Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tigapuluh empat


__ADS_3

"Aku rindu aroma ini" Dira mengendus mie instan yang baru saja matang,aroma khas dari bumbu apalagi ditambah beberapa potong cabai,membuatnya begitu bernafsu untuk segera menyantapnya.


"Kira-kira apa yang dilakukan chef Elang sekarang ya?" Dira menatap ponselnya.


"Huft...aku ini kenapa sih...dulu dia juga sering pergi bahkan lebih lama,tapi kenapa kali ini aku merasa sepi ya?" Dira bergumam sendiri dan menyisir seluruh ruangan apartemennya. Ruangan yang lebih besar dari apartemennya yang dulu.


"Mungkin karna apartemen ini terlalu besar, benar pasti karna itu" Dira meyakinkan dirinya, kemudian segera menghabiskan makan malamnya.


Usai menghabiskan makanannya,Dira kemudian menuju ruang tv dan menyalakannya.


Hari ini ada jadwal Liga Champion dan tim kesayangannya masuk semi final. Tentu saja Dira wajib menontonnya.


Sedang asyiknya menonton,tiba-tiba ponselnya berbunya.


"Halloo?" sapa Dira tanpa mengalihkan tatapannya pada layar lebar didepannya.


"Wulan?"


Dira yang kaget mendengar suara dari seberang,kemudian menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat siapa yang menelponnya.


Tertera nama Dewa disana.


"Jangan dimatikan!".ucap Dewa diseberang sana yang seakan tau jika Dira sudah bersiap menekan tombol merah pada layar ponselnya.


Dan akhirnya Dira pun mengurungkan niatnya " Ada apa?"


Dewa tersenyum. "kau masih menonton tv?"


"Hm"


"Kau tau? saat kau menelfonku kemarin, aku merasa senang, karna akhirnya kau bersedia menghubungiku lagi. Tapi apa yang kamu lakukan setelahnya,bukanlah hal yang aku inginkan"


"Kau harus menata hidupmu Wak"


"Aku senang kau masih memanggilku dengan sebutan itu,aku anggap, itu adalah panggilan sayang mu untukku...Wulan"


"Hm?"


"Maukah kau kembali padaku?"


"Apa kau mabuk?" tanya Dira masih santai.


Terdengar kekehan dari seberang sana. "apa kau peduli?"

__ADS_1


Dira menghela nafasnya "Bukan aku, tapi kakakmu yang memperdulikanmu,jangan merusak hidupmu,kau akan membuat El kecewa".


" jadi,sekarang kau lebih peduli dengannya?".


"Tentu saja aku peduli pada El,apa kau lupa jika dia adalah suamiku sekarang?!"


Terdengar Dewa sedang meneguk minumannya. "Seharusnya aku yang berada diposisi itu kan?".


" Jangan mulai lagi Dewa,masa lalu tidak akan pernah kembali, sekarang aku sudah bahagia,dan ku harap kau juga bahagia" ucapan Dira kemudian mematikan sambungan telponnya.


Dira menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa,kemudian menambahkan volume pada televisinya agar tidak merasa sepi.


Ditempat lain...


Dewa sedang menikmati minuman memabukannya disebuah bar terbesar diJakarta.


Seorang wanita dengan mengenakan pakaian minim mendekatinya.


"Hai tuan...mau saya temani?" suara wanita itu dengan nada genit.


Dewa menatap wanita itu sekejap,kemudian mengalihkan pandangannya pada tempat lain.


Wanita itu yang seperti mendapat lampu hijau karna Dewa tak menolaknya,kemudian buru-buru duduk disamping pemuda itu.


Dia adalah wanita penghibur yang sedang naik daun saat ini di bar tersebut. Dia biasanya hanya menemani para pelanggan minum saja. Namun entah mengapa, lyra yang melihat Dewa saat ini seperti seakan sudi memberikan tubuhnya untuk lelaki didepannya ini.


Dewa yang sudah mabuk berat,tanpa sengaja menjatuhkan kepalanya diatas bahu Lyra.


Deg...


Baru kali ini Lyra merasa ada yang menyengat tubuhnya,hingga membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat.


Ia mengangkat tangannya,kemudian dengan perlahan menyentuh pipi Dewa.


"Bukankah dia seorang pria? kenapa memliki kulit yang halus seperti wanita?" Gumam Lyra.


Lyra tersentak saat tiba-tiba tangannya digenggam erat oleh Dewa.


Nyalinya semakin menciut saat mata nyalang Dewa menatapnya.


"Siapa yang memintamu untuk menyentuhku?!" sarkas Dewa kemudian dengan kasar ia menghentak tangan Lyra.


Dewa dengan cepat kemudian berdiri dan hendak meninggalkan VIP room tersebut, namun suara gadis itu membuatnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Nama saya Lyra tuan,jika anda butuh teman untuk bercerita,saya siap mendengarkan" Ucap Lyra dengan senyumannya.


Dewa hanya tersenyum sinis menatap wanita penghibur tersebut,kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Lyra sendiri disana.


***


Pagi menjelang,


Dira yang sudah berada diluar gedung apartemenya untuk berbelanja kebutuhan bulanannya tiba-tiba menghentikan langkahnya karna sebuah mobil hitam berhenti tepat didepannya.


Pintu mobil itu terbuka,dan sontak Dira membelalakan matanya saat melihat siapa yang ada didalamnya.


"Tuan" Sapa Dira gugup dengan menundukan wajahnya.


"Masuklah" Ucap pria paruh baya yang ada didalam mobil tersebut yang tidak lain adalah tuan Hermawan.


Dira hanya menurut,dan kemudian masuk kedalam mobil tersebut.


Rasa gugup menyelimutinya,karna kini ia duduk disamping tuan besar yang selama ini ditakutinya.


Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang, membuat Dira bertanya-tanya akan dibawa kemana dirinya nanti.


"Apa kau bahagia menjadi seorang istri dari Erlangga pradygta hermawan?" itu adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh tuan besar.


Tangan Dira semakin bergetar "Dira menjawab,iya tuan" jawab Dira dengan nada bergetar.


Tuan Hermawan tersenyum,dan senyumnya itu semakin membuat Dira semakin menciut. "Jadi,sekarang nama panggilanmu adalah Dira?"


"Iya tuan" Dira masih menundukan wajahnya.


"Dimana keberanianmu empat tahun lalu, yang dengan lantang ingin menantangku?" Tuan Hermawan memperhatikan jalanan yang ada didepannya. "Jadi, apa sekarang kau sudah merasa menang,karna akhirnya bisa menikah dengan putraku? pasti kau lebih bangga pada dirimu karna bukan mendapat kan putra kedua,malah mendapatkan putra pertama dari keluarga Hermawan"


Dira meremas kedua tangannya,seakan mencari kekuatan untuk bisa menjawab ucapan tuan Hermawan "Maaf tuan, sejak awal,saya tidak tau jika El adalah putra tertua dari keluarga Hermawan" Dira menelan salivanya yang terasa lekat "Dan lagi pula, setau saya,tidak ada nama Hermawan pada nama suami saya".


" Ha ha ha..." Hermawan tertawa lepas saat mendengar kalimat balasan dari Dira. "Apa kau pikir hanya dengan membuang nama belakangnya,akan menjadikannya bukan dari keluarga Hermawan?. Pikiranmu terlalu naif anak muda" Tuan Hermawan mentertawakan Dira.


Dira kembali menghela nafasnya "Kalau begitu, saya minta maaf tuan,sudah menghancurkan rencana tuan" Dira menghentikan kalimatnya sebentar "Rencana yang tidak memperbolehkan putra tuan berhubungan dengan orang miskin seperti saya...bahkan kini saya sudah lancang menikah dengan putra tertua anda" Ucap Dira.


Tuan Hermawan tak bersuara,hingga mobil itu berhenti kembali ditempat dimana ia menjemput Dira tadi.Mobil tersebut hanya memutari jalan saja,karna tuan Hermawan tidak ingin ada yang melihatnya berbicara dengan Dira,jadi ia memutuskan untuk berbicara didalam mobil saja.


"Aku ingin kau berpisah dengan Elang" ucapan itu membuat Dira menghentikan gerakannya saat hendak membuka pintu mobil.


"Maaf tuan,sekarang saya hanya menuruti ucapan nyonya mary" kalimat penutup itu membuat Tuan Hermawan tidak melanjutkan ucapannya.Dan kemudian Dira keluar dari mobil mewah Tuan Hermawan.

__ADS_1


"Mobil begitu mewah,tapi kenapa sangat tidak nyaman?" gerutu Dira setelah mobil tersebut melaju pergi.


__ADS_2