
"Dari mana? kenapa jam segini baru pulang?" Dewa bersidekap hendak memarahi istrinya yang baru saja kembali.
"Oh,kamu sudah pulang? tadi dari rumah sakit" ucap Lyra,dan Dewa yang tadinya sudah bersiap untuk marah langsung merubah ekspresinya.
"Kamu sakit?" tanya Dewa dengan tatapan khawatir.
"Aku nggak sakit,tapi mba Dira".
" Wulan kenapa?" Dewa bertambah cemas.
"Mbak Dira lahiran" ucap Lyra dengan senyumnya.
"Apa?! bukannya belum saatnya dia melahirkan?".
Lyra mengangguk " Iya,usia kehamilan mbak Dira baru tujuh bulan,dan tadi waktu kesini tiba-tiba ketubannya pecah".
"Ya sudah,kita segera kesana" Dewa sudah bersiap untuk berangkat.
"Mbak Dira dan bayinya selamat mas,dan tadi kak Elang meminta agar kita kesananya besok saja" Lyra menjelaskan pesan yang Elang sampaikan.
"Kenapa begitu?" tanya Dewa seakan tak terima.
"Kak Elang ingin agar kita istirahat dulu"
Benar juga,Lyra juga pasti sudah lelah karna seharian sudah di rumah sakit.batin Dewa.
"Ya sudah,kamu segera bersih-bersih dan istirahat lah".
Lyra mengangguk kemudian menuju kamarnya untuk membersihka tubuhnya.
Cklek...
" Wulan sudah melahirkan" ucap Dewa saat ia masuk kedalam kamar papanya.
Papa Rian menoleh,"Papa sudah tau" kemudian menunjukan ponsel yang ada gambar bayi mungil disana "Elang yang mengirim fotonya" papa menjelaskan.
"Jadi cuma Dewa saja yang paling terakhir taunya?" ucap Dewa tak terima.
Papa Rian tertawa mendengar ucapan dari Dewa "Memangnya sepenting apa bagimu untuk tahu lebih awal?" Kemudian meletakan ponsel ke atas nakasnya "Sudah saat nya kamu membuka diri untuk istrimu Dewa, jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil" papa memberi nasehat.
Dewa tersenyum mengejek "Jadi papa sudah menerima Lyra?".
" Ya, tadinya papa hanya menghawatirkan kerajaan bisnis papa yang bisa hancur jika orang-orang tahu seperti apa kehidupan Lyra sebelumnya" ucap papa Rian "Dan kini papa sudah menyadari satu hal,ternyata putra papa memilik kekuatan yang jauh melampaui papa".
Dewa masih mendengarkan ucapan papa Rian.
Terdengar helaan nafas dari papa Rian "Kau tahu? bahkan papa sama sekali tidak bisa menyentuh keluarga Dira karna perlindungan dari kakakmu".
__ADS_1
Ya,Dewa pun mengakui bagai mana kekuatan yang Elang miliki,dan juga tentang masalah Lyra,ternyata Elang lah yang telah membungkam orang-orang yang dulu pernah dan mengetahui tentang Lyra.
Dan kini,Dewa sudah bisa bernafas tenang karna apa yang dilakukan kakaknya tersebut.
" Cepat lah istirahat," ucap papa Rian,dan Dewa pun akhirnya pamit menuju kamarnya.
Dewa membuka pintu kamarnya,dan harum sabun langsung menguar menusuk hidungnya.
Ternyata Lyra baru keluar dari kamar mandi,dengan masih mengenakan handuk kimononya.
Lyra tersenyum kearah Dewa yang baru masuk,raut lelah terlihat sekali diwajah suaminya "Sepertinya kamu lelah sekali" ucap Lyra.
Dewa mengangguk "Ya,pundakku serasa mau patah" gerutu Dewa dengan memijit-mijit bahunya.
"Mau ku pijat?" Lyra memberi tawaran.
Dan tanpa ia sangka ternyata Dewa mengangguk setuju.
"Ya,gosokan punggung ku ya?" ucap Dewa berjalan menuju kamar mandi.
"A-apa?" tanya Lyra heran.
Dewa menghentikan langkahnya"Aku mau mandi,jadi bisakah tolong bantu aku menggosok punggungku?" Dewa mengulangi permintaannya."Aku tunggu di kamar mandi" ucap Dewa dengan senyum yang tak bisa diartikan.
Lyra semakin bingung,apa Dewa memintanya untuk membantunya mandi? astaga... hentikan pikiran kotormu itu Lyra, Dewa hanya meminta dibantu menggosok punggungnya.
Lyra masuk kedalam kamar mandi,dan disana ternyata Dewa masih berdiri diam dengan kemeja yang masih melekat ditubuhnya.
"Kenapa masih diam disana? kemari lah,bantu aku siapkan air hangatnya" ucap Dewa.
Dengan gugup Lyra berjalan mendekat kemudian menyalakan keran air panas dan dingin.
"Airnya sudah siap mas" ucap Lyra dengan wajah menunduk.
Ternyata Dewa kini sudah melepas semua pakaiannya,dan membuat Lyra semakin tak berani mengangkat wajahnya kearah suaminya.
Oh,Lyra...dimana sisi liarmu dulu? menguap kemana saja mereka,kenapa melihat suamimu sendiri membuatmu segugup ini? bati Lyra menjerit.
Dewa masuk kedalam bathup,kemudian menyandarkan punggunnya pada ujung bathup.
"Kenapa?" tanya Dewa karna melihat Lyra yang tak berani memandangnya "Cepat mulai" Dewa mengarahkan tangan Lyra pada bahunya,agar Lyra segera menggosoknya.
Karna terkejut Lyra akhirnya mengangkat wajahnya,wajah cantiknya yang kini terlihat memerah sungguh membuat Dewa merasa lucu.
Mengingat seperti apa pekerjaan Lyra dulu, seharusnya gadis ini tidak semalu ini saat melihat tubuh seorang lelaki.
"Kenapa malu begitu?" Dewa menggoda.
__ADS_1
Wajah Lyra terangkat "Tidak malu" ia mengelak.
"Benarkah?" disusul kekehannya.
Lyra merengut,dan itu semakin membuat Dewa senang menggodanya.
"Wajahmu memerah" Dewa mencolek pipi Lyra dengan tangannya yang penuh busa,sehingga membuat pipi Lyra juga ikut terkena busanya.
"Mas,kamu mengotori wajah ku" protes Lyra kemudian mengusap pipinya sendiri,namun karna ia lupa bahwa tangannya sendiri juga penuh busa malah membuat wajahnya semakin banyak terkena busanya.
Dewa sontak saja tertawa melihat wajah Lyra "Astaga,kau mau membersihkannya atau mengotorinya?" masih dengan sisa tawanya.
Lyra mengerucutkan bibirnya,bagai mana bisa ia berbuat hal yang terlihat bodoh dihadapan suaminya.
Ia kemudian beranjak untuk membasuh wajahnya dengan air,namun tangannya tiba-tuba ditarik oleh Dewa.
Dan karna terkejut,Lyra tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan...
Byurrr...
"Astaga!!" Lyra terjatuh kedalam bathup tersebut. "Astaga!!" kembali Lyra memekik, tanpa sengaja ternyata tangan Lyra menyentuh sesuatu didalam sana.
Lyra buru-buru ingin beranjak,namun Dewa malah menahan pinggangnya.
"Aku tidak masalah kalau kamu ingin mandi bersamaku" ucap Dewa dengan senyum nakalnya.
Astaga ini pertama kalinya Lyra melihat wajah Dewa yang menggodanya.
Apakah kini suaminya telah menggodanya, apakah kini Dewa sudah akan menarik Lyra untuk masuk kedalam hatinya?
Lyra merasa sangat senang sekali,dan tanpa ia sadari tangannya dengan nakal menyentuh dada bidang suaminya.
"Jangan menghawatirkan posisimu, kau akan menjadi satu satunya wanita di hidupku" Dengan lembut Dewa menempelkan bibirnya di bibir Lyra,dan Lyra pun membalasnya.
Merekapun menghabiskan malam itu dengan penuh kehangatan,Dewa yang sudah menyadari perasaannya,dan Lyra yang merasa bahagia karna mendapatkan tempat dihati suaminya.
"Kak Elang sudah mendapatkan pewarisnya, dan kini giliran kita untuk merangkainya" ucapan Dewa disela percintaannya.
Wajah Lyra semakin memerah,ia benar tak menyangka,penantiannya akhirnya terwujud nyata dan begitu indah.
"Ahhhh..." Desah Lyra saat Dewa memberinya kenikmatan.
Dewa pun tak kalah bahagia,kini ia menyadari seperti apa seseorang yang ia inginkan,Bukan Wulan kakak iparnya atau wanita diluar sana, ia hanya menginginkan wanita yang kini berada didalam kungkungannya,wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
__ADS_1
Sudah boleh ditamatin belum ini cerita?