Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
ekstra part 10


__ADS_3

Atas permintaan Dira semalam kini pagi-pagi sekali Lyra sudah berdiri didepan apartemen Dira.


Cklek...


Pintu terbuka sesaat setelah Lyra menekan bel yang ada disana.


"Lyra...ayo masuk" sapa Dira setelah membukakan pintu.


Lyra kemudian masuk kedalam apartemen tersebut.


"Kamu duduk lah dulu,sebentar lagi El akan keluar" kembali Dira berucap,kemudian berlalu pergi menuju ke dapur untuk mengambilkan minun untuk Lyra.


Lyra duduk di sofa ruang tamu,tak lama kemudian terlihat Elang yang baru turun dari anak tangga,membawa serta laptop di tangannya.


"Sudah dari tadi Lyr?" sapa Elang kemudian duduk disofa didepan Lyra.


"Baru datang kak" jawab Lyra.


Elang membuka laptopnya,kemudian meletakannya diatas meja dan menghadapkannya pada Lyra.


"Dia yang mengganggumu kemarin?" tanya Elang tanpa basa basi.


Lyra terperangah sekejap,apa mbak Dira sudah memberi tahu kak Elang semua? batin Lyra bertanya.


"Katakan saja Lyra,mungkin El bisa membantumu" kini Dira bersuara,ia baru datang dari arah dapur dengan membawa nampan berisi dua cangkir diatasnya.


Dira meletakan kopi didepan Elang kemudia. teh hangat didepan Lyra.


"Terima kasih mba" ucap Lyra.


Dira mengangguk,kemudian ia duduk disamping Elang.


" Aku sudah menceritakan nya pada El Lyra,jadi kamu bisa menceritakan yang lebih detilnya" ucap Dira.


Lyra menelan ludahnya yang terasa lekat, ia merasa berat sekali untuk mengotak-atik kembali masa lalu nya.


Berat sekali bagi Lyra untuk berbagi kisah masa lalunya yang kelam.


"Nama nya Markus hartanto,Ayahnya juga salah seorang pemegang saham diperusahaan Hermawan" kini Elang berucap, menunjuk pada foto yang ada dilayar laptop nya "Apa kau mengenalnya?".


Lyra menggeleng kuat " Tidak kak,saya selalu ingat siapa saja yang pernah saya temani,namun orang ini sama sekali tidak saya ingat" jawab Lyra.


"Lalu,bagai mana bisa dia mengenalimu sebagai manita malam?" Heran Dira.


"Kau tidak harus tau siapa saja yang mengenalimu kan?" Elang Berucap "Bisa saja dia mengenal Lyra namun Lyra tidak tahu tentang pria itu,terlebih dulu Lyra adalah seorang primadona,tentu saja akan ada banyak yang mengenalnya".


"Maaf kak,bukannya saya menyombongkan masa lalu saya,tapi dulu saya hanya bisa bertemu dengan klien saya di ruang VIP,dan tidak semua orang bisa bertemu dengan saya. Jadi,mustahil ada yang mengenali saya selain dari klien saya" Ucap Lyra.


Elang tampak berpikir sebentar "Apa kau pernah menolak seseorang?"


Lyra melihat kearah Elang,kemudian ia mencoba mengingat sesuatu.


"Ah, benar..." Lyra seakan mengingat sesuatu "suatu hari,ada seseorang yang mencegat saya saat saya menuju ruang VIP,dia meminta saya agar menemaninya,tapi waktu itu saya tidak bisa karna klien hanya bisa dengan saya kalau lewat kak Rosy"

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang mengikat mu untuk bekerja disana,seperti surat perjanjian misalnya?" Elang kembali bertanya.


"Tidak,kami hanya ada perjanjian dari mulut saja".


" Kalau begitu,Markus tidak mungkin memiliki bukti jika kamu pekerja disana" gumam Elang "Apa kemungkinan ada yang bisa memotretmu saat kau melayani klien mu?".


" Tidak mungkin,karna disana benar-benar ketat tidak mungkin akan ada yang bisa menyelinap untuk memotret" Lyra.


"Kemungkinan ia memiliki foto mu saat di luar ruang VIP,jadi bukti itu tidak lah cukup kuat. Kamu tenang saja,dia hanya asal menggertakmu" Elang.


"Apa mungkin,Markus akan menghubungi klien yang pernah bersama Lyra?" Tiba-tiba Dira berucap.


Dan perasaan Lyra yang tadinya sudah tenang, kini kembali bergemuruh.


"Benar juga,bagai mana jika itu sampai terjadi?" Lyra merasa takut.


"Apa setiap klien mu juga memiliki bukti mereka pernah bersamamu?" Elang bertanya.


"Seharusnya tidak ada" lirih Lyra.


"Kalau begitu,apa yang kamu khawatirkan?" Elang "Hanya omongan dari mulut ke mulut tidak akan bisa menjatuhkan mu, jika dia tidak memiliki buktinya,kita bisa menuntutnya balik dengan tuntutan pencemaran nama baik".


Lyra mengangguk,kini perasaannya sudah lebih tenang.


" Baik lah,masalahmu sudah selesai, jadi kau bisa pulang sekarang" ucap Elang yang seakan mengusir Lyra.


Dan ucapan karna ucapannya,Elang pun mendapat sikutan diperutnya.


Lyra tampak terkejut,kemudian terkekeh "Baik kak Elang,mbak Dira...Lyra pamit,terima kasih atas solusinya"Lyra beranjak dari duduknya.


"Tadi sudah sarapan mba,Lyra pamit" Lyra kemudian menuju pintu dengan ditemani Dira.


Dira kembali keruang tamu setelah mengantar Lyra sampai pintu depan.


"Hm...saya ingin besok sudah ada laporan" adalah ucapan Elang dengan seseorang yang terdengar oleh Dira ketika ia kembali.


"Siapa?" tanya Dira setelah Elang mematikan telponnya kemudian meletakakan benda tersebut diatas meja.


"Seseorang yang ku suruh untuk mencari bukti dari Markus" jawab Elang kemudian menepuk pahanya agar Dira duduk di pangkuannya.


"Sudah jam delapan,tidak kerja?" tanya Dira berjalan mendekat kemudian melakukan perintah Elang.


"Ck...sepertinya kamu senang sekali kalau aku pergi?" Elang berdecak,membuat Dira terkekeh.


"Tentu saja,jika kamu giat bekerja maka uang yang didapat juga makin banyak,dan itu sangan bagus untukku" ucap Dira kemudian tertawa.


"Aku belum mendapat kan upah ku... bagai mana bisa aku berangkat kerja lagi?"


"Upah? upah apa?" Dira tak mengerti.


"Jangan pura-pura tidak tahu"


Dira mengernyit "Memang tidak tahu" ia menaikkan pundaknya.

__ADS_1


"Bukankah masalah Lyra sudah beres?" tanya Elang.


Dira mengangguk.


"Dan bukankah aku yang menyelesaikannya?"


Dira kembali mengangguk.


"Jadi apa upah untukku?" Elang dengan smirknya.


"Ck...bukankah dia adik ipar mu sendiri? seharusnya kau yang lebih khawatir jika terjadi sesuatu dengannya,karna itu juga akan berdampak pada adikmu sendiri"


"Pandai bicara sekarang ya?" sebuah sentilan mendarat di kening Dira,membuat wanita itu meringis.


"Tega sekali kamu menganiaya ibu hamil" Dira dengan mimik wajah sedih yang dibuat-buat.


"Jadi sekarang,itu menjadi alasan?" sindir Elang.


Dira terkekeh kemudian mengalunkan kedua tangannya pada leher Elang dan


Cup


Satu kecupan mendarat di ujung hidung Elang.


"Hidung? kenapa mencium di hidung?" Elang dengan kernyitannya.


Dira tertawa "Karna itu yang paling menonjol syang".


Mendengar ucapan Dira,sebuah senyum jahil terukir diwajah Elang.


" Kau tahu,ada yang lebih menonjol lagi?" godanya.


Dira tersentak dan buru-buru beranjak dari pangkuan Elang "Tidak,aku tidak akan menjawabnya,atau bertanya apa itu" ia kemudian langsung berjalan cepat menuju kamarnya.


"Hei sayang...kau yakin tidak mau mencium yang satu itu?" suara Elang meninggi karna Dira sudah menjauh.


"Tidak...jangan harap!" suara Dira terdengar mengecil karna teenyata dia sudah masuk kedalam kamarnya meninggalkan Elang yang masih dengan sisa tawanya di ruang tamu.


"Hh...ada-ada saja...bukankah dia sendiri yang memancing?" gumam Elang.




Hadeh....dasar bang Elang pikirannya...


Oh iya,make mau ucapin makasih buat para readers ku yang setia mengikuti setiap episode yang garing dari ku.



Dan makasih untuk like juga komennya, setiap komen dari kalian pasti di baca dan setiap ada like disana itu pasti dari make ya... jadi jangan lupa buat selalu komen di ceritanya yah...karna komen kalian juga aku tunggu,jadi bukan kalian aja yang nunggu lanjutan eps dari make,make juga nungguin komen dari kalian...


__ADS_1


Terima kasih...see you...


__ADS_2