
Dira denga terburu-buru mendatangi tempat yang Elang datangi.
"Lyra?" ucapnya saat melihat Lyra masih tertegun berdiri ditengah pintu.
"Nona Dira?"lirih Lyra.
Ah,baru Lyra ingat pria tadi adalah Tuan Elang.
" Apa tadi Elang kesini?"
"i-iya" jawab "Lewat sini" Lyra mengarahkan jalannya.
Dira membelalak kaget hingga menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya saat melihat Dewa yang terduduk tak berdaya dengan begitu banyak lebam diwajahnya,serta darah segar yang mengalir melewati ujung bibirnya.
Elang berdiri didepannya dengan posisi menantang.
"El,apa yang kau lakukan?!" pekik Dira.
Sontak Elang menoleh pada Dira,matanya masih terlihat menyalang.
"Jangan mendekat!" ucap Elang dingin.
Dira menghentikan langkahnya saat hendak mendekat pada Elang.
"Kemasi barangmu,dan pergi dari sini!" Ucap Elang dingin kepada Dewa yang masih terduduk dihadapannya.
Dewa hanya terdiam,kemudian Lyra yang melihat Dewa kepayahan saat hendak berdiri kemudian mendekat dan membantu lelaki tersebut.
Lyra memapah Dewa keluar dari Apartemen tersebut.
Gadis itu memandang iba terhadap lelaki yang tengah ia papah tersebut.
Walau tak melihat kejadian saat Dewa dipukuli oleh Elang,namun Lyra bisa mendengar suara Elang yang menggelegar memenuhi Apartemen tersebut.
Lyra mendengar,bahwa Elang mengatakan bahwa sungguh kesalahan besar jika Dewa menikah dengan orang macam dirinya.
Lyra juga mendengar bahwa tuan Adrian yang tak lain adalah ayah Dewa sedang jatuh sakit karna ulah Dewa tersebut.
Sungguh,hati Lyra merasa sangat perih bagai teriris,namun mau bagai mana lagi, ia sudah terlanjut terjun memasuki dunia Dewa, dan hanya Dewa yang bisa melepaskannya.
Dewa meringis kesakitan saat Lyra mengoleskan obat untuk luka diujung bibirnya.
"Ahhhsss..."
Lyra ikut merasa ngilu saat Dewa meringis seperti itu.
"Apa tidak apa-apa Tuan tinggal ditempat seperti ini?" tanya Lyra,karna kini mereka sedang ada di kontrakan milik Lyra.
"Tidak masalah,aku akan tidur disini,kau tidur saja dikamarmu" ucap Dewa yang kini duduk di kursi panjang,kursi satu-satunya di kontrakan tiga petak tersebut.
Itu lah yang membuat Lyra merasa kagum terhadap lelaki dihadapannya ini.
__ADS_1
Disaat banyak para lelaki yang menginginkan tubuhnya,Dewa justru sangat menjaga Lyra.
Lyra merasa dengan Dewa yang memperlakukan nya seperti itu, lyra merasa dihormati.
Senyuman tersungging manis dibibir Lyra, dan tanpa disadarinya tiba-tiba Lyra mengecup singkat ujung bibir Dewa yang terluka tadi.
Dewa yang terkejut kemudian menjauhkan wajahnya.
"Maaf" lirih Lyra kemudian ia bergegas menuju kamarnya dengan wajahnya yang terasa memanas.
Dewa hanya diam memandang Lyra yang menjauh hingga menghilang dibalik pintu kamarnya.
***
"Ada apa El?" tanya Dira.Kini mereka sudah duduk disofa Apartemen Dewa. "Kamu kenapa?" kembali Dira berucap.
"Papa koma" ucapan Elang sontak membuat Dira terkejut "Dan itu karna Dewa mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan wanita itu".
" Wanita itu? maksudmu Lyra?".
"Hm" Elang mengangguk. "Aku sudah memperingatkannya,tapi dia sulit sekali untuk dinasehati"
"Mmmm...maaf El, walau aku tidak mengenal baik Lyra,tapi ku rasa dia wanita baik"
Elang memicing "Apa wanita yang bekerja sebagai penghibur diklup malam bisa dikatakan sebagai wanita baik?!".
" Kau lupa,dulu aku juga melakukan hal yang sama?" lirih Dira.
"Tidak,sama saja...kau tau El,tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus,apa lagi di kota besar seperti ini,dulu aku bekerja disana karna memiliki alasan dan aku juga yakin,kalau Lyra pasti juga memiliki alasannya sendiri"
"Kau ingin berdebat denganku?" ucap Elang dingin.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu,aku hanya ingin kau bisa membuka mata,aku tidak ingin kau memiliki pemikiran seperti Tuan Hermawan"
"Aku tidak sama dengannya!" Elang menepis ucapan Dira,dia tidak suka jika disama-samakan dengan sifat ayahnya.
"Baiklah,kau memang tidak sama" Dira kemudian beranjak.
Elang mengerutkan keningnya "Mau kemana?"
"Tentu saja pulang,memang kau mau bermalam disini?"
Elang akan berdiri,namun ia teringat sesuatu "Bagai mana caramu kemari?"
"Tentu saja menggunakan mobilmu".
" Kamu mengejarku dengan menyetir sendiri?" Elang kembali memastikan.
"Tentu saja,kau pikir aku harus menghubungi siapa saat melihat mu seperti kerasukan dan menggila?" sindir Dira.
Elang menggaruk dahinya sendiri yang tiba-tiba terasa gatal.
__ADS_1
Dira kemudina merjalan keluar Apartemen dan diikuti Elang.
"Bagai mana dengan kandunganmu? kau mengebut seperti itu?" tanya Elang saat menyadari berapa kecepatan yang ia gunakan untuk menuju Apartemen Dewa tadi.
Dira menghentikan langkahnya kemudian terlihat berpikir sesuatu lalu menyentuh perutnya sendiri "Tidak masalah" ucapnya kemudian.
Elang yang juga ikut berhenti juga langsung menyentuh perut Dira yang masih terlihat rata "Kau harus baik-baik saja" Elang berucap.
Merekapun akhirnya kembali keApartemen mereka dengan menggunakan mobil yang dibawa Elang tadi,sedangkan mobil yang dikendarai Dira,mereka tinggal begitu saja di parkiran Apartemen.
***
"Tuan tidak bekerja?" Lyra yang baru saja kembali dari luar dengan membawa dua bungkus bubur ayam.
Dewa menggeleng,"Dari apartemen saja aku diusir,apa lagi jika aku berangkat kekantor,dia pasti akan langsung mendepakku,dari pada nanti malu jika dilihat para karyawan,lebih baik tidak usah kesana saja sekalian"
Lyra hanya menjawab oh tanpa suara kemudian menyerahkan satu bungkus bubur ayam untuk Dewa.
"Kontrakan mu kecil,tapi sepertinya lumayan nyaman" ucap Dewa sambil mengedarkan pandangan kesetiap sudut ruangan.
"Anda tidak terkejut melihat kontrakan seperti ini?" tanya Lyra heran.
Dewa menggeleng "Dulu kontrakan seseorang justru lebih kecil dari pada ini,dan ku perhatikan dulu dia juga merasa sangat nyaman. Dari pada tinggal dirumah yang besar tanpa penghuni,menurutku tinggal ditempat seperti ini terasa lebih hangat"
Lyra tersenyum mendengar penuturan Dewa tadi,ia tak menyangka seorang Dewa yang notabennya adalah anak orang kaya bisa mempunyai pemikiran yang sederhana.
"Ceritakan kehidupanmu" ucap sambil menyendokkan bubur kedalam mulutnya.
Lyra tersenyum,kemudian mulai bercerita.
"Aku dua bersaudara,aku anak pertama memiliki adik perempuan bernama Nindya"
"Saat aku baru masuk kuliah,tiba-tiba ayahku meninggal,beliau meninggal secara mendadak padahal tidak ada tanda-tanda sakit atau semacamnya"
"Setelah kepergian Ayah,kehidupan ekonomi kami juga semakin sulit,ibuku harus bekerja banting tulang untuk biaya kuliahku serta sekolah adikku,karna sudah terlanjur mendaftar kuliah mau tidak mau aku harus melanjutkannya"
"Jadi karna itu,kamu bekerja disana?" Dewa bertanya.
"Ya,disana gajinya lumayan,apalagi kalau ada tips dari pelanggan yang berbaik hati".
" Ku harap kau tidak akan lagi bekerja disana"
"Tidak akan Tuan,anda sudah membantu saya keluar dari sana,jadi saya akan mencari pekerjaan yang baik"
"Setelah aku menyelesaikan urusan dengan kakaku,kau bisa melamar bekerja di perusahaan Hermawan" ucap Dewa.
"Apa tuan Elang akan memaaf kan anda tuan?"
"Hm" Dewa mengangguk "Setelah emosinya reda,aku yakin dia akan memaafkanku" ucap Dewa,kemudian menghabiskan sarapannya.
next?
__ADS_1
like n coment please...