
Usai rapat,Dewa menggengam tangan Lyra begitu erat saat keluar dari ruangan tersebut.
"Kau belum makan bukan? kita makan siang dulu" ucap Dewa menarik tangan Lyra menuju kantin perusahaannya.
Sontak saja,hampir semua mata karyawan tertuju pada mereka berdua dan banyak sekali desas-desus beredar.
Apa lagi,selama menjadi pemimpin di sana,Dewa memang tidak pernah menginjakan kakinya di kantin perusahaan.
Ia akan makan siang di ruangannya,dengan makanan yang diantar oleh sekertarisnya.
"Mau pesan apa tuan?" Fita,sekertaris Dewa yang sejak tadi mengikuti mereka kemudian bertanya setelah keduanya duduk berseberangan.
"Yang biasa saja Fit" jawab Dewa "Kamu Ra, mau pesan apa? biar Fita sekalian pesankan" tawar Dewa pada Lyra.
"Sama seperti anda Tuan" jawab Lyra yang masih merasa gugup karna banyak mata yang memperhatikan nya.Lyra merasa sangat takut, jika sampai ada salah satu karyawan Dewa yang mengetahui masa lalunya,dan tentu itu akan mempengaruhi reputasi bagi seorang Dewa.
Lyra benar-benar takut jika itu sampai terjadi.
"Kau sudah dengar kan Fit?" Dewa berucap.
"Baik tuan" Fita kemudian menuju stand makanan untuk mengambilkan menu makan siang untuk bosnya.
Astaga nyonya Lyra,kenapa anda masih memanggil Tuan Dewa dengan sebutan Tuan?. Batin Fita dengan gelengan kepalanya.
Usai makan siang,Lyra kemudian pamit untuk ke toilet sebentar.
"Tuan,saya ketoilet sebentar" pamit Lyra.
"Baik lah,setelah selesai langsung keruangan saya dulu". ucap Dewa.
" Baik Tuan"
"Ruangan saya ada di lantai 24,langsung kesana!"
"Baik" jawab Lyra kemudian segera menuju toilet wanita.
Dan ketika didalam toilet,gosib dari para karyawan pun mampir di telinga Lyra.
"Tumben sekali ya,tuan Dewa makan siang dikantin?"
"Iya,apa lagi sampai bawa seorang gadis lagi"
"Ternyata benar sekali gosib yang beredar,katanya pemimpin perusahaan kita itu ganteng,dan ternyata emang super ganteng"
"Hem...tapi gadis tadi siapa ya?"
"Mungkin pacar nya pak Dewa"
"Kok serasa nggak rela ya,kalau liat cowok ganteng gandeng gebetan"
"Iya sih...Tapi si cewe nya juga lumayan cantik juga sih"
__ADS_1
"Masih cantikan aku lah"
"PD amat"
"Biarin" seorang wanita itu kemudian menjulurkan lidahnya mengejek temannya.
Lyra hanya diam didalam toilet,sambil menunggu para penggosip itu pergi.
Ia merasa lega,karna bukan hal-hal jelek yang mereka ucapkan.
Dan setelah dirasa sepi,Lyra kemudian keluar dari sana.
Saat menuju lorong...
"Ahh...Astaga!" pekik Lyra yang tanpa sengaja menabrak sesorang "Maaf" ucap Lyra merasa bersalah.
"Tidak masalah nona" jawab pria yang Lyra tabrak tadi.
"Anda tidak apa-apa?" Lyra memastikan keadaan pria didepannya.
"Saya baik-baik saja nona" ucap nya dengan senyum yang tidak bisa Lyra mengerti.
Karna merasa takut,Lyra kemudian pamit undur diri untuk menuju ruangan Dewa.
Namun tangan pria itu tiba-tiba mencekal Lyra.
Senyum sinis dari pria tersebut terpampang pada wajah nya.
"Maaf tuan,lepaskan tangan saya" Lyra mencoba berontak.
"Tidak semudah itu nona Lyra,si primadona VIP ROOM THE NIGHT SKY..."
Deg...
Jantung Lyra seakan dihantam oleh batu yang keras.Ia tahu maksud dari pria didepannya yang tengah mengungkit tentang masa lalunya saat menjadi wanit penghibur.
Tubuh Lyra menegang,ia kemudian dengan hentakan keras menarik tangannya,walau terasa sakit tapi tidak mengapa,yang penting saat ini juga ia harus segera pergi dari sana.
Dengan langkah cepat Lyra mengayunkan kakinya menuju lantai 24.
Detak jantungnya berdetak tak beraturan,ini lah yang ia takutkan. jika sampai ada yang mengenalinya maka nama baik Dewa sebagai taruhannya.
"Kenapa?" Tanya Dewa saat melihat Lyra yang baru saja datang dengan wajah tegang.
"Ti-tidak Tuan" Lyra tidak berani mengatakan yang sejujurnya.
Dewa kemudian bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju Lyra yang masih berdiri didepan pintu ruangannya.
Ia rengkuh tubuh mungil Lyra yang terasa sedikit bergetar,Dewa tidak akan bertanya alasan mengapa Lyra seperti ini.
Ia akan menunggu saat wanita tersebut untuk mengatakannya sendiri padanya.
__ADS_1
Ada perasaan hangat dalam dada Lyra,pelukan Dewa seakan menjadi sebuah obat baginya.
***
Sementara itu di mansion Hermawan.
"Nah,itu taruh saja disitu," Dira sedang sibuk menata mesin jahit yang akan Lyra gunakan untuk bisnis pakaian yang akan mereka jalani.
"Sedang apa nak?" Papa Adrian datang dengan tongkatnya,walau suaranya masih belum jelas,namun Dira masih bisa mengerti yang papa ucapkan.
Dira melihat kearah papa Adrian "Ini pa,Dira beli mesin-mesin ini untuk memulai bisnis pakaian anak-anak dengan Lyra,dan Dira bolehkan meminta satu ruangan untuk ini semua?" tanya Dira menunjuk pada mesin-mesin yang ia bawa tadi.
Papa Adrian mengangguk memberi persetujuan.
Dan setelah berbincang dengan Dira,papa Adrian kemudian kembali menuju kamarnya.
Kasihan sekali papa Adrian,sudah berumur harus merasakan kesepia...apa aku harus membujuk mama Mary lagi ya,agar mau kembali dengan papa Adrian?.batin Dira.
Dira kemudian kembali mengarahkan pada orang-orang untuk mengatur tata letak mesin-mesinnya.
"Ada apa ini?" sebuah suara yang Dira kenali, tiba-tiba menghentikan aktifitasnya.
Dira menoleh,dan benar saja Dewa dan Lyra yang baru saja pulang menanyainya.
"Oh,ini...aku sudah membeli mesinnya" jawab Dira.
Dan jawaban itu membuat tautan alis pada Dewa karna tak mengerti maksud Dira.
"Lyra...kamu belum bicara sama Dewa?" tanya Dira.
Lyra menggeleng dengan ekspresi bersalahnya.
Bagai mana mau bilang masalah bisnisnya, sementara untuk mengobrol santai saja Lyra masih belum leluasa.
Lagi pula, Dira juga sama sekali tidak memberi tahu Lyra bahwa ia sudah mendapat izin dari Elang di tambah lagi,bagai mana bisa Dira mendapat izinnya ya? Sementara seluruh dunia juga tau bagai mana posesiv nya Elang pada Dira semenjak kehamilan wanita itu.
"Jadi, Dewa...aku dan Lyra berencana untuk memulai bisnis membuat pakaian anak-anak, karna Lyra ternyata bisa mendesain pakaian aku ajak aja buat berbisnis" jelas Dira.
"Bukannya kamu seorang Chef, kenapa mau berbisnis pakaian? memang bisa?" Dewa meremehkan.
"Aku memang bukan ahli dalam fasion,tapi Lyra kan mengerti,jadi itu aku serahkan pada Lyra"
"Bukan itu maksudku, Kamu seorang koki, bagai mana kamu bisa tau bakat Lyra?"
"Oh,tempo hari aku melihat gambar desainnya,dan kupikir itu sangat bagus"
Dewa beralih pada Lyra yang tak berani manatapnya.Kemudian kembali pada Dira.
"Lalu,kamu akan menjadikan mansion ini menjadi konveksi?" ucap Dewa.
Glek...Dira menelan salivanya berat,sepertinya Dewa tidak mengijinkan nya untuk menjadikan mansion ini sebagai tempat sementara bagi bisnisnya.
__ADS_1
Tapi kan tadi papa Adrian sudah mengijinkan nya,jadi boleh dong Dira sedikit ngeyel?...