
Setelah kejadian itu,beberapa hari kemudian Elang tak pernah meminta Dira untuk mengecek kehamilannya.
Karna,setelahnya Elang benar-benar disibukan oleh pekerjaan,bahkan untuk pulang keApartemen saja tidak sempat.
Dan sisa testpack yang dibeli oleh Elang,Dira simpan didalam laci lemarinya.
Akhir pekan ini Dira sedang berjalan-jalan ke sebuah mal terbesar diJakarta,tentu saja itu atas permintaan mama Mary.
Mereka sedang berjalan menuju toko perhiasan dan tanpa sengaja berpapasan dengan Sarah disana.
Sarah tampak terkejut melihat mama Mary disana,namun sebaliknya,mama Mary terlihat begitu tenang saat berhadapan dengan nyonya Sarah.
"Bagai mana kabar anda kak?" nyonya Sarah berbasa-basi.
Mama Mary memicing kemudian menjawab "Selalu baik" kemudian melirik pada dua pengawal yang mengikuti nyonya sarah dari belakan "Sepertinya,kabarmu jauh lebih baik, para pengawal mu sungguh setia" Sindir Mama Mary.
Nyonya Sarah hanya menanggapinya dengan senyum kecut diwajahnya.
Dira yang tangannya masih diapit oleh Mama Mary,hanya memperhatikan ucapan kedua wanita paruh baya itu.
Ia sama sekali tak mengerti arti ucapan Mama Mary.
Setelah pertemuannya dengan nyonya Sarah yang tidak disengaja tadi,kini Dira dan mama Mary sedang makan siang disebuah kafe yang berada didalam mal tersebut.
"Ada yang ingin kamu tanyakan sayang?" Mama Mary bertanya seolah tau apa yang ada dipikiran Dira.
"Mama terlihat begitu tenang saat tadi bertemu dengan nyonya,apa tidak ada perasaan benci dihati mama?" tanya Dira.
Mama Mary mengambil nafas,kemudian menghembuskannya "Justru mama kasian liat dia"Jawaban mama Mary membuat Dira menatap tak percaya.
"Dulu sebenarnya alasan Mama bercerai dengan Adrian bukan karna perselungkuhannya" Mama Mary meminum jus jambunya kemudian melanjutkan ceritanya.
"Kau lihat tadi? Sarah yang kemana-mana harus diapit oleh para pengawal?" Dira mengangguk "Dulu,mama juga seperti itu,kemana pun Mama pergi harus dalam pengawasan Adrian.Mama terkekang, Suara mama tak berarti untuk Adrian, Dia hanya mendengarkan apa yang ada dipikirannya saja,tanpa memperdulikan ucapan orang lain, bahkan istrinya sendiri" Tutur Mama Mary.
"Jadi,Mama tidak merasa menyesal sudah berpisah dengan tuan Hermawan?"
"Penyesalan pasti ada sayang,apa lagi melihat kehidupa Dewa yang berantakan" Mama menghela nafas "Coba dulu Dira masih menemani Dewa,pasti kehidupan anak itu tidak akan berantakan,setidaknya masih ada pawangnya" ucap Mama menggoda Dira.
"Ma" Dira menghentikan ucapan Mama Mary.
"Tapi,mama lebih senang karna Dira keSurabaya,jadi bisa membuat bujang lapuknya Mama bisa mengakhiri masa lajangnya" Mama Mary terkekeh.
Dira yang tadinya menahan senyumnya kini ikut tertawa dengan Mama Mary.
"Ma..." panggil Dira menghentikan tawa Mama Mary.
__ADS_1
"Iya sayang?"
"Jadi,Mama merasa bebas setelah berpisah dengan Tuan Hermawan?" Dira kembali pada topik awal.
Mama Mary diam kemudian menatap Dira dengan sendu "Ya,Mama lega...namun direlung hati Mama yang paling dalam masih merasa sedih,karna masih ada cinta untuk papa Adrian" Mama Mary kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya "Walau pengekang,namun papa Adrian adalah penyayang juga" ucap Mama Mary sambil menerawang kemasa lalunya.
"Udah,ah,Mama nggak mau melo-melo... yang penting sekarang Mama udah jauh lebih bahagia,dan nggak mau ungkit masa lalu lagi" ucap Mama Mary "Terus,kapan nih...kamu mau kasih Mama cucu? emang nggak kasian liat Mama sendirian terus?" ucap Mama dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Mmm...sudah program kok ma,tinggal tunggu hasilnya" Jawab Dira malu-malu.
"Benarkah!" ucap Mama Mary girang. "Kalau begitu,kamu cepet habisin makanan kamu, mumpung kita masih disini, kita akan belanja banyak lingerie hari ini" Mama Mary bersorak. "hah....senangnya...".
Dira hanya menatap horor pada Mama mertuanya, Mama Mary adalah orang yang suka kebebasan,seperti halnya Dira,mana mungkin mau dikekang.
Beruntung karna Elang bukanlah suami yang posesif sehingga Dira masih memiliki hak untuk kepentingan pribadinya.
***
" Sepertinya aku sudah mulai gila" Gumam Dira yang kini tengah berdiri didepan kaca lemari dengan memakai lingerie hitam yang dibelinya bersama Mama Mary siang tadi.
"Lebih baik aku pakai piyamaku saja" kembali bergumam sendiri.
"Lagi pula ,kenapa juga aku mengikuti saran aneh dari Mama" Dira masih bermonolog sendiri sambil membuka lemarinya untuk mengambil piyamanya.
Baru saja Dira meraih piyamanya,pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Astaga... batin Dira.
Diliriknya dari balik pintu lemari,benar,yang Dira takutkan. Elang yang masuk kedalam kamar itu.
Dira diam tak berkutik dengan wajahnya yang memerah,menahan malu,bagaimana jika Elang melihatnya dengan penampilan seperti ini?.
"Sedang apa?" Tanya Elang penasaran,karna sejak ia masuk,Dira hanya berdiri didepan lemari dengan pintu yang terbuka hingga menutupi Dira dari pandangannya.
"Ti-tidak" ucap Dira gugup.
"Apa yang kau lakukan disana?" kembali Elang bertanya sambil berjalan mendekat.
Dira semakin gelisah "Bisakah kau disana saja?" Dira berusaha mencegah agar Elang tak mendekatinya.
Elang menyipitkan matanya,semakin ia dilarang mendekat,semakin besar pula rasa penasarannya.
Kemudian Elang mempercepat langkahnya,mendekati Dira.
Rasa bingung,bercampur malu membuat wajah Dira semakin memanas,apa lagi saat Elang melihatnya dengan tatapan yang entah bagaimana Dira harus mendeskripsikannya.
__ADS_1
Elang bersidekap,memperhatikan penampilan Dira dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Eghm" Elang berdehem "Jadi...rencanamu,-" tiba-tiba mulut Elang dibekap oleh tangan Dira.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan" ucap Dira menunduk sambil membekap mulut Elang.
Elang melepas tangan Dira yang menutupi mulutnya "Kau terlihat manis" ucapnya kemudian dengan kekehan.
Mata Dira membulat, wajahnya semakin memenas. Lalu,secepat kilat ia berlari menuju ranjang kemudian menggulingkan tubuhnya hingga selimut tebal membungkus tubuhnya.
Elang mendekat masih dengan kekehannya "Apa yang kau lakukan?".
Dira diam tak berkutik,memunggungi Elang yang sudah duduk dibelakangnya.
" Hei...aku bicara padamu" Elang menarik selimut yang membungkus Dira namun sangat sulit karna Dira tetap mempertahankan selimut itu.
Karna tidak bisa melepaskan selimut yang melilit Dira,Elang pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya dibelakang istrinya itu.
Elang meletakan tangannya diatas tubuh Dira,memeluk tubuh wanita yang terasa besar karna terlilit selimut tebal "Aku tidak tau kenapa kau malu,tapi aku suka kau memakainya" bisik Elang yang sontak membuat wajah Dira semakin blushing.
Dira memutar tubuhnya hingga menghadap Elang "Mama yang menyuruhku" ucap Dira tanpa ada pertanyaan yang keluar dari mulut Elang.
"Aku tau" Elang mengangguk.
"Aku benar-benar malu".
" Aku tau" Elang menyingkap anak rambut Dira yang menutupi wajah cantiknya. "Terlihat jelas diwajah mu" kemudian mengecup kedua mata Dira secara bergantian.
"Bisakah kau tidak menggodaku?" ucap Dira.
Elang menaikan sebelah alisnya "Bukankah kamu yang sedang menggodaku?" godanya.
Dira mencebik,kemudian menggembungkan pipinya "Tadi aku hanya mencobanya, karna ku rasa tidak cocok jadi aku memutuskan untuk memakai piyamaku,tapi belum sempat menggantinya,kamu malah sudah masuk" Dira menjelaskan.
Elang menatap Dira,membuat wanita itu diam tak mengerti maksud tatapan itu.
Karna kelengahan Dira,dengan satu gerakan Elang berhasil menarik selimut yang melilit Dira kemudian menghempaskan selimut itu hingga teronggok diatas lantai.
Dira tersentak,terkejut karna perbuatan Elang, Elang menampilkan senyum devilnya.
Mungkin malam ini dia tidak akan membiarkan Dira untuk tidur.
Next?
Like n coment please...
__ADS_1