
Hujan begitu lebat mengguyur,Dira sedang berjalan menyusuri jalanan untuk mencari Elang.
"Dimana dia?" gumam Dira celingukan mencari keberadaan Elang "Harusnya tadi aku cari martabak sendiri saja...ini malah nggak pulang-pulang".
Flash back
satu jam yang lalu
" Kamu nggak makan?" tanya Elang yang baru masuk kedalam kamar dan mendapati Dira sedang bermalas-malasan diatas ranjang.
Dira menoleh pada Elang,kemudian menggeleng "Nggak napsu" ucapnya malas.
Elang kemudian duduk disamping Dira "Mau aku buatin sesuatu" Elang memberikan penawaran.
Dira kembali menggeleng "Martabak yang ada diujung jalan sana enak...mau dong" ucap Dira dengan mengedipkan matanya.
Elang menghela nafas mengerti maksud Dira,kemudian ia mengambil jaketnya dan beranjak "Kamu tunggu, aku belikan" kemudian keluar dari kamar.
"Maunya yang ekstra telur ya syang!" teriak Dira dari dalam kamar,dan Elang hanya menjawab dengan gumamam.
setelah menunggu hampir satu jam,Dira merasa cemas apa lagi diluar sedang turun hujan dan ia lebih khawatir lagi karna sepertinya tadi Elang tidak membawa payung.
Dira kemudian segera bergegas menyusul Elang.
Flash back Off
Sesampainya di kadai martabak,Dira melihat Elang sedang duduk santai dikursi pengunjung.
Elang melihat kedatangan Dira yang mendekatinya.
"Udah dapat martabaknya?" tanya Dira begitu sampai didepan Elang.
"Jadi martabak nya lebih penting?" sindir Elang.
"He he...ya udah ayo pulang" ajak Dira.
"Cuma bawa satu payung?" tanya Elang.
"Eh,iya ya?" Aduh,Dira jadi bingung harus jawab apa,karna ia benar-benar lupa bawa payung untuk Elang "Eh,ya udah kita barengan aja biar lebih romantis" Dira dengan cengirannya sambil manaik turunkan alisnya.
Elang pasrah,kemudian melepas jaketnya kemudian memakaikannya pada Dira.
"Loh...kenapa dipakein ke aku" tanya Dira saat Elang memasukkan tangan Dira pada lengan jaketnya.
"Payung nya kecil,nanti kalau kamu masuk angin gimana" jawab Elang menarik resliting jaketnya yang dipakai Dira.
"Cieee...romantis amat" goda bang tukang martabak yang Dira kenal bernama Joko itu.
"He he...maklum lek Joko, pengantin baru" celetuk Dira membuat para pembeli disana sontak ikut tertawa.
"Udah...ayo kita pulang" ajak Elang kemudian mengambil alih payung yang Dira pegang tadi.
__ADS_1
Disepanjang perjalanan, Elang bahkan tak melepaskan tangannya yang memeluk erat pinggang Dira,agar wanita itu tak terkena air hujan.Padahal bahunya sendiri yang sebelah kanan sudah basah kuyup.
Sesampainya di rumah,Dira memberikan satu bungkus martabak untuk kedua orang tuanya, sedangkan yang satu ia bawa kedalam kamar.
Elang sudah mengganti pakaiannya saat Dira masuk kedalam kamar.
Dira kemudian duduk diatas ranjangnya lalu membuka martabaknya tadi.
"Syang" panggil Dira karna Elang masih berdiri didepan lemarinya.
"Hm?" jawab Elang kemudian berjalan mendekat.
"Sini!" Dira meminta Elang untuk duduk disampingnya.
Elang menurut,kemudian duduk disamping Dira.
Wanita itu kemudian mengambil satu potong martabak lalu ia suapkan untuk suaminya.
"Kan kamu yang pengen" ucap Elang menghentikan tangan Dira yang hendak menyuapinya.
"Tapi aku kan pengennya kamu coba dulu" ucap Dira memanyunkan bibirnya.
Elang menghela nafas kemudian membuka mulutnya.
Dira tersenyum kemudian menyuapkan martabak ke mulut Elang.
Sudah hampir setengah dari martabak itu masuk kedalam perut Elang,dan saat Dira mau menyuapkan lagi padanya,Elang menghentikan tangan Dira.
"Coba sini lebih deket" Elang mengernyit saat Dira memintanya mendekat. "Sini!" pinta Dira lagi.
Elang yang merasa posisi duduknya sudah mepet dengan Dira kemudian mendekatkan wajahnya.
Dira juga mendekatkan wajahnya,dan
Cup...
Satu kecupan melayang dibibir Elang.
Tak puas hanya kecupan,kini Dira sedikit menjulurkan lidahnya merasakan sisa rasa asin gurih dari martabak yang Elang makan tadi melalui bibir pria tersebut.
"Mulai nakal ya?" ucap Elang saat Dira menyapu bibirnya.
Dira menarik wajahnya "Abis,kelihatan enak banget kalau kamu yang makan" ucap Dira dengan kekehannya.
"Ya udah,ini makan" ucap Elang mengambil sepotong kemudian ia suapkan pada Dira.
***
"Jadi,berapa lama kita ada disini?" tanya Elang yang masih mendekap tubuh Dira pada pelukannya.
"Gimana kalau sampai aku lahiran?" Dira mendongak untuk melihat wajah Elang lebih jelas.
__ADS_1
Elang mengernyit "Lama dong?" ucap nya kemudian kembali menenggelamkan wajah Dira dipelukannya.
"Kan kamu juga yang mecat aku, jadi nggak ada kegiatan di sana" ucap Dira "pasti akan bosan".
" Tapi aku bagai mana?" tanya Elang "Aku nggak bisa jauh sama kamu".Elang mengecup puncak kepala Dira.
" Ya udah kalau begitu,kita pulang besok" ucap Dira membuat Elang kaget.
"Secepat itu kamu mau langsung pulang kerumah?" ucap Elang tak percaya, ia pikir Dira akan sulit diajak kembali, karna pasti Dira akan ingin lebih lama dengan keluarganya.
"Kenapa?" Dira kembali mendongak.
"Nggak,tadinya ku pikir akan sulit memintamu pulang" ucap Elang.
Dira terkekeh "memangnya aku sulit di ajak untuk bicara?"
"Tidak juga" jawab Elang. Tapi benar juga, Dira bukanlah sosok wanita seperti pada umumnya, ia lebih mudah untuk diajak kompromi, Dira bukan wanita yang sulit dibaca,dari pada menerka-nerka Dira lebih suka diajak blak-blakan. "Lalu kanapa tadi bilang mau disini lama?".
" Cuma mau ngetes aja" ucap Dira sambil memainkan baju Elang dibagian dada "Kalau kamu setuju,berarti kamu nggak apa-apa kalau jauh dari ku".
" Aku nggak bisa jauh dari mu" ucap Elang "Terus,kamu sendiru bagai mana? apa kamu bisa jauh?" Tanya Elang balik.
"Emmm" Dira terlihat berfikir "Karna kamu bilang nggak bisa jauh, ya...aku juga sama". jawab Dira diikuti kekehannya.
" Jadi,perjanjian Mama nggak berlaku lagi kan?"
Dira mengernyit "Perjanjian?" ucapnya tak mengerti.
"Iya,perjanjian tentang yang dua tahun itu"
Benar juga,mama Mary memberi kami waktu dua tahun,kalau memang rumah tangga kami bisa bertahan maka mama akan mempertahankannya,tapi jika tidak ada kemajuan dari hubungan ini,maka mama sendiri yang akan mengurus perceraian kami.
"Tapi bukankah itu memang sudah tidak berlaku setelah ketahuan tentang kehamilan ku?"
"Kau hamil kan bukan berarti kau mau mempertahankan rumah tangga kita" jawab Elang.
"Siapa bilang?".
" Bukan kah soal kehamilanmu itu karna aku yang meminta?"
"Walau pun kau yang meminta,jika aku tidak menyetujuinya maka aku juga tidak akan hamil" ucap Dia cepat.
"Jadi kau akan mempertahankannya kan?" tanya Elang antusias,kemudian merubah posisinya yang tadinya kepalanya tertempel diatas bantal,kini ia sanggah dengan tangannya.
"Selama tidak kau sendiri yang menyuruhku pergi,aku akan bertahan" ucap Dira disusul senyumanya.
Elang tersenyum senang kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi pada seluruh wajah Dira.
next?
jangan lupa tinggalkan jejak...
__ADS_1