkah Dira.


Dira kemudian menghentikan aksinya,dan akhirnya Elang pun bisa lega dan berhenti tertawa.


"Baiklah" Elang kemudian beranjak mengambil laptopnya yang ada diatas nakas.


"Mau kerja lagi?" heran Dira melihat jam yang tertempel didinding sudah menunjukan pukul setengah dua dini hari.


Elang tak menjawab,ia hanya fokus pada laptopnya dan serius mengerjakan sesuatu.


Dira yang melihat itu kemudian mencebik kesal,ia pun keluar kamar untuk mengambil air didapur.


Ia memasuki kamar masih dengan wajah ditekuk,kenapa bisa ia memiliki suami yang begitu sibuk? bahkan waktu untuk tidur saja masih harus bekerja.


"Sayang,kemarilah" panggil Elang saat Dira baru masuk kedalam kamar.


Dira mendekat kemudian duduk ditempatnya semula.


"Ini adalah foto daftar karyawan di perusahaan,coba kau perhatikan ,orang yang mengancam Lyra apa ada diantara mereka?" Elang menunjukan layar didepannya.


Ternyata Dira salah faham,ia pikir Elang sedang bekerja namun ternyata ia mencari orang yang membuat Dira khawatir.

__ADS_1


Bukannya melihat kearah laptop,pandangan Dira justru menatap kearah Elang,Ia menatapnya dengan pandangan takjub.


Kemudian sebuah ciuam Dira daratkan dipipi suaminya,sebagai tanda terima kasih.


Elang yang mendapatkan sebuah ciuman pun terlonjak kaget. "Sini belum" ucapnya menolehkan wajahnya sambil menunjuk pipinya yang satunya lagi agar Dira juga memberi ciuman pada sisi yang satunya.


"Ih,ngelunjak!" Dira mencebik,namun melakukan apa yang Elang minta.


"Kenapa tiba-tiba kasih cium?"


"Sebagai tanda terima kasih aja" jawab Dira kemudian mengalihkan pandangannya pada laptop dipangkuan Elang.


Elang terkekeh,kemudian dengan gemas mencubit pipi Dira "Aww...sakit!" pekik Dira.


"Masaak?".Elang dengan wajah yang dibodo-bodokan.


Dira memanyunkan bibirnya " Nggak adil banget,tadi pipi kamu aku kasih cium, tapi pipi aku malah dikasih cubit sama kamu".


"Jadi pipi kamu iri nih?" goda Elang menoel pipi Dira.


"Iya lah" jawab Dira.


Elang kembali terkekeh,kemudian mendarat kan sebuah kecupan dipipi kanan Dira.


Dira menyambutnya dengan menolehkan wajahnya agar Elang bisa mencium pipi sebelahnya.


"Ini juga?" Elang menunjuk pipi kiri Dira.


"Iya dong" karna Elang tak kunjung mencium pipi sebelahnya, Dira pun menempelkan pipinya sendiri pada bibir Elang. Dan sontak itu membuat Elang tertawa.


"Agresif sekali....kayak kurang kasih sayang aja" Elang kembali menggoda Dira,namun Dira tak menanggapi,kini ia sedang fokus melihat kearah layar laptopnya.


Sementara itu,di mansion Hermawan.


Lyra pun tak beda dengan Dira,ia bahkan lebih khawatir dengan apa yang akan terjadi pada Dewa jika sampai para pegawainya tahu tentang dirinya.


Tak dapat memejamkan mata,karna apa yang terjadi siang tadi,Lyra pun memutuskan untuk menuju keruang menjahitnya.


Ia kemudian membentangkan kain yang hendak ia potong untuk bahan penbuatan gaun anak-anak.


Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengisi malam ini selain membuat baju, karna Dewa pagi tadi sedang ada perjalan bisnis di luar kota,dan mungkin sampai tiga hari kedepan tidak akan ada disampingnya.


Tak ada yang bisa diajak bicara di mansion tersebut,bahkan para pembantu pun juga sudah beristirahat.


Ckriss....


"Awh...!" pekik Lyra karna tanpa sengaja tangannya terkena gunting saat ia memotong kain tersebut.


Darahnya mengucur cukup deras karna lukanya cukup dalam.


Tanpa terasa air matanya jatuh,bukan karna jari tangannya yang sakit,melain kan pikiran dan hatinya sedang gundah tak menentu.


Apakah ia seharusnya pergi?


Lyra butuh seseorang untuk diajak bicara,ia bingung harus bagai mana.

__ADS_1


Ia pun mengambil sedikit potongan kain kemudian membalut lukanya agar darah tak menetes kembali.


Terdengar ponsel Lyra berbunyi, tertera nama Mba Dira disana dan ia pun segera mengangkatnya.


"Halo mbak?"


"Lyra...kok cepet banget angkatnya? kamu belum tidur?" tanya Dira khawatir dari seberang sana.


"Lyra tidak bisa tidur mbak"


Terdengar helaan nafas dari seberang sana "Lyra,kamu segera tidur ya...masalah siang tadi jangan difikirkan,"


"Iya mba" mana mungkin Lyra akan bisa tidur? Dira yang tidak punya masalah saja tidak bisa tidur,apa lagi Lyra?.


"oh iya aku mau kasih tau,bisa tidak nanti pagi-pagi sekali kamu datang ke apartemen?"


"Ada apa mba?"


"Ini menyangkut masalah siang tadi, Elang akan memberi tahu kamu sesuatu jadi bisakah kamu kesini sebelum dia berangkat bekerja?"


"Oh,iya mba akan Lyra usahakan" jawab Lyra kemudian menutup panggilannya setelah Dira mengakhiri nya.


Lyra menghela nafas panjangnya "Semoga mba Dira dan kak Elang bisa mendapat kan solusinya" lirih Lyra kemudian kembali menuju kamarnya.


Ketika sampai dikamar,ponsel Lyra kembali berbunyi dan nama Dewa yang kini memanggilnya.


Jam segini kenapa telfon? apa ada sesuatu yang penting?.batin Lyra.


"Halo?"


"Lyra? maaf selarut ini aku ganggu tidur kamu"


"Tidak apa,ada apa mas?"


"Sebenarnya bukan hal yang begitu penting, cuma mau kasih kabar saja...begitu sampai tadi aku langsung sibuk jadi nggak bisa kasih kabar".


" Oh..." Akhirnya senyum Lyra terkembang,memang sejak seharian tadi ia juga menunggu kabar dari Dewa,dan kini ia merasa lega karna sudah mengetahui kabar suaminya.


"Kalau begitu,kamu cepatlah tidur kembali,maaf sudah mengganggumu".


"Tidak apa-apa mas,justru Lyra senang mas mau memberi kabar,setidaknya Lyra sudah tidak khawatir".


" Besok aku akan telfon lagi,kamu segeralah istirahat"


"Iya mas" ucap Lyra,dan setelah penggilannya usai,ia pun meletakkan ponselnya diatas nakas,kemudian segera mengambil obat untuk mengobati jarinya yang tergunting tadi.


Setelah selesai,ia pun kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang,berusaha untuk terlelap.


Walau masih ada rasa perih di jari tangannya namun kabar yang Dewa beri tadi sedikit mengobati hatinya.


Setidaknya Dewa kini sudah tidak mengabaikannya.


----


note...

__ADS_1


Sebenarnya aku tuh takut banget kalau kalian tuh pada bosen,jadi bingung pengen diterusin apa nggak,soalnya di cerita Elang dan Dira memang sudah nggak ada konflik,ya cuma bumbu-bumbu cinta aja,,,jadi kalau kalian baca nya cuma ada romantisnya mereka aja tuh pada bosen nggak sih?


Ditunggu koment nya yah... see you...


__ADS_2