Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
enampuluh empat


__ADS_3

Elang kemudian duduk diatas ranjangnya sambil memijat pangkal hidungnya. Kepalanya terasa begitu pening.


Ia tak habis fikir,biasanya ia juga berbicara begitu saja kepada Dira,bahkan kata-katanya yang sebelum nya lebih pedas dari yang ia ucapkan tadi,tapi,kenapa baru kali ini Dira marah?


Apakah itu ada kaitannya dengan kehamilan Dira? jadi membuat wanita itu menjadi lebih sensitif? Entahlah,Elang hanya merasa pusing dikepalanya.


Ia kemudian merogoh hp yang ada di saku celananya,kemudian menelfon seseorang.


"Sekarang juga kamu kerahkan anak buahmu untuk mencari keberadaan nyonya Dira!" perintah Elang kepada bawahannya diseberang sana.


"..."


"Saya tidak mau tau,kalian sisir saja seluruh kota Jakarta!" ucap Elang penuh emosi,dan lagsung di jawab iya pada bawahannya tersebut,karna takut akan mendapat masalah jika menunda pekerjaannya.


Elang mematikan panggilannya,kemudian ia teringat sesuatu, Dewa, benar... mungkin dia tau dimana Dira akan pergi saat sedang marah.


Elang kemudian menekan tombol panggil setelah menemukan kontak Dewa.


"Halo kak?" Sapa Dewa diujung telpon.


"Dewa,kamu tau dimana Dira biasanya pergi saat marah?" tanya Elang to the point.


Terdengar kekehan dari seberang sana "Sepertinya kakak begitu khawatir"


"Bagai mana tidak khawatir? sekarang Dira tidak sendiri,dia sedang mengandung...dan aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka!" seru Elang dengan menaikan tinggi suaranya.


"Oke,baik...aku tidak berani bercanda lagi" Dewa menjeda kalimat nya "Setau Dewa, Selama aku kenal Dira,wanita itu tidak pernah marah sampai separah ini kak,jadi aku tidak tau dimana dia pergi...dulu kalau ngambek cuma dikasih camilan juga udah baikan lagi, makanya aku heran kenapa Dira bisa sampai seemosi tadi".


" Bertanya pada mu memang tidak ada gunanya" gerutu Elang kemudian menutup telponnya.


Irfan,ya benar...dia pasti tau. Gumam Elang kemudian mendial nomor adik iparnya tersebut.


"Halo Mas Elang" sapa Irfan.


"Fan,kamu tau kemana Dira biasanya pergi saat marah?" tanya Elang langsung pada intinya.


"Emang mbak Dira pergi dari rumah mas?" Irfan malah tanya balik.membuat Elang kembali mengusak rambutnya frustasi.


"iya" jawab Elang lemah,ia benar-benar merasa bingung harus bagaimana cara menghadapi pertanyaan Irfan.Elang merasa tidak bisa menjaga Dira,sampai-sampai membuat wanita itu pergi begitu saja.


"Mungkin mba Dira pulang keSemarang mas, kemarin mbak Dira sempet cerita kalau dia kangen sama bapak ibu. Mas!" panggilan Irfan membuyarkan lamunan Elang.


Benar juga,kenapa ia sama sekali tidak berfikir kesana? bodoh...rutuk Elang pada dirinya sendiri.


"Baik Fan,Mas akan cari kesana" jawab Elang, kemudian mematikan panggilannya.

__ADS_1


Elang kemudian mencoba menghubungi Dira,namun sama sekali tidak diangkat oleh wanita itu.


"Sial...!" umpatnya karna Dira tidak menjawab telfonnya,kemudian ia beranjak dari Apartemen dan ingin segera menuju bandara.


***


Mama Mary sedang bersantai di penthaouse nya,lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Ada apa?" tanya mama Mary setelah mengangkat telponnya.


"Nyonya,saya mendengar kabar bahwa nona Dira pagi ini pergu dari rumah" seorang suruhan mama Mary memberi informasi.


"Kamu tau apa penyebabnya?" tanya mama Mary.


"Tidak tau nyonya,tapi sekarang tuan Elang sedang mencarinya".


Mama Mary menghela nafasnya,ia memduga pasti anak laki-lakinya sudah berbuat keterlaluan kepada menantunya.


" Apakah saya juga harus mengerah kan orang untuk membantu tuan Elang nyonya?" tanya anak buah mama Mary yang tidak lain adalah Tio, asistennya.


"Tidak usah, biarkan saja...biar dia cari istrinya sendiri dan biar dia bisa instropeksi kesalahannya" ucap Mama Mary.


"Baik nyonya" jawab asisten.


"Hm" kemudian mama Mary mengakhiri panggilan tersebut.


Biar tau rasa kamu Elang,aku yakin kamu pasti masih berbicara pedas pada Dira,karna itu wanita itu pergi dari mu...cari saja penyelesaian masalahmu,kali ini mama tidak akan ikut campur. Biar kamu juga belajar untuk bisa berpikir dewasa karna sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


***


Sementara itu,Dira sedang duduk dikursi penumpang dengan pikirannya yang bahkan masih berkecamuk.


Ia memutuskan untuk menaiki bus antar kota untuk berkunjung kekota Semarang,kota kelahirannya.


Dengan berbekal tas kecil dan ponselnya, ia memutuskan untuk kerumah orang tuanya. Alasannya bukan karna ia marah pada Elang, tapi ia merasa rindu dengan kedua orang tuanya yang sudah setahun ini tidak dijumpainya.


Dira membuka ponselnya yang sejak tadi ia mede silent,disana ada empat puluh sembilan panggilan tak terjawab dari suaminya.


Entah kenapa hatinya yang tadi nya serasa membara,kini mulai menyejuk. Ia merasa ada sebuah penyesalan dari Elang yang mencoba menghubunginya sampai sebanyak ini.


Tapi Dira tidak akan menelponnya balik, karna sudah terlanjur melewati setengah perjalanan menuju rumah orang tuanya. Ia akan gagal ke Semarang jika menghubungi Elang hari ini, lebih baik bicara dengannya besok saja pikir Dira.


Setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam dari jakarta,kini Dira sudah sampai diterminal bus antar kota.


Segera ia mencari ojek terdekat,kemudian setelah mendapat seorang ojek,Dira langsung meminta untuk diantar ke alamat orang tuanya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul delapan malam saat Dira menginjakan kakinya dipelataran rumahnya.


Ia mengerutkan keningnya saat melihat rumahnya yang begitu berbeda.Terakhir Dira kemari satu tahun yang lalu,rumah orang tuanya tidaklah sebagus ini.


Dulu hanyalah rumah kayu yang masih beralaskan tanah,sedangkan ini? sebuah rumah kayu bahkan dilihat dari bahannya pun terlihat dari kayu jati asli,dan sekarang alasnya pun sudah terpasang keramik cokelat yang kontras dengan dinding kayu yang dipoles dengan politur.


Dira mengetuk pintu.


Dan tak lama suara dari dalam menyahuti salamnya,kemudian pintu itu terbuka.


Sesosok wanita paruh baya berdiri didepan Dira dengan matanya yang membelalak kaget.


"Wulan?" ucap wanita paruh baya itu dengan senyum sumringah diwajahnya.


Dira membalas senyum ibunya kemudian segera memeluk tubuh sang ibu yang begitu ia rindukan.


"Siapa Buk?" Suara dari dalam yang tak lain dari ayah Dira.


"Wulan pak" jawab ibu Dira yang bernama Any.


Bapak yang mendengar nama anak sulungnya disebut,kemudian langsung beranjak dari posisi duduknya dan mendekat pada Wulan dan ibunya yang baru memasuki rumah tersebut.


Dira menyisir pandangannya pada setiap ruangan yang tampak berbeda itu.


"Bapak kapan bangun rumahnya?" tanya Dira penasaran setelah ia duduk dikursi kayu yang diduduki ayahnya tadi.


"Pelan-pelan nduk bapak bangunnya, sedikit demi sedikit" jawab ayah Dira.


"Terus rumah yang lama dikemanain pak?" tanya Dira kemudian mengucap kan terima kasih pada ibunya yang sudah menyeduhkan teh untuknya.


"Bapak pindah kebelakang,buat dapur nduk", kemudian menyeruput kopi yang ada didepannya " Kamu pulang sendiri nduk?"


Dira bingung harus menjawab apa "Iya pak, suami Dira masih sibuk,jadi nggak bisa ikut" jawab Dira canggung.


"Ya sudah,nanti kalau tehnya sudah habis cepat istirahat. Pasti lelah tadi perjalanan jauh" ucap Ibu Any memutus percakapan antara bapak dan anak itu.


Karna kalau diteruskan,bisa sampai pagi obrolan Dira dengan ayahnya akan berlanjut. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan sepak bola,sudah...pasti bisa sampai tidak pada tidur mereka berdua.


"Iya buk" jawab Dira kemudian.


"Huh...Ibuk itu...bapak kan pengen ngomong banyak sama Wulan" ucap Bapak sedikit kesal.


"Nggak baik pak,buat wanita hamil bergadang" Jawab ibu menyindir.


"Eh iya juga ya..." bapak langsung menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.

__ADS_1


next?


like n coment please...


__ADS_2