
Sesampainya dikampus X.
Dira yang baru keluar dari mobil,langsung menyambar lengan Irfan.
Entahlah, dari kecil dulu setiap pergi kepasar dengan ibu Dira,Dira lah yang selalu memegang tangan adik laki-lakinya itu.
Rasa khawatir akan adiknya yang bisa saja hilang saat ditengah pasar membuat Dira selalu menjaga adiknya itu.
Kini Dira merasa adiknya belum sepenuhnya berubah lebih dewasa,ia tetap merasa Ipan nya masihlah seorang anak kecil yang butuh bantuannya, Padahal kini postur tubuh pemuda itu bahkan lebih tinggi dari Dira.
Saat keduanya berjalan,banyak pasang mata yang menatap kearah mereka.
"Wihhh...tu anak baru ternyata udah punya cewe" celetuk Reno pada sahabatnya.
sahabatnya itu memandang kearah pandang Reno "Dia?" gumam pemuda itu.
"Lo kenal Yan?" tanya Reno.
Pemuda itu tak menjawab, "Jadi,tu cewe pacarnya anak baru?". batin pemuda itu.
"Bian!" panggil seorang gadis bernama Marisa.
Pemuda yang dipanggil Bian itu kemudian menoleh.
"Liat apa?" tanya Marisa kemudian ikut melihat kearah dimana Irfan yang tengah berjalan dengan seorang wanita yang bergelayut pada lengan pemuda itu. "Jadi,Irfan udah punya cewek?" Gerutu gadis itu sambil memanyunkan bibirnya.
"Lo suka sama dia?" tanya pemuda itu.
Marisa tidak menjawab,tapi ekspresinya yang senyum-senyum sendiri membuat pemuda bernama Bian itu jadi mengerti.
"ih,nggak malu apa,mesra-mesraan di area kampus seperti itu" gumam Marisa,yang melihat Dira dan Irfan sedang bercanda ria sambil bergandengan.
"Lo tadi nyari gue ada apa?" tanya Bian.
"Oh,iya...digedung sebelah ada chef Elang,yang lagi ngisi acara,mau kesana nggak?" ajak Marisa.
"Lo aja yang kesana,gue nggak minat" jawab Bian kemudian pergi dari tempat itu.
Sedang kan Marisa kemudian menuju aula kampus untuk mengikuti seminar,dengan Elang sebagai pengisi acaranya.
"Mba mau kekantin dulu aja apa gimana? mas Elang masih belum selesai" ucap Irfan yang baru saja mendapat informasi dari temannya kalau Elang masih ada acara.
"Boleh deh" jawab Dira,kemudian bersama Irfan,Dira menuju kantin kampus.
"Mau dipesenin makanan sekalian nggak mba?" tanya Irfan setelah Dira duduk dikursi kantin.
__ADS_1
"Minum aja Pan,jus lemon,lemonnya ekstra ya" pinta Dira.
Irfan kemudian menuju gerai bu kantin untuk membelikan pesanan Dira.
"Kamu udah nggak ada kelas Pan?" tanya Dira setelah Irfan kembali dengan jus pesanan Dira.
"Ada mba" jawab Irfan,kemudian melihat jam pada pergelangan tangannya "sekitar lima belas menit lagi mulai".
" Ya udah,buruan ke kelas gih...dari pada nanti telat" ucap Dira.
"Mba nggak papa Ipan tinggak sendirian disini?" Irfan memastikan.
"Nggak papa Pan,nanti abis ini mba juga mau jalan-jalan buat nostalgia"
"Eh,iya...dulu mba kan kuliahnya disini juga, Ipan sampai lupa" ucap Irfan dengan cengirannya.
Dira mengangguk,kemudian Irfan segera beranjak untuk menuju kelasnya agar tidak tertinggal pelajaran.
Setelah menghabiskan hampir separuh isi gelasnya,tiba-tiba ada seorang pemuda yang duduk didepan Dira.
"Pacar mu nggak kok tanggung jawab gitu ya? ninggalin cewek sendirian disini" ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Bian.
Dira hanya memandang pemuda itu tanpa ada niatan untuk menjawabnya. Apa dia bilang pacar?.batin Dira.
"Masih ingat aku?" tanya pemuda itu.
"Aku yang tempo hari bawa motor dan nggak sengaja nyerempet kamu" Bian mengingatkan Dira pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
Mendengar penjelasan Bian,sontak saja mata Dira membulat sempurna,bagus sekali hari ini dia bisa ketemu sama orang yang menyebabkan Dira sampai dikurung di apartemen seperti tahanan.
Dira merasa geram berasa ingin sekali menampol wajah pemuda didepannya ini,namun akal sehatnya masih bisa ia kendalikan,dan ia menyikapi ucapan pria didepannya ini dengan senyuman.
"Karna saya tidak ada keperluan lagi disini, jadi saya mohon undur diri" ucap Dira kemudian beranjak.
"Tunggu!" Bian mencekal tangan Dira,untuk menghentikannya "Setidaknya sebutkan dulu nama kamu siapa" ucapnya kemudian.
Dira segera menepis tangan Bian "Sepertinya kita tidak akan bertemu lagi dikemudian hari,jadi untuk nama sepertinya itu tidak penting" ucap Dira jutek sambik menarik tangannya dari genggaman Bian.
"Jangan jutek-jutek non,takutnya nanti naksir lho" ucap Bian cengengesan.
Dira hanya memutar matanya jengah. Naksir pala lu!! belum pernah kena tampol ibu-ibu hamil ya!!!.pekik Dira dalam hati,merasa risih aja di goda sama berondong.
"Panggil aja Dira,atau mbak Dira juga boleh" ucap Dira kemudian menyampirkan tas pada pundaknya dan kemudian pergi.
Mendengar ucapan Dira,Bian jadi mengerutkan keningnya merasa sepertinya ada yang salah dengan ucapan Dira,kenapa ia harus memanggilnya pakai embel-embel mbak segala?.
__ADS_1
Dira akhirnya memutuskan untuk berkeliling di area kampus yang dulu sering ia kunjungi, namun baru beberapa tahun saja tempat ini begitu berbeda.
Ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling,setelah merasa lelah,karna Elang belum juga selesai,Dia memutuskan untuk menunggu suaminya itu di kafe depan kampus.
[Dimana?] Satu pesan masuk kedalam ponsel Dira.
[Kafe depan kampus] balas Dira.
Tidak ada lagi balasan,kemudian Dira memasukan kembali ponselnya kedalam tasnya.
"Maaf sayang terlambat" ucap Elang tiba-tiba sambil mencium pelipis Dira.
"Hm" Dira menjawabnya dengan anggukan.
"Marah?" tanya Elang.
Dira mencebik "Harus nya tadi bilang kalau mau jadi pembicara di seminar,jadi aku nggak akan langsung kesini" gerutu Dira "Nunggunya lama banget lagi" ucapnya lagi sambil manyun.
"Tadi kan udah minta maaf" Elang menjewer hidung wanita itu sampai Dira meringis "Lagian kamu bisa nostalgia kan disini" ucap Elang.
"Iya,nostalgia...yang ada malah inget sama Dewa" ucapan Dira seperti petasan di kepala Elang.
Entah kenapa pria itu tiba-tiba tak enak hati saat Dira bilang mengingat masa lalunya bersama Dewa.
"Ingat udah punya suami...jangan mikirin pria lain" ucap Elang dengan menyentil kening Dira.
"Sakit El!" pekik Dira mengelus dahinya sendiri.
"Panggil apa tadi?!" Elang mengingatkan.
"Hee hee...sayang" ucap Dira mengacungkan dua jarinya tanda damai kepada suaminya yang seakan sudah bersiap untuk memberikan hukuman untuk Dira tersebut.
"Habis ini mau kemana?" tanya Dira karna merasa sepertinya mood Elang sedang tidak baik.
"Pulang" jawab Elang singkat, kemudian beranjak.
"Pulang? jadi nggak ada acara jalan kemana gitu?"Dira mengikuti Elang yang langkahnya lebih cepat dari Dira." Jadi percuma dong aku nyusul sampai sini" gumam Dira.
Karna tak memperhatikan jalan,Dira tiba-tiba saja tersandung batu didepannya.
Hampir saja wanita itu terjatuh kalau saja Elang tidak menahan tangannya.
"Bisakah perhatikan langkahmu!" ucap Elang yang merasa geram sendiri pada wanita didepannya. Begitu teledor,bisa-bisa nya wanita ini menjadi seseorang yang begitu dicintainya.
Elang sampai heran sendiri, hati memang tidak bisa diatur memakai logika.
__ADS_1
next?
like n coment please...