Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
ekstra part 8


__ADS_3

"Sore nanti aku pulang,kamu mau di bawain apa?" tanya Elang yang sedang menelfon Dira.


"Emmm..." Dira terdengar sedang berfikir "Bawa apa aja deh, yang Enak-enak" jawabnya kemudian.


Dan jawaban Dira otomatis membuat Elang pusing karna harus berfikir sendiri.


Wanita suka begitu,kalau ditanya jawabnya selalu terserah,namun jika akhirnya membawa sesuatu yang tidak dia sukai maka dia juga akan langsung ngambek.


"Kak Elang telfon lagi?" tanya Lyra yang ada disebelah Dira sedang memilih kain untuk bahan pakaiannya.


"Hm" Dira mengangguk "Sepertinya dia tidak lelah karna setiap saat telfon" ucap Dira kemudian terkikik geli membayangkan tingkah Elang yang berubah seratus delapan puluh derajat.


Dulu Elang yang begitu cuek,siapa sangka akan berubah menjadi begitu perhatian. ayam bertelurpun tidak akan pernah menduganya.


"Bukankah baru satu jam yang lalu dia menelpon?" Lyra heran"Kak Elang perhatian sekali" Lyra terkekeh kemudian memasukan selembar kain kedalam keranjang belanjaan.


"Ya,semenjak hamil memang lebih protektif dia,Sudah?" tanya Dira saat Lyra sudah menuju kasir.


"Iya mbak,aku konfirm dulu untuk berapa meter aku ambilnya" ucap Lyra "Mbak Dira tunggu disini dulu" Lyra kemudian menuju kasir setelah mendapat jawaban iya dari Dira.


Setelah beberapa saat,Dira melihat Lyra sedang berbicara dengan seorang lelaki yang tidak ia kenal.


Dari wajahnya,Dira dapat melihat sorot ketakutan dari Lyra.


Akhirnya Dira memutuskan untuk mendekati Lyra.


"Lyra" panggil Dira membuat wanita itu tersentak.


Lyra melihat kearah Dira.


"Oh,ternyata nona Lyra sedang bersama dengan teman disini?" ucap lelaki tersebut.


Dira kemudian menoleh pada lelaki tersebut "Tuan siapa?" tanyanya "Kenapa membuat adik saya ketakutan?"


"Adik?" ucap lelaki itu kemudian disusul gelak tawanya "Sepertinya anda memang tidak tau apa-apa tentang adik anda?" lelaki itu kembali bersuara kemudian memperhatikan Lyra dari bawah sampai atas "Anda tau? Dia adalah seorang ******* yang beruntung karna dinikahi oleh seorang CEO di perusahaan besar,tapi anda perlu tau,karna gelar suaminya sebentar lagi akan dicabut, karna jika para pemegang saham mengetahui latar belakang istri dari pemimpin mereka,karir dari suaminya akan hancur" jelas lelaki tersebut.


Dira melihat kini tubuh Lyra bergetar,karna menahan tangisnya agar tidak tumpah.


"Apa ini cara anda memperlakukan seorang wanita? Lyra mungkin memiliki masa lalu yang tidak benar,namun percayalah seorang Dewa tidak akan tumbang hanya karna ancaman anda itu!" tegas Dira menunjuk lelaki dihadapannya. "Sudah?" tanya Dira terhadap Lyra.


Dan setelah Lyra menganggukan kepalanya,Dira kemudian segera menarik tangan Lyra keluar dari toko kain tersebut.


"Tidak ku sangka,di tempat seperti ini bisa bertemu dengan mu Lyra...seorang wanita rendahan yang bahkan pernah menolakku" gumam lelaki itu dengan senyuman sinisnya melihat kearah Lyra yang sudah dibawa pergi menjauh oleh Dira.


Tadinya lelaki itu berniat makan siang di restoran yang ada disamping toko kain yang Lyra masuki,namun sekelebat ia melihat sosok yang tempo hari ia lihat di perusahaan Hermawan dan ternyata penglihatannya tidak salah lagi,Wanita itu benar Lyra yang sedang berjalan mendekati kasir.


Lelaki itu kemudian bergegas mendekati Lyra.

__ADS_1


***


"Kau mengenalnya?"Tanya Dira yang kini sedang duduk didalam mobil disamping Lyra yang masih dengan perasaan tak menentu.


Lyra mengangguk,tangis nya kembali tumpah


" Harusnya aku tidak menerima tawaran tuan Dewa untuk menikah dengannya mba" Lyra tersedu.


Dira memandang Lyra penuh dengan perasaan iba "Siapa lelaki itu?".


Lyra menggeleng " Aku tidak tau siapa namanya mba,tapi yang jelas dia tau tentang pekerjaan ku dulu...dan dia mengancam akan menyebarkan berita tersebut untuk menjatuhkan Dewa mba...bagai mana ini?".


Dira mengusap punggung Lyra yang masih bergetar "Kamu tenang ya" Dira mencoba menenangkan.


Lyra kembali terisak "Mba...aku takut"


Dira memeluk tubuh Lyra mencoba memberikan perasaan hangat "Apa dulu dia pernah menggunakan jasamu?".Dira memastikan.


Lyra menggeleng kembali " Dulu kak Rosy benar-benar menjadikan ku seorang spesial disana,tidak semua orang bisa mendekatiku apa lagi menggunakanku...dan aku merasa tidak pernah melakukannya dengan dia" jawabnya.


Dira mengangguk mengerti,namun yang jadi permasalahannya bagai mana bisa orang tadi tau tentang Lyra. "Kamu tenang lah...tidak akan terjadi apa-apa dengan Dewa" hibur Dira.


***


Dira sedang menonton tv saat pintu apartemennya terbuka. Dan tentu saja Dira tahu siapa yang datang.


"Belum tidur sayang?" tanya Elang saat mendapati Dira tengah memperhatikan benda persegi dihadapannya.


"Kenapa?" Tanya Elang yang masih belum mengijinkan Dira lepas dari pelukannya.


"Kepikiran Lyra" jawabnya membuat Elang mengerutkan dahinya."Bawa oleh-oleh apa?" Dira mengalihkan pembicaraan karna merasa ada hawa serius di wajah tampan suaminya.


"Nih" Elang menyerahkan satu bungkusan dengan kresek sebagai tempatnya.


"Kok cuma martabak!" pekik Dira saat melihat yang katanya oleh-oleh yang dibawa Elang dari Aceh.


"Katanya terserah aku mau bawa apa aja?" Elang berjalan menuju kamar diikuti Dira dari belakang setelah wanita itu mematikan televisinya tentunya.


"Ya nggak martabak juga kali,kalau cuma martabak diperempatan jalan depan juga ada" gerutu Dira membuka bungkus kertas martabak tersebut "Ini mah...martabak yang diperempatan depan kan?!" seru Dira,namun tidak ada sahutan dari Elang,karna lelaki itu sudah masuk kedalam kamar mandi.


Mungkin Elang takut kena semprot dari bumilnya.


Setelah beberapa saat,Elang keluar dari kamar mandi, sudah tampak segar setelah merasa lelah dalam penerbangan sore tadi.


"Tidak dimakan?" tanya Elang yang melihat bungkusan martabak diatas nakas yang masih tertutup rapi.


Dira sudah bersiap untuk tidur "Tidak" jawabnya ketus.

__ADS_1


Elang terkekeh kemudian duduk disebelah Dira yang tengah berbaring dengan posisi miring


Ia menarik pipi Dira agar wanita itu merubah posisinya agar melihat kearahnya.


"Enak tidak?" tanya Elang membuat Dira mendelik kaget.


"Apa maksudmu?" tanya Dira seolah tidak mengerti.


Elang tersungging kecil kemudian mendarat kan bibirnya diatas bibir Dira,kemudian sedikit **********.


"Rasa coklat " bisik Elang saat ia melepas pagutannya.


Sial...ketahuan. batin Dira.


Dira mencicipi martabak itu dan kemudian kembali menutup bungkus nya rapi agar Elang mengira Dira tidak menyukainya.


Kenapa setiap rencana yang Dira buat selalu gagal jika itu tentang ingin mengerja suaminya ya.


Padahalkan ia hanya mencicipinya sedikit dan tidak banyak hanya empat potong saja.


Ah...rasa coklat memang selalu membuat Dira serasa dipanggil-panggil untuk memakannya.


"Ayo dimakan" ucap Elang kemudian mengambil bungkusan diatas nakas tadi.


Dira mendudukan tubuhnya "Sudah kenyang" jawabnya malas.


"Ya,kalau kenyang jangan langsung tidur dong... nggak baik untuk lambungmu"


"Terus?"


"Biarkan dia mencerna makanannya dulu"


"Hm" Dira mengangguk sambil mencebik.


"Ya udah kalau begitu ayoo!"


"Ayo kemana"


"Olah raga malam lah..." Elang dengan senyuman devilnya


"Nggaaaaaakkkk....!!!"


note...


maaf untuk para readers ya,aku lagi suka banget ngehaluin kemesraan pasangan ini, jadi jangan heran kalau untuk ekstra partnya bakalan banyak hehe..


Jadi jangan bosan-bosan buat ngikutin cerita mereka yang nggak faedah ini,terimakasih

__ADS_1


oh iya dan untuk teman-teman pembaca ku, mohon jangan lupa di like setiap episodenya ya biar mak'e ini makin semangat buat bikin ceritanya


see you...😘😘


__ADS_2