
"Kau senang?" Tanya Elang pada Dira yang tengah berbunga-bunga duduk didepannya.
Gadis itu mengangguk, benar-benar ada binar dimatanya. Bagai mana tidak, sudah hampir dua tahun mereka menikah,namun baru kali ini Elang mengajaknya makan malam romantis di restoran mewah.
"Baguslah kalau begitu" Ucapnya lagi "Jadi mulai besok kamu bisa mulai bekerja disini"
"Hm" Dira mengangguk masih dengan senyum cerianya. Tapi, tunggu, apa dia bilang? bekerja disini? menyadari ucapan Elang barusan membuat senyum gadis itu semakin memudar "Maksudmu?" tanyanya dengan senyum dipaksakan, berharap jika dia salah dengar.
"iya...mulai besok kamu bisa bekerja disini, seperti saat diSurabaya, sebagai chef disini bagian desert" jelasnya.
Bagai diterbangkan tinggi sampai kelangit, kemudian dijatuhkan hingga ke dasar bumi. Bagai mana perasaanmu?
"Tunggu dulu...!! kamu memutuskan aku bekerja dimana tanpa persetujuanku?" ucap Dira sedikit menaikan suaranya. Elang hanya mengerutkan keningnya tanpa jawaban. "Sejak kapan aku mau tinggal dikota ini?!" suara Dira semakin tinggi,membuat para tamu disana menoleh padanya. Untung saja para tamu disana sebagian besar dari kalangan atas,jadi mereka tidak akan begitu peduli.
Dira langsung beranjak dari duduknya,kemudian dengan cepat ia berjalan meninggalkan Elang yang masih merasa heran dengan sikap Dira barusan.
Dira mengusap wajahnya kasar,kini dia sudah berada dipinggir jalan untuk mencegat taksi yang lewat.
Sesekali ia menengok kebelakang, siapa tahu jika Elang akan menyusulnya,namun nihil.
Cih... dia memang bukan lelaki gantle. gerutunya.
Seperti itulah Elang,dia tidak mungkin akan bersikap romantis,karna Dira rasa mungkin kata romantis tidak ada di otaknya.
Setelah mendapatkan taksi,Dira memutuskan untuk menuju hotel. Tidak mungkin dia pulang kerumah keluarga Hermawan, apa yang akan ia lakukan jika nanti bertemu dengan Dewa lagi. Dan yang lebih ingin ia hindari adalah nyonya Sarah. Bahkan berbagi oksigen dengannya saja membuat dada Dira terasa sesak.
Setelah ceck in,Dira langsung menuju kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya.
Karna tidak membawa baju ganti, Dira akhirnya memakai handuk kimono hotel untuk malam ini. Ia pun melempar tubuhnya keatas ranjang kemudian berusaha menyusup kealam mimpi.
Walau terasa melilit pada perutnya karna belum terisi oleh apa pun malam ini, Dira tetap memejamkan matanya untuk mengusir rasa laparnya.
Setelah beberapa kali membolak-balikan tubuhnya, akhirnya Dira pun terlelap juga.
Saat menikmati mimpi indahnya, Dira merasakan ada sesuatu yang lembut membelai bibirnya.
__ADS_1
Perlahan mata indah itu terbuka,dan benar saja. Dira mendorong kuat seseorang yang berada diatasnya.
Wajah tampan Elang terlihat begitu jelas setelah ia menjauhkan wajahnya.
Dira mendesah pelan seraya memutar tubuhnya memunggungi suaminya itu.
"Masih marah?" Tanya Elang yang tentu saja dia sudah tau jawabannya karna tingkah Dira yang tidak ingin melihat wajahnya sekalipun.
Elang menyentuh pundak Dira, bermaksud untuk membalikan tubuh gadis itu, namun tangannya detepis oleh Dira.
Elang menghela nafasnya berat, kemudian memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Membujuk istrinya yang sedang marajuk memang sulit dan membutuhkan kesabaran yang ekstra.
"Heii...kau mengabaikan ku?" Dengan sedikit tenaga Elang menarik pundak Dira agar gadis itu menghadap padanya.
Saat mata mereka bertatapan,terlihat ada kilat pada pandangan Dira, tidak biasanya Gadis itu marah sampai seperti ini. Bahkan Elangpun sampai heran.
"kamu marah seperti ini, terlihat sangat tidak cantik" Elang mengusap pipi Dira dengan punggung tangannya, namun cepat-cepat ditepis oleh gadis itu.
Elang tersenyum, ia merasa lega jika gadisnya ini sudah bersedia untuk buka suara. Itu pertanda jika gadis itu sudah bisa dibujuk saat ini.Lelaki itu kemudian membaringkan tubuhnya disamping Dira.
"Tapi aku suka" bisiknya tepat ditelinga Dira.
Namun tanpa babibu, Dira mendaratkan sebuah bantal tepat dimuka Elang. "Kenapa memukulku?!" Elang kembali terduduk sambil memegangi bantal yang dilempar oleh Dira tadi.
"Tidur disofa sana!" Dira menunjuk sofa yang berada diseberang ranjangnya. Mata Elang mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari Dira. Ia berdecak kesal, kenapa hari ini Dira susah sekali untuk dibujuknya?.
"oh ayolah...tadi siang kamu sendiri yang mengatakan untuk melanjutkan apa yang tertunda tadi" bujuk Elang. "Kamu tau...? menolak suami itu dosa lho..." ucapnya kembali dengan cengirannya.
"Tapi aku nggak mau lama di jakarta, aku udah nyaman di surabaya" Dira menundukan wajahnya setelah mengikuti Elang duduk diatas ranjang, bukannya menanggapi ucapan Elang, Dira malah meracaukan kegundahannya.
Elang mengusak kepala Dira "kenapa?" tanya nya kemudian,membuat wajah Dira terangkat menatap nanar sepasang netra hitam legam suaminya itu.
aku tidak ingin lagi bertemu dengan masa lalu,aku ingin melangkah kedepan tanpa ada bayangan masa lalu.
__ADS_1
setetes air mata mengalir dari sudut mata gadis itu,namun cepat-cepat Elang menghapusnya.
"Tapi kita tidak bisa meninggalkan jakarta diwaktu dekat ini" jelasnya.
"kenapa?"
"Aku harus mengawasi Dewa agar dia bisa menjalankan bisnis papanya dengan baik, baru setelah itu kita bisa kembali kesurabaya"
Dira menunduk setelah mendengar penuturan suaminya "memangnya dia tidak bisa sendiri apa?" gerutunya.
Elang tersenyum kemudian membawa gadis itu dalam pelukannya "segitunya kamu ingin pergi dari sini?"Dira mengangguk dalam pelukannya "tapi aku nggak bisa LDR sama kamu".
Dira melepaskan pelukannya kemudian kembali menatap sepasang bening itu " tapi aku nggak mau tinggal dirumah tuan hermawan" ucapan Dira membuat Elang merasa lebih lega, Karna itu artinya gadis itu sudah bersedia tinggal dijakarta.
"Kita akan tinggal diapartemen" ucap Elang. "Sudah ya...jangan marah lagi" Elang kembali memeluk tubuh mungil istrinya. " jadi... sudah bolehkan?".
"Dasar mesum" Dira mencubit gemas perut Elang. Karna dia mengerti maksud arah pembiacaraan Elang.
"Mesum dengan istri sendiri juga" Elang mencubit hidung mancung istrinya "lagian salah kamu, dari pertama aku masuk kamu udah menggoda ku"
Dira menautkan kedua alisnya,tanda ia tidak mengerti. merayu dari mana? jelas-jelas tadi aku marah-marah.
Elang yang mengerti maksud ketidak mengertian istrinya itu kemudian menunjuk jubah mandi yang Dira pakai.
Dira menunduk dan melihat kearah mana jari Elang menunjuk "astaga....!! kamu melihatnya?" sontak Dira langsung menutup mata Elang dengan telapak tangannya.
Astagaaa...jadi dari tadi Elang melihat belahan dada Dira yang terpampang jelas karna jubah mandinya tersingkap dibagian atas.
"Itu memang milikku kan?"Elang terkekeh kemudian melepaskan tangan Dira yang menutupi kedua matanya. Kemudian mengecup jemari lentik itu satu persatu, kemudian semakin naik ke lengan, pundak, tengkuk, rahang,pipi,pelipis, kening, hidung dan bermuara dibibir ranum gadis itu.
Dira selalu menikmati setiap sentuhan dari prianya, sentuhan yang begitu membuatnya pusing dan limbung hingga melayang secara bersamaan.
mungkin hatinya sudah pernah patah satu kali, namun lelaki yang kini bersamanya begitu mudah dapat menyambungnya hingga tak terlihat sama sekali bekas luka disana.
" El...terimakasih" ucapnya, suaranya hampir tak terdengar, karna teredam dalam dada lelaki itu. Namun Elang masih bisa mendengarnya.
__ADS_1
Dibalasnya dengan kecupan hangat pada kening gadis itu hingga gadis itu terlelap didalam dekapannya. "i love you my wife" bisiknya saat memastikan gadisnya sudah dibuai oleh mimpi indahnya.