
Elang menyetir mobilnya hendak menuju bandara,kemudian ia lebih dulu menghubungi asistennya untuk memesankan tiket pesawat menuju Semarang.
setelah sekitar lima menit,si asistennya pun kembali menelpon Elang.
"Iya Ndi?" jawab Elang mengangkat panggilan telpon dari Andi asistennya.
"Tuan,tiket untuk menuju Semarang untuk saat ini sudah habis tuan,dan adanya sekitar empat sampai lima jam lagi. Bagai mana? apa anda ingin pesan yang itu saja?" tanya si asisten.
Elang kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya."Tidak usah,aku akan bawa mobil saja" jawab Elang dengan nada frustasinya.
"Tapi tuan,dari Jakarta ke Semarang hampir delapan jam,itu pun kalau tidak macet".
"Tapi aku tidak bisa diam saja Ndi".
" Baiklah tuan,tapi bagaimana dengan rapatnya tuan?".
"Tunda sampai besok saja kita rapat via vidio, nanti setelah sampai Semarang kita rapat" putus Elang.
"Baik tuan" jawab asistennya.
Elang memutar balik setirnya untuk kembali ke mansion hermawan untuk mengambil laptopnya.
Setelah sampai di Mansion,Elang buru-buru menuju kamarnya dan mengambil alat penghasil rupiahnya itu.
Ia melewati para pelayan disana,namun tidak ada satupun yang berani bertanya.
"Bik Siti,kalau tuan tanya tentang Elang, jawab saja Elang sedang keSemarang bersama Dira" ucap Elang saat melewati Bulek Siti.
Bulek Siti hampir tidak percaya dengan apa yang diucap kan majikannya tersebut.
"Tuan mau keSemarang?" tanya bulek Siti tiba-tiba.
"iya?" Elang mengangguk.
"Boleh bibik titip sesuatu untuk anak bibi Tuan?" bulek Siti memberanikan diri.
Elang kemudian mengangguk "Cepat lah" ucap Elang.
Kemudian bulek Siti segera menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu untuk diberikan kepada anak semata wayangnya.
Setelah menerima barang yang dititipkan pada nya dari bulek Siti,ia kemudian segera menuju mobil untuk segera berangkat ke kota Semarang.
Menempuh perjalanan selama hampir delapan jam,membuat Elang cukup merasa lelah. Bagai mana dia tidak beripikir untuk menyuruh supirnya saja tadi?, memikirkan Dira benar-benar membuat pikiran Elang terkuras habis.
Pukul satu dini hari Elang sampai dipelataran rumah orang tua Dira.
Ia keliluar dari mobilnya kemudian menyeret langkahnya menuju pintu rumah kayu tersebut.
Tok...tok...tok...
Elang mengucapkan salam. Setelah mendengar sahutan dari dalam,ia kemudian diam sejenak.
Tak berapa lama pintu terbuka,seorang pria paruh baya kini berdiri didepan Elang.
__ADS_1
Tidak lain adalah ayah Dira,pagi tadi ia dikejutkan oleh kedatangan putrinya yang datang tanpa memberi kabar dan kali ini ayah Dira lebih terkejut lagi saat melihat sosok didepannya.
"Lho...nak Elang?" ucap Ayah Dira dengan menampilkan wajah terkejutnya.
Elang memperlihatkan senyumnya "iya pak" jawabnya.
"Oh,ayo masuk nak" sambut ayah Dira.
Elang memasuki rumah tersebut mengikuti langkah ayah Dira.
"Wulan sudah tidur dikamarnya,nak Elang mau makan dulu apa langsung istirahat?" tanya ayah Dira bernama Ridwan itu.
"Elang langsung istirahat saja pak" jawab Elang.
"Iya,pasti lelah ya...nyetir sendiri?" tanya pak Ridwan karna tadi melihat mobil Elang terparkir dipekarangan rumahnya.
"Iya pak" Elang menjawab sopan.
Pak Ridwan kemudian menunjukan kamar Dira,dan Elang pun masuk kedalamnya setelah mengucapkan terima kasih kepada ayah mertuanya tersebut.
Elang menutup pintu perlahan setelah ia memasuki kamar dengan luas lima meter persegi itu,terlihat sempit untuknya mengingat kamarnya yang bahkan memiliki luas hampir separuh rumah orang tua Dira ini.
Ia melihat Dira yang sedang terlelap,tampak sekali wajah lelah wanita itu,mungkin karna menaiki bus menuju kesini.
Elang merebahkan tubuhnya disamping Dira, wanita itu tampak tak terusik oleh pergerakan Elang. Padahal biasanya Dira akan langsung terbangun saat merasa ada yang bergerak disampingnya.
"Apa kau lelah?" Elang mengusap lembut pipi Dira yang kini tidur menghadap dirinya.
"Maaf" ucapnya sekali lagi kemudian tidur disamping Dira dengan menempatkan sebelah tangannya untuk memeluk wanita itu.
Dira mengerjapkan matanya,menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang menembus celah gorden jendela kamarnya.
Ia melihat arah samping yang tampak kosong, sepertinya tadi malam ia bermimpi Elang memeluknya.
Astaga...apa Dira kangen? tidak... harus nya Elang yang kangen pada Dira,itu baru benar.
Dira mengusap wajahnya kemudian melihat jam yang ada didinding kamarnya sedah menunjukan pukul setengah enam pagi.
Matahari sudah akan menampakkan sinarnya, tapi hawa disisni benar-benar masih sejuk.
Dira kemudian beranjak dari tempat tidurnya, ia menyambar handuk yang tergantung dipintu kamarnya kemudian menyampirkannya di pundaknya.
Setelah melewati pintu kamarnya,Dira munutup mulutnya karna menguap begitu lebar.
Saat melewati dapur,matanya menangkap sosok yang tidak asing sedang membantu ibunya memasak.
"Elang?" gumam Dira tak percaya jika kini Elang ada didepannya. "Awh...!" pekik Dira saat ia mencubit pipinya sendiri.
Mendengar Dira memekik membuat Elang mengalihkan pandangannya kepada wanita itu.
Pria itu tersenyum kemudian menyapa Dira "Sayang".
Dira yang merasa kikuk dipanggil seperti itu didepan ibunya,kemudian berlalu dan berpura-pura tidak mendengar ucapan Elang.
__ADS_1
Dira kemudian menuju kamar mandi untuk menuntaskan ritual mandinya.
Setelah selesai,Dira keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit pada rambutnya.
" Sarapan dulu nduk" ucap Ibu Dira.
"Iya buk" jawab Dira kemudian duduk di kursinya.
Sudah ada Elang disamping nya,ia melirik sekilas pada pria yang duduk disampingnya itu.
"Kenapa?" bisik Elang,karna menyadari Dira mencuri lirik kearahnya.
"Tidak ada" jawab Dira ketus, agar terlihat ia masih marah. Pada hal sebenarnya sudah dari kemarin Dira tidak marah lagi kepada Elang.
"Bapak kemana buk?" tanya Dira mengalihkan.
"Bapak sudah ke sawah,ini ibuk sudah siapkan bekal" Jawab Ibu Any yang sudah keluar dari dapur dengan membawa rantang berisi bekal untuk ayahnya.
"Kenapa pagi banget buk udah ke sawah?"
"Iya,biar nanti cepet pulang,nggak enak jiga kalau kesawah sampai siang,apalagi ada nak Elang berkunjung" jawab Ibu.
Dira hanya menjawab oh tanpa suara.
"Ya sudah,kalau begitu ibuk mau ngirimin makanannya buat Bapak ya" ucap Ibuk,kemudian berlalu setelah mendapat jawaban iya dari Dira.
Mereka menghabiskan sarapan dengan tenang,Dira kemudian membereskan piring kotor lalu mencucinya.
Tanpa Dira tau,ternyata Elang berdiri dibelakangnya.
Elang kemudian menyibak handuk yang ada dikepala Dira membuat wanita itu terkejut dan menoleh kebelakang.
Elang melihatnya dengan senyuman,namun Dira kembali memunggungi pria itu untuk meneruskan urusan mencuci piringnya.
"Masih marah?" tanya Elang sambil mengusap rambut basah Dira dengan handuk yang dia ambil tadi.
Dira hanya diam tak menjawab,sungguh Dira hanya ingin tertawa melihat Elang yang seperti lelaki yang diperbudak cinta, tapi sekuat tenaga Dira menahan tawanya.
Elang menyadari bahwa pundak Dira sedikit bergetar,ia kemudian memutar tubuh wanita itu kemudian memeluknya erat.
Elang mengira jika Dira sedang menangis,karna itu dia merasa semakin bersalah.
"Maaf" ucap Elang kemudian mengecup puncak kepala Dira.
Elang kemudian menangkup wajah Dira,dan mendongakkannya agar Dira menatapnya.
Elang mengernyit,kenapa tidak ada air mata?. Batinnya. "Kau?"
"Kamu pikir aku nangis?" ejek Dira kemudian disusul gelak tawanya yang akhirnya pecah.
"Astaga...kau mengerjai ku...hm..." Elang menarik hidung mancung Dira gemas. "Setengah mati aku khawatir!".
Dan Dira hanya cengengesan saja menanggapi ucapan Elang.
__ADS_1
next?
like n coment please...