
Elang sedikit terkejut saat mendapati Dewa yang kini terlihat berbeda dari yang ia lihat pagi tadi. Kini Dewa terlihat lebih rapi, walau masih ada tindik ditelinganya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Dewa yang menyadari tatapan dari kakaknya.
Elang hanya diam tak menjawab pertanyaan dari adiknya itu, kemudian melanjutkan acara makannya.
Mungkin hanya tiga suap saja Elang memakan makanannya. Dan hal itu tak luput dari penglihatan dira.
Ada yang aneh dengan suaminya, biasanya Elang selalu menghabiskan apapun yang ia masak,namun kenapa kini nafsu makannya seperti berkurang derastis?.
"Sebaiknya kita besok menginap dihotel saja" ucap Dira yang kini sudah ada didalam kamar dan sudah mengganti pakaiannya, karna Elang akan mengajaknya jalan-jalan hari ini.
"Kenapa?" ucap Elang tanpa menoleh pada Dira, dan fokus pada laptopnya.
"Ada yang aneh denganmu".ucapan Dira membuat Elang menoleh padanya dengan alisnya bertaut. Seolah bertanya kenapa. "dari pagi tadi kamu tidak makan dengan benar".
Dira duduk didepan meja belajar yang dulu digunakan Elang saat masih sekolah. Kemudian memoles wajahnya dengan bedak tipis diwajahnya. Karna disana tidak ada meja rias, Dira menggunakan cermin yang ada pada bedaknya.
Elang sedikit menyunggingkan bibirnya " memangnya makan yang benar itu seperti apa?".
Dira mencebik "pagi tadi kamu sarapan hanya dua suap,dan siang tadi hanya tiga suap, apa lambungmu ada masalah tuan?" tanya Dira geram. Pasalnya selama ini Elang tidak pernah susah dalam masalah makanan. Namun sejak dirumah ini dia merasa selera makan Elang menurun.
"Kamu bahkan menghitung berapa suap saat aku makan, wah...perhatian sekali istriku ini" Elang tiba-tiba mencapit hidung Dira, membuat gadis itu terkejut. Pasalnya, suaminya itu tiba-tiba berdiri dibelakangnya.
"Mau ku buatkan sesuatu?" Tanya Dira setelah bersusah payah melepaskan tangan Elang dari hidungnya.
"Tidak usah,nanti kita makan diluar" Elang menggapai tangan Dira,kemudian menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya.
Mereka menuju kesalah satu super market terbesar dijakarta.
"Dilantai empat ada area permainan, kita kesana ya chef?" rayu Dira dengan pupy eyes nya, membuat Elang merasa gemas dengan gadis disampingnya.
"ingat umur...! masih mau bermain?" seru Elang kemudian meyakinkan Dira kembali.
Dira mengangguk semangat, kemudian seperti anak kecil menarik tangan Elang agar berjalan lebih cepat.
"Sepertinya kamu hafal sekali dengan tempat ini?" ucap Elang setelah mereka sampai diarea permainan.
__ADS_1
"hm...dulu sering kesini soalnya" jawab Dira. Matanya berbinar saat melihat semua permainan disana.
"Dengan Dewa?"
Dira mengerutkan keningnya saat nama Dewa disebutkan. Dan keterdiaman Dira membuat Elang mengerti jawabannya.
Hening diantara mereka, suasana disana terasa canggung.
"Sebaiknya kita makan saja deh" Dira menarik kembali tangan Elang menuju restoran yang ada disana. Sedangkan Elang hanya mengikuti Dira.
mereka duduk disana,saling berhadapan. namun setelah memesan beberapa makanan, phonsel Elang berbunyi.
"iya?" Elang menjawab panggilan dari sebrang sana yang entah dari siapa.
"..."
Elang melirik sekilas pada Dira yang sedang sibuk dengan phonsel nya "saya segera kesana" kemudian menutup panggilan tersebut.
"Kamu akan pergi?" Dira memastikan, karna mendengar ucapan Elang barusan.
Dira menggeleng,ada perasaan kecewa dalam hatinya. Selama hampir dua tahun mereka menjadi suami istri, baru kali ini Elang mengajaknya jalan-jalan, namun harus gagal lagi karna kesibukan suaminya itu. "tidak usah tuan,aku masih ingin jalan-jalan".
Perasaan menyesal melingkupi dada Elang, baru saja dia melihat binar bahagia dimata Dira,kini harus redup kembali akibat ulah dia.
" Kalau begitu aku pamit ya" Elang beranjak mendekati Dira kemudian mengecup pelipisnya "Beri kabar jika kamu nanti sudah selesai,jika urusanku sudah beres nanti aku jemput".Elang memberikan sebuah kartu kredit pada Dira.
Dira mengangguk,kemudian melihat kepergian Elang yang semakin menghilang dari pandangannya.
" huft...baru saja bisa berkencan, gagal lagi" gerutu Dira,ia menundukan wajahnya,namun tak lama kemudian pesanannya sudah datang. Dira tersenyum kecut saat melihat pesanan Elang yang berada ditempatnya.
Dira langsung saja menghabiskan makanannya,kemudian beralih pada piring Elang yang juga tak luput dari perhatiannya.
"kenyang sekali!!" Dira menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. kemudian mengehela nafasnya, kemudian melihat sebuah kartu yang diberikan oleh suaminya.
Dira menegakan punggungnya, tiba-tiba rasa panas dalam tubuhnya menjalar. "oke tuan... karna kau sudah membuatku kesal, hari ini aku akan benar-benar menghabiskan uangmu" ucap Dira penuh semangat empat lima. Kemudian beranjak dari duduknya dan menuju tempat surganya para wanita tentunya setelah membayar makanannya pada kasir.
Dira benar-benar mempergunakan kartu milik Elang dengan membeli beberapa pakaian, tas, sepatu dan tidak lupa beberapa berlian.
__ADS_1
biar bangkrut kamu tuan...salah sendiri membuatku kesal!!. gumam Dira.
Kaki Dira terasa mati rasa karna sudah benar-benar lelah. Tanpa ia sadari ternyata sudah empat jam ia berusaha menghabiskan uang Elang. Pantas saja kakinya terasa mati rasa, padahal dulu dia sangat merutuki mama mary saat mengajaknya shoping dan hampir membuat kakinya patah, namun kini malah ia justru melakukan hal yang sama.
Apakah penyakit boros itu bisa menular?
Entahlah...yang jelas,kini Dira benar-benar ingin pulang dan memanjakan kakinya diatas kasur empuk Elang.
oh,kasur...aku merindukanmu.
"Sudah selesai belanjanya?" tiba-tiba sebuah suara bariton menghentikan langkah Dira.
Dira menatap lekat pada seseorang yang berdiri didepannya. Siapa lagi kalau bukan Elang suaminya.
Dira hanya tersenyum kaku pada pria itu. ingin sekali ia mendaratkan tas tangannya pada lelaki itu, namun apa daya... Dira tidak memiliki banyak nyawa untuk melakukannya.
Bisa-bisa ia dipecat menjadi istri dari chef tampan yang ada didepannya. Dira lebih takut kembali miskin dan dihina oleh orang tua Dewa.eh, mama Mary kan juga orang tua Dewa. Namun Dira sudah terlanjur sayang dengan wanita paruh baya itu.
mama Mary...Dira kangen hiks...
Elang berjalan mendekati Dira yang masih mematung ditempatnya, kemudian memberikan gadis itu pelukan hangat.
Ini yang Dira sukai dari seorang Erlangga pradygta, walau terlihat acuh, namun ia masih bisa bersikap manis disaat yang sama.
Siapa yang tidak akan jatuh cinta? tentu saja Dira.
Sulit bagi seorang Dira untuk mengakui perasaannya. Entah karna ia tak tau apa yang dikatakan isi hatinya,atau dia terlalu bodoh untuk bisa mengerti signal yang Elang berikan.
Tapi untuk kali ini, Dira masih merasa takut untuk mencintai seseorang.
Setelah melepaskan pelukannya, Elang membawa Dira kesebuah tempat.
Sebuah restoran yang menurut Dira sangat mewah. Gadis itu sampai tertegun saat melihat tempat itu. Terlihat begitu mewah dan elegant. bahkan lebih mewah dari resort Elang yang ada di Surabaya.
__ADS_1