Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tigapuluh tiga


__ADS_3

Dira memutuskan untuk berangkat kerestoran lebih pagi,karna takut jika Elang akan menjahilinya lagi.Kakinya saja masih terasa lemas,untung tidak ada begitu banyak yang memperhatikannya,jadi masih aman-aman saja saat dia memasuki area Restoran.


Karna belum waktu jamnya ia bekerja,ia memutuskan untuk keruangan Desi terlebih dahulu.


Tok...tok...tok...


Tanpa menunggu jawaban dari dalam,Dira langsung masuk kedalam ruang manager itu.


"Wulan?".ucap Desi dengan mengerutkan keningnya melihat Dira yang berjalan tertatih "Kenapa?" tanyanya kemudian terkekeh.


"Jangan tanya deh..." Dira menghempaskan tubuhnya diatas sofa yang disediakan diruangan tersebut.


"Kayak habis perang aja kamu" kekeh Desi.


Dira mengerucutkan bibirnya.


"Jam kerjamu masih lama,tumben jam segini udah disini?" tanya Desi sambil melihat jam ditangan kirinya.


"Biar jadi pegawai teladan,siapa tahu bisa naik jabatan jadi bu manager" goda Dira.


"hu...dasar" Desi melempar bolpoint pada sahabatnya itu."Dua hari nggak berangkat emang ada keperluan apa?" tanya Desi kemudian.


"Ada pekerjaan lain yang lebih penting"


"Sepenting apa sih?" Desi kembali memperhatikan laporan yang ada didepannya.Karna dia tau Dira datang keruangannya hanya untuk menunggu jam kerjanya aja.


"Ya penting,sampai membutuhkan tenaga ekstra" jawab Dira,dan hanya ditanggapi kekehan oleh Desi. "kau lihat sendirikan, aku saja sampai susah payah buat jalan".


Desi kembali terkekeh " Aku ada rapat,kamu bisa tidur dulu disini kalau mau".


Tanpa disuruhpun,kini Dira sudah terlelap dalam tidurnya,Desi berjalan mendekat kemudian menyetel alarm pada ponsel Dira. Itu lah kebiasaan Dira yang tidak pernah memberi kode pada ponselnya,sehingga semua orang bisa membuka ponsel tersebut.


Desi meninggalkan Dira yang sudah tertidur itu menuju ruang rapat.


Satu jam kemudian,Dira terbangun dari tidurnya ketika suara dering alarm mengusiknya.


Alangkah terkejutnya dia saat membuka matanya, ada seseorang yang tengah berjongkok didepannya sambil menatap pada nya "ASTAGA...!!!" pekik Dira karna kaget.


Dira kemudian terduduk sambil mengelus dadanya,ia masih mengumpulkan sebagian nyawanya.


"Kenapa tidur disini?!" Seru pemuda tersebut.


"Kau tidak tau ini adalah kantor Desi,dan Desi adalah sahabatku" ucap Dira sengit.

__ADS_1


Pemuda itu kemudian duduk disofa sebelah Dira "Sebaiknya kau pulang saja dan istirahat dirumah".


" Sudah waktunya aku bekerja" ucap Dira menatap pada layar ponselnya.


"Sejak kapan kau bekerja disini?".


"Sejak seminggu yang lalu,sejak aku pergi dari rumah keluarga Hermawan, kau tunggu saja disini, mungkin Desi akan segera datang" ucap Dira kemudian beranjak.


"Wulan...!"


Dira berbalik,"Apa?"


"Apa maksudmu dengan yang kau lakukan kemarin?"


Dira menyengir "Soal kemarin.... mmmm.... maaf ya wak..." Dira merasa sulit menjelaskan.ya,pria yang tiba-tiba ada dihadapan Dira adalah Dewa. "Aku janji, tidak akan ikut campur dalam urusan asmaramu" Dira menaikan kedua jarinya membentuk huruf V.


Dewa mengehela nafas "Apa Elang berlaku kasar pada mu?" tanya Dewa sambil menyibak rambut Dira hingga terlihat bekas hickey dilehernya.


Dira yang menyadari Dewa melihat sesuatu, kemudian buru-buru menata rambutnya agar menutupi lehernya.


"Kau ada perlu dengan Desi kan? kau tunggu saja,aku harus segera pergi" ucap Dira kemudian ia pergi dari ruangan tersebut.


Saat hendak menuju dapur Restoran, Dira melihat Elang yang beru saja keluar dari ruang rapat, karna takut dilihat oleh suaminya itu,Dira buru-buru menyembunyikan tubuhnya.


"Apa kamu mencuri sesuatu hingga berjalan mengendap-endap seperti itu?" ucap Elang datar,namun tetap saja membuat Dira terkejut.


"Bukannya tadi,kau sudah masuk??" Dira kebingungan karna tadi dia merasa Elang sudah masuk kedalam ruangannya.


"Dari tadi aku mencarimu" kemudian menarik kerah leher Dira bagian belakang hingga Dira berjalan terbalik mengikuti Elang.


Elang membawanya menuju ruangannya.


Dan setelah memasuki ruangan tersebut, baru lah Elang melepaskannya.


"Jadi...kenapa kabur?".


" Si- siapa yang kabur?" Tanya Dira balik, dia berpura-puta tidak mengerti maksud Elang.


"Mau berpura-pura?" Elang kini berjalan mendekati Dira,sedangkan Dira bergerak mundur.


"Ha...tadi aku ada perlu dengan Desi, karna itu aku cepat-cepat pergi kerestoran" Dira beralasan.


Elang tentu saja tau kalau Dira berbohong. Tapi kali ini dia malas untuk bermain-main, karna sesungguhnya tenaganya juga terkuras malam tadi.

__ADS_1


"Baiklah,aku percaya dengan alasan yang tidak masuk akalmu itu". Kini Elang berhenti didepan Dira,karna Dira sudah tidak bisa bergerak lagi sebab punggungnya kini sudah menyentuh tembok.


Dira memicing,apa Elang selalu bisa membaca pikirannya.Apa isi otaknya bisa semudah itu ditebak?.


" Hari ini aku akan keBali" Elang menyibak rambut panjang Dira,dan memperlihatkan bekas merah dilehernya. Tanda percintaan panas yang ia lakukan semalam. "Mungkin dua hari disana".


Dira mengangguk " Ya,aku mengerti" Jawabnya.


"Mengerti apa?" Kini Elang menempelkan bibirnya pada tanda kemerahan itu, hanya menempel dan memberi kecupan tanpa menghisapnya.


"Ya,aku akan dirumah sendirian" Dira menahan geli pada lehernya,karna Elang yang menghembuskan nafasnya disana, membuat Dira merinding.


Elang kembali menegakan tubuhnya "Jangan ikut campur lagi masalah Dewa" Elang kembali memberi peringatan.


"Iya tentu saja..." jawab Dira cepat "Baiklah, nikmati perjalananmu,hati-hati dijalan dan jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai" Rentetan ucapan Dira entah kenapa tidak membuat Elang senang.


Elang melambaikan jari telunjuknya pertanda agar Dira lebih mendekat "Apa kau tidak akan merindukanku?" ucap Elang membuat Dira heran.


Kenapa selama di Jakarta,Elang jadi berubah aneh ya?


Dira tersenyum heran "ya...aku akan merindukanmu" ucapnya agar Elang merasa senang.


"Benarkah? apa sebaiknya aku membatalkannya saja?" Goda Elang, dan itu semakin membuat Dira terheran hingga mengerutkan dahinya.


"Jangan seperti anak kecil,kau tidak pernah seperti ini sebelumnya" ucap Dira sambil membelai pipi suaminya.


"Kau bilang aku seperti anak kecil?" Elang mendekatkan wajahnya,dan membuat Dira tertawa lepas. Bagai mana Elang bisa berubah seperti ini??.


Dira memalingkan wajahnya saat Elang hendak mencium bibirnya,sehingga bibir Elang kini menempel pada pipinya.


"Kau menolakku?! hemm??" Elang mencubit hidung Dira,membuat Dira kembali tertawa.


"Kau sangat berbeda tuan chef" Ucap Dira kemudian meraih wajah Elang dan mengecup lembut bibir yang salah sasaran tadi.


Kecupan Dira kini berubah menjadi *******, karna Elang tak membiarkan Dira menarik tubuhnya untuk menjauh. Elang menarik tubuh Dira hingga menempel padanya.


Saat menyadari sentuhan Elang yang semakin menjadi,Dira mendorong dada bidang suaminya tersebut "Hentikan El, kau akan bertindak lebih jauh jika kau tidak menghentikannya" ucap Dira lembut.


Elang terkekeh kemudian memundurkan tubuhnya dan menuju mejanya untuk mengambil ponselnya disana.


"Jadi,aku sudah boleh pergi?" Dira kembali bersuara.


"Ya,kecuali kau ingin melanjutkan yang tadi" Elang dengan seringainya.

__ADS_1


"Tidak" dengan cepat Dira meninggalkan ruangan Elang.


__ADS_2