Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
empatpuluh tujuh


__ADS_3

Plaaakkk...


Sebuah tamparan kuat menyentuh pipi Dewa.


Pelakunya adalah Papa Adrian.


Ia begitu murka saat mendapati anak lelaki bungsunya pulang dengan menggandeng seorang wanita yang Dewa akui sebagai istrinya.


Apalagi Adrian tau benar siapa wanita yang dibawa oleh Dewa,seorang wanita penghibur di klub malam yang sering didatangi oleh Dewa.


Flash back on


Semalam sebelumnya...


"Tuan,Lyra kira anda tidak akan datang kesini lagi setelah kejadian waktu itu" Ucap Lyra manja kepada Dewa yang tengah duduk diruang VVIP yang biasa ia tempati sambil meneguk cairan wisky nya.


Dewa manatap Lyra dengan sedikit senyum dibibirnya,membuat gadis disampingnya itu deg-degan tak terkira."Kau mau ikut denganku?".


Lyra tersenyum "Tentu saja,anda sudah memboking saya" jawab Lyra.


"Bukan...bukan itu maksudku...maksudku,apa kau mau ikut denganku meninggalkan tempat ini?"


Mendengar ucapan Dewa,Lyra begitu terkejut.


Apalagi Dewa membawanya ke Mansion mewah keluarganya.


Dewa mengatakan pada Papa Adrian bahwa ia sudah menikahi wanita yang ia bawa.


dan itu benar-benar membuat Adrian murka.


Flash back off


"Dewa sudah terlanjur menikahinya pa,jadi papa tidak bisa apa-apa sekarang" ucap Dewa dengan senyum jahatnya,kemudian pergi meninggalkan Adrian dengan menggandeng tangan Lyra.


Papa Adrian memegangi dadanya yang terasa sesak,ia benar-benar merasa kecewa terhadap Dewa putranya.


"Sarah...!" Panggil Adrian,namun wanita yang dipanggilnya bahkan sama sekali tak menampakan dirinya. "Sarah...!!" Panggilnya lagi,dadanya semakin sesak.


Namun bik Siti yang datang mendekat "Tuan" ucap Bik Siti menundukan wajahnya.


"Dimana Sarah?" tanya Adrian masih dengan memegangi dadanya.


"Nyonya meninggalkan ini tuan" bik Siti memberikan secarik kertas yang ia temukan diatas nakas pagi tadi saat membersihkan kamar majikannya tersebut.


Adrian menghirup nafasnya dalam-dalam untuk menahan rasa sesak didadanya,kemudian membuka surat itu.


**Dari Sarah,


Aku lelah,aku memutuskan untuk pergi,sangkar emas yang kau bangun untukku sungguh menyiksaku. aku tidak akan kembali terima kasih sudah memperlakukan ku dengan baik selama ini**.

__ADS_1


Usai membaca isi dari surat itu,dada Adrian semakin sesak,lama-kelaman kepalanya juga semakin berat dan ia pun terjatuh pingsan diatas karna tongkat ditangannya tak mampu menopang tubuh nya yang melemah.


"Tuan...!!" teriak Bik Siti panik. Kemudian berlari kedepan mencari pertolongan.


Flash back on


Satu hari sebelumnya...


"Kau mencariku?" Tanya Mary saat duduk dikursi sebuah kafe. Didepannya sudah ada Sarah yang sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu.


"Ya" Jawab Sarah. "Kau benar nyonya,aku kalah" ucap wanita itu kemudian.


Mary mengerutkan keningnya "Jadi?".


" Jadi,saya meminta nyonya menemui saya untuk meminta bantuan kepada anda" Sarah berterus terang.


Mary menghela nafasnya "Setelah kau menghancurkan keluargaku,sekarang kau meminta bantuan ku? kau begitu naif Sarah".


" Saya tau dulu saya salah,maaf atas itu semua,tapi disini saya meminta bantuan bukan sebagai istri dari tuan Adrian,tapi sebagai seseorang yang telah merawat putramu selama lima belas tahun lamanya" Sarah masih berusaha meminta bantuan dari Mary.


"Kau memang pandai bicara" Puji Mary. "Kenapa kau berpikir aku bisa membantumu?"


Sarah menelan ludahnya lekat "Hanya anda satu-satunya yang bisa menolong saya untuk kabur,anda memiliki kemampuan untuk itu"


"Maksudmu?" Mary menatap Sarah tak percaya.


"Anda memiliki tameng yang kuat," jawab Sarah cepat.


Karna Elang adalah kelemahan dari Adrian, walau berpisah,Adrian tidak bisa melepaskan Elang seratus persen itu karena sebagian kekayaan Adrian adalah hak paten milik Elang yang diturunkan oleh mendiang kakeknya.


"Saya tau seperti apa kemampuan dari Elang, bahkan seorang Adrian tidak bisa menyentuh keluarga Wulan yang ada dikampungnya, berkali-kali Adrian mencoba untuk menghancurkan Wulan,namun Elang juga selalu berhasil menghentikannya".tutur Sarah


Ya,sejak Adrian tau bahwa Dira adalah istri dari Elang,Dia selalu mencoba berbagai macam cara untuk menjatuhkan keluarga Dira yang berada dikampung.


Namun sebelum itu terjadi,Elang memang sudah memperkirakan hal itu,sehingga Elang membayar beberapa orang untuk melindungi keluarga Dira yang bahkan tak tau apa-apa.


"Baiklah,besok pagi aku akan suruh orang ku untuk membantumu pergi,tiket juga akan ku siapkan,kemana tujuanmu?" Tanya Mary akhirnya.


Sarah tersenyum "Tidak ada yang menahanku diKota dan Negara ini,jadi tolong kirim aku ke London saja,aku akan menjalani hidup baruku disana" Jawab Sarah.


Mary mengangguk "Aku akan menguruskan perceraianmu juga,untuk harta gono gini kamu tidak usah khawatir,kau akan mendapatkannya".


" Terima kasih Nyonya" ucap Sarah.


Mary mengangguk,Sebenarnya ia merasa bersalah pada Adrian saat menyetujui permintaan Sarah. Ia tau Adrian tidak akan dengan mudah melepaskan Sarah,namun harus bagaimana lagi, Sarah juga ingin bebas, bebas dari beban,kekangan dan intimidasi.


Posisi sebagai nyonya Hermawan memang tampak seperti menyilaukan bagi para wanita diluar sana,namun bagi Mary maupun Sarah, tidak ada hal yang dapat mereka banggakan saat menyandang gelar istri dari seorang Adrian Hermawan.


Istri hanyalah status saja bagi Adrian,karna baginya ucapan,kata dan kalimat yang terlontar bagi istrinya tidak lah berarti baginya.

__ADS_1


Setelah mendapat informasi bahwa tiket serta identitas barunya sudah siap, Sarah kemudian pergi dari Istana Hermawan dengan meninggalkan secarik kertas diatas nakasnya.


Kemudian pergi dengan bantuan orang suruhan Mary.


Flash back off...


Mary sedang duduk bersantai diMansionnya saat dering ponselnya berbunyi.


"Iya" ucapnya saat mengangkat panggilan itu


"..."


Mary mengangguk "Baik lah,saya akan kesana,usahakan agar Elang tidak mengetahuinya,biarkan dia berlibur dengan istrinya"


"..."


"Hm" ucapan terakhir mama Mary kemudian mematikan panggilan tersebut.


***


"Wahhhh...aku tidak menyangka,stadionnya akan sebesar dan semegah ini" Dira berdecak kagum saat menjejakan kakinya di Allians stadion.


"Jangan melotot seperti itu,kau benar-benar terlihat kampungan" ucap Elang sambil menutup mata Dira karna gadis itu yang tak henti-hentinya menatap isi stadion itu dengan mata melotot karna takjup.


Dira segera menarik tangan Elang yang menutupi pandangannya,kemudian maraih ponselnya dan ia serahkan pada Elang yang ada disampingnya "Potret yang banyak,buat kenang-kenangan" ujar Dira dengan menaik turunkan alisnya.


Elang hanya berdecak,namun juga memotretkan ponselnya kearah wanita itu.


Berulang kali Elang memotret Dira yang tengah berpose ditengah stadion megah tersebut,lalu tiba-tiba saja ia menarik tangan Dira agar mendekat padanya.


cklik...


Satu jepretan ia arahkan pada dirinya yang tengah mengecup bibir Dira,Dira terlonjak kaget saat Elang melakukan itu. Kemudian secara reflek memukul bahu pria tersebut.


Namun karna pukulan itu tidak terlalu keras jadi Elang juga tidak terlalu merasakannya. Pria itu justru terkekeh saat melihat pipi Dira yang bersemu merah.


Elang mengotak-atik ponsel Dira,setelahnya menyerahkan benda persegi itu kepada pemiliknya.


"Awas jika kau mengganti wallpapernya!" ancam Elang.


Dira terkejut saat melihat layar ponselnya,ternyata Elang menjadikan foto saat pria itu menciumnya tadi sebagai walpapernya.


Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya.


 


next?


like n coment please...

__ADS_1


 


__ADS_2