
Di pagi hari ini matahari tampak tak mengeluarkan sinarnya,awan yang tertutup mendung, membuat suasana pagi terasa lebih dingin karna sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
Elang yang baru saja membuka matanya,merasa aneh saat ia meraba tepat disebelahnya terasa kosong,tidak ada sosok Dira disana.
Ia mengedarkan pandangannya,terlihat pintu kamar mandi terbuka,dan ia pun segera beranjak dan menuju kamar mandi tersebut.
"Sayang" ucap Elang.
Dira yang masih berjongkok didepan kloset pun menoleh.Dengan tatapan sayu melihat Elang yang berjalan mendekatinya.
Pria itu kemudian menepuk-nepuk punggung Dira saat wanita itu kembali memuntahkan isi perutnya.
Setelah selesai,
"Mau langsung mandi atau sarapan dulu?" tanya Elang.
"Aku mau mandi dulu,tapi untuk sarapan,kamu ya yang buat?" ucap Dira sedikit lemah karna merasa tenaga nya terkuras.
Elang mengangguk,kemudian
"Mau apa?" Tanya Dira karna Elang membuka kancing piyama Dira.
"Tentu saja membantumu melepaskan pakaianmu" ucap Elang tanpa ragu.
Dira menghentikan gerakan Elang "Aku bisa sendiri Tuan Chef Erlangga"
"Kau akan lama jika melakukannya sendiri Sandira" ucap Elang tak mau kalah.
"Tapi akan jauh lebih lama kalau kau yang berniat membantu,tapi aku tau ujung-ujungnya juga pasti seperti yang aku tebak" Sindir Dira.
"Memangnya apa yang kau tebak" Elang menjewer hidung mancung Dira,hingga membuat gadis itu meringis "Aku hanya akan membantumu mandi" ucap Elang meyakinkan.
Dira hanya bisa menghela nafasnya, dan menuruti apa yang Elang inginkan.
Elang membuka satu persatu pakaian Dira,membuat wajah Dira memerah menahan malu.
"Kenapa kau malu?" ucap Elang dengan kekehannya saat melihat pipi Dira yang memerah.
Dira hanya diam tak menjawab,kemudian ia duduk diatas kloset yang tertutup.
Elang menyalakan shower, kemudian setelah memastikan air yang keluar adalah air hangat, lalu ia mengarahkannya kepada tubuh Dira.
Dengan telaten Elang menyabuni sekujur tubuh Dira dan saat tangannya menyentuh titik-titik tertentu,dengan jail Elang sedikit memberikan gelitikan hingga membuat Dira tertawa didalam kamar mandi.
"El,jangan jail...!" pekik Dira saat Elang menggelitikinya.
"Hei apa yang kau lakukan?" ucap Elang saat Dira kemudian berdiri.
Dira mendorong dada Elang sesaat setelah pria itu ikut berdiri,Dira mendorong hingga punggung Elang membentur dinding dibelakangnya.
Tanpa sengaja punggung Elang menekan keran hingga membuat shower yang berada diatas mereka mengeluarkan rintik air hangat.
__ADS_1
Dirapun berjinjit mengalungkan kedua tangannya pada leher Elang,dan dengan agresif ia ******* bibir lelaki yang hampir dua tahun ini menjadi suaminya.
Elang pun tak tinggal diam,ia yang seperti mendapat lampu hijau pun melancarkan aksinya.
Inilah yang ia tunggu dari semalam, ia takut menyentuh Dira sejak semalam karna kondisi Dira yang dikatakan oleh Dokter saat di italy bahwa mereka belum boleh bersetubuh dulu hingga tubuh Dira siap.
Namun karna pagi ini Dira sudah membangunkan singa yang kelaparan jadilah mereka merajut jalinan cinta dibawah guyuran air shower.
***
"Mau kemana?" Tanya Dira saat mendapati Elang sudah rapi.
"Akan ke rumah sakit" jawab Elang.
"Menjenguk Tuan besar?" tanya Dira,
"Ya".
" Boleh aku ikut?"
"Apa kau yakin,kau akan baik-baik saja?"
Dira mengangguk "Bagai mana pun juga,dia adalah ayahmu dan itu berarti dia adalah ayah mertuaku".
Elang mendekat kemudian mengecup dahi Dira " Terima kasih"
"Tidak masalah,itu sudah seharusnya dilakukan oleh seorang menantu bukan?".
Dira mengerutkan keningnya,tanda tak mengerti maksud ucapan Elang.
"Maksudku tentang pergulatan panas didalam kamar mandi tadi" goda Elang dengan kerlingannya.
Sontak saja Dira memberikan cubitan pada perut keras suaminya tersebut.
"Awwww...!" Ringisnya yang berpura-pura kesakitan "Habiskan dulu makananmu,setelah itu bersiap lah,aku akan menunggumu".
Dira menghabiskan sarapan yang dibuat oleh Elang pagi ini,kemudian langsung kembali kekamar untuk bersiap-siap.
" Sudah siap?" tanya Elang saat Dira baru saja keluar dari kamarnya.
"Ya...seperti yang Tuan lihat" Dira memperlihatkan penampilan menawannya.
Merekapun berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk tuan Adrian.
"Bagai mana keadaannya?" tanya Elang kepada salah seorang Dokter yang menangani ayahnya.
"Kondisi beliau stabil,sudah bisa membuka mata,namun masih belum bisa menggerakan tubuhnya" Jelas dokter tersebut.
Dira yang sedari tadi memperhatikan ayah mertuanya dari pintu kaca tiba-tiba berucap "Dokter,seperti nya saya melihat ada pergerakan tangan pada Tuan Hermawan"
Dokter pun menoleh,kemudian masuk kedalam ruangan tersebut,diikuti Elang dan Dira dari belakang.
__ADS_1
Dokter kemudian memeriksa keadaan tuan Hermawan, Dokter menduga bahwa sepertinya tubuh tuan Hermawan bisa merespon saat mendengar suara Elang.
"Sepertinya tuan Hermawan ingin berbicara pada anda" ucap Dokter saat melihat isyarat dari mata tuan Hermawan.
Elang mendekat,dan tuan Hermawan seperti hendak bicara sesuatu namun sepertinya sulit.
"Tidak usah dipaksakan pa,kita masih punya banyak waktu...segeralah pulih,agar aku bisa mengerti keinginanmu" ucap Elang.
Ada perasaan sedih didalam hati nya yang paling dalam.Karna walau bagai mana pun Elang tak memungkiri bahwa kesuksesannya tak luput juga dari campur tangan sang ayah.
Dia tau,Sang ayah memang sangat menyayangi keluarganya,namun caranya lah yang salah.
Kini Elang berjanji pada dirinya sendiri,dia akan membuat keputusan yang adil,baik untuk perusahaan ataupun untuk Dewa.
"Elang kemari dengan istri Elang pa" Elang meraih tangan Dira,kemudian menautkan jemarinya. Elang menarik tangan Dira agar istrinya itu maju kedepan untuk mensejajari posisinya.
Terlihat tuan Hermawan melengoskan wajahnya,walau tak bisa bersuara namun Dira masih mengerti bahwa ayah mertuanya itu masih belum bersedia menerimanya.
Akhirnya merekapun meninggalkan ruangan Tuan Hermawan, karna Dira belum mengontrolkan kandungannya saat tiba di Jakarta,ia memutuskan untuk sekalian memeriksakannya disini.
Kini ia sedang mengantri untuk menunggu panggilan dari Dokter.
"Aku bisa sendiri El,kau bisa kekantor sekarang" ucap Dira saat Elang juga ikut menemaninya.
"Tidak masalah sayang,urusan kantor bisa setelah makan siang nanti" jawab Elang.
"Baik lah" jawab Dira,kemudian suasana kembali hening.
"Nyonya Sandira!" panggil seorang perawat disana.
Dira yang merasa namanya dipanggil kemudian masuk kedalam ruangan Dokter obgyn tersebut.
"Nyonya Sandira?" tanya seorang Dokter wanita dengan name tag dr.Kanaya.
"Iya Dok" jawab Dira.
"Baik,silahkan berbaring nyonya" Dokter menunjuk arah brangkar yang tertutup korden berwarna hijau.
Dira mengikuti instruksi dari Dokter,kemudian berbaring diatas brangkar yang tersedia.
Dokter kemudian menyingkap baju Dira lalu mengoleskan jel pada perut wanita tersebut.
Setelahnya alat untuk mendengarkan detak jantung Dokter arahkan pada perut Dira.
"Masih sangat kecil ya suaranya" ucap sang Dokter.
Elang yang menyaksikan serta mendenga detak jantung sang calon bayinya pun merasa takjup, ia hampir tak percaya bahwa sebentar lagi ia akan dipanggil oleh ayah.
Kemarin saat di Italy ia juga bisa melihat hasil USG,namun bentuk calon bayinya masih sangat kecil,tapi kini saat mendengar detak jantung sang calon buah hati,ia sungguh merasa bahagia
next?
__ADS_1
like n koment please...