
"Dhirendra Pradygta,sepertinya bagus" ucap Elang setelah berpikir begitu keras.
"Dhirendra itu dari nama ku kan?" tanya Dira.
Elang menjawab dengan anggukan.
"Nggak bikin yang gabungan dari nama kita?"
"Nggak,kan sudah ada nama Pradygta disana" jawab Elang.
Dira menjab oh tanpa suara.
Mama Mary mengangguk tanda setuju dengan nama yang Elang berikan untuk bayinya.
"Jangan lupa tambahkan nama Hermawan dibelakangnya" sahut papa Rian yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
Semua mata tertuju padanya.
"Tidak,seperti juga aku,anak ku juga tidak akan menggunakan nama itu" Elang berucap menolak usulan papa Rian.
Papa Rian menatap Elang "Walau kau mengingkarinya,tapi darah keturunan Hermawan ada padanya" ucap papa Rian ngotot.
Elang memandang kearah papa Rian dengan sorot tajam,Suasananya terasa bertambah tegang.
"Papa,mas Elang pasti akan menambahkan nama itu kepada anaknya" ucap Dira berusaha mencairkan suasana.
Elang beralih menatap Dira dengan tatapan tidak suka dengan usul istrinya tersebut.
"Bukan kah itu hanya nama?tidak masalah jika hanya menambahkan satu atau dua kata kan?" bisik Dira pada Elang sambil mengusap dada suaminya agar Elang merasa lebih baik.
Baiklah,Elang mengalah karna bagaimana pun Dira lah yang paling berhak menentukan karna bayinya tidak akan terlahir jika tanpa Dira.
Setelah perdebatan masalah nama beberapa waktu lalu,kini sudah saatnya untuk Dira pulang meninggalkan rumah sakit.
Dan kini ia sudah berada didalam mobil bersama Elang disampingnya.
"Kenapa kita tidak satu mobil saja dengan mama dan ibu?" tanya Dira,pasalnya kini mereka hanya berdua saja didalam mobil tersebut.
Sedangkan bayinya berada dimobil lain bersama nenek-nenek nya,yaitu Mama Mary dan Ibu Any.
"Kita butuh waktu berdua sayang" ucap Elang dengan senyuman diwajahnya.
Dira memperhatikan laju mobil tersebut "Eh,ini bukan jalan menuju apartemen kan?" tanya Dira yang baru sadar jalan yang mereka tempuh ternyata berbeda.
Elang tak menjawab,dia hanya kembali mengulas senyum sebagai jawaban.
Sampailah mobil mereka didepan gerbang tinggi berwarna putih,setelah medekat gerbang itu secara otomatis terbuka.
Dira bahkan sempat merasa takjup dengan hal kecil tersebut "Kita mampir ketempat siapa dulu ini?" tanya Dira penasaran karna selama ini dia memang tidak pernah dibawa Elang untuk berkunjung kerumah teman-teman Elang.
Mungkin ini rumah Marcel atau nggak rumah Diaz,pikir Dira.
__ADS_1
Dira semakin takjup dengan bangunan dihadapannya,begitu mewah dan berkelas,semua perabotan tersusun begitu elegant.
Elang membawa Dira menuju taman yang berada di mansion tersebut.
Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat semua kerabat dan teman-teman sudah ada disana,bahkan ada bapak dan Nissa juga disana.
"Ini?" Dira berucap tak percaya menatap pada Elang.
"Welcome home...Pesta kecil untuk menyambut kepulanganmu dan sikecil" ucap Elang,kemudian mengajak Dira untuk bergabung bersama mereka.
"Lalu dimana Ren?" Dira menanyakan bayinya yang akan ia panggil dengan Ren.
Elang menunjuk satu tempat dengan menaikan dagunya,diasana ada mama Mary,mama Any juga teman-teman Dira sedang berebut ingin menggendong sikecil.
Senangnya hati Dira saat ini,bahkan ia hampir meneteskan air matanya karna merasa begitu bahagia.
"Jangan nangis" ucap Elang yang sepertinya tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu.
Setelah beberapa saat berbincang dengan para tamu,kini Elang membawa Dira menuju kamar mereka "Bagai mana menurutmu?" tanya Elang berjalan sambil menautkan tangannya pada pinggang Dira.
"Tentang?"Dira balik bertanya karna tidak mengerti maksud Elang.
"Mansion ini"
Dira memperhatikan sekeliling "Sangat indah" ucapnya dengan mata berbinar.
"Ada tiga lantai,lantai pertama untuk ruang tamu,dapur,ruang makan dan ruang bersantai" Elang menunjukan isi rumah barunya.
"Lantai dua,ada kamar tamu dan kamar untuk anak-anak kita kelak".
Mendengar kata 'anak-anak' Dira langsung menghentikan langkahnya. Sepertinya itu bermaksud Elang ingin memiliki banyak anak?entahlah.
" Dan untuk lantai tiga adalah lantai khusus untuk kita" Elang berhenti kemudian menekan sebuah tombol.
Dan sebuah pintu terbuka,ternyata itu adalah pintu lift.
Elang menarik pinggang Dira yang masih terdiam untuk masuk kedalam lift tersebut.
"Istirahat lah,kamu pasti lelah" ucap Elang setelah mereka sampai di kamar utama.
Dira masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi padanya.Ia berjalan menuju balkon,dari sana ia bisa melihat para tamu yang masih ada ditaman tersebut.
Elang mendekat kemudian memeluk Dira dari belakang.
"Tanah beserta bangunan ini ku atas namakan dirimu,sebagai hadiah atas kelahiran anak kita" ucap Elang mengecup kepala belakang Dira.
"Benarkah?" ucap Dira tak percaya.
Elang mengangguk.
"Waahhh...tuan chef royal sekali"godanya.
__ADS_1
" Ya,setiap kamu melakukan sesuatu yang membuatku senang,aku akan memberi reward untuk mu"
Dira melepaskan pelukan Elang,kemudian berbalik menghadap pada suaminya tersebut.
"Kenapa? dari tatapanmu sepertinya kamu tidak percaya". Elang.
" Ck...bukan kah sudah dua tahun aku selalu membuatmu senang Tuan chef?" ucap Dira "Diatas ranjang" Bisiknya menggoda.
"Hahaha...jangan memancingku". Elang memberi peringatan.
" Tidak,mana mungkin aku berani" Dira melambaikan kedua tangannya cepat.
"Tapi serius,aku akan memberimu reward setelah kamu melahirkan anakku"Elang memeluk istrinya " Jadi,bersiaplah untuk melahirkan banyak anak untukku".
"Kalau begitu aku harus bersiap-siap untuk membuatmu bangkrut tuan chefku yang tampan" canda Dira kemudian mengeratkan pelukannya. "Dan kau juga harus persiapkan mental,karna jika kamu berani berbuat nakal, maka bersiaplah untuk tidur diluar" Dira memberi peringatan.
"owh...kalau begitu aku tidak berani" ucap Elang kemudian tertawa bersama.
Semua orang merasa bahagia atas kelahiran putra pertama Elang dan Dira.
Sampai-sampai orang yang berada dibawah masih berebut untuk berfoto dan menggendong sikecil.
Waktu berlalu begitu cepat,Elang akhir-akhir ini begitu sibuk dengan pekerjaannya,beruntung Dira ada bulek Siti untuk menjaga sikecil Ren.
Bahkan hari ini,ia masih bergelut dengan laptop yang masih menyala diruang kerjanya.
Karna begitu fokus,saat Dira masuk kedalam ruangan tersebut pun Elang tidak menyadarinya.
Dira menutup layar laptop Elang,membuat lelaki itu sontak terkejut.
"Kau-"
"Sudah begitu larut,kau tidak lelah?" Dira mengalungkan tangannya pada leher Elang.
Elang menghela nafasnya,mati-matian ia bekerja dari pagi hingga larut hanya untuk menghindari Dira,bahkan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh bawahannya, kini ia sendiri yang turun tangan,karna dia tau dia belum boleh menyentuh istrinya.
Dan ini?apa-apaan ini? kenapa Dira malah menggodanya.
Elang memijit pangkal hidungnya,sungguh ini benar-benar menyiksanya.
Dira semakin berani kemudian duduk dipangkuan Elang."Tidak ingin berbuka?" ucapnya dengan nada menggoda.
"Sudah boleh?" tanya Elang memastikan.
Dira mengangguk diiringi senyum yang merekah.
Ternyata bukan hanya Elang,Dira pun begitu rindu dengan sentuhan itu.
Mereka menghabiskan malam itu hanya untuk berdua,sejenak melupakan rasa letihnya bekerja dan mengasuh buah cinta mereka.
Kehidupan mereka berakhir bahagia,dan saling berjanji untuk menjaga cinta juga kesetiaan hingga menua bersama.
__ADS_1