
Elang mengambil laptop serta kemeja dan jasnya didalam mobilnya.
"Sedang apa?" tanya Dira dengan kernyitannya karna melihat Elang mengenakan kemeja lengkap dengan jasnya.
"Ini" Elang menyerahkan bingkisan yang kemarin dititipkan oleh bik Siti.
Dira mengernyit "ini apa?"
"Dari bik Siti,katanya suruh kasih ke anaknya" Jawab Elang kemudian duduk di kursi ruang tamu.
Dira mengangguk mengerti kemudian menaruh kotak tersebut diatas meja,karna ia harus membersihkan rumah dulu sebelum menyerahkan bingkisan dari bulek Siti untuk sepupunya.
Dira melihat heran teehadap Elang sudah bersiap didepan laptopnya
"Ada rapat" ucap Elang yang seakan mengerti arti tatapan istrinya itu,kemudian Elang membuka laptopnya,bersiap untuk melakukan rapat via vidio.
Dira hanya menjawab oh tanpa suara,sudah biasa ia melihat Elang yang melakukan rapat jarak jauh,dan melihat keseriusan Elang dari wajahnya. Namun pemandangan yang selalu membuat nya tertawa adalah,panampilan Elang yang rapi mengenakan kemeja diatas sedangkan dibawah ia hanya memakai celana kolor saja.
Dira menahan senyumnya,kemudian menuju kebelakang untuk mangambil sapu.
Elang sedang serius mendengarkan presentasi dari pagawainya,tanpa ia sadari ternyata Dira berada dibelakangnya sedang menyapu.
Kegiatan Dira tersebut tak luput dari sorotan kamera,Elang merasa ada yang aneh dari sebagian pegawainya yang terlihat seperti menahan tawa.
Elang mengernyit,kemudian melihat gambarnya yang ada pada sebagian kecil pada layar laptopnya.
Oh,dia mengerti sekarang,ternyata mereka melihat Dira yang berseliweran dibelakangnya, dari yang membawa sapu sampai bolak-balik dengan alat pelnya.
Elang kemudian berdehem agar para pegawainya hanya fokus padanya, Dan dengan wajah takut para pegawainya kemudian kembali memperhatikan presentasi dari salah satu pegawai Elang.
Usai membersihkan lantai dengan sapu kemudian mengepelnya,Dira kemudian berjalan keluar rumah untuk mengantarkan kiriman dari bulek Siti untuk Laila sepupunya.
Sementara itu,di Restoran Elang.
Dua pria sedang berbincang disalah satu meja restoran.
"Kemana bos kalian?" tanya seorang pria kepada salah satu pelayan disana.
"Tuan Elang sedang tidak di tempat tuan" jawab sipelayan.
Pria itu menggut-manggut kemudian mengatakan pasanannya.
__ADS_1
"Kemana dia? kemarin menyuruh kita datang, ini malah orang nya tidak ada" Gerutu pria satunya lagi.
"Ck...ini juga,Ev kemana?" gerutu pria bernama Diaz sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Itu dia" Marcel menunjuk seorang wanita yang berjalan karah mereka dengan dagunya.
"Hai Cel,Diaz,sudah lama?" sapa Ev yang baru saja datang.
"Hm" Marcel hanya menjawab gumaman.
"Baru sampai kok," Diaz menjawab.
"Eh,Elangnya mana?" tanya Ev saat menyadaru bersonilnya belum lengkap.
"Elang nggak ada" Marcel bersuara.
"Cel,kamu kenapa sih? kayaknya moodnya lagi jelek" ucap Ev.
"Lagi PMS dia" celetuk Diaz sontak mendapat tabokan dari Marcel.
"Kita cabut aja gimana nih? Elang nggak ada soalnya" Marcel memberi usul,nggak enak juga nongkrong di restoran mewah tapi nggak ada pemiliknya. Mending mereka nongkrong di bar saja,ada pemandangan yang lebih menyegarkan.
"Jangan bilang kalian mau ke bar?" Selidik Ev.
"Disini nggak ada Elang juga" ucap Diaz, kemudian menarik tangan Ev agar mengikutinya pergi dari restoran mahal milik Elang. "Lagian aku juga udah terlanjur ambil cuti hari ini...gara-gara Elang sialan, ngajakin nongkrong bareng dianya malah kabur" Ucap Diaz sambil menggerutu.
Dugh...
Tiba-tiba Ev mendaratkan tas mahalnya dikepala pria itu,sontak membuat pria tersebut meringis mengelus kepalanya.
"Berani kamu ngatain Elang sialan!" ucap Ev dengan mata nyalangnya.
"Ck...inget Ev,Elang tu udah punya istri...nggak capek apa mempertahankan cinta bertepuk sebelah tangan?" Diaz menggoda.
Ev yang merasa geram kemudian menarik rambut Diaz dengan brutal,membuat pria itu memekik kesakitan. "Itu semua gara-gara kamu!"
"Eh...ampun Ev...ini rambut rontok semua elahh!" Diaz mencoba melepaskan tangan Ev yang masih menarik rambut Diaz.
"Kalian tidak bisa ya,sekali saja kalau bertemu tidak bertengkar" kini Marcel yang bersuara ia baru kembali setelah membayar pesanan mereka yang belum mereka makan pada kasir.
Ev kemudian melapas tangannya.
__ADS_1
"Tuh...sama jomblo kita yang satu lagi aja... kamu kan tau bagai mana perasaannya" bisik Diaz membuat Ev memutar bola matanya jengah.
Ev tau bagai mana perasaan Marcel terhadapnya,tapi untuk menerima pria tersebut,Ev masih menutup hati untuk pria lain selain Elang.
"Siang-siang begini kalian mau ke bar?" Ev mengalihkan pembicaraan.
Diaz tak menjawab,hanya kekehan kecil tersungging dibibirnya.
Mereka adalah empat sekawan dari masa SMA, entah bagai mana bisa nasib mereka bisa sama.Sama-sama masih melajang di usia yang sudah menginjak kepala tiga.
Diaz belum berumah tangga karna baginya memiliki hubungan terikat dengan seorang wanita akan membuat jalannya buntu. Jalan apa lagi kalau bukan untuk memiliki banyak wanita. karna bagi Diaz mencintai seribu wanita itu adalah suatu kebanggaan.
Sedangkan bagi Ev,melajang sampai usia sekarang adalah untuk menunggu Elang patah hati, sehingga ia bisa menjadi pengobat bagi pria yang sejak SMA sudah mengisi hatinya.Bagi Ev,begitu sulit melepaskan seorang Elang sebelum ia bertemu dengan istri dari pria tersebut.
Ia merasa kalah telak dari perempuan sederhana tersebut,apa lagi restu yang sudah diberikan oleh mama Mary untuk hubungan Elang dan Dira dari awal.
Berbeda lagi dengan Marcel,Ia melajang karna cinta yang juga tak terbalas dari Ev. Dia tidak setampan dan sepintar Elang, namun ia memiliki keyakinan bahwa suatu saat Ev pasti akan berpaling padanya saat perempuan itu merasa lelah dengan perasaannya terhadap Elang yang tak terbalas.
Suara musik memekakan telinga, memenuhi seluruh sudut ruangan.
Diaz memesankan beberapa minuman untuk mereka bertiga,ia memesan salah satu ruang VIP disana,sehingga tidak akan ada yang mengganggu privasi mereka.
Ev adalah seorang model,ia dituntut untuk kuat dalam urusan minum,sehingga sudah hampir dua botol minumannya yang hampir habispun wanita itu masih menguasai kesadarannya.
"Gue ngamar dulu" ucap Diaz,kemudian beranjak keluar ruangan dengan menggandeng perempua yang menemaninya.
"Masih kuat minum?" tanya Marcel,ia mulai khawatir melihat Ev yang sudah mulai terlihat sempoyongan,serta mulai berbicara aneh-aneh.
Ev menganguk menjawab pertanyaan Marcel.
"Sebaiknya ku antar kau pulang" Marcel hendak beranjak membantu Ev.
Namun tangannya ditepis oleh wanita itu.
"Kau masih menungguku?" tanya Ev yang sepertinya mulai kehilangan akalnya.
Marcel mengernyit "Kau mabuk Ev, ayo kita pulang" kembali Marcel hendak menarik tangan Ev,namun lagi-lagi ditepis oleh wanita itu.
"Cel..." Ev menjeda ucapannya "Ayo kita menikah".ucap Ev membuat Marcel membelalakan matanya.
next?
__ADS_1
like n koment please...