
"Ini laporan pemasukan minggu ini pak" Desi menyerahkan map berisi laporan restoran kepada Elang.
"Iya,taruh saja di meja" ucap Elang dengan mata nya terfokus pada laptopnya.
"Sepertinya pagi anda selalu menyenangkan pak?" ucap Desi yang diselingi cekikikan.
Elang yang mendengar ucapan Desi langsung mengernyitkan keningnya,merasa agak aneh dengan ucapan Managernya tersebut.
Desi yang mengerti maksud Elang saat menatapnya dengan tanda tanya, kemudian menunjuk pipinya sendiri sebagai kode darinya untuk bos besarnya,tentu disertai tawa tertahan darinya.
Elang yang mengerti kemudian segera menyambar ponselnya dan melihat wajahnya sendiri pada layar ponselnya.
"ASTAGA...SANDIRA WULANDARI !!!". pekiknya.
Sebelum berangkat kekantor...
" Sudah mau berangkat?" tanya Dira.
"Hm" ucap Elang kemudian memasang dasinya,Dira mendekat kemudian membantu Elang memasang simpul dasinya.
Elang mengernyit melihat istrinya yang tampak berbeda pagi ini "Kenapa?" tanya Dira yang mengerti arti tatapan Elang.
"Sepertinya ada yang berbeda pagi ini" ucap Elang.
"Coba tebak,apa itu?" Dira memberi teka-teki.
"mmm" Elang berpikir "Apa ya?" ucapnya yang sepertinya belum mengetahui apa yang berbeda.
"Ihhh" Dira asal saja mencubit perut pria nya tersebut.
"Ada apa pagi-pagi udah dandan menor kayak gini?" Elang mencubit hidung Dira gemas.
Bagai mana tidak gemas,tidak biasanya istrinya itu dandan dengan bibirnya yang berwarna merah merona apa lagi pagi-pagi seperti ini.
"Mau godain siapa hm?" Kini giliran pipi Dira yang mendapat cubitan.
Bumil itu meringis,kemudian menarik tangan Elang yang ada di pipinya.
"Nggak ada goda-goda syanf,cuma cobain lipstik baru,ini mau tanya pendapat kamu bagus apa nggak,soalnya aku mau ke mansion ketemu Lyra katanya contoh baju nya udah jadi".
" Oh,jadi mau genit sama Dewa?!" Elang bersidekap.
"Ih mana ada...suami aku aja nggak aku godain ngapain godain suami orang" Dira "Jelek ya?"
Elang mengangguk "banget...kamu kayak badut kalau begitu" ejek Elang.
Dira mengerucutkan bibirnya "Jelek banget dong kalau begitu"
"Itu tahu"
"Ya udah aku hapus aja... muah... makasih buat komentarnya" ucap Dira mencium pipi kanan Elang, ia terkekeh saat ada jejak lipstik nya disana namun ia berusaha menahan tawanya.
"Pantas saja dari masuk ke restoran para pegawai pada nahan tawa tadi" gumam Elang, kini Desi sudah keluar dari ruangan Elang.
Pria itu kemudian mengambil tisu diatas mejanya dan menghapus jejak lipstik di pipinya.
Ia menggelengkan kepalanya sambil menertawakan dirinya sendiri,astaga apa yang akan dipikirkan para karyawan ku sekarang?
__ADS_1
Huft Dira...Dira...ada ada saja. Gumam Elang kemudian mengambil ponselnya dan memanggil nomor istrinya disana.
"Halo syang" sapa Dira di seberang sana.
"Kamu kenapa nggak bilang-bilang kalau lipstik kamu nempel di pipiku tadi?"
"Astaga...kamu baru tau syang?" tanya Dira diikuti tawa kemudian.
"Nakal kamu ya?"
"Hehe...ya maaf, tadi nya ku pikir pasti kamu bakal tahu saat di mobil. Jangan bilang kamu baru tahu saat di restoran?" Selidik Dira.
"Ya,dan semua karyawan menertawakan ku"
Dira tertawa mendengar cerita dari Elang "Lagian kamu kan tau tadi aku pakai lipstiknya merah begitu,kenapa nggak nyadar sih kalau bakal membekas?" ucap Dira masih disertai tawanya.
Elang menggeleng kan kepalanya "Kamu jadi mau ke mansion?" kini Elang mengubah topik pembicaraan.
"Iya,ini lagi dijalan" jawab Dira.
"Siapa yang antar?".
" Ipan".
"Bagus kalau Irfan yang antar,aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi,setidaknya kalau ada Irfan dia bisa membantu kalau ada orang jahat".
" Iya syang...makasih buat perhatiannya" ucap Dira.
"Untung tadi kamu cium cuma pipi sebelah doang" Elang kembali ke topik pertama.
" Bukan nggak dicium lagi,tapi ciumnya jangan habis pakai lipstik"
"Iya...iya...udah ah,ini aku udah sampai, ku tutup ya telponnya" ucap Dira,dan setelah mendapat persetujuan dari Elang, acara telpon mereka pun terputus.
***
"Wahhh...cantik nya!" ucap Dira saat melihat dress cantik yang Lyra buat "Nggak nyangka kalau jadinya akan sebagus ini" ucap Dira kegirangan.
"Iya mba,Lyra juga nggak nyangka" ucap Lyra, memberi Dira satu dress lagi yang baru jadi.
"Cantik...tapi sayang anak ku nggak bisa cobain" ucap Dira. Dia sudah tau jenis kelamin anak yang ada dikandungannya adalah laki-laki.
"Aku juga bikin sketsa desain jass cilik kok mbak" Lyra berucap "ini lihat" Lyra menyerahkan buku desainnya.
"Lucunya" komen Dira saat melihat gambar disana. "Semua sudah selesai?" tanya Dira saat melihat dress buatan Lyra sudah dimasukkan kedalam box.
"Iya,tinggal di bawa ke koveksi untuk produksinya" ucap Lyra.
"Papa dimana?" tanya Dira yang melihat setiap sudut rumah terasa sepi.
"Tadi papa ada diruang baca"Lyra.
" Aku sapa papa dulu ya" Pamit Dira.
Dira beranjak dari duduk nya,namun saat melangkah "Awh!" Dira tiba-tiba memekik kesakitan sambil memegangi perut bawahnya.
"Mbak,mbak Dira kenapa?" Lyra langsung memapah tubuh Dira.
__ADS_1
"Lyra...Lyra...sepertinya ketuban ku pecah" ucap Dira yang merasa ada sesuatu mengalir dikaki nya,dan itu semakin membuat Lyra panik.
"Ap-apa mbak" Lyra semakin panik,dan benar di kakinya sudah mengalir begitu banyak air. "Gimana ini mbak?"
"Tolong panggilkan Ipan" ucap Dira,berusaha mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang.
"Iya" setelah mendudukan Dira kembali,Lyra kemudian segera berlari keluar memanggil Irfan.
"Irfan...Irfan...!" panggil Lyra,Irfan yang sedang duduk diruang tamu langsung terperanjat saat mendengar teriakan Lyra yang terdengar panik.
"Ada apa mbak?" tanya Irfan.
"Mba...mbak.. Dira...ketubannya sepertinya sudah pecah" ucap Lyra.
"Apa!" Irfan langsung berlari menuju ruang jahit.
Sesampainya disana "Pan" lirih Dira dengan air matanya yang membanjiri pipinya.
Irfan lagsung sigap untuk menggendong kakak perempuannya "Tolong telfon kak Elang" ucap Irfan saat menuju mobilnya.
"I-iya" Lyra masih syok,kemudian segera menghubungi Elang.
Irfan begitu panik dan khawatir,bagaimana tidak,usia kandungan kakaknya baru tujuh bulan,tapi kenapa ini sudah mau lahiran?
Irfan benar-benar takut terjadi sesuatu yang tidak baik.
Kriiing...
Ponsel Elang berbunyi,ia kemudian mengangkat panggilan dengan nama Lyra disana.
"Iya Lyr,ada apa?"
"Anu kak...mbak Dira"
"Iya Dira kenapa?"
"Ketuban Mbak Dira pecah,ini mau langsung dibawa ke rumah sakit"
"Apa?!" Elang terkejut bukan main "Apa Dira terjatuh tadi?".
" Tidak kak,tadi mbak Dira sedang duduk dan saat berdiri tiba-tiba ketubannya langsung pecah" Lyra menjelaskan.
Elang kini sudah ada di parkiran restorannya untuk segera menyusul istrinya di rumah sakit.
Seperti halnya Irfan,Elang juga begitu khawatir dengan keadan dua orang yang terpenting dalam hidupnya.
Yaitu Dira sebagai istrinya dan calon anaknya yang ada di dalam kandungan istrinya.
Ya Tuhan...berikan kekuatan dan keselamatan untuk Istri dan anakku.
Do'a selalu di ucapkan pada bibir Elang untuk kedua permatanya.
Aku tuh seneng banget baca setiap komen yang kalian berikan,jadi jangan lupa like dan koment nya ya readers kuh...terima kasih
__ADS_1