
"Kau sendiri yang datang?" tanya Elang yang baru saja datang kemudian duduk disofa didepan Dewa.
"Hm" jawab Dewa dengan menganggukan kepalanya.
"Punya banyak waktu juga ya? kau bawa berkasnya?"
"ya" Dewa menyerahkan beberapa map yang berisi berkas-berkas perusahaan keluarga Hermawan.
Elang menerima berkas itu, kemudian mengambil kopinya. Disesapnya kopi hitam miliknya kemudian memulai membaca berkas itu satu-persatu.
"Dimana sekertarismu?" kemudian mengembalikan kopinya diatas cawannya.
"Aku menyuruhnya kembali keperusahaan" Jujur, baru kali ini Dewa berhadapan dengan Elang dan berbincang begitu lama, apa lagi hanya berdua,membuat pemuda itu merasa grogi.
"Kenapa bukan kamu yang lebih dulu ke perusahaan, dan menyuruh sekertarismu saja yang kesini?" kembali Elang bersuara sambil memeriksa laporan perusahaan keluarga Hermawan yang dibawa Dewa tadi.
"Ada yang ingin ku pastikan" ucapnya sambil memandang Dira yang tengah sibuk menyiapkan sarapan didapur.
Elang menghentikan acara membacanya, kemudian mengikuti arah pandang Dewa yang melihat pada istrinya.
"Lebih baik kita sarapan dulu" ajak Elang meletakan berkasnya diatas meja.
Elang beranjak kemudian menuju ruang makan yang diikuti Dewa dibelakangnya.
"eh, sudah selesai urusannya?" Tanya Dira yang cukup merasa kaget saat mendapati kedua pria itu tengah duduk dikursi ruang makan.
Elangpun beranjak, kemudian meraih pinggang ramping Dira kemudian mengecup pelipisnya. Seakan ingin memamerkan kemesraan mereka didepan Dewa.
"Kita sarapan dulu" ucap Elang kemudian kembali duduk dikursi nya.
Ada nasi lengkap dengan lauk pauknya disana, Dewa tidak heran dengan menu sarapan pagi Dira, karna dia tau betul jika gadis ini memang tidak bisa jika sarapan tanpa nasi.
"Kau tidak masalah sarapan dengan nasi?" tanya Elang pada Dewa.
Dewa menggeleng "Tidak masalah" jawabnya kemudian menyendokan nasinya keatas piring,tentu setelah Elang mengisi piringnya terlebih dahulu.
Dira merasa ada sesuatu yang berbeda dari suaminya, setiap kali bersama Dewa.
Apa sebenarnya yang ingin ditunjukan Elang pada Dewa?
Usai sarapan, Elang kembali keruang tamu bersama Dewa. Sedangkan Dira membersihkan piring dan peralatan memasaknya tadi.
Tidak beberapa lama,Dira sudah turun dari lantai dua dengan penampilan yang sudah rapi. Karna hari ini dia akan mulai bekerja di restoran Elang yang ada dijakarta.
"Sudah siap?" Tanya Elang yang melihat kedatangan Dira.
"Hmm" Dira mengangguk kemudian melihat sekeliling karna sudah tak menjumpai Dewa lagi.
"Dewa sudah kembali ke kantornya" ucap Elang seakan menjawab pertanyaan Dira yang tidak terlontarkan.
Kemudian memberi Dira kunci mobil "Tunggu dimobil,aku ganti baju dulu" ucapnya kemudian menaiki tangga menuju kamar.
Dira sejenak memandangi punggung Elang yang semakin menjauh, dan bukannya menuruti Elang untuk menunggu didalam mobil, Dira malah mendudukan bokongnya disofa ruang tamunya.
__ADS_1
Tak beberapa lama Elang sudah turun dengan pakaian rapi,melihat Dira dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Bukannya aku menyuruhmu menunggu dimobil?" tanya Elang setelah berdiri disamping Dira.
Sejenak Dira menghela nafasnya"Chef, setelah aku pikir-pikir, lebih baik kita berangkat sendiri-sendiri saja. lagi pula bukannya kamu mau keperusahaan tuan Hermawan?"
Elang bersidekap "kau tidak suka satu mobil dengabku?"
"Kenapa malah jadi tidak suka satu mobil? aku hanya tidak enak jika nanti dipandang aneh oleh anak buahmu!" seru Dira, kemudian mengulurkan tangan kanannya " Jadi berikan aku uang transport". todongnya.
Elang tersenyum sinis "Jika tidak butuh tumpangan, berangkat saja sendiri!" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Dira.
Namun dengan cepat, Dira berjalan tertatih untuk mengejar langkah lebar Elang. "ayo lah Chef" bujuknya sekali lagi.
Elang menggelengkan kepalanya,pertanda tidak untuk Dira.
"Dasar pelit" seketika Elang menghentikan langkahnya,membuat Dira juga mendadak berhenti.
"Kau bilang apa?" tatapan tajam dari Elang membuat Dira menciut tidak berani menjawab "kau lupa dengan kartu yang kuberikan?".
Dira yang mendengar itu kemudian mengangkat wajahnya menatap Elang yang ada didepannya " itu kan kartu kredit, mana bisa naik taksi menggunakan kartu" cicitnya.
Elang menghela nafasnya, memijit pangkal hidungnya yang entah kenapa terasa pening.
Dan tanpa aba-aba, Elang menarik Dira menuju basement apartemen itu. kemudian memaksa gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.
Tak ada yang bersuara didalam mobil sepanjang perjalanan itu.
Elang turun lebih dulu,disusul Dira yang kemudian mengikuti Elang dari belakang.
Menyusuri ruangan mewah tersebut, Elang disambut anggukan kepala oleh para pegawainya.
Masih berjalan mengikuti Elang menuju ruangannya, sayup-sayup Dira bisa mendengar para karyawan Elang bersuara mengenai dirinya.
"siapa yang dibawa chef Elang itu?"
"mungkin pegawai baru"
"apa itu gadis yang ada di postingan chef waktu itu ya?"
"mana mungkin? tapi kalau dilihat dari rambutnya sepertinya ia"
"tapi wajahnya tidak secantik Evalina si model itu"
Mendengar rambutnya dibahas, entah kenapa Dira reflek memegangi rambutnya sendiri.
ya tuhan, apa perlu aku memotong saja rambut ini?
Dira benar-benar tidak suka jika ada yang membicarakannya apa lagi menyangkut hal pribadi,karna itu saat di Surabaya, ia berusaha agar para teman-temannya tidak mengetahui hubungannya dengan Chef mereka.
Brugh...
Karna tidak konsentrasi saat berjalan, bahkan pintu ruangan Elang yang sudah tertutup pun tidak disadari olehnya, dan mengakibatkan keningnya memerah karna baru saja dicium oleh pintu itu.
__ADS_1
Elang yang mendengar suara itu kemudian kembali membuka pintu yang tertutup tadi. Dan sontak terkekeh geli melihat istrinya dengan wajah tertekuk sambil mengelus keningnya yangm memerah.
"Bagus sekali, bahkan sebuah pintu ku pun menyambut mu dengan ciuman dikening" kekehnya.
Dira menatap Elang dengan tatapan membunuhnya "Terus saja mengejek, kau sengajakan!" serunya, kemudian mendahului Elang untuk memasuki ruangan Owner tersebut.
Dan dengan lancangnya, Dira langsung saja duduk dikursi kebesaran Elang. Sambil terus memijit keningnya.
Elang yang hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian mengambil laporan yang ada dimeja didepan Dira, kemudian berjalan menuju sofa yang berada di pojok ruangan itu.
Dira hanya mengamati gerak-gerik Elang, lalu tanpa rasa malu sedikitpun karna lancang menduduki kursi kerja Elang, Dira merebahkan punggungnya pada sandaran kursi tersebut. Kemudian melengkok-lengkokan tubuhnya mencari posisi yang nyaman.
"Kursi bos memanga nyaman" Gumam nya namun masih bisa didengar oleh Elang.
Elang yang sudah menyelesaikan tugasnya kemudian beranjak dari sofa yang ia duduki dan berjalan menuju meja kerjanya.
Bib...
Ia menekan tombol pada telphon selulernya "Suruh Manager datang keruanganku!" titahnya ,kemudian mematikan sambungan panggilan tersebut.
Dira yang mendengar akan ada yang masuk kedalam ruangan Elang kemudian beranjak dari posisi nyamannya.
"Kenapa memanggil orang?" tanyannya kemudian berjalan mengelilingi meja Elang dan duduk dikursi yang ada diseberangnya.
"Pekerjaan mu didapur,bukan disini. nanti akan ada orang yang mengantarkan mu" ucap Elang kemudian duduk dikursi nya. Dan memandang wajah Dira yang terlihat kusut itu "kenapa dengan wajahmu?".
Dira mendongak menatap Elang tanpa berniat menjawab perkataan pria tersebut.
" Wajah mu itu sudah jelek, jangan dijelek-jelekan" ucap Elang kemudian beralih pada laptop didepannya.
"Benar kan!" seru Dira dengan menaikan suaranya.
"Benar apanya?" Elang mengalihkan pandangannya menuju gadis didepannya.
"Aku memang tidak secantik dan sesexi para pacamu itu...lalu kenapa kamu mau menikahiku waktu itu? dan kenapa bahkan sampai sekarang kau juga tidak menceraikanku?" masih dengan nada yang tinggi.
"Heh...ada apa denganmu? apa kau kerasukan setan di apartemen!" ucap Elang.
"Tidak lucu...ucapan mu sama sekali tidak lucu" Dira mengerucutkan bibirnya.
"Diam lah..ada yang datang" ucap Elang dan entah kenapa Dira hanya menurutinya untuk diam.
Terdengar pintu terbuka dan seseorang masuk kedalam ruangan itu.
"Siang pak,ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang itu, yang Dira tahu adalah suara perempuan.
Elang mengangguk "Dia adalah Chef baru, Bagian desert, antarkan dia ke pantry nya" titah Elang.
Wanita itu menganggu, disusuk Dira yang kemudian berdiri dan memutar tubuhnya.
Alangkah terkejutnya Dira saat melihat wanita tersebut "Desi?"
"Wulan?" ucap mereka bersamaan.
__ADS_1