
"Jadi,ada urusan apa sih,pagi-pagi begini kamu sudah rapi?" kini Dira tengah sibuk memasangkan dasi pada Elang.
"Kenapa?" Bukannya menjawab,Elang malah balik bertanya dan itu membuat Dira jadi memonyongkon bibirnya."Itu bibir kenapa di monyongin? pengen dicipok?" goda Elang. Dan satu buah tabokan melesat didadanya.
"Bahasamu mas..."
"Eh,tumben kamu panggil aku mas" ucap Elang yang merasa aneh.
"Hehe...biar terbiasa aja" Dira dengan kekehannya.
"Jangan panggil mas,terdengar kurang enak"
"Terus mau di panggil apa?"
"Papa saja" ucap Elang disertai senyumannya yang kemudian disusul dengan kecupan lembut pada bibir Dira,sebagai ucapan terima kasih karna sudah memakai kan dasinya.
Dira ikut tersenyum mendengarnya "Jadi, terbang kemana pagi ini?" ucap Dira mengalihkan.
"Ke Aceh,sekalian demoin menu baru" jawab Elang.
"Ketemu kak Niko dong,titip salam buat dia ya" ucap Dira spontan,dan itu cukup membuat Elang merasa naik darah.
"Tidak ada salam-salaman" jawab Elang cepat.
Sepertinya memang ada dendam diantara dirinya dan pria yang Dira panggil kakak itu.
"Kenapa?" tanya Dira heran.
"Tidak ada alasan" Elang memakai jam tangannya.
"Ya,harus ada alasan dong,apa lagi kamu kan tau kalau kak Niko dulu yang udah nolong aku" Dira bersidekap.
"Terus kalau ada kang parkir yang udah markirin mobil kita juga harus titip salam juga buat dia,karna udah bantu markirin mobil kita" ucap Elang dengan entengnya.
"Ih...tuan Chef ini lupa? kalau bukan karna kak Niko,aku juga nggak akan kerja di restoran mewah milik Chef Erlangga pradygta. dan nggak mungkin juga kita bisa ketemu,apa lagi bisa menjadi seperti sekarang." Dira mengingatkan bagai mana peran Niko pada hubungan rumah tangga mereka.
"Jadi,Nyonya Erlangga ini lupa ya? bagai mana peran mama Mary pada hubungan kita? pada hal,tanpa rencana konyolnya,kita juga nggak akan bisa jadi seperti ini" Jawab Elang.
Dan saat Dira hendak membuka mulut untuk menjawab ucapan suaminya,tiba-tiba Elang kembali berucap "Nggak usah bahas orang lain,apa lagi itu laki-laki,aku nggak suka" ucap Elang,dan mendengar itu Dira langsung mendekat kemudian memeluk tubuh suaminya yang lebih besar darinya.
"Aku kan hanya ingin berterima kasih" gumam Dira.
"Tidak perlu sampai seperti itu,disana Niko ku angkat menjadi kepala chef dan gajinya juga dua kali lebih besar dari yang di Surabaya" Elang membalas pelukan Dira.
Dira mengangguk "Berapa lama nanti disana?".
__ADS_1
Elang terlihat berfikir "Mungkin sekitar tiga hari,kenapa? takut kangen?" Elang terkekeh pada ucapan terakhirnya.
Dan tanpa diduga,Dira menganggukan kepalanya.
"Tumben?" heran Elang.
"Kok tumben si...!nyebelin banget!!" Dira memberi sedikit cubitan pada pinggang Elang,membuat si empunya meringis kesakitan.
"Mana pernah sih kamu bersikap manja seperti ini?" Elang melepas pelukannya,kemudian memberi kecupan pada pelipis Dira.
"Emang aku nggak boleh kangen apa?" Dira cemberut.
Elang terkekeh "Kalau begini, kok aku jadi malas buat pergi?" Kemudian duduk diatas ranjangnya,lalu menepuk pahanya agar Dira duduk diatasnya.
Dira menurut dan duduk dipangkuan Elang, "Kamu makin berat" ucap Elang.
Dira terkekeh "Kamu yang bikin aku seperti ini" ucapnya kemudian mengalungkan tangannya pada leher Elang.
Cup...satu kecupan dari Dira.
Cup...satu kecupan dari Elang.
"Kau akan membuatku terlambat".
Cup...satu kecupan dari Elang.
Cup...satu kecupan dari Dira.
"Nakal sekali"
Cup...lagi satu kecupan dari Elang.
"Tapi kau suka kan?" goda Dira dan kembali mendaratkan satu kecupan pada bibir Elang.
"Ya,jika aku tidak takut terlambat,aku akan memakan mu" Elang membalas kecupan lagi pada Dira,namun kini diakhiri dengan sedikit *******. Dan kemudian Dira melepaskan pagutannya sebelum Elang akan benar-benar membuat penerbangannya terlambat.
"Jangan terlalu capek" Pesan Elang sebelum ia meninggalkan Jakarta untuk terbang ke Aceh.
***
Lyra tengah sibuk menyirami tanaman didepan mansion,karna memang tidak ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan disana,jadi untuk menyirami dan merawat tanaman ia sendiri yang melakukannya.
"Nona Lyra,ponsel anda berbunyi terus dari tadi" Bik Siti datang dan menyerahkan ponsel milki Lyra.
"Oh terima kasih bik" ucap Lyra menerima benda persegi itu.
__ADS_1
Kembali ponsel itu berbunyi,dan tertera nama Tuan Dewa disana.
Lyra langsung cepat-cepat mengangkat panggilan tersebut,berharap semoga Dewa tidak marah padanya.
"Halo" ucap Lyra saat benda itu menempel pada telinganya.
"Lyra,bisa kamu ambilkan map kuning yang berada di laci teratas meja kerja saya?"
"I-iya tu-Em mas?" ucap Lyra bingung harus memanggil Dewa bagai mana.
"Kamu ambil yang ada map yang ada tanda HG pada pojok kiri atas ya,dan segera antarkan ke perusahaan sekarang saya tunggu" Perintah Dewa dan belum sempat Lyra menjawab,panggilannya sudah dimatikan oleh Dewa.
Lyra kemudian segera menuju ruang kerja Dewa dan mencari map kuning yang Dewa maksud.
Setelah mendapatkannya,Lyra segera berlari keluar untuk meminta supir agar mengantarkannya ke perusahaan Hermawan.
"Selamat datang,ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang resepsionis disana.
"Oh,saya diminta tuan Dewa untuk mengantarkan dokumen yang ketinggalan" tutur Lyra dengan sopan.
"Oh,baik lah mari saya antar ke ruang rapat" ucap salah seorang resepsionis disana.
Sebelumnya,Dewa meminta pada bawahannya itu bahwa jika ada yang mengantar dokumen agar diantar langsung menuju ruang rapat.
"Silahkan nona" resepsionis itu mempersilahkan Lyra untuk memasuki ruangan yang ditunjukan tersebut.
"Terima kasih" ucap Lyra,kemudian memasuki ruangan tersebut.
Saat memasuki ruangan tersebut, Lyra merasa sedikit tegang karna tiba-tiba seluruh hadirin yang berada didalam langsung memusatkan perhatian mereka pada Lyra yang baru datang.
"Kau sudah bawa map nya" tanya Dewa yang ternyata duduk dikursi paling ujung,dan cukup jauh dari tempat Lyra berdiri sekarang.
"Su-sudah Tuan" jawab Lyra,kemudian dengan gugup berjalan menuju dimana Dewa duduk.
Lyra menyerahkan map tersebut, namun Dewa menghentikan langkahnya saat ia hendak berbalik.
"Kamu tunggu saja disini,rapat akan segera selesai kita pulang bersama" ucap Dewa, kemudian meminta salah satu staf nya untuk menyiapkan satu buah kursi untuk Lyra.
Lyra benar-benar merasa gugup saat ini, apa lagi Lyra merasa hampir semua mata disana seperti tengah melihatnya.
Tentu saja,siapa yang tidak akan merasa bingung dengan Lyra,semua karyawan membicarakannya.
Ada seorang gadis cantik yang mengantarkan file Dewa yang katanya tertinggal di rumah, sementara disana tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan Dewa selama ini.
Lantas,siapa gadis cantik yang kini tengah duduk disamping bos mereka?
__ADS_1
Namun,tanpa Lyra sadari,didalam satu ruangan tersebut ada sepasang mata yang memperhatikan Lyra dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Senyum jahat dari lelaki itu terkembang,seolah tau siapa gadis tersebut.