Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
enampuluh sembilan


__ADS_3

Dira memandang serius wajah suaminya yang sedang terlelap.


Saat Dira berada di rumah orang tua nya kemarin,ada satu hal yang baru Dira ketahui.


Ternyata,selama ini Elang telah menginvestasi kan uang nya untuk membeli beberapa hektar sawah didesanya. Dan bapak Dira mengatakan hasil panenannya di berikan untuk memenuhi kebutuhan kedua orang tua Dira.


Karna itu,saat Dira pulang kerumah orang tua nya kemarin,ia merasa terkejut dengan perubahan bangunan rumah mereka.


"Apa ini caramu membuktikan bahwa aku tidak perlu menghawatirkan hubungan kita kelak?" lirih Dira masih memperhatikan wajah lelap itu.


"Atau aku harus merasa malu,karna kau sudah berusaha mengangkat derajat kedua orang tuaku?"


Dira menghela nafas, "Apa tujuanmu tuan?" tanya Dira,namun ia tidak ingin mendapat jawaban dari Elang.


Satu hal yang tertanam dalam hatinya kini, Elang adalah orang yang sudah sepantasnya ia pertahankan, Bukan karna materi yang ia berikan untuk kedua orang tua Dira, namun kini Dira mengerti, ada niat didalam hati Elang untuk mempertahankan pernikahan mereka, lalu kenapa aku harus ragu jika Elang benar-benar serius?. batin Dira.


Ia kemudian mengecup pipi pria yang tidur disampingnya.Kemudian ikut berbaring dan memeluk tubuh seseorang yang akan dengan senang hati ia pertahankan.


Ketika bangun,Elang merasa kaki nya mati rasa,ia melihat sebelahnya,ternya Dira tertidur pulas dengan kakinya menimpa kaki Elang.


"Pantas saja tidak bisa digerakan" batin Elang.


Tak lama,ia merasa ada sedikit gerakan dari istrinya,namun tangan Dira masih erat memeluk perut Elang.


Dira mengerjapkan matanya "Segitu nggak mau jauh dari ku ya? sampai tidur saja tidak mau lepas?". Ucap Elang setelah tau Dira sudah bangun dari tidurnya.


Dira mendongak untuk melihat wajah sang suami " Hehe...mau peluk yang lebih lama" ucap Dira dengan mengeratkan tangan dan kakinya yang melilit tubuh Elang.


"Kamu tau kan, pria akan bereaksi saat pagi?" ucap Elang dengan senyum devilnya.


Benar juga. Batin Dira kemudian segera melepas tangan dan kakinya.


Elang menarik tangan Dira yang hendak menjauh "Morning kiss dulu" ucap Elang kemudian mengecup bibir Dira.


Usai bersiap,Elang dan Dira kemudian menuju ruang makan untuk sarapan.


"Apa papa sudah sarapan Bulek?" tanya Dira menanyakan tentang ayah mertuanya.


"Ini bulek sedang menyiap kan nya non" jawab Bulek Siti.


"Kenapa panggil Wulan begitu bulek? panggil nama saja seperti biasa" ucap Dira merasa aneh dipanggil seperti itu oleh bulek nya sendiri.

__ADS_1


Bulek Siti diam tak berani menjawab,ia hanya menunduk takut karna Elang ada disamping Dira,jadi bulek Siti tidak berani seenaknya.


Dira melihat gerak-gerik bulek Siti kemudian melirik pada Elang. Sekarang ia mengerti, Bilek Siti sedang takut terhadap suaminya.


Dira kemudian menyikut perut Elang,membuat pria itu tersentak karna tadi sedang fokus pada tabletnya.


"Apa sayang?" Elang berbisik di telinga Dira.


Dira yang merasa geli karna terpaan nafas Elang yang mengenai telinganya kemudian mencubit pinggang pria tersebut.


"Aww!" pekiknya. "Ada apa?" tanya Elang kini sedikit menjauhkan wajahnya.


"Memang kamu nyuruh bulek Siti buat panggil aku dengan sebutan non ya?" selidik Dira.


"Tentu saja tidak" jawab Elang cepat "Memang nya aku orang kolot yang akan melakukan hal seperti itu?. lagi pula Bik Siti kan adik ibu,mana mungkin aku memintanya memanggil keponakannya sendiri seperti itu".


" Dengerkan bulek?" kini Dira beralih pada bulek nya.


Bulek siti hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Bulek,nanti kalau sarapan tuan besar-" Dira menghentikan ucapannya saat mendengar Elang berdehem "Maksud saya Papa, kalau sarapan pap sudah selesai biar Wulan saja yang antar" ucap Dira.


"Baik nduk" jawab bulek Siti kemudian undur diri.


"Papa mau jalan-jalan keluar?" tanya Dira saat melihat papa mertuanya itu tengah manatap taman yang ada di luar mansion.


Papa Adrian menoleh,kemudian tersenyum melihat kehadiran Dira,ia mengangguk tanda sangat ingin jalan-jalan dan menghirup udara luar yang segar.


"Tapi papa harus sarapan dulu" ucap Dira kemudian membawa sebuah kursi kayu yang ia letakkan disamping papa Adrian.


Dengan telaten Dira menyuapi papa Adrian dengan bubur,karna papa Adrian masih belum bisa dengan bebas menggerakan mulutnya untuk mengunyah.


"Pa-pa ber sa-lah pa-da mu,nak ma-af kan pa-pa" ucap papa yang tidak terlalu jelas namun Dira bisa mengerti.


"Yang papa lakukan sudah benar pa, jika Dira menjadi orang tua,mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Karna sebagai orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak nya" ucap Dira.


Papa Adria mengangguk, Beliau tau sejak dulu Dira memang anak baik,namun bagi papa, Dewa yang akan menjadi pewarisnya harus lah memiliki seorang pendamping yang sepadan namun harus bagai mana lagi. hati orang memang tak bisa untuk dipaksakan.


Sebesar papa Adrian memaksakan kehendaknya, sebesar itu pula putranya akan membalasnya dengan kebencian.


***

__ADS_1


"Lyra,kau disini?" tanya Dira yang baru keluar dari kamar papa Adrian dan melihat Lyra ada didepannya.


"Iya mba" jawab Lyra.


"Mau jenguk papa?"


Lyra cepat menggeleng" Lyra mau ketemu mba Dira"


Dira mengernyit saat Lyra bilang dia ingin menemuinya "Ada apa?" tanya Dira setelah mengajak Lyra untuk duduk di sofa.


"mmm...anu mba" ucap Lyra gugup.


Dira semakin penasaran karan Lyra terlalu berbelit-belit "Anu,apa lyra?"


"Mmm...Mama Mary meminta bertemu dengan Lyra" ucap Lyra takut.


Dira membelalak "Ya,bagus dong...kamu kan belum pernah bertemu dengan mama". ucap Dira senang.


" Tapi,Lyra takut mba...gimana kalau mama Mary nggak suka sama Lyra?".


Dira berpikir sebentar "Kapan mama Mary ngajak ketemu nya?"


"Hari ini Mba,dan kata mama Mary, Lyra disuruh nunggu disini" Lyra menjelaskan.


Dira manggut-manggut "Kalau begitu, sebentar aku ganti baju dulu" ucap Dira kemudian berjalan menuju kamarnya untuk menukar pakaiannya.


Dira mengerti akan maksud mama Mary yang meminta Lyra menunggunya disini. Mama Mary bermaksud untuk mengajak Dira sekalian, karna itu kini Dira tengah bersiap untuk menunggu mama Mertua nya.


"Eh,itu sepertinya mobil mama sudah sampai. Ayo Lyra" ajak Dira agar Lyra mengikutinya kedepan untuk menyambut mama Mary.


"Sayang...!" mama Mary yang baru turun dari mobilnya langsung berhambur memeluk Dira.


"Mama mau pergi dengan Lyra?" tanya Dira setelah mama melepaskan pelukannya.


Mama Mary kemudian beralih pada Lyra yang tengah bediri dibelakang Dira. Lyra mendekat kemudian bersalaman dengan mama Mary, tak lupa juga mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Iya," jawab mama mary "Kalian sudah siap?" tanya mama Mary.


"Sudah ma,tapi apa mama tidak mau kedalam dulu buat nengok papa?" Tutur Dira.


"Tidak,nanti saja kalau sudah pulang" ujar mama Mary kemudian menuju mobilnya.

__ADS_1


Next?


like n koment please...


__ADS_2