
"Mulai hari ini,kamu jangan kemana-mana" ucap Elang tegas.
"Maksudnya?"
"Tidak mengerti maksudku? kau harus berdiam diri saja dirumah,jangan keluyuran!"
Dira mengerutkan keningnya,ada apa dengan Elang pagi ini?.Batinnya.
"Terus bagai mana dengan tuan besar?".
" Nanti akan aku urus,kalau sudah dipidah ke mansion,kau bisa kesana"
Dira melongo dengan apa yang Elang ucapkan "Maksudnya,aku ditahan di apartemen?"
"Ya,semacam itu!"
"Tapi El-"
"Dan satu lagi,jangan panggil aku El!"
"Lalu mau dipanggil apa?" Dira mengecil kan suaranya.
Elang berjalan mendekati Dira yang sedang berada di meja makan.
"Coba panggil aku sayang"
Dira merasa heran dengan Elang hingga membuatnya menaikan kedua alisnya.
"Kamu panas ya?" tanya Dira langsung menempelkan punggung tangannya pada kening Elang.
Elang menarik tangan Dira,kemudian menggenggamnya.
"Coba panggil aku sayang" Elang berucap lagi lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Dira,membuat wajah Elang tampak sangat jelas dihadapannya.
Dira menghela nafas nya "Sa-sayang" ucap Dira dengan menampilkan senyum kudanya.
"Bagus,selanjutnya kau harus memanggilku seperti itu setiap saat" Elang mengecup pipi Dira,kemudian berangkat kekantor.
***
Setelah perdebatan penuh drama,karna Elang yang tak mengijinkan Dira untuk melangkahkan kakinya dari lantai Apartemennya.
Kini Dira sudah bisa bernafas lega,karna Elang sudah berangkat kekantor.
"Huft" ia menghela nafasnya kemudian mendudukan tubuhnya diatas sofa yang begitu terasa nyaman untuk nya.
"Ada apa dengan El hari ini?apa dia salah minum obat? kenapa aku lebih nyaman dengan El yang cuek ya? El yang perhatian seperti tadi malah membuatku merinding" gumam Dira pada dirinya sendiri.
ting...tong...
Terdengar suara bel apartemen berbunyi,Dira kemudian bergegas membuka pintu,untuk mengetahui siapa yang pagi-pagi ini bertamu.
Cklek...
Begitu pintu terbuka,Dira terkejut dengan seseorang yang kini berdiri didepannya.
__ADS_1
"Ipan?" ucap Dira dengan mulut menganga.
Pemuda dihadapannya yang ia panggil Ipan itu hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.
"Astaga...bagai mana kamu bisa sampai disini?!" Dira langsung menghambur memeluk pemuda yang adalah adik lelakinya itu.
"Hehe...Emang mas Elang nggak kasih tau mba Dira?" tanya Irfan setelah Dira mempersilahkan adiknya itu masuk.
"Curang sekali,dia tidak bilang apa-apa padaku" ucap Dira sambil memanyunkan bibirnya. "Eh,iya kamu dalam rangka apa datang kejakarta?" tanya Dira kemudian.
"Mba Dira nanya-nanya banyak hal pasti mas Elang bener-bener nggak cerita apa-apa nih" ucap Irfan.
Dira sontak memukul kepala Irfan dengan majalah yang ada didepannya.
"Kalau aku tau,aku nggak akan nanya!" serunya.
"Mas Elang minta aku buat transfer ke S1 disini,dan mas Elang juga udah mengurus semua kepindahan kuliahku" jawab Irfan sambil mengelus-elus kepalanya yang masih terasa ngilu akibat pukulan kakaknya tadi.
"Jadi,kamu akan tinggal disini?" tanya Dira.
Irfan menggelang "ya nggak diApartemennya mas Elang juga" ucapnya"Aku udah cari kos-kosan kok mba yang deket sama kampus" sambung Irfan. "Oh iya, mas Elang juga pesen,kalau mbak mau pergi kemana-mana mbak bisa langsung hubungi Ipan" ucap Irfan sambil menaik turunkan alisnya.
Dira kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya,kenapa Elang jadi berubah menjadi seposesif ini?.
"Nisa titip salam mba,katanya suka banget sama tas yang mba kirim,ibu juga bilang makasih udah kirim banyak oleh-oleh kemarin".
" Cuma titip makasih doang? ibu nggak ngirim apa gitu buat aku?".
"Emang mba mau dikirim apa? mba pengen apa aja bisa beli sendiri" ucap Irfan. "Secara fulus mba kan bejibun" Irfan dengan cengirannya membuat Dira memutar bola matanya.
"Ya,mba kesana aja,toh deket ini" usul Irfan.
"Elang ngijinin nggak ya kalau aku mau keSemarang?" gumam Dira yang masih bisa didengar oleh Irfan.
"Dari pada mba cuma tebak-tebakan aja,mending mba langsung tanya aja" ucap Irfan langsung nyelonong menuju dapur Dira "Ada makanan nggak mba?!" Seru Elang setelah pemuda itu berada didapur.
"Buka aja kulkasnya Pan,kalau mau bikin makan siang,sekalian dua porsi ya!" jawab Dira.
Irfan mendesis "Ish...mba Dira kebiasaan" gumam Irfan kemudian membuka kulkas dua pintu itu dab berdecak kagum dengan isi kulkas sang kakak yang begitu penuh "Wiiiihhh... kulkas orang kaya emang beda" gumamnya lagi.
"Mba...ada indomi nggak?!" teriak Irfan.
"Itu bahan makanan segitu banyak kenapa malah cari mi instan sih Pan?" jawab Dira juga dengan teriakannya.
"Cari yang simpel mba!" Irfan kembali berseru.
Akhirnya Dira pun beranjak untuk menyusul Irfan didapur.
"Bikin nasi goreng aja sana" perintah Dira setelah sampai didapurnya.
"Elah mba...siang-siang makan nasi goreng mana enak? enakan juga yang berkuah" jawab Irfan sambil mencari dimana kakak perempuannya itu menyimpan mi instannya.
"Nggak ada indomi di sini Pan,Elang ngelarang buat makan itu sering-sering" ucap Dira yang tau Irfan masih mencari makanan yang ia maksud.
Irfan berdecak kecewa.
__ADS_1
"Bikin sayur bayam,sambal tomat sama goreng tempe aja sana!" perintah Dira.
"Itu mah maunya mba,bilang aja pengen dimasakin" gerutu Irfan.
"Tau aja Pan" ucap Dira sambil mengambil sayur bayam didalam kulkas kemudian memberikannya pada Irfan "Mbak mu ini lagi ngidam Pan,jadi di turutin aja" ucap Dira.
Irfan hanya memutar bola matanya malas. Kakaknya dari dulu setiap pulang kampung, pasti ada saja alasan buat menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.
Tapi Irfan selalu bersyukur memiliki seorang kakak yang begitu kuat,jika bukan karna Dira,mungkin kini Irfan dan Anisa tidak akan bisa melanjutkan sekolah mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
***
Karna bosan,Dira hanya menghabiskan waktu untuk berguling-guling diatas ranjangnya sambil memainkan ponselnya.
Ia mencoba menghubungi suaminya,namun tak di angkat oleh siempunya.
"Ck...takut ya kalau aku minta macem-macem, sampe nggak mau angkat telfon ku" gerutu Dira.
Ia kemudian mengetik pesan untuk pria itu.
Tuan chef ku yang tampan...]
[😚😚😚]
"Di read,kenapa tidak dibalas?"gumam Dira.
kemudian mengetik pesan lagi
[My husband]
[Marah?]
[Kenapa?]
Dira mengerutkan keningnya,melihat layar ponselnya sudah tercentang biru,kenapa masih tidak dibalas?
[😘😘😘]
[Balas kenapa!!! 😖😖😖]
Tak lama sebuah pesan muncul.
[Manggil apa tadi?]
Dira melongo saat membaca pesan singkat dari suaminya,ia kemudian menepuk jidatnya bagai mana bisa ia lupa.
[Hehe...Sayang...😚😚]
Masih tidak ada balasan.
[Masih marah?]
Kembali Dira mengirim pesannya.
Tidak tau saja dia bahwa,disana Elang yang sedang rapat dengan para karyawannya, tengah setengah mati menahan tawanya agar tidak keluar saat membaca setiap pesan yang Dira kirim kan.
__ADS_1