
Lama banget sih masuknya. gumam Vera kesal.
Vera terus berusaha memasukkan dan menjojolkan kartu miliknya ke dalam mesin atm yang berada di depannya itu.
Vera benar-benar tidak fokus dengan apa yang ia lakukan. Membenarkan tas jauh lebih penting baginya dari pada melihat keadaan di sekitarnya.
"Kok nggak bisa ya..." ucap Vera bingung lalu mengangkat kepalanya perlahan. Dia melihat sebuah benda bulat dan besar di depannya. Hingga pandangan matanya bertemu dengan wajah yang mempunyai perut buncit itu.
"Eh...maaf om..." ucap Vera terkejut ketika mendapatkan seorang pria gendut yang sedang berdiri menyandar di dinding kaca ruangan itu. pria itu diam menatap Vera dengan datar.Vera salah tingkah dan mati kutu di buatnya.
"Hhhh..." terdengar suara tawa kecil dari seorang wanita yang baru saja selesai menarik uang. Rupanya atm yang mau Vera gunakan berada di belakang tubuhnya. Benar- benar ya Vera. Bisa-bisanya dia tidak melihat sekitar nya. Vera yang malu segera meminta maaf dan membalikkan tubuhnya ke depan atm. Dengan menahan malu Vera memasukkan kartunya ke mesin atm dan menariknya.
Untung aja wawak ini nggak marah...Aduhh apes kalilah aku .gumam Vera sembari menunggu uang tunainya keluar.
Gara-gara tikus got sial*n itu tuh. Menyebalkan. gumam nya dengan wajah cemberut. Dia sangat kesal dengan gadis yang menemuinya tadi.
Beberapa menit menunggu, akhirnya uang Vera keluar dari mesin atm. Dia mengambil uang itu dan bergegas pergi. Tak lupa dia mencabut kartunya sebelum pergi.
Vera melangkah cepat menuju mobil grab yang ia tumpanginnya. Dia mengetuk pintu mobil itu. "Tok tok tok."
Supir grab menurutkan kaca mobilnya. Setelah kaca mobil terbuka, Vera dengan cepat memberikan selembar uang merah pada supir grab itu. "Ambil aja kembaliannya wak." ucap Vera ketika melihat supir grab itu mengeluarkan dompetnya. Vera seakan tahu jika tukang grab itu sedang mencari uang kembalian untuknya.
"Eh terima kasih ya mbak. Ini beneran nggak papa kan mbak?" tanya supir grab taak percaya.
"Iya wak nggak papa. Lumayan kan bisa beli bensin." ucap Vera tersenyum devil. Vera seakan mengatakan bahwa tukang grab itu harus mengisih bensin mobilnya agar tidak lemot dan mogok.
Kenapa aku merasa dia seperti mengejek ku ya. Tapi ntah lah...yang penting uangku bertambah. Ahay....hhhhh. Sering-sering ya mbak. Batin supir grab senang.
"Makasih ya mbak..." ucaonya dengan suara yang tiba-tiba saja melemah. Rupanya Vera sudah tak ada di tempatnya.
"Hmm...ntah!" kesal supir grab lalu menghidupkan mesin mobilnya.
Di halaman mall, terlihat Vera berjalan menuju lift.
Tak sampai beberapa menit, Vera sudah sampai di lantai pertama mall itu. Sebelum mencuci mata ke berbagai lantai dan toko, Vera menyempatlan diri untuk membeli es krim kesukaannya.
"Silahkan mbak." Penjual es krim menyerah kan satu es krim pada Vera.
"Makasih mbak." ucap Vera mengambil es krim coklat nya.
Setelah selesai dengan pesanannya, Vera berjalan mengikuti langkah kaki nya sembari menikmati es krim di tangannya.
Belum lama melangkah, tiba-tiba saja ada yang menarik tangannya hingga tubuhnya berbalik dan membentur tubuh kokoh dan keras itu.
"Lancang banget sih!" ucap Vera kesal pada orang yang berani menyentuh dan menariknya.
"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya pria itu dengan aura yang dingin dan mencekam.
Dek
__ADS_1
Vera mengalihkan pandangannya ke orang yang mengeluarlan suara yang tak asing di pendengarannya.
Tamat riwayatmu Vera!
"Eh...suamiku...sama siapa ke sini?" tanya Vera mengalihkan pembicaraan. Dia menyengir kuda ke arah suaminya.
"Kerja kelompok ya...." ucap Drag mengangguk kan kepala pelan di iring senyum menahan amarah.
"Eh..itu..." ucap Vera ingin menjelaskan tetapi tiba-tiba saja tangan Drag membekap mulutnya seakan tak mengizikan Vera untuk berbicara.
"Ini yang kamu lakukan di belakang suami kamu...Dosa tau nggak sih!" ucap Drag dengan tegas ke istri nakalnya itu.
"Ta...tadi memang kerja kelompok kok dengan Lucy..." ucapnya lagi terus mengelak.
"Cukup! jangan berbohong dengan saya Vera..." bisik Drag dengan nada yang menyeramkan. Hal itu membuat bulu kuduk Vera merinding.
Vera hanya dia melihat tatapan imitasi suaminya. Dia merasa sudah tersudut dan tidak bisa mengelak lagi.
"Maaf pak." ucap Vera menundukkan kepalanya.
"Kalau terjadi sesuatu dengan kamu bagaimana? kamu itu perempuan Vera... kamu itu istriku..." ucap Drag dengan lembut dan pelan.
"Apa kamu tau apa yang kamu lakukan ini salah?" tanya Drag ingin mendengar ucapan Vera. Vera tidak menjawab. Dia hanya mengangguk lemah.
"Jangan ulangi ini lagi! kalau kamu begini terus...akan saya pastikan kamu akan menjadi istri pingitan yang tidak bisa keluar rumah lagi kecuali ke rumah orang tua kamu. Paham kamu!" ucap Drag dengan tegas. Susah sekali untuk mengajarkan istrinya yang nakal ini.
"Tap..." ucap Vera terpotong.
"Tidak ada tapi-tapi...mulai sekarang, kamu tidak boleh pergi kemanapun kecuali dengan saya!" ucapnya dengan tegas.
"Ayo pulang." ajak menarik tangan Vera.
"Bentar lagi ya pak...kita jalan-jalan dulu di mall ini." ucap Vera memelas karena dia tidak punya daya lagi untuk menghadapi kemarahan suaminya ini.
"Huh..." Drag membuang nafas dengan kasar melihat tingkah istrinya ini.
"Ayo." Drag memeluk pinggang Vera sembari berjalan bersama.
Akhirnya Drag menuruti keinginan istri nakalnya itu untuk jalan-jalan terlebih dahulu.
"Kenapa di lepas?" tanya Drag memperhatikan pergerakan Vera.
"Nggak usah peluk-peluk pak!" tolak Vera sedikit judes.
"Suka-suka saya! orang istri-istri saya." ucap Drag yang membuat Vera sedikit jengkel. Dragpun kembali memeluk pinggang Vera dengan posesif seakan takut miliknya di ambil orang.
Ngeselin banget sih ini beruang kutub!
"Jangan lihatin saya terus...nanti jatuh cinta!" goda Drag membuat Vera memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Pede banget sih!" ucapnya memberikan tatapan sinis pada Drag.
"Hidup ini harus pede Vera. Kalau tidak pede maka hidupmu menjadi hancur dan hatimu menjadi sedih dan takut. Oh ya, jangan lupakan rasa insecure nya. Kan gawat gara- gara itu seseorang menjadi tertutup dan merasa rendah. Hal hasil berkurung di rumah saja kan!" ucap Drag panjang x lebar. Tumben sekali pria arogant ini mengeluarkan suara yang begitu banyak.
"Hmm..." dehem Vera dengan nada jutek.
Mereka terus melangkahkan kakinya tanpa arah. Hingga kini langkah kaki Vera berhenti di depan sebuah toko barang branded.
Bagus bangettttt. batin Vera melihat sebuah gaun mewah di salah satu toko branded itu.
"Kamu mau?" tanya Drag seakan tahu bahwa istrinya menyukai gaun itu.
"Emang boleh." tanya Vera dengan polosnya.
"Tentu saja." ucap Drag dengan nada datar.
Lempeng banget sih. Senyum napa sesekali...Dasar tidak romantis!
Vera dan Drag berjalan masuk ke toko branded itu. "Selamat datang di toko kami tuan dan nona. Silahkan masuk.." ucap Pramuniaga dengan sopan.
Drag mengikuti langkah Vera yang sedang melihat berbagai pakaian dan barang branded lainnya. "Mbak, boleh lihat baju itu?" ucap Vera dengan tangan yang menunjuk pakaian yang di lihatnya tadi.
"Tentu saja mbak." ucap Pramuniaga kedua. Perempuan itu menatap sekilas Drag dengan tatapan menggoda. Badannya sengaja dia buat sesexy mungkin.
Kecentilan banget sih perempuan ini. Dia kira suamiku mau sama dia. Cih, menjijikan!
Vera menatap sinis ke arah perempuan Pramuniaga dengan tatapan yang tak suka.
"Silahkan mbak." ucap Pramuniaga tersenyum di buat-buat.
"Makasih." ucap Vera memberikan senyum judesnya.
"Sama-sama mbak." ucap Pramuniaga melirik Drag dengan tatapan menggoda.
"Ehem." dehem Vera menetralkan suasana. Drag sangat acuh dengan Pramuniaga. Bahkan pandangannya tidak lepas dari Vera istrinya.
"Boleh di coba nggak mbak?" tanya Vera dengan wajah sedikit jutek.
"Tentu saja boleh mbak. Ruang ganti berada di sebelah sana ya mbak." ucap Pramuniaga menunjuk ruang ganti baju yang berada di pojok toko.
Vera yang tak sabar segera pergi ke ruang ganti tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sepertinya Vera sedang cemburu tetapi ia tak menyadarinya.
Di dalam ruang ganti terlihat Vera sibuk mencoba baju yang ia bawah dengan mulut yang ngedumel tak jelas. Ntah apa yang di ucapi gadis itu. Bibirnya komat-kamit nggak jelas.
Di luar ruang ganti terlihat Drag sedang menunggu istrinya yang sedang berganti pakaian. Drag memilih duduk di sebuah sopa yang sudah di sediakan untuk pengunjung toko itu.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?." ucap Pramuniaga menghampiri Drag yang sedang memainkan handphonenya.
Pramuniaga itu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk menggoda Drag. "Maaf tuan, apa anda membutuhkan sesuatu, kopi atau teh?" ucap Pramuniaga mencoba menggoda dan mencari perhatian Drag.
__ADS_1