Istri Kesayangan Chef Tampan

Istri Kesayangan Chef Tampan
tujuhpuluh


__ADS_3

Mama Mary melajukan mobilnya, Dengan Dira duduk disampingnya sedang kan Lyra duduk di belakang.


"Kita akan kemana Ma?" tanya Dira memecah keheningan.


"Kalau menurut kamu kita kemana sayang?" Mama Mary berbalik bertanya.


"Jadi mama belum menentukan tujuan kita?" ujar Dira.


Mama Mary terkekeh "Mama cuma kepikiran mau ajak kalian keluar aja,belum tau mau kemana" ucap Mama Mary sesekali melirik pada Lyra dari kaca spion.


Dira mengembangkan senyumnya, dari ucapan mama Mary,beliau sepertinya sudah menerima kehadiran Lyra.


"Bagai mana kalau kita ke mall saja ma?" Dira memberi usul.


"Benar juga,sepertinya kita sudah lama juga tidak shoping bersama" ucap Mama Mary,kemudian melajukan mobilnya menuju mal terbesar disana.


Mama Mary merasa sangat senang hari ini, Lyra yang tadinya malu-malu sekarang sudah mulai membuka diri kepada Dira dan mama Mary.


"Ternyata mbak Dira benar,mama Mary sangat ramah" ucap Lyra ketika mama Mary pamit untuk ke toilet.


Kini mereka sedang berada di salah satu restoran didalam mal untuk makan siang bersama,sekaligus beristirahat setelah berkeliling untuk memburu barang baru.


Dira ingat tadi saat mama Mary sedang berbelanja dengan Lyra.


Flash back on,


Beberapa jam yang lalu...


"Apa Dewa memberimu kartu?" tanya mama Mary yang sedang memilih beberapa sepatu.


"eh?" Lyra yang ditanya terlihat ling lung tak mengerti.


"Huft...dasar anak itu,pasti tidak memberimu uang belanja kan" gerutu mama Mary dengan menepuk dahinya sendiri.


Sedangkan Lyra hanya menampakkan senyum canggungnya,terlihat bingung bagai mana harus menutupi kesalahan Dewa.


Flash back off,


Dira menggelengkan kepalanya sendiri saat mengingat ucapan mama Mary tadi.


Karna yang mama tanya kan sama seperti dua tahun lalu saat Dira baru menjadi istri Elang.


"Dulu mama juga menanyakan hal yang sama pada ku" ucap Dira kemudian meminum jusnya.


"Terus mbak Dira jawab apa?" tanya Lyra kemudian.


"Tentu saja aku memperlihatkan kartu yang Elang berikan sebelumnya".


" Ihhh...curang sekali"Lyra dengan bibirnya yang mengerucut.


"Hehe...kau tau Elang itu lebih mengerti diri ku bahkan dari diri ku sendiri" Dira menyombongkan suaminya, dan yakin lah jika Elang mendengarnya pasti kepalanya akan bertambah besar dua kali lipat.


"Beruntung sekali"

__ADS_1


"Tentu saja...bukan aku yang beruntung,tapi dia yang beruntung" bisik Dira pada kalimat terakhirnya.


"Tuan Elang sepertinya begitu mencintaimu mba".


" Kau fikir begitu?" Lyra mengangguk "Aku juga berpikir seperti itu".


" Kulihat Tuan Elang begitu dewasa"


"Ya,itu karna umurnya... kau tau, dia itulebih pantas menjadi om ku" Dira terkekeh.


"Om ganteng ya mba?" Lyra menimpali


Mereka pun tertawa bersama.


"Bagai mana dengan Dewa mu?".


Lyra tersenyum getir " Tuan Dewa masih dingin terhadap ku" lirihnya.


"Bersabar lah...kamu sudah mendapat dukungan dari mama,jadi hubungan kalian pasti akan berhasil" hibur Dira.


Tak lama kemudian,Mama Mary kembali dari toilet.


"Kita pulang sekarang ya?" ucap mama Mary yang baru saja sampai.


"Kenapa ma?" tanya Dira.


Sesaat mama terlihat menghela nafas "Suami mu sudah pulang,dan di dengan keras meminta mama untuk segera mengembalikan mu" ucap Mama dengan nada kecewa.


"Mengembalikan? memang Dira barang?" protes Dira saat mama memakai kata tersebut.


Mereka pun kembali dengan mama Mary diapit oleh kedua menantunya yang berjalan disisi kanan dan kirinya.


***


"Mama mau mampir dulu?" ucap Dira setelah keluar dari mobil mama Mary.


Sesaat mama Mary melihat kearah mansion yang dulu pernah ditempatinya "Tidak usah sayang, lain kali saja" jawab mama Mary dibalas dengan anggukan dari Dira.


"Lyra,kamu pindah depan dong" ucap mama Mary beralih pada Lyra yang masih duduk di bangku belakang.


Lyra menurut,kemudian berpindah di jog depan disebelah mama Mary.


Dira melambaikan tangannya saat mama Mary hendak melajukan mobilnya.


Setelah mobil mama Mary sudah tidak terlihat, maka Dira pun memasuki


mansionnya.


"Sudah pulang" Elang menyambut kedatangan Dira dengan memeluk wanita itu kemudian mengecup pelipisnya.


"Harusnya aku yang tanya" ucap Dira "Tumben jam segini sudah pulang".


" Kangen" jawab Elang semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Ada apa tuan?" tanya Dira yang merasa aneh dengan sikap suaminya.


Elang terkekeh karna merasa sepertinya dia memang tidak pantas berperilaku manja seperti itu.


"Baiklah...tidak lagi" Elang mengangkat kedua tangannya.Ia tidak akan lagi menjadi sosok berbeda.


"Kau sudah makan?"Dira mengalihkan.


"Belum,aku menunggu mu" kembali Elang memeluk pinggang istrinya.


"Sudah jam berapa ini? kenapa tidak makan dulu!" kesal Dira,ia selalu heran dengan suaminya,karna Elang terlalu fokus akan pekerjaannya sehingga melupakan hal kecil sepertu makan.


Elang hanya menjawab dengan menaikan pundaknya,seolah ia memang tidak begitu peduli dengan isi perutnya.


"Baiklah akan aku siapkan" ucap Dira akhirnya,ia kemudian hendak menuju dapur.


Namun tangannya terlebih dahulu dicekal oleh Elang.


"Tapi aku tidak ingin makanan rumah"jelas Elang dengan pandangannya menuju mata Dira.


Dira mengernyit, apa mungkin Elang menginginkan sesuatu seperti beberapa hari yang lalu? ia menginginkan makanan seperti seakan dia lah yang sedang mengidam,padahal yang mengandung adalah Dira tapi Elang yang banyak mau nya. Batin Dira.


Dira menghela nafasnya"Baiklah tuan anda ingin makan dimana?" tanya Dira akhirnya.


Elang memeperihatkan senyum semirk nya "Tentu saja dikamar" ucap Elang "Aku ingin memakanmu"bisik Elang di telinga Dira.


"Astaga El!" pekik Dira saat Elang tiba-tiba menggendongnya ala bridal style "Ini masih siang El" Dira mencoba bernegosiasi.


Ia mengedarkan pandangannya, menyusuri setiap sudut ruangan,takut jika ada maid yang akan melihat mereka.


"Benarkah?" Elang melihat kearah jendela "Tapi bersama mu,kenapa rasanya tampak seperti malam terus ya?" goda Elang yang masih dengan menggendong Dira menuju kamar mereka.


"Oh ya?" Dira menaikan sebelah alisnya.


"Hemm" Elang mengangguk.


Dira terkekeh kemudian mencubit dada Elang yang menempel padanya.


"Sekarang pandai sekali menggombal" Dira mencubit gemas.


"Awww" Elang berpura-pura meringis kesakitan."Hanya padamu sayang" ucap Elang kemudian mengecup bibir ranum Dira.


Elang membawa Dira masuk kedalam kamar,kemudian membaringkannya diatas ranjang king size nya.


Dan aksi Elang pun dimulai...


Seperti itulah kehidupan rumah tangga mereka.


Rumah tangga yang tadinya dibangun dengan keterpaksaan pun pada akhirnya akan mencapai kebahagiaan.


Selama salah satu memiliki keinginan yang kuat untuk mempertahankannya maka pihak satu lagi tetap akan luluh dengan seiring nya waktu.


Seperti pepatah jawa mengatakan 'witting tresno jalaran soko kulino'. cinta akan datang seiring berjalannya waktu tanpa diminta dan tanpa dipaksa,ia akan memasuki hati itu sendiri bahkan tanpa diperintah...

__ADS_1


End...


__ADS_2