
Karna tidak ada kerjaan,Dira hari ini memutuskan untuk datang ke mansion Hermawan,sekaligus ingin melihat keadaan ayah mertuanya.
Kini Dira dan Elang memang sudah tidak tinggal disana lagi semenjak Dewa kembali ke mansion tersebut.
Elang meminta agar Dewa tinggal dimansion dengan Lyra agar membantu penyembuhan papa Adrian.Sedangkan Elang, tinggal di apartemennya bersama Dira.
"Mbak" Lyra menyambut kedatangan Dira dengan memeluk wanita tersebut.
Dira membalas pelukan Lyra, "Bagai mana keadaan papa?" tanya Dira kemudian setelah pelukan mereka terlepas.
"Semakin baik,sekarang papa sudah bisa berjalan sendiri walau masih dengan bantuan tongkat" jawab Lyra yang mengukuti langkah Dira menuju taman belakang.
Sesampainya ditaman belakang, Papa Adrian tengah duduk di kursi kayu yang tersedia disana,terlihat beliau sedang menikmati udara pagi ini yang terasa segar.
"Dira,kemarilah" ucap papa Adrian saat menyadari kedatangan Dira.
Dira mengangguk kemudian berjalan menuju dimana papa Adrian berada.
"Duduklah" Papa Adrian meminta agar Dira duduk dikursi yang ada di sampingnya.
"Bagai mana kabar papa hari ini?".Setelah Dira mendudukan bokongnya diatas kursi.
"Sangat baik,papa sudah tidak sabar ingin segera bisa bermain dengan cucu papa" jawab papa Adrian sambil mendongak,seolah membayangkan sedang bermain bersama cucunya.
Dira tersenyum melihat papa Adrian yang begitu antusias menanti kehadiran cucu pertamanya.
"Pasti papa akan lebih senang jika bertambah satu cucu lagi dari Dewa dan Lyra" ucap Dira.
Namun senyum papa Adrian tiba-tiba menghilang dari wajah tua nya.
Dira mengerutkan keningnya,melihat ekspresi papa yang tiba-tiba berubah. Apa papa masih belum menerima kehadiran Lyra.batin Dira.
Dira melirik kearah Lyra yang baru saja datang dengan nampan berisi jus jeruk.
"Terima kasih" ucap Dira pada Lyra setelah wanita itu meletakan jus itu diatas meja depan Dira.
__ADS_1
"Iya mba" jawab Lyra kemudian kembali kedalam mansion.
Dira ingin mengajak Lyra bergabung,namun sepertinya papa Adrian agak sungkan terhadap Lyra.
Setelah beberapa saat mengobrol dengan papa Adrian,Dira kemudian masuk kedalam mansion untuk berpamitan dengan Lyra.
Karna tak ada sahutan dari Lyra,Dira kemudian naik ke lantai dua untuk mencari keberadaan Lyra di kamarnya.
Dira langsung masuk kedalam kamar Lyra,karna pintunya yang tidak tertutup.
Senyum terpancar diwajah Dira saat wanita itu melihat Lyra yang tengah serius dengan pensil dan kertasnya.
"Sedang apa?" pertanyaan Dira membuat Lyra terkejut.
"Oh,mba...aku sampai nggak sadar kamu kesini" ucap Lyra yang langsung berdiri menyambut kedatangan Dira.
"Maaf,aku nggak salam dulu sebelum masuk,kau terlihat serius sekali"
"Iya,ada apa ya mba?" tanya Lyra.
Lyra tersenyum malu "Cuma iseng mba,Sebenarnya dulu pernah sekolah desain,cuma nggak selesai karna harus membiayai adik sekolah" tutur Lyra.
Dira manggut-manggut memperhatikan desain baju anak-anak yang dibuat Lyra "Gimana kalau kita bikin butik kecil-kecilan? khusus untuk baju anak-anak,dan nanti kamu yang mendesain bajunya?" tanya Dira tiba-tiba.
"Memang nya boleh sama Tuan Elang?". Tanya Lyra ragu dengan usulan Dira
" Ya..." benar juga ya? " ya,nanti aku coba minta izin sama dia" ucap Dira yang juga merasa ragu untuk meminta izin pada suaminya. Karna Elang sudah mewanti-wanti agar Dira tidak memikirkan pekerjaan,dan hanya boleh fokus pada kehamilannya saja.
Untuk tetap berkarir direstoran saja tidak diperbolehkan,apa lagi ini mau memulai bisnis yang sama sekali bukan bidangnya.
"Bagai mana rasanya?" Lyra beralih pada perut Dira yang terlihat membuncit,karna sudah menginjak usia enam bulan.
"Makanya kamu cepet-cepet nyusul,biar tau bagai mana rasanya" ucapan Dira seketika membuat Lyra tertawa. "Kenapa tertawa, bukan kah seorang anak adalah hal yang paling dinanti para pasangan yang sudah menikah?" Dira merasa aneh dengan ucapannya sendiri.
Memang benar,seorang anak adalah sesuatu yang pasti diinginkan oleh pasangan suami istri.Namun,dikehidupan Dira sebelumnya bukankah ia sendiri juga memilih untuk menunda momongan sebelumnya? lalu,bagai mana bisa Dira menasehati Lyra seperti itu. Ah...dasar,manusia memang hanya pandai memberi nasehat,sedangkan dia sendiri belum tentu bisa melakukannya.
__ADS_1
Lyra terdiam,ia berfikir sejenak "Apa mungkin bisa,aku memiliki anak seperti mu?" ucapnya kemudian.
Dira mengernyit "Tentu saja...bukankah setiap wanita mempunyai kesempatan yang sama?".
Lyra mengangguk lemah,padahal sejujurnya ia merasa ragu.karna memikirkan dosanya dimasa lalu sungguh membuatnya minder. Apa kah mungkin ia diberi kesempatan untuk itu?
" Yang penting kalian harus berusaha lebih sering lagi" ucap Dira dengan kerlingannya.
Sontak wajah Lyra memerah,ia bukan anak kecil yang tak mengerti apa maksud ucapan Dira. Dan tidak seperti yang Dira bayangkan Dewa bahkan hanya pernah menyentuh Lyra sekali saat di kontrakannya dulu,dan itu bahkan karna pengaruh minuman.
Sepertinya Dewa menikahinya hanya untuk memberinya status,dan bukan untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang selayaknya.
"Mmmm...." Lyra teelihat begitu ragu saat ingin menyamaikan sesuatu "Mba..."
"Iya?" Dira beralih dari kertas-kertas hasil dari desain Lyra pada wajah Lyra yang terlihat tegang "Ada apa?" tanya Dira kembali.
"Mmm...bagai mana cara mba Dira membuat tuan Elang yang marah agar tidak marah lagi?" tanya Lyra dengan suara yang begitu pelan,namun untunglah Dira masih bisa mendengarnya.
"Apa Dewa sedang marah padamu?" tanya Dira terkejut.
Lyra mengangguk pelan,ia hanya ingin tau bagai mana agar Dewa bisa tertarik padanya. Dan tidak mungkin kan kalau Lyra harus menceritakan kalau Dewa selama ini tidak menyentuhnya pada Dira.
"Eghm...!" Dira berdehem untuk menetralkan suaranya "Kurasa,sepertinya sifat Dewa itu hampir sama seperti Elang" ucap Dira "saat dia marah,kau coba saja rayu dia dengan baju sexi,itu pasti akan berhasil" lanjut Dira kemudian diiringi tawanya.
Lyra menatap tak percaya pada Dira, apa dia harus seagresif itu?
"Ya,tidak masalah untuk seorang istri bersikap agresif.itu kan juga demi menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga" ucap Dira yang seakan bisa menebak isi hati Lyra.
Tidak tau saja Lyra,bagai mana lika-liku rumah tangga Dira bersama Elang,jadi wanita itu mengangguk percaya saja dengan ucapan Dira.
Namun wajah Lyra terlihat tak bersemangat membuat Dira tidak mengerti "Kenapa?" tanya Dira.
"Mungkin jika yang melakukannya adalah mba Dira,Tuan Dewa tentu pasti akan luluh, karna seperti yang mba Dira ucapkan, Sifat Tuan Elang dan Tuan Dewa itu sama,sehingga tipe wanita yang mereka sukai pun juga sama yaitu mba Dira" ucap Lyra menunduk.
Dira mengusap pundak Lyra "Kau tau,Setau ku Dewa bukanlah orang yang akan membuat keputusan tanpa berfikir...dia menikahi mu pasti ada alasan yang bahkan kamu sendiri tidak akan menyangkanya. Dia tidak akan melangkah sejauh ini jika hanya untuk bermain-main" tutur Dira menenangkan perasaan Lyra.
__ADS_1