
"Dek" Lili sangat malu saat ini. Bahkan setelah Vera sudah duduk di tempat nya, ia masih setia berdiri di samping meja Vino. Ia tak tau harus melakukan apa, pergi atau tetap berada di sana. Hatinya sangat-sangat bimbang.
"Duduklah." terdengar suara barinton nan dingin Vino. Mata tajam itu sesekali melirik wanita culun di samping nya.
Kenapa dia bisa berpenampilan seperti ini? apa dia tak malu di katakan culun sama orang-orang? bukankah dia kaki tangan pemilik butik terkenal ( Vio Collection). Seharusnya ia bisa menjaga penampilan nya karena yang datang kesana buka orang sembarangan. batin Vino dengan mulut yang mengunyah seafood nya dengan sorot mata yang terus-menerus melirik Lili.
"Ba-baik tuan." ucapnya gugup dan langsung duduk di kursi yang sedikit jauh dari Vino.
Terjadi keheningan di meja itu, beberapa menit diam di sana, tiba-tiba saja datang satu pelayan mengantar beberapa menu seafood untuk Lili. Lili yang merasa tak memesan apapun terlihat bingung dengan mata yang melirik ke arah Vera. Dari ujung sana terlihat Vera tersenyum senang sembari memperlihat kan ibu jarinya pada Lili. "Makanlah," terdengar suara barinton lagi dari pria dingin di depannya.
Kenapa jadi menyeramkan begini! batinnya bergidik ngeri dengan suasana saat ini. Wanita culun itu memegang tengkuk nya yang sedikit merinding dengan mata yang melirik Vino sesaat.
Karena tak ingin membuat suasana semakin mencekam, Lili segera menyantap makanan yang telah di hidangkan di depannya. Lili yang biasanya makan dengan bar-bar kini terlihat anggun di depan Vino. Sudah cukup orang mengatakan penampilan nya culun tetapi sikapnya jangan ikut culun. Begitulah yang ada di fikiran nya. "Maaf tuan." ucap Lili di sela-sela makannya. Wajahnya tak berani melihat ke arah Vino, bahkan kaca matanya ia biarkan sedikit turun disebabkan memandang ke bawah.
"Hm," dehem Vino tak ada basa-basi nya. Saat ini Lili merasa Seperti menguji nyali ke tengah kuburan di malam Jum'at. Mungkin saja wanita culun itu menyamakan Vino dengan makhluk halus.
Di meja yang tak jauh dengan Vino dan Lili, terlihat Vera berbicara panjang lebar mengenai dua orang yang ia lihat. Drag sampai bosan dan kewalahan mendengar cerita Vera yang tak ada henti-hentinya. Jika telinganya bisa di bongkar pasang, mungkin Drag akan melepaskan nya. "Lihat Mas," tunjuk Vera di sertai suara hebohnya.
"Biarkan saja," ucap Drag dengan nada datarnya lalu meneguk jus jeruk milik Vera.
"Manis sekali jus jeruk ini sayang, tetapi lebih manis dirimu sayang ku." gombal Drag di tengah kehebohan Vera melihat sepasang manusia di depannya itu.
"Mas diam dulu," ucap Vera membekap mulut Drag membuat pria itu badmood dan tak semangat lagi merayu Vera. "Sepertinya mereka sangat serasi, jika di buat novel, cocoknya apa ya judulnya?" tanya Vera menatap Drag yang terlihat ngambek ke arahnya.
"Tak tau!" ketusnya membuat Vera memanyunkan bibirnya.
"Masa mas nggak tau sih," ucapnya mendorong bahu Drag dengan pelan.
"Apa ya? huh, aku tahu!" ucapnya refleks berteriak membuat banyak mata melirik ke arahnya.
"Vera!" gawat jika Drag sudah memanggil Vera dengan menyebut namanya.
Pasti mas Drag ngambek. Aduh Vera,,,ayo belajar dewasa. Batinnya sembari mengetuk-ngetuk kepalanya berulang kali dengan pelan.
__ADS_1
"Jangan di pukul." perintah Drag menatap tajam ke arah Vera yang terkekeh ke arahnya. Dengan cepat Drag menjauhkan tangan Vera dari kepalanya lalu mengelus bekas pukulan itu dengan lembut. "Ingat Vera, jangan pernah menyakiti diri sendiri walaupun itu hanya bercanda. Paham!" ucap nya dengan tegas membuat Vera mengangguk nurut.
"Maaf sayang,,,eh, Mas," ucapnya membuat mood Drag kembali.
"Apa-apa? coba ulang?" tanya Drag mendekat kan telinganya ke dekat bibir Vera.
"Bilang apa?" balas Vera pura-pura lupa dengan apa yang ucapkan barusan.
"Yang tadi,,," ucap Drag sedikit memaksa.
"Sa-sayang?" ucap Vera menatap manik mata Drag.
"Iya sayang, mulai sekarang panggil mas dengan sebutan sayang ya." ucap Drag membuat Vera malu. Kini pipinya sudah memerah seperti buah cery setengah matang. "Ayo ucapkan lagi sama suamimu ini, mas mau dengar," perintah Drag lagi-lagi membuat Vera malu.
"Malu ah Mas," ucapnya memalingkan wajah dari Drag.
"Sayang, kamu tau tidak, jika membuat suami senang maka Allah akan memberikan pahala yang besar. Bukan hanya pahala, Allah akan membuat hubungan kita semakin erat. Bagaimana? masih mau membuat suamimu ini tidak senang?" ceramah Drag membuat Vera menggeleng sedih. "Makanya itu harus nurut sama Mas." ucapnya lagi menasehati istri nakal nya yang sedikit polos itu.
"Begitu dong sayang, lagian ngapain malu sama suami sendiri." ucap Drag sangat lembut membuat beberapa wanita yang sendari tadi memperhatikan mereka merasa iri melihat Vera yang mendapat suami baik nan romantis seperti Drag.
"Iya Sayang, maaf ya," ucap Vera dengan nada lembutnya.
"Tak apa sayang," balas Drag dengan senyuman sembari menggenggam lembut lengan Vera.
"Oya sayang, bagaimana dengan judul novel tadi, menurut sayang apa yang bagus untuk kisah mereka?" tanya Vera kembali ke topik awal. "Mengejar cinta sih culun." ucap Vera membuat Drag tersenyum simpul dengan tangan mengelus rambut Vera.
"Tidak boleh begitu sayang, biasakan menghargai dan menjaga perasaan seseorang, mungkin menurut kita itu hanya sebuah candaan saja, tetapi tidak dengan hati seseorang. Mungkin orang itu terlihat biasa saja dengan candaan kita tetapi tanpa kita sadari dia merasa terdzolimi sehingga mengadu pada Allah. Doa orang yang terdzolimi bagaikan anak panah yang tak pernah meleset. Doanya terkabul karena tak ada hijab (penghalang) di antara dia dan Allah. Maka berhati-hatilah," ucap Drag mulai mengeluarkan kata-kata mutiara nya.
"Baik sayang," ucap nya meminta maaf dengan hati yang tersentuh dengan nasehat Drag. "Terus apa dong sayang judul yang cocok untuk mereka?" tanya nya menatap sendu ke arah Drag.
"Hm," Drag mulai berfikir dengan mata yang melirik ke bawah. "My beauty wife?" ucap Drag yang langsung di setujui oleh Vera. "Bagus juga." ucapnya mengangguk pelan.
Kembali ke Vino dan Lili, saat ini mereka masih fokus menikmati makanan dengan mata yang melirik satu sama lain secara sembunyi-sembunyi. Mereka berdua sadar jika saling mencuri pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Hm," dehem Vino yang sudah menyelesaikan makannya. Kini pria datar nan arogan itu menikmati jus dingin di depannya. Dengan berani dan tanpa malu-malu, Vino menatap wajah culun Lili dengan senyum menyeringai.
Kenapa dia terus menatap ku seperti itu? apa dia naksir denganku? kasihan sekali dia karena bukan tipe ku! batin Lili dengan pede nya. Saat ini hati dan fikiran nya sudah tenang dan tak merasa takut lagi berhadapan dengan Vino.
"Jangan terlalu percaya diri, aku tak menyukaimu!" ucapnya ketus dengan aura dinginnya.
Kenapa dia bisa mengetahui isi hatiku? apa dia jelmaan makhluk halus? batinnya mulai memeluk dirinya sendiri.
"Hilangkan fikiran kotor mu itu, jangankan menyentuh mu, selera saja tidak!" ucap Vino to the point membuat hati wanita di depannya bagaikan di tusuk ribuan jarum. Vino salah sangka dengan respon Lili, ia mengira gadis itu berfikiran aneh tentangnya.
"Percaya diri sekali anda, maaf ya tuan wajah datar melebih triplek! secantik-cantik nya saya, saya nggak selera dengan pria seperti anda, bisa di bilang,,,anda bukan tipe saya!" balasnya tak terima dengan mata yang menatap nyalang mata Vino.
"Mas." panggil Vino pada salah satu pelayan pria yang baru selesai mengantar minuman pada pengunjung lain. Pria itu menoleh ke asal suara lalu segera melangkahkan kakinya mendekati meja Vino.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya sangat sopa dan ramah.
"Bisa berikan aku mangkuk atau plastik hitam, rasanya aku ingin muntah mendengar ucapan yang keluar dari mulut sih culun ini." ucapnya membuat pelayan pria itu ingin tertawa tetapi di tahan. Hal itu membuat pipi Lili memerah menahan marah. Dengan sangat kesal, Lili meminum jus dingin yang terdapat es batu. Ia menggigit es batu itu hingga menjadi kecil lalu meminum jusnya lagi. Tanpa takut dan ragu, Lili segera menyembuhkan air di mulutnya ke wajah tampan Vino.
"Culun!" bentaknya membuat semua mata menatap ke arah mereka termasuk Drag dan Vera.
"Sayang." panggil Vera dengan wajah panik sembari terus menepuk pundak Drag terus- menerus. Dengan cepat Vera dan Drag menghampiri meja Vino.
"Ada apa Vin?" tanya Drag dengan wajah datarnya.
"Lili," panggil Vera yang sudah berada di samping Lili.
"Maaf Nona," ucapnya dengan kepala yang menunduk takut.
"Lupakan tuan," ucapnya kembali ke mode datar. Ia tak ingin memperpanjang masalah yang terjadi.
"Tak apa Lili, maafkan sikap asisten suamiku itu ya. Dia memang pemarah dan tempramen." ucap Vera membuat Lili hanya mengangguk.
Karena merasa sudah tak ada kepentingan di lestoran itu lagi, Drag, Vera, Vino, maupun Lili segera kembali ke kediamannya masing- masing.
__ADS_1