
"Maaf,permisi..." Lyra baru saja memasuki ruangan VVIP disamping ruang ia bekerja tadi. ia sedikit bingung karna ada tiga pria yang duduk disana. "Maaf,apa ada yang bernama tuan Elang disini?" tanya kemudian.
"Wah...El,kau memesan gadis juga ternyata? apa kau tidak takut jika istri kecilmu akan marah padamu?" goda Diaz.
Elang tak menjawab.
"Maaf,tapi saya kemari untuk memberi tahu tuan Elang,bahwa tuan Dewa berada diruangan sebelah dan dia sedang mabuk berat" ucap Lyra.
Elang tak bergeming.
"Nona...maaf,tapi Tuan Elang tidak ada urusan dengan tuan mu yang bernama Dewa itu" Marcel yang menjawab.
"Tapi tuan,nona Dira bilang dia sangat butuh bantuan anda,jika anda tidak datang,mungkin nona Dira tidak bisa lepas dari tuan Dewa". Lyra menjelaskan.
Mendengar nama Dira disebut,Elang kemudian beranjak dan secepatnya menuju ruangan yang ditempati Dewa.
Elang membuka pintu ruangan tersebut, dan ia melihat Dira sedang duduk disana dengan Dewa yang ada disebelahnya.
Mata Elang langsung tertuju pada tangan Dewa yang melingkar pada pinggang Dira membuatnya semakin menahan emosi.
" El,kenapa lama sekali?" ucap Dira dengan wajahnya yang hampir menangis "Dewa tidak mau melepaskan ku" sambungnya.
Benar saja,Elang juga kesusahan saat hendak melepas tangan Dewa.
"Dewa...lepaskan tanganmu!" seru Elang, dengan berat Dewa membuka matanya.
"Eh,kakak" jawabnya dengan nada malas,kemudian dengan berat hati melepaskan tangannya.
"Sebaiknya kau antar dia pulang" ucap Dira,karna kini Dewa kembali tertidur lagi.
Elang hanya menatap Dewa,kemudian beralih pada Dira "Kita bawa pulang ke Apartemen saja". ucapnya kemudian.
" Apa tidak sebaiknya kau mengantarnya pulang ke rumahnya saja?" usul Dira.
"Tidal,aku harus bicara padanya setelah ia sadarkan diri,aku tidak mungkin bermalam dirumahnya" jelas Elang.
"Baiklah". Dira kemudian membantu Elang untuk memapah Dewa menuju ke mobil.
***
" Hei,Tuan, kenapa tidak membangunkannya saja?dari pada kau duduk disini seperti orang gila?" bisik Dira kepada Elang yang dari semalam menunggu Dewa yang tertidur akibat mabuk semalam.
Elang bersuara "Kecilkan suaramu!".
" Astaga...aku sudah berbicara dengan volume paling kecil!".
"Jangan mengganggu, pergilah buat sarapan!" usir Elang.
Dira mencebik kesal,bagaimana bisa Elang tidak memperhatikan kesehatannya sendiri? ia menunggu adiknya bangun sampai tidak tidur hingga pagi.
Elang benar-benar membawa Dewa pulang ke apartemennya semalam,dan untung saja ada kamar tamunya disana,sehingga Dewa tidak mengambil alih ruangan pribadinya.
"Sebaiknya,kau bangunkan saja" ucap Dira kembali.
__ADS_1
"Apa kau tidak ada kerjaan lain?!"
"Aku hanya menghawatirkanmu,Apa itu salah?" Dira menaikan intonasinya membuat Elang semakin geram.
Dewa yang terusik dengan suara Dira dan Elang,dengan perlahan membuka matanya.
Ia menyipitkan matanya menyesuaikannya dengan cahaya yang memasuki seluruh ruangan.
sudah pagi ternyata.batinya.
"Kau sudah bangun? ada yang ingin ku bicarakan" ucap Elang pada Dewa.
Elang mengalihkan pandangannya pada Dira, dan seolah mengerti arti tatapannya,Dira kemudian beranjak meninggalkan kedua kakak beradik itu didalam satu ruangan.
Jika mengingat kejadian semalam, Sungguh jantung Dira serasa ingin loncat. Dia benar-benar merasa takut saat Elang masuk kedalam ruangan itu,dan dengan pemandangan Dewa sedang memeluknya erat.
Dira benar-benar takut jika Elang akan marah padanya. Namun, semua ketakutan Dira memang tak terbukti,karna seorang Elang memang bisa berpikir dewasa. Dia tidak akan gegabah dalam menyikapi setiap masalah.
Dan hal itu membuat Dira semakin jatuh cinta pada suaminya. Cinta? Dira tidak yakin akan mengakuinya namun untuk sekarang ia akan tetap diam.
Masa lalu benar-benar membuatnya semakin berhati-hati.
Dira menuju dapur untuk membuat sarapan.
***
"Bisakah kau berhenti berulah?!" Tanya Elang dengan suara datar nya.
"Kau lihat wanita yang menemaniku semalam?" Dewa balik bertanya tanpa mempedulikan ucapan Elang. "Apa yang akan Adrian Hermawan itu lakukan jika aku menikahinya?".
"Apa kau meremehkan ku?"
"Semuanya akan hancur jika kau melakukan itu"
"Apa kau peduli?"
"Jika aku tidak peduli,aku sudah kembali ke Surabaya sejak lama"
"Ck...kau hanya takut kehilangan perusahaannya kan? kau pasti takut menjadi miskin"
"Aku tidak akan menjadi miskin hanya karna kehilangan perusahaan Hermawan,kau lupa dengan bisnisku sekarang?"
"Ya...kau adalah seorang chef, Chef yang hebat,bahkan Wulan bisa menjadi istrimu" Gumam Dewa "Seharusnya,dulu kau saja yang bersama dia,harusnya aku yang pergi bersama mama".
" Jangan mengulanginya,jangan datang kembali ketempat itu!"
"Lalu apa yang kau lakukan disana? bukankah kau juga sama saja?" tuding Dewa.
"Setidaknya aku tidak berniat menghancurkan diriku disana"
"Ya.. kau memang selalu sempurna, dimata papa,mama bahkan sekarang dimata Wulan juga sama,aku merasa aku hanya seorang sampah didepanmu"
"Kau bukan sampah,kau adalah adikku, adikku satu-satunya. Dan kuharap kau juga masih menganggapku sebagai kakakmu".
__ADS_1
Dewa tak menjawab,ia menatap kakaknya dengan tatapan sayu.
" Jangan hancurkan dirimu, berdamailah dengan dirimu sendiri,lupakan masa lalu dan berjalanlah kedepan" Elang menasehati.
"Lalu bagai mana jika yang ku ucapkan tadi benar ku lakukan?"
Elang mengangkat sebelah alisnya.
"Tentang menikahi gadis yang bersamaku dibar tadi malam?"
"Kau ingin ditendang dari perusahaan?"
"Sepertinya gadis itu menarik" Dewa tak menghiraukan ucapan Elang.
"Apa kau pikir menarik saja cukup untuk menjadikan dia sebagai istrimu?".
" Lalu bagai mana dengan Wulan? apa dulu kau menikahinya juga karna kau mencintainya? atau dia mencintaimu? kalian bahkan tidak saling mengenal saat itu" cibir Dewa.
"Sepertinya kau masih mabuk,butuh satu pukulan?"
"Jadi kau akan memukulku saat kau kalah berargumen denganku?".
Elang memijit pangkal hidungnya, kenapa Dewa kini begitu sulit untuk diajak bicara?.
" Kalian belum selesai? sarapan sudah siap" Dira tiba-tiba masuk kedalam kamar untuk memanggil kedua pria yang sedang berdebat itu.
Elang beranjak kemudian keluar dari kamar yang Dewa tempati itu.
"Kau juga,segeralah keluar,kita makan bersama" Ucap Dira kepada Dewa yang kini masih bergeming ditempatnya. "Apapun yang El katakan,percayalah dia begitu mempedulikanmu, kau tau? semalam dia sampai tidak tidur hanya untuk menunggu kau terbangun" ucapan Dira membuat Dewa terperanjat,kemudian ia bergerak turun dari ranjang setelah Dira keluar dari sana.
***
Hening adalah situasi yang tercipta dimeja makan saat ini.
Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Apa kalian akan tetap saling diam?" Dira memecah keheningan.
Elang mengarahkan pandangannya kepada Dira "Kami sudah tidak ada urusan yang perlu diperbincangkan lagi" jawab Elang.
Dira tau sepertinya suasana hati Elang kini pasti sedang tidak baik.
Kemudian Dira beralih pada Dewa "Dan kau, apa kau tidak berangkat kekantor?".
" Ck...kau mengusirku?".
"Tentu saja,kau benar-benar mengganggu disini,kau tau? Elang harus segera istirahat, dia sampai tidak tidur semalam hanya untuk menunggumu!" Seru Dira.
Dewa tidak percaya ini,dia akan diusir setelah ia bangun,bahkan ia belum sempat membersihkan diri, tapi disudut hatinya ada perasaan hangat yang ia rasakan.
Entah itu karna kini Dira sudah bisa mau bicara tanpa kecanggungan atau karna ucapan Elang yang mengkhawatirkannya, Tapi Dewa merasa kelegaan dihatinya.
next?
__ADS_1
like n coment please...