
Elang membawa Dira kesebuah pantai,dan menghabiskan waktu disana dengan menikmati buah kelapa dibibir pantai.
"Kau senang?" tanya Elang yang dari tadi melihat senyum Dira tak memudar dari wajahnya.
"Hm" Dira mengangguk,"Jarang sekali kau mengajakku jalan-jalan".
"Kau sudah tidak marah?".
"Memang siapa yang marah" sangkalnya.
"Baiklah,kau tidak marah" Elang mengalah.
Usai dari pantai,Elang kembali membawa Dira menuju suatu tempat setelah mendapat sebuah notifikasi dari ponselnya.
"Kita akan kemana lagi?" Kini Mereka sudah berada didalam mobil,setelah sebelumnya pulang untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
Elang hanya diam tak menjawab.
***
"Wahhh...ternyata pergaulan seorang chef seperti ini juga?" Sindir Dira karna Elang kini membawanya ke sebuah club malam.
"Pastikan agar kau tidak mabuk lagi" ucap Elang datar kemudian menarik tangan Dira menuju sebuah ruang dengan bertuliskan VVIP pada pintu tersebut.
Ada dua pria yang sudah menunggu kedatangan Elang disana,masing-masing dilayani oleh dua orang wanita cantik dengan pakaian minim.
Dira memandang Elang dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mereka yang mengundangku,Diaz baru pulang dari london" ucap Elang pelan sehingga hanya Dira yang bisa mendengarnya.
"Yo...El...siapa gadis kecil ini?" Tanya seorang pria yang Dira tafsir usianya tidak jauh dari Elang.
Elang hanya diam dan teman nya yang satu lagi menyahut "Bukankah ini gadis yang dua tahun lalu menemanimu waktu peresmian hotel diSurabaya?" tanya pria itu yang Dira ingat bernama Marcel. "Ternyata kau bukan hanya chef yang bekerja diRestoran El ya? wah...wah...kau membohongiku waktu itu" ucap Marcel pada Dira.
Dira hanya diam mendengarkan,ia tidak begitu dekat dengan para teman-teman Elang.
"Jadi,kau masih bersama dengan gadis waktu itu El?" kini Diaz yang bersuara, dari tadi ia memperhatikan wajah Dira,karna seperti tak asing dengan gadis didepannya itu.
"Kau ingin terbang lagi keLondon?" Gertak Elang.
Masih ingatkah kenapa Diaz ke London? Ya,dia kabur setelah rencana pembiusan pada Elang dua tahun yang lalu,ia berani melakukan itu karna mama Mary yang menyuruhnya.Jika bukan atas permintaan mama Mary,mana mungkin Diaz berani mempertaruhkan persahabatannya dengan Elang.
"Tidak...tidak...aku tidak suka wanita bule, aku lebih suka wanita lokal" Diaz melambaikan kedua tangannya. "Seperti kamu babe" ucapnya pada kedua wanita yang duduk mengapitnya,kemudian mengecup pipi kedua wanita itu satu persatu.
Tentu perbuatan Diaz membuat Dira merasa risih.
__ADS_1
"Apa kau juga melakukan hal seperti itu jika kesini dan tidak ada aku?" bisik Dira pelan kepada Elang.
"Tentu saja tidak,apa kau pikir aku segila itu" Jawab Elang juga dengan berbisik.
"Jadi apa pasangan suami istri ini akan selalu berbisik-bisik saat berbicara?" ucap Diaz setelah melihat gelagat pasangan didepannya."Sayang,tuangkan minumannya pada gelas mereka" ucap Diaz pada salah satu wanita disampingnya.
"Untukku saja!" ucap Elang saat wanita itu hendak menuangkan anggur untuk gelas Dira "Beri dia jus jeruk saja!"
"Baik tuan" jawab wanita itu kemudian beranjak keluar untuk mengambilkan jus untuk Dira.
"Jadi,nona Elang tidak bisa minum?" kini Marcel yang bersuara.Dira hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Dia akan menggila jika mabuk" Elang yang menjawab.
Marcel melirik sekilas pada wanita yang kini duduk disamping Elang. "Semua gadi polos akan menggila jika sedang mabuk El" ucap Marcel dengan senyumannya.
Dulu saat pertama kali bertemu dengan Dira,Marcel tidak percaya jika Dira hanya seorang koki direstoran Elang,karna Elang yang ia kenal tidak akan sembarangan mengajak seorang gadis untuk mengunjungi sebuah acara.
Namun skandal cinta Elang yang diberitakan oleh media membuat Marcel mau tidak mau mempercayainya. Dulu bahkan dia sempat ingin mendekati gadis yang mengaku sebagai koki dari restoran sahabatnya itu.
Namun,entah mengapa tiba-tiba ayahnya menyuruh Marcel untuk mengurus cabang perusahaannya yang ada di Singapura.
"Apa dulu,kau juga yang membuat ku pergi dari indonesia?" Tanya Marcel.
Elang hanya diam dan menaikan kedua bahunya.
"Ayahmu tidak akan membiarkan anak laki-lakinya menghancurkan pernikahan orang lain Cel,apalagi sahabatnya sendiri"
"Sial" Marcel kembali mengumpat. "Bagai mana kau tau apa yang akan aku lakukan?".
"Aku selalu bisa mendengar apa yang ada dipikiranmu".
" Kudengar kau juga memindahkan koki mu ke cabang yang ada di Aceh?"tutur Marcel, dan itu membuat Dira begitu terkeju, Dira tau orang yang dimaksud Marcel adalah Niko,orang yang sudah Dira anggap seperti kakaknya.
Elang melihat raut wajah Dira yang terlihat berubah kemudian menjawab marcel "Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu istriku" ucapnya kemudian secepat kilat mengecup pipi Dira. "Maaf untuk hal itu" bisiknya ditelinga Dira.
"Kau memang yang paling berkuasa tuan, kau bisa membuat sekandal dengan para wanita diluar sana,sedangkan aku hanya ingin berteman saja bahkan tidak kau izinkan" Sindir Dira.
Elang tidak menjawab kemudian meneguk wine nya dalam sekali tegukan.
Berada diantara tiga pria matang ini benar-benar membuat Dira merasa tidak nyaman, ia memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar.
"Huft...apa hal-hal seperti itu yang para lelaki lakukan saat dibar? mareka bahkan membicarakan ku seakan aku tidak ada disana." Dira bertanya-tanya.
Dira membasuh wajahnya dengan air yang mengalir,kemudian membersihkan nya dengan tissunya.
__ADS_1
Setelah merapikan kembali penampilannya ,Dira kemudian kembali menuju ruangan tadi.
Saat membuka pintu,Dira terkejut karna tidak ada Elang diruangan tersebut.
Disana ada seorang pria dengan seorang wanita yang tengah duduk disampingnya.
"Maaf,sepertinya saya salah ruangan" Ucap Dira merasa bersalah.
Pria itu mendongak,dan menatap Dira.
Deg...
Dira tau siapa pria itu,kemudian buru-buru memutar tubuhnya.
"Wulan...!" panggil pria itu yang tidak lain adalah Dewa "Kau datang kemari untuk mencariku?" ucapnya dengan setengah mabuk.
Dira kembali membalik tubuhnya hingga kembali menghadap Dewa "Aku kemari dengan Elang,aku akan memanggilnya".
" Jangan lakukan itu" larang Dewa "Kemarilah" Dewa menepuk sisi sofa disebelahnya yang kosong.
Dira menghela nafasnya kemudian menuruti Dewa untuk duduk disampingnya, sedang kan sisi satunya ada seorang wanita menurut Dira begiti cantik.
"Lyra" wanita itu menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Dira" Dira menyambut baik uluran tangan wanita itu.
Lyra merasa aneh,karna tidal ada dari para kekasih pelanggannya yang bersedia menerima uluran tangannya.
"Tidak...dia Wulan,bukan Dira" Sahut Dewa. Dewa tidak suka ada yang memanggil Wulannya sebagai Dira,ia tidak rela karna Dira adalah istri dari kakaknya,sedangkan Wulan adalah kekasihnya.
"Sepertinya dia terlalu mabuk" ucap Dira pada Lyra "Apa dia sering kesini?" tanya Dira lagi.
"Aku orang baru disini,tapi yang ku dengar, dulu tuan Dewa hampir setiap malam datang kemari,namun setahuku selama aku bekerja disini,dia hanya kesini setiap hari minggu".
Dira mengangguk mengerti "Terima kasih".
" Apa kau kekasihnya?" Tanya Lyra memberanikan diri,karna kini Dewa sudah tertidur dengan kepalanya ia sandarkan pada bahu Dira.
"Bukan,aku kakak iparnya" jawab Dira cepat.
Lyra memperhatikan Dira secara seksama.
Dira mendorong kepala Dewa dengan pelan agar lepas dari pundaknya dan menyandarkan pada sandaran sofa.
"Aku akan memanggil suamiku agar dia membawa adiknya pulang" Dira hendak beranjak,namun tangan Dewa dengan erat memeluk pinggangnya. "Bisakah kau membantuku?" tanya Dira pada Lyra.
__ADS_1
next???
Like n coment please...