
Rita tersenyum senang sembari mengamati wajah Vera yang cantik."Cantik sekali anak mu jeng. Games deh." ucap Rita menampilkan gigi ratanya.
Aku memang cantik dari lahir kali Tan. Batin Vera memuji dirinya sendiri dengan seringai tipis di wajahnya.
Tanpa menunggu tawaran dari sahabatnya, mama Vera langsung to the point dengan keinginannya. "Jeng aku mau kebaya yang wah dan elegan buat anak semata wayang ku ini." ucap Sela yang langsung di angguki sahabatnya itu.
Rita tersenyum sembari memberikan jari yang berbentuk O berekor tiga. "Oke jeng, yuk kita ke atas" ajak Rita pemilik butik itu.
"Yuk sayang" ajak mama Vera. Dengan langkah malas Vera pun mengikuti mamanya dan pemilik butik.
Mereka pergi mengikuti langkah pemilik butik itu menuju ke lantai dua. Setelah sampai, Pemilik butik itu menampilkan berbagai varian kebaya mewah dan elegan, tentunya sangat pas di badan Vera. Para karyawan sangat sibuk mengeluarkan berbagai jenis kebaya ke hadapan Vera dan mamanya. Di lantai itu, Vera sibuk mencoba berbagai kebaya mewah yang di suguhkan kepadanya. Waktu Vera habis karena berulang kali mengganti bajunya.
"Gak cocok ni tan, di bagian dadanya sesak banget..." kesal Vera yang sendari tadi belum menemukan kebaya yang cocok dan pas dengan tubuhnya. Dia cukup kelelahan karena tak siap-siap berganti pakaian sendari tadi. Ini semua karena ulah mamanya, yang tentunya pemilik butik menjadi provokatornya.
"Buka bajunya yang salah sayang...Tapi dada kamu yang kegedean." ucap Sela senyum menggoda.
Rita tersenyum anggun. "Bagus dong Jeng, jarang-jarang loh ada anak gadis montok macam anak jeng." puji Rita mengakui keindahan dan kemolekan Vera.
"Iya jeng, anak saya ini rajin olahraga dan berenang. Mungkin karena hal itu yang membuat tubuhnya menjadi aduhai." ucap Sela tanpa di rem. Rita dan Sela tertawa. Hal itu membuat Vera menjadi malu. Vera memberikan sorot mata tak suka.
"B aja kali ma." ucap Vera dengan datar.
"Hhhhh...Anak kamu ini lucu ya jeng, anak orang di luar sana sangat suka dan ingin mempunyai badan dan dada yang indah seperti dirinya, tetapi sayang, anak jeng malah tidak mau mempunyai dada yang gede. Hhhhhh." tawa Rita di ikuti Sela yang merasa lucu dengan anaknya. Vera hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Biasa jeng, anak saya memang lain dari pada yang lain. Hhhh." ucap Sela lagi-lagi tertawa. Vera menjadi bahan lelucon kedua wanita paru baya itu.
"Mama" kesal Vera pada mamanya.
Sela menepuk pelan bahu sahabatnya, sembari mencoba menghentikan tawanya. "Sudah jeng, nanti anak saya merajuk. Auto nggak jadi nikah nanti." bisik Sela di iringi sedikit gelak tawa.
"Hhhhh...Ok jeng" balas Rita tersenyum lucu.
Akhirnya Vera melanjutkan mencoba berbagai kebaya lainnya, tetapi tetap saja tidak ada yang cocok. "Gak ada yang cocok jeng, kalau di desain dan di jahit ulang masih sempat nggak jeng? akadnya besok jeng." tanya Sela menatap serius ke arah Rita.
Rita tersenyum lalu mengangguk. “Tentu bisa jeng" Rita mengangguk tanpa memudarkan senyumnya. Akhirnya Vera dan Sela setuju dengan desain ulang dari pemilik butik itu.
__ADS_1
Ahh...akhirnya siap juga. Batin Vera jenuh.
Setelah selesai dengan urusannya. Vera dan Sela memutuskan pulang. Vera berjalan di belakang mamanya. "Jelek-jelek banget sih ma gaunnya! malah nggak ada yang muat lagi di dadanya." ucap Vera mengatai kebaya- kebaya yang di kenakan nya tadi. Sela hanya menggeleng lemah.
"Nggak boleh begitu sayang. Bukan kebayanya yang salah, tapi dada kamu yang ke gedean." ucap Sela tersenyum menggoda.
Vera melengos kasar mendengar itu. "Is mama" ucap Vera menampilkan wajah cemberut. Mama Vera terus berjalan tanpa menghiraukan ucapan Vera. Merekapun pulang ke kediamannya. Setelah sampai di rumah, Vera memilih mengurung diri di kamarnya, sedangkan mamanya sibuk mengurus acara untuk besok. Terlihat tubuh berlemak Vera tidur terlentang menghadap langit-langit kamar.
"Ya Allah... pusing banget kepala ku." keluh Vera sembari memegang kepalanya.
Vera segera bangkit dan duduk di kasurnya. "Bisa mati berdiri aku kalau di rumah terus." ucap Vera sebal dengan keadaannya saat ini. Untuk menghilangkan kejenuhan nya, Vera pun melakukan banyak kegiatan di kamarnya, seperti berendam, membaca novel, luluran, maskeran, senam, menonton tv, dll.
"Huh, capek juga ya" keluh Vera mengelap peluh di dahinya. Posisinya setengah berdiri sembari memegang lutut dan pinggangnya.
Mandi lagi lah aku. Batin Vera. Kali ini Vera tidak berendam, melainkan mandi menggunakan shower.
The real Vera mandi kodok, sekali celup langsung siap. "Siap juga, Ahh...seger..." ucap Vera ketika keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih fresh dan tenang setelah mandi.
Bosan Kalilah aku! Batin Vera jenuh sembari mendekat ke jendela kamar.
Vera turun dengan cara mengendap-ngendap seperti maling. "Aman" ia tertawa senang ketika melihat suasana rumah yang sepi. Tak ingin membuang waktu, dengan segera Vera bergegas menuju garasi rumahnya lalu mengeluarkan motor beatnya.
Beruntung banget sih aku, pagar rumah terbuka. Yes... Batinnya kesenangan.
Suasana sangat memihak kepada nya. Akhirnya tanpa menunggu lama, Vera segera bergegas melajukan kereta Beatnya. Vera berhasil keluar dan menjauh dari rumahnya. Gadis itu bersorak senang. "Yuhuy... akhirnya. Hhhh." Vera tertawa menampilkan gigi putihnya. Benar- benar kebahagiaan yang luar biasa bagi seorang Vera.
Setelah keluar dari komplek graha di kediamannya, Vera melajukan motor beatnya ke arah mall. "Mall tempat yang enak buat menghilangkan bosan ya. Hhhhh" ucap Vera berbicara sendiri. Vera fokus pada jalan di depannya tanpa menyadari sendari tadi ada sebuah mobil yang mengikutinya.
"Eeeee... Apaan sih ni mobil." umpat Vera yang berhenti mendadak karena di berhentikan oleh mobil hitam yang mengikutinya. Kini posisi Vera dan mobil itu sejajar.
"Woy" teriak Vera seperti orang kesetanan.
Pintu kaca mobil itu turun secara perlahan, dan menampilkan sesosok pria Gendut berbaju putih dan bersorban, tak lupa kaca mata hitam dan sedikit berewok di wajahnya. Sepertinya pria ini bukan berasal dari indonesia. Dari penampilannya terlihat seperti orang Arab.
Orang Arab mana ni yang nyasar ke sini. Batin Vera bingung ketika melihat pengendara mobil yang menggunakan sorban Arab, ya itu orang Arab asli.
__ADS_1
Pria gendut itu memulai percakapan. "Assalamu'alaikum” ucap pria Arab itu sembari melambaikan satu tangannya pertanda hormat.
Vera menjawab dengan nada datar. "Wa'alaikumussalam" Balas Vera dengan wajah kesal.
إذن للسؤال"
( izin bertanya)" ucap pria Arab itu.
Ni orang ngomong apa?! Batin Vera bingung dengan bahasa yang di lontarkan pria Arab itu.
هل تعرف هذا العنوان"
(apakah kamu tau alamat ini?)" tanya pria Arab itu lagi sembari memberikan selembar kertas yang berisikan sebuah alamat.
Oh nanyak alamat rupanya. Batin Vera baru paham.
Vera mengangkat tangannya lalu menunjuk ke arah depan. "Terus aja ini Wak" ucap Vera pada pria Arab itu.
“Arabic-Arabic" ucap pria Arab itu tak mengerti dengan ucapan Vera.
Aduh aku nggak bisa bahasa Arab lagi! O iya aku tau cara jelasinnya. Batin Vera senang karena tau bagaimana cara menjelaskan nya.
"Hm..hm." Vera berdehem sesaat untuk menetralkan dirinya yang kaku. Ia pun segera memberitahu alamat yang di pegang nya saat ini.
"Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm...(Tunjukilah kami jalan yang lurus)", ucap Vera menjelaskan dengan gerakan tangan seperti peta (menunjukkan kelok jalan ke alamat itu).
"Siraatal-laziina an'amta 'alaihim... ghayril-maghduubi 'alaihim, wa lad-daaalliin ((yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat)." ucap Vera dengan sangat pd. Vera tersenyum bangga karena telah berhasil menjelaskan alamat yang di tanya pria Arab itu.
Eh kenapa uwak ini?! Batin Vera bingung ketika melihat orang Arab itu terpelongok dan terdiam.
Orang Arab itu menurunkan kaca mata hitam nya, lalu mengedipkan matanya berulang kali, tak lupa mulutnya yang menganga lebar, pertanda tak percaya dan tak mengerti dengan ucapan Vera.
Uda gila ku rasa uwak ini, Cabutlah aku. Batin Vera mulai takut.
Vera pun mengembalikan alamat itu dan mengucapkan salam. Lalu mulai menjalankan kereta Beatnya dengan sedikit kencang, takut sih pengemudi Arab tadi mengejarnya. Pengemudi Arab itu masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1