
Dewa sedang menghadiri rapat bulanan diperusahaan Hermawan ketika ponselnya berdering memenuhi isi ruang rapat.
Ya,kini Dewa menjabat sebagai Direktur di perusahaan ini. Dan itu semua juga berkat dukungan mama Mary dan Elang.
Masih ingat ketika Elang menghadiri rapat dan pulang pagi? nah, waktu itu di perusahaan Hermawan sedang melakukan RUPS dan saat itu tidak begitu banyak dukungan dari para pemegang saham yang menyetujui Dewa sebagai pengganti papanya.
Ia hanya mendapat dukungan 46% saja, dan didetik terakhir,datang lah mama Mary bersama Elang yang mendukung Dewa.
Elang yang memiliki saham sebesar 12% ditambah milik mama Mary 7% akhirnya bisa mengangkat Dewa sebagai pemimpin perusahaan tersebut.
Suara dering ponsel itu seketika menghentikan seorang pegawainya yang sedang mempresentasikan pekerjaan mereka.
Dewa mamandang layar pada ponselnya tertera nomor tak dikenal disana. Seketika Dewa membiarkan deringan ponsel itu, cukup lama ia tak menanggapi panggilan tersebut, namun ada rasa penasaran juga,siapa yang menelponnya.
Dewa menjentikan jarinya untuk menghentikan para pegawainya untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" ucapnya kemudian.
"Dewa?" Suara itu? suara yang Dewa kenal, suara yang beberapa tahun ini ia tunggu agar menghubunginya.
"Wulan?" ucapnya memastikan.
Benar,itu adalah suara Wulan,gadis yang mungkin masih terluka karnanya.
Gadis itu mengajaknya untuk bertemu disebuah restoran,dan tanpa menunggu lama,Dewa langsung menyanggupi.
Dewa membubarkan rapat yang baru saja dimulai itu,ia mengundur jadwal hingga siang nanti. Dan dengan segera ia menuju restoran yang Dira maksud.
***
Dewa memasuki Restoran tersebut,dilihatnya seorang gadis sedang duduk sendiri dengan menikmati jus alpukat didepannya.
Dewa berjalan mendekat,kemudian duduk dihadapan Dira.
"Kau sudah datang?" sambut Dira.
"Ya...seperti yang kau inginkan" Jawab Dewa.
"Baguslah".
Hening diantara keduanya,tak ada yang berani memulai obrolan, hingga seorang pelayan menghampiri mereka.
Setelah mengucapkan pesananya,pelayan itupun pergi,dan membuat suasana kembali hening.
" Masih suka juve?" Dewa mencoba mencairkan suasana.
Dira mengangguk dengan senyum kaku yang dipaksakan.
"Bukankah Alesandro delpiero sudah pensiun?" ucap Dewa kembali.
__ADS_1
"Tapi masih ada Dybala sekarang" Jawab Dira mulai santai.
"Ronaldo juga disana sekarang" Dewa sudah merasa suasana semakin menghangat.
Dira mengangguk kembali "Tapi entah kenapa aku tidak terlalu suka dengannya" jawab Dira.
"Kenapa?" Tanya Dewa heran "bukankah dia pemain yang sangat berbakat?"
Dira mengangkat pundaknya sebagai jawaban dia tidak tau.
Dewa tersenyum,merasa senang,akhirnya dia bisa mengobrol santai dengan Dira.
"Menurutmu bagai mana juve yang sekarang?" Tanya Dewa kembali, Dewa tau jika ingin mengajak seorang Dira menjadi lebih dekat adalah dengan mengobrol mengenai sepak bola terutama tim favoritnya Juventus.
"Aku lebih suka Marcello lippi sebagai pelatihnya" Ucap Dira kemudian berhenti ketika seorang gadis cantik berjalan mendekati mereka. Dira yakin gadis ini adalah Anna yang mama Mary maksud.
"Hai..." Sapa gadis itu setelah berdiri disamping mereka berdua.
Dira berdiri kemudian mengulurkan tangannya "Dira" Dira memperkenalkan dirinya.
"Annastasia Wijaya, panggil saja Anna" Jawab gadis itu membalas uluran tangan Dira.
"Silahkan duduk" Dira mempersilahkan.
Sekejap,Anna melirik kepada pria disampingnya,yang ia yakini adalah Dewa.
"Jadi Anna,dia adalah Dewa" Ucap Dira memperkenalkan Dewa,karna dilihatnya pria itu tak juga bersedia memperkenalkan dirinya.
"Dewa," panggil Dira.
"Hm" ia melihat kearah Dira dengan malas. Ia tau Dira pasti merencanakan sesuatu.
"Aku masih ada acara, jadi tolong temani Anna ya?" ucap Dira dengan tatapan memohon.
Dewa tak berkutik,ia tidak bisa menolak keinginan gadis dihadapannya ini.
"Kalau begitu,aku pamit" Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Dira pun segera berlari meninggalkan mereka berdua.
"Siapa yang mengutusmu?" tanya Dewa dingin,setelah Dira sudah tak terlihat lagi.
"Tante Mary yang menyuruhku" ucap Anna santai,Sebenarnya dia deg-degan karna melihat ekspresi Dewa yang begitu mengerikan.
"Atas dasar apa dia sampai mempergunakan Wulan sebagai alat?" Gumam Dewa, namun Anna masih bisa mendengarnya.
"Kau menyukai gadis tadi ya?" tanya Anna membuat Dewa jadi tersenyum sinis padanya. "Tapi ku rasa,dia tidak ada perasaan apapun terhadap mu" ucap Anna semakin membuat Dewa emosi. Namun tak meladeni ucapan gadis tersebut.
Dewa beranjak untuk berdiri,namun disusul Anna yang mengikutinya.
Anna dengan agresif mengalungkan tangannya pada lengan Dewa.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan!" bentak Dewa berusaha melepaskan tangan Anna. Namun Anna justru semakin mengeratkan pegangannya.
"Kau lupa dengan pesan Dira tadi?" Anna dengan senyum devilnya "bukan kah dia menyuruhmu untuk menemaniku?".
" Persetan dengan apa yang diucapkannya, aku tidak akan menurut padanya, Dia pikir siapa dirinya?!" ucap Dewa menggebu, kemudian dengan satu hentakan keras Dewa melepaskan tangan Anna dan pergi meninggalkan Anna sendiri.
***
Kini,Dira sudah sampai diapartemennya. Ia membuka pintu dan mendapati Elang sedang tertidur diatas sofa panjang.
Dira mendekat,kemudian pandangannya jatuh pada sesuatu yang ada ditangan Elang.
Ia mengambilnya "Bagai mana El bisa mendapatkan foto-foto ini?" gumam nya. Diletakannya foto itu diatas meja, kemudian ia berjalan menuju dapur untuk membuat makan siang.
Namun,belum sampai kakinya menginjak dilantai dapur, suara bel membuatnya berhent kemudian berbalik arah untuk mengetahui siapa yang datang.
"Mama?" ucap Dira setelah ia membuka pintunya. "Mama belum pulang?" tanya Dira.
"Mobil mama kan tadi lagi ngantar kamu" jawab mama Mary,kemudian masuk kedalam dan disusul Dira dibelakang.
"Terus tadi mama kemana?" Dira memperhatikan Mama mary yang sedang sibuk dengan sesuatu yang dia bawa.
"Tadi mama belanja, buat masak makan siang" ucap Mama dengan senyum hangatnya.
Dira tersenyum kemudian membantu mama Mary menyiapkan bahan masakan yang dibeli tadi.
Setelah semua hidangan selesai, mama Mary meminta Dira agar membangunkan Elang.
"El..." Dira menusuk-nusuk pipi Elang dengan jari telunjuknya.
Merasa terusik,Elang menggenggam tangan yang menjahilinya dan menariknya. Hingga membuat siempunya tersungkur menimpa tubuh Elang.
Sontak Elang membuka matanya karna sesuatu yang berat menimpanya.
Dira cepat-cepat beranjak,kemudian meminta Elang untuk segera kemeja makan untuk makan bersama.
"Jadi Dira, bagai mana tadi? apa Dewa setuju untuk datang?" tanya mama Mary. Kini mereka bertiga sudah duduk dikursi masing-masing untuk menikmati makan siang.
"Dewa datang ma,dan setelah Anna datang Dira langsung pulang,jadi tidak tau kabar selanjutnya" Jawab Dira merasa sungkan.
"Tidak masalah,dia mau datang saja itu sudah bagus" jawab mama Mary.
"Seharusnya mama tidak perlu melakukan hal ini" Kini Elang yang bersuara "Apa hak mama memaksa Dewa?".Ucapan Elang santai,namun begitu menusuk.
" Apa kau lupa? walau bagai manapun, mama tetaplah ibu kandung Dewa" ucap Mama masih terdengar santai.
"Seharusnya mama bercermin, apa mama pantas dianggap seorang ibu bagi Dewa,setelah kau meninggalkanny?!" Sindir Elang. Dan benar,ucapan Elang yang begitu pedas juga membuat mama Mary merasa sakit hati.
"Mama sudah selesai" Mama Mary mengusap bibirnya kemudian beranjak "Dira, tolong kamu bersihkan sendiri ya" Mama Mary pergi, dengan hatinya yang merasa bergemuruh oleh ucapan Elang.
__ADS_1
Ucapan Elang begitu tajam hingga menembus dadanya,begitu menyakitkan karna itu adalah kenyataan.
Mama Mary memang tidak berhak atas kehidupan Dewa, karna sejak awal, Dewa adalah milik Hermawan.