Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
empatpuluh enam


__ADS_3

Setelah Mama Mary pergi,Dira langsung berlari menuju kamarnya.


Ia melonpat hingga menindih Elang yang masih tertidur,sontak itu membuat Elang terkejut.


Dira memeluk Elang dengan begitu erat kemudian memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi Elang.


Elang mengerutkan keningnya "Ada apa?" tanya Elang yang masih setengah sadar dari tidurnya.


Dira memberikan senyuman terbaiknya "Terima kasih" kembali Dira mengecup pipi suaminya itu.


"Untuk?" Tanya Elang yang masih belum mengerti.


"Untuk ini!" Dira berseru sambil menunjukan lembaran-lembaran kertas yang ada digenggamannya.


Elang melebarkan matanya untuk melihat apa yang Dira bawa.


"Oh" ucapnya kemudian setelah melihat apa yang Dira tunjukan.


"Oh? hanya oh saja reaksimu?".


" Lalu aku harus apa? loncat kegirangan seperti mu?"


Dira mencebik,namun kata-kata Elang tak mengurangi rasa bahagianya. Senyumnya begitu sumringah sambil melihat lembaran ditangannya, Paspor beserta tiket menuju Italy yang dibawa Mama Mary tadi benar-benar membuat Dira menyingkirkan jauh-jauh pikiran jeleknya tentang Elang tadi.


Mama Mary mengatakan,kalau Elang yang meminta Mama untuk menguruskan paspor serta pembelian tiket pesawat untuk Dira dan Elang. Elang tidak bisa mengurusnya sendiri karna kesibukannya mengurusi restorannya serta urusan perusahaan Hermawan.


"Sepertinya kau senang sekali" ucap Elang yang masih berbaring ditempatnya.


"Tentu saja,kau kan tau itu adalah mimpiku" senyum masih terkembang dibibir Dira.


"Ck,kau tidak berterima kasih pada ku?"


"Bukankah tadi sudah?"


"Ku rasa kau belum setulus itu berterima kasih" ucap Elang "Kemari" Elang meminta agar Dira berbaring disampingnya.


"Tidak,aku tau apa yang ada di pikiranmu tuan... kau masih sakit dan aku tidak akan menurutinya" tolak Dira.


"Ck..." Elang mencebik "Pilih salah satu" ucap Elang kemudian menarik Dira agar berbaring disampingnya.


"Apanya?" Tanya Dira tak mengerti.


"Delpiero atau aku?"

__ADS_1


"Tentu saja Delpiero" jawab Dira cepat.


Elang menaikan sebelah alisnya "Pilih aku atau Buffon?"


"Tentu saja Buffon" kembali Dira menjawabnya dengan cepat.


"Jadi,mereka yang bahkan tidak kau kenal saja lebih penting dibanding aku yang suami mu ini?" sindir Elang dengan ekspresi ngambeknya. "Batal ke Italy kalau begitu" Elang yang mengambek kemudian menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh hingga kepalanya.


Dira melongo tidak percaya,kemudian menepuk-nepuk mulutnya sendiri "Dasar mulut bodoh,bagaimana kalau dia benar-benar membatalkannya?" gumam Dira pada dirinya sendiri.


"Ayo lah El,kau adalah suamiku,bagaimana bisa kau membandingkan dirimu yang sangat penting ini dengan mereka?" Dira berusaha menarik selimut yang menutupi wajah Elang. "Aku hanya sekedar pengagum mereka saja" rayu Dira dengan menampilkan wajah imutnya sambil mengedip-kedip kan matanya.


"Ck...kau memang pandai merayu" Elang menarik Dira agar lebih dekat lagi dengannya,kemudian merengkuh tubuh mungil tersebut.


"El,Aku baru saja mandi,dan belum mau mandi untuk yang ketiga kalinya untuk siang ini" Dira berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Elang.


"Jika kau memberontak,Italy batal" Dira langsung kicep saat mendengar ancaman yang keluar dari bibir Elang itu.


***


Dua hari kemudian,Elang sudah benar-benar pulih. Dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Dira,karna hari ini adalah hari keberangkatannya menuju negara pesepak bola idolanya.


"Jangan lupa minum vitaminmu,kita akan lama dalam pesawat nanti,jangan sampai kamu jatuh sakit saat tiba disana" Elang menyodorkan air mineral pada Dira agar ia gunakan untuk meminum vitaminnya.


"Berapa lama kita terbang?" Tanya Dira kemudian segera meminum vitaminnya.


Dira hanya mengangguk,dan kemudian mereka berjalan menuju pesawat komersial setelah mendengar pengumuman boarding.


"Kenapa tanganmu begitu dingin" tanya Elang setelah mereka duduk pada kursi penumpang.


"Aku gugup sekali El" Suara Dira pelan namun tetap bisa didengar oleh Elang "huft...ini adalah perjalan pertamaku menaiki pesawat begitu lama". Dira merangkul pada lengan Elang saat pesawat take off. Dan tangan Elang yang sebelah lagi menggenggam tangan Dira dengan erat,untuk menyalurkan rasa aman pada tubuh Dira yang terasa dingin itu.


Setelah merasa aman,Dira pun tertidur hampir sepanjang penerbangan dengan bersandar pada bahu Elang yang terasa nyaman.


Setelah menempuh penerbangan selama lebih dari 24 jam,Elang dan Dirapun mendarat dengan sempurna di Bandara internasional Leonardo Da'vinci.


Karena sampai disana saat sore hari,mereka langsung menuju Hotel yang sudah dibooking sebelumnya.


" Cepatlah mandi,kita akan makan malam dulu setelah itu" ucap Elang saat mendapati Dira sedang membuka kopernya.


"Baik Tuan Elang" Dira mengangkat tangannya dan ia tempelkan pada pelipisnya,seperti posisi hormat.


Kemudian langsung menuju kamar mandi hotel yang menurut Dira begitu megah disana.

__ADS_1


Ia langsung mengguyur tubuhnya dengan air untuk mengurangi rasa jet lag tadi.


Setelah selesai,Dira keluar dari kamar mandi dengan handuk kimononya,bau sabun dan sampo yang Dira pakai tadi langsung menguar didalam ruangan tersebut.


Elang yang tengah sibuk dengan laptop nya langsung mengarahkan pandangannya pada Dira yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Elang kemudian beranjak dari sofa kemudian menghampiri Dira yang tengah sibuk mencari piyama didalam kopernya.


"Dimana kutaruh piyamanya ya?" gumam Dira sendiri.


Elang langsung memeluk tubuh Dira dari belakang,membuat wanita itu terlonjak.


"Kau mengagetkanku tuan!" Ucap Dira dengan nada sedikit ketus.


"Kau menggodaku?" Elang menciumi bau sampo pada rambut Dira yang masih basah.


"Tuan,aku sedang mencari piyamaku,bagai mana bisa aku menggodamu?" Dira sedikit menjauhkan kepalanya dari Elang,karna pria itu sudah mulai menggoda telinganya dengan hembusan nafas tepat pada daun telinganya.


Elang mencium cuping Dira,membuat wajah wanita itu memerah menahan geli "Hentikan tuan,aku masih merasa jet lag" ucap Dira.


"Baiklah,kau menang..." Elang melepaskan pelukannya kemudian mengecup pipi Dira yang masih memerah.


Elang menuju kamar mandi,bergantian dengan Dira untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah bebersih,merekapun makan malam bersama didalam kamar hotel.


"Wah...aku tidak menyangka,di Hotel bintang tujuh seperti ini,ada makanan Indonesianya" Dira merasa takjup karna melihat hidangan didepannya adalah makanan Indonesia yang ia kenal.


Elang tak menjawab,kemudian menuangkan wine pada gelasnya. "Mau mencobanya?" Tawar Elang,karna Dira dari tadu memperhatikannya.


"Tidak,kau ingin aku menggila disini?" tolak Dira kemudian meminum air muneralnya setelah menghabiskan makan malamnya.


Elang meneguk segelas winenya,dengan melirik kearah Dira yang masih memperhatikannya "Sepertinya kau tertarik dengan ini" Elang menunjukan gelas ditangannya.


"Tidak,sepertinya aku merasa terlalu kekenyangan,bisa kau membawaku jalan-jalan,Tuan?".Dira


Elang mengangguk,kemudian merekapun keluar dari Hotel untuk berjalan-jalan.


" Kau senang?" tanya Elang,kini mereka sedang berjalan menelusuri kota Roma sambil bergandengan tangan.


"Hm" Dira mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


Dan tanpa mereka sadari,seseorang tengah sibuk memotret kedekatan mereka dari jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


Next?


Like n coment please...


__ADS_2