Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tigapuluh dua


__ADS_3

Dira sedang mencuci piring bekas makan siang bersama mama Mary tadi. Dia juga menyadari jika dari tadi Elang memperhatikan gerak-geriknya.


"Bisakah kau berhenti melihatku dengan tatapan mematikan itu? kau menakutiku" ucap Dira.


"Apa kau ini bodoh? begitu saja menuruti ucapan nya?!"


"Hei...biar bagai manapun dia adalah ibumu,apa pantas kau bicara seperti itu?" sanggah Dira "Lagi pula aku tidak bisa mengatakan tidak pada mama".


"Itu lah...kau memang bodoh,apa jika dia memintamu untuk terjun kedalam jurang apa kau juga akan menurutinya?".


" Ya...kau benar,aku memang bodoh dan tidak sepintar dirimu! lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? mencari penggantiku?" tantang Dira "Ya, model yang diberitakan sebagai istrimu itu juga kurasa bagus" kini Dira menyindir.


Tanpa kata-kata,Elang beranjak kemudian menuju ruang kerjanya.


Dan bunyi bedebam pada pintu yang dibanting Elang membuat Dira terkejut.


Dira hanya berdiam diri disofa ruang tamu, dan tak lama,Elang keluar dari ruangan kerjanya dan pergi begitu saja tanpa menyapa Dira.


Sore menjelang,Dira pun akhirnya memutuskan untuk memasak masakan sederhana untuk menu makan malamnya.


Usai memasak,Dira membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air yang keluar melalui celah kecil pada shower.


Rasa segar dari air yang mengaliri kulitnya, membuat emosinya juga entah kenapa ikut meluntur tersapu oleh aliran air itu.


Elang pergi hingga malam, Dira yang duduk kursi meja makan dengan beberapa hidangan didepannya nampak utuh tak tersentuh.


Ia melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan malam,dan belum ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ini bukanlah pertama kalinya Elang pulang larut,bahkan biasanya Elang pulang pagipun Dira merasa tak masalah.


Namun kali ini terasa berbeda karna Dira merasa Elang pergi dengan penuh emosi,hingga membuatnya khawatir.


Setelah menyimpan kembali makanannya yang mesih utuh,Dira kemudian memutuskan pergi kekamar.


Saat merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Dira mendengar seseorang yang masuk kedalam apartemennya. Dan Dira yakin itu adalah Elang.


Namun beberapa saat dia tidak merasa bahwa Elang masuk kedalam kamarnya. Ia pun memutuskan untuk keluar.


Dan benar dugaannya,Elang lebih memilih masuk kembali kedalam ruang kerjanya "Apa disana lebih menarik?" Gerutu Dira.


Dira melirik jam yang sudah menunjukan pukul setengah dua belas,dan itu berarti dia sudah menunggu Elang selama satu setengah jam.


Tidak sabar,akhirnya dia memutuskan untuk menuju ruang kerja Elang. Dengan membuang seluruh harga dirinya dia akan meminta maaf terlebih dahulu.

__ADS_1


Dira menghirup udara banyak-banyak untuk mengisi penuh paru-parunya. Ia masih merasa gugup saat akan membuka pintu kayu tersebut. ya Tuhan,aku gugup sekali.


"Sudah larut,apa kamu tidak akan kembali kekamar?" ucap Dira bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Ternyata selain bodoh,kau juga tidak punya sopan santun!" Ucapan Elang pedas seperti biasa. Rasanya Dira geram dan ingin membungkam mulut itu dengan sepatu barunya.


Dira masih terdiam ditengah pintu,ia melihat ternyata Elang sedang melakukan vidio call dengan kliennya.ya Tuhan,memang apa lagi yang akan dilakukan Elang saat diruang kerja selain bekerja.


Dira menghela nafasnya "Maaf" ucapnya kemudian mengetuk pintu yang sudah terbuka itu sebagai ganti dia tidak izin dulu saat akan membuka pintu tadi.


Perlahan,ia berjala mendekati Elang yang sedang duduk dikursi kerjanya,melihat Dira tang datang mendekat,Elang kemudian memutuskan sambungan vidio pada laptopnya.


Kini,Dira berdiri dibelakang Elang,kemudian mengalungkan tangannya pada leher pria tersebut "Maaf" ucapnya lagi tepat didepan telinga Elang.


Elang menarik tangan Dira yang melilit pada lehernya,kemudian menuntunya untuk duduk dipangkuannya.


"Tidak semudah itu memaafkan mu" ucap Elang membuat Dira mengerucutkan bibirnya.


"Kau kan juga salah"


"Memangnya apa kesalahanku?" Elang mencubit bibir Dira yang sengaja ia monyongkan.


Elang terkekeh,kemudian menyandarkan punggunya pada sandaran kursinya.


"Lain kali jangan menuruti ucapan mama yang tidak masuk akal" ucap Elang.


Dira menyandarkan kepalanya pada dada Elang,kemudian mengangguk mengiyakan perintah Elang.


"Kau tau kan aku tidak bisa menolak mama?" Dira dengan membuat pola abstrak pada dada Elang,membuat Elang tidak tau lagi bagaimana cara menasehati gadis ini.


Elang mengisyaratkan agar Dira beranjak dari pangkuannya.Dan Dira pun menurut,namun saat Dira mengankat bokongnya dari paha Elang,tiba-tiba Elang mengangkatnya hingga Dira terduduk diatas meja kerjanya.


"Astaga" pekik Dira karna terkejut saat Elang tiba-tiba mengangkatnya.


"Sepertinya tidak bisa menasehatimu hanya dengan kata-kata" ucap Elang dengan senyum iblisnya.


"Eh...eh..tu-tunggu dulu!" pekik Dira saat Elang melucuti pakaiannya. Elang tak menghiraukan ucapan Dira dan tetap meneruskan aksinya dengan Dira yang ada diatas mejanya.


"Kau yang membangunkan singa tidur" ucap Elang yang sudah menyelesaikan urusannya diruang kerjanya tadi,bukan urusan pekerjaan, namun urusan memberi Dira pelajaran.


"Hei...!!!" Seru Dira saat Elang kini memindahkan tubuhnya menuju kamarnya "Apa belum selesai?!" teriak Dira nyaring.

__ADS_1


"Tentu saja belum,yang tadi hanya pemulaan" ucap Elang santai masih dengan senyum smirknya.


"Astaga...El...sampai kapan kau akan mebghentikannya?!" Gerutu Dira,sedangkan Elang tidak menjawab dan hanya sibuk dengan urusannya diatas tubuh Dira.


***


Pagi menyingsing,Dira seakan merasa lemas diatas tempat tidur setelah digempur oleh Elang habis-habisan.


Bagaimana bisa Elang memiliki stamina seperti itu? astaga...Dira benar-benar tidak berkutik,ya, walaupun Wanita itu juga menikmatinya.


Kini,Dira masih berada dipelukan Elang,dia baru saja memejamkan matanya setelah pukul empat pagi,dan ini baru pukul enam.


Hanya dua jam ia tidur,Dira berusaha bangun, namun tidak bisa karna Elang menjepit pahanya dengan kedua kakinya.


"Astaga, berat sekali" Dira berusah mengangkat kaki Elang,namun bukannya terlepas malah belitannya semakin mengencang,akhirnya Dirapun menyerah.


"Kau membangunkan ku lagi?" Tiba-tiba Elang kembali diatas Dira dengan kedua tangannya mengukung tubuh wanita itu.


Dira mengerang frustasi "Aku cuma mau bangun...apa kamu belum selesai juga?".


" Aku masih belum memaafkanmu".


"Apa? jadi yang tadi malam itu sia-sia saja aku meminta maaf?" Dira merasa tertipu.


"Kau bahkan tidak melakukan apa-apa untuk membuatku senang".


" Ap-apa???" Oke kini Dira menyerah. "Baiklah kau lakukan saja,tapi cepat lah hari ini aku berangkat bekerja" ucap Dira.


Namun,tiba-tiba Dira terkejut karna Elang membalik tubuh mereka hingga membuat posisi Dira yang tadinya berada dibawah kini berganti diatas Elang.


"Sekarang,giliran kamu yang bergerak" Ucap Elang kemudian memejamkan matanya.


Ingin rasanya Dira mengumpat,tapi apa daya, dia masih takut dosa.


Akhirnya Dira pun menurut. Dan kegiatan pagi itu,Dira yang memimpin,sedangkan Elang hanya mendesah dibawah kendali Dira.


Walau bukan pengalama pertama bagi sepasang suami istri ini bercinta,namun tetap saja membuat wajah Dira memerah saat mendengar desahan yang keluar dari mulut suaminya.


"Jangan mengurusi urusan Dewa lagi,aku tidak suka!" Ucap Elang disela kegiatan panas mereka.


Dan apakah Elang merasa cemburu terhadap Dewa. Kalau memang benar,Dira akan merasa senang mendengarnya...

__ADS_1


__ADS_2