
"Sibuk apa?" Tanya Elang saat masuk kedalam kamar dan mendapati Dira sedang sibuk memandang ponselnya.
Dira menoleh sesaat kepada pria yang menghampirinya kemudian kembali lagi fokus pada benda persegi tersebut.
"Oh,ini lagi sibuk baca novel" jawab Dira kemudian.
Elang yang kemudian hendak berbaring disamping Dira,kemudian mengecup pipi wanita itu "Tidak coba pakai lingerie lagi?" tanya Elang dengan senyum jahilnya.
Dira menyipitkan matanya melihat kearah Elang yang masih menampilkan senyum mesumnya "Memangnya aku ini wanita apakah?" ucapnya.
"Ck...kemarin saja coba goda-goda... kenapa kali ini malah berubah pikiran?".
Dira berdecak " Kita tidak akan melakukannya disini El".
"Panggil apa tadi?" Elang mengingatkan.
"Kita tidak akan melakukannya disini syang" Dira mengucapkan kembali kalimatnya.
"Memangnya kenapa?"
Dira menghela nafas "Emang kamu tega, kita seneng-seneng disini,sementara papa sedang sakit ditempat lain apa lagi sekarang papa nggak ada yang jaga" ucap Dira. Ya,kini mereka sedang ada di mansion papa Adrian, karna Dira meminta Elang agar untuk sementara akan tinggal disana agar Dira bisa membantu merawat ayah mertuanya.
Setelah papa Adrian mengakui Dira sebagai menantunya,mulai saat itulah Dira berjanji akan memperlakukan dan merawat papa Adrian seperti papanya sendiri.
Elang tak bersuara,kemudian langsung memutar tubuhnya membelakangi Dira.
"Hei...kau marah?" tanya Dira kemudian menggoyangkan bahu Elang yang masih memunggunginya."Syang..." panggil Dira "Sayang...!" Dira mengulanginya lagi, namun Elang masih tak bergeming.
Dira dengan gemas mencium pipi Elang,bagai mana tidak gemas Elang bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Lucu sekali,padahal sangat tidak pantas tingkah laku Elang seperti ini, mengingat umurnya yang sudah kepala tiga.
Dira kembali mengecup pipi Elang untuk merayu pria itu agar tidak marah lagi,dan itu berhasil.
Elang mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang,kemudian dengan jail ia menarik tengkuk Dira dan mengecup sekilas bibir wanita itu.
"Cepatlah tidur" ucap Elang kemudian.
Dira menurut kemudian ia terlelap dengan tangannya memeluk tubuh atletis suaminya tersebut.
***
"Siapa yang datang bulek?" Tanya Dira ketika menuruni tangga dan melihat bulek Siti sedang membukakan pintu untuk tamu.
Belum sempat bulek Siti menjawab, Dira langsung mempercepat langkah nya menuju tamu tersebut "Lyra kau datang?" pekik Dira saat mendapati Dewa datang beserta Lyra.
Lyra mengangguk disertai senyum manis khasnya.
__ADS_1
"Kemarilah" Dira langsung menggandeng tangan wanita itu menuju sofa tanpa mempedulikan Dewa yang ada dibelakangnya.
Dira menghentikan langkahnya kemudian berbicara pada Dewa "Elang ada diruang belajar,kesana lah".
Dewa mengangguk,kemudian ia segera menaiki tangga dan menuju lantai dua,karna disanalah ruang kerjanya berada.
" Aku tidak menyangka,Dewa membawa mu kemari" ujar Dira merasa senang,karna ia seperti mempunyai teman disana, ya disana memang ada para maid dan bulek Siti,namun mereka sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing,jadi Dira sering merasa kesepian disana.
"Iya,Aku juga nggak nyangka mba,tuan Dewa akan membawaku kemari"
"Itu berarti,dia mengakuimu Lyra...berbahagialah" ucap Dira senang.
Lyra mengangguk sambil menampilkan senyumnya.
Sementara mereka sedang mengobrol di ruang tamu,kini Dewa sedang berdiri didepan pintu ruang kerja ayahnya,yang ia tau bahwa kini kakaknya sedang berada didalam.
Tok...tok...tok
Cklek...
Setelah mengetuk pintu, tanpa sautan dari dalam Dewa langsung membuka pintu kayu itu.
Dewa melihat Elang sedang duduk diatas kursi kerjanya, dengan pandangan Elang tertuju padanya.
"Kau datang?" tanya Elang kemudian kembali fokus pada berkas didepannya. "kemarilah" ucap Elang kemudian.
"Langkah apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Elang dengan penuh penekanan.
"Maksud kakak tentang?" Dewa tak mengerti arah pembicaraan Elang.
"Kau tau kan,bagai mana sulitnya mempertahankan posisimu?, apa yang akan kau lakukan jika kabar pernikahanmu tersebar?" Tanya Elang dengan sorot mengintimidasi.
"Aku tidak berfikir sejauh itu kak,aku hanya ingin memberi papa pelajaran. Membuktikan bahwa aku tidak suka diatur".
" Dengan cara yang bahkan tidak kau pikirkan konsekuensinya" potong Elang.
Dewa terdiam.
"Berpisahlah dengan dia" ucap Elang memberi saran.
Dewa membelalak,tak percaya bahwa kakaknya akan memberi saran sedemikian rupa.
"Aku tidak percaya kau bisa memberi usulan seperti itu El?!" Bukan Dewa yang bersuara, melainkan Dira.
Tanpa sengaja Dira mendengar ucapan Elang,ia tadinya akan mengambil ponselnya yang tertinggal dikamarnya,dan saat melintasi ruang kerja Dira mendengar perbincangan antara Dewa dan Elang,karna posisi pintu yang tidak tertutup.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" ucap Elang tegas.
__ADS_1
Sesaat Dira merasakan dadanya teramat sesak,apa dia juga sama seperti nyonya Sarah?tidak memiliki suara dirumah ini?.
"Kau benar,tidak seharusnya aku masuk, aku tidak memilik hak sama sekali" ucapan berat keluar dari bibir Dira,ia merasa kan hatinya bergemuruh hebat.
Kemudian berbalik dan melangkah pergi menjauh.
"Sayang!" panggil Elang,namun sama sekali tak dihiraukan oleh Dira. Wanita itu tetap mengambil langkah seribu.
Apa arti dirinya bagi Elang? Dira kemudian bergegas keluar dari mansion.
Lyra bahkan tidak dihiraukannya saat Dira melewatinya.
Entah kenapa hati Dira serasa dihantam oleh batu yang besar,bulir bening itu pun luruh begitu saja,ia tak sanggup menahannya.
Kata-kata Elang bagaikan cambuk baginya, menegaskan tentang posisinya serta memperjelas seperti apa ketidak sepadanan dalam hubungan mereka.
Keluar dari pintu gerbang,Dira kemudian menghentikan taksi yang lewat dan langsung menaikinya.
"Ada apa?" tanya Lyra saat Dewa dan Elang keluar secara bersamaan.
"Tidak ada apa-apa...kalian pulang lah, aku akan cari Dira" putus Elang menghentikan Dewa yang hendak menjelaskan masalah pada Lyra.
Dewa yang mengerti maksud Elang bahwa tak seharusnya Lyra mengetahui permasalahannya, kemudian Dewa mengajak Lyra untuk pamit.
Setelah Dewa pergi, Elang bergegas menuju bagasi untuk mengambil mobilnya kemudian bergegas mencari Dira.
"Kenapa pakai acara kabur-kaburan segala?" gerutu Elang dengan menambah kecepatannya "Kemana dia akan pergi biasanya kalau sedang marah begini?".
Elang mengusap wajahnya gusar " Apartemen,ya...pasti kesana" gumam Elang,kemudian melajukan mobilnya menuju apartemennya.
"Apa aku keterlaluan?tapi bukankah sudah biasa aku mengatakan kalimat seperti itu padanya? kenapa baru kali ini dia tersinggung dan marah?" pikiran Elang berkecamuk memikirkan banyak hal.
"Ya tuhan...lindungilah istriku...dia sedang mengandung" gumam Elang.
Sampailah ia diApartemennya,ia langsung menaiki lift menuju lantai apartemennya.
Namun,saat sampai disana,terlihat ruangan itu kosong,tidak ada tanda-tanda ada seseorang yang memasukinya.
"Sayang" panggil Elang,berharap Dira berada disana.
Tidak ada sahutan,ia kemudian berjalan menuju kamarnya "Sayang" panggilnya kembali namun ruangan itu juga kosong tak berpenghuni.
"Sayang...kamu pergi kemana?" Lirih Elang mengusak rambutnya kebelakang.
next?
like n coment please...
__ADS_1