Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
limapuluh enam


__ADS_3

"Jadi,sekarang sudah boleh makan?" ucap Dira sambil menatap makanan didepannya.


Lyra tersenyum kemudian ikut menikmati makan siangnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Lyra setelah memastikan makanan Dira dan miliknya sudah habis.


"Ya? memang aku kenapa?" tanya Dira yang tak mengerti.


"Biasanya,orang yang hamil muda akan susah untuk makan,kebanyakan dari mereka akan kembali memuntahkan makanannya" ucap Lyra.


"Tidak masalah,biasanya aku hanya muntah saat pagi,saat menggosok gigi perutku akan terasa mual" jawab Dira kemudian menghabiskan minumannya.


Dira melihat jam yang melingkar pada lengannya "Sepertinya aku harus pergi" ucap Dira.


"Oh iya,kalau begitu hati-hati dijalan"


Dira kemudian beranjak dari kursinya lalu keluar dari kafe tersebut.


Namun,saat berada dipinggir jalan tiba-tiba sebuah motor berjalan begitu cepat,hingga membuat Dira terhuyung dan jatuh hingga lututnya menatap trotoar.Sikunya juga tak luput dari serempertan bahu jalan tersebut.


Beruntung Dira tak terjatuh ketengah jalan, jadi tak ada mobil lain yang menyenggolnya.


"Astaga...Dira...!" pekik Lyra.


Lyra kemudian berlari membantu Dira untuk berdiri.


Dipandangnya seorang pria yang mengendarai motor sport itu menghentikan motornya kemudian mendekat kearah Dira.


"Maaf nona,tadi saya benar-benar sedang terburu-buru" ucap Pria tersebut setelah didepan Dira.


Dira sedikit mendongak melihat pria didepannya. "Tidak masalah" Dira berucap.


"Saya akan mengantar anda kerumah sakit" pria itu menawarkan.


"Tidak usah,tadi anda bilang sedang terburu-buru,jadi silahkan selesaikan masalah anda" ucap Dira kemudian berlalu dengan dibantu Lyra.


"Maaf nona" Pria itu kembali mengejar Dira "Ini kartu nama saya,anda bisa memberi tahu saya total biaya pengobatannya" ia menyodorkan sebuah kartu namanya.


Dira menerima kartu nama tersebut kemudian membaca tulisan yang tertera disana. 'Albiano Permana'


"Baiklah tuan Albino,saya tidak apa-apa,saya akan langsung ke apaotik terdekat,dan membalut luka goresnya" ucap Dira cepat.


"Apa? kau memanggilku Albino?" tanya pria bernama Albiano itu seperti tak terima.


"Bukankah itu nama anda?" ucap Dira, Lyra berusaha menyembunyikan senyumnya saat melihat ekspresi pria itu.


Ada sedikit senyum tertarik dari bibir pria tersebut "Sepertinya ada dua huruf yang terlewati dari pandangan anda nona" Pria itu masih bersuara.


"Maaf,tapi ku rasa itu tidak penting bagi ku" ucap Dira kemudian beralih pada Lyra "Ayo Lyra".


Pria itu ternganga sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, saat melihat Dira berlalu dengan dipapah oleh Lyra. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa saat mengingat ucapan Dira tadi.

__ADS_1


"Untuk tadi yang terserempet adalah seorang malaikat,Bodoh,kenapa tidak menanyakan namanya" gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri, kemudian menuju motornya.


***


Lyra membantu Dira membalut luka pada lengannya yang tergores tadi,cukup dalam,Dira sampai meringis kesakitan saat Lyra membersihkannya dengan alkohol.


"Sudah selesai" ucap Lyra kemudian.


"Terima kasih"Dira dengan senyumannya.


" Jadi,anda akan kemana?" tanya Lyra.


"Jangan terlalu formal,aku tidak terlalu nyaman dengan bahasa mu" ucap Dira "Anggap saja aku teman,eh,bukankah aku adalah kaka iparmu? jadi panggil aku mbak aja" usul Dira.


"Baik mbak" ucap Lyra ragu.


"Jangan kaku begitu,eh kamu udah pernah bertemu dengan ibu mertuamu?" tanya Dira tiba-tiba.


"Belum mba" jawab Lyra.


Dira manggut-manggut "Nanti kapan-kapan akan ku ajak mama buat ketemu sama kamu".


Ekspresi Lyra tiba-tiba berubah pias, ia seperti takut jika harus bertemu dengan keluarga Dewa.


" Jangan takut,mama orangnya baik kok, mama tidak seperti tuan Hermawan" Dira mencoba menenangkan kekhawatiran Lyra.


***


Namun sepulas apa pun Dira tidur, ia akan langsung terbangun saat Elang naik keatas ranjang disampingnya.


"Baru pulang?" tanya Dira


Elang mengangguk,namun pandangannya terhenti saat melihat lengan Dira yang terbalut kain kasa.


"Ini kenapa" Elang menunjuk bagian itu.


Dira manjatuhkan pandangannya mengikuti arah mata Elang "Tadi jatuh,terserempet motor ugal-ugalan" jawab Dira santai.


Namun tidak dengan Elang,pria itu tiba-tiba panik,lalu menarik lengan Dira satunya lagi.


"Eh,eh...mau kemana?" tanyanya bingung.


"Kita kerumah sakit" ucap Elang cepat.


Dira membelalakan matanya "Untuk?"


"Tentu saja memeriksakan kandunganmu" ucap Elang.


Dira langsung menarik tangannya "Aku tidak apa-apa tuan Chef yang tampan,kau lupa istri mu ini memiliki tingkat kekebalan yang tinggi?".


" Tapi aku tidak akan tenang jika kamu belum memeriksakannya".

__ADS_1


"Tadi aku sudah kerumah sakit,oh iya... ngomong-ngomong soal rumah sakit, tadi Tuan Hermawan menulis sesuatu,beliau ingin kau mengeluarkannya dari rumah sakit"


Elang tersenyum sinis "Pria tua itu apa sudah bosan hidup?"


"Hust..." Dira mengibaskan tangannya tepat didepan Elang "Jangan bicaa sembarangan, beliau ingin dirawat dirumah" ucap Dira kemudian.


Elang hanya menghela nafasnya.


"Akan bagus untuk pemulihan tuan Hermawan jika ia ditempatkan ditempat yang tidak engap seperti rumah sakit"


"Aku sudah memberikannya fasilitas yang bagus disana,apa itu masih kurang nyaman?"


"Sebagus apapun ruang yang kau pesan,tetap yang namanya rumah sakit, bau desinfektannya membuat kepala menjadi pusing" Dira menjeda ucapannya " Aku akan membantu untuk pemulihan tuan besar".


"Ck...kau masih memanggilnya tuan besar?"


"Lalu,mau panggil apa lagi,bukankah papa mu itu belum menerima ku?"


Elang diam tak menjawab.


"Oh,iya...tadi aku bertemu Lyra" ucap Dira tiba-tiba.


"Lyra?"


"Itu,gadis yang Dewa nikahi...ish...ternyata daya ingat mu begitu payah...pantas saja nama sang mantan saja tidak ingat" gumam Dira.


"Kenapa jadi bahas itu...!" Elang menarik hidung mancung Dira,hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Baiklah...kita bahas soal Dewa" Dira berucap.


"Tidak,aku juga tidak mau membahas tentang itu juga" Elang menggelengkan kepalanya.


"Lalu mau bahas apa" gumam Dira.


Elang menanpilkan senyum nakalnya, kemudian dengan isengnya menarik tali gaun tidur Dira.


Hal itu membuat Dira mengerti apa yang Elang maksud.


Dira menghentikan peegerakan tangan Elang,membuat pria itu menatap Dira dengan tanda tanya.


"Tadi,setelah terjatuh aku kontrol kerumah sakit,dokter bilang tidak boleh sering-sering untuk melakukan itu,karna akan berdampak pada calon bayinya" ucap Dira.


Tangan Elang yang masih digenggam oleh Dira kemudian cepat-ditariknya.


Elang langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Dira lalu cepat-cepat menutup matanya.


"Sudah tidak ingin mengobrol?" Dira menggoyang-goyangkan lengan Elang,namun Elang sama sekali tak merespon.


"Tuan....!" Masih menggoyangkan lengan Elang "Tuan Erlang-" tiba-tiba Elang menarik Dira agar berbaring disampingnya.


"Cepat lah tidur...jangan menggodaku!" seru Elang kemudian menutup mata Dira dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Hanya mengajak mengobrol saja,kenapa jadi merayu?" gumam Dira kemudian menutup matanya yang masih tertutup oleh tangan Elang.


__ADS_2