
Devan sangat menyayangi dan menghormati kakaknya itu, sehingga dia selalu diam dan tak mau memancing amarah Drag. Terjadi keheningan di meja makan. Hanya suara sendok yang terdengar. Vera yang mengunyah makanannya sesekali memberikan tatapan sinis nya ke arah Devan. Devan yang tak mau kalau pun membalas tatapan sinis Vera.
Acara sarapan pagi telah selesai. Kini Drag dan Vera sudah berada di dalam mobil. "Jangan cemberut terus." ucap nya datar dengan mata yang tetap fokus melihat jalan.
Aku baru ingat, aku kan sedang puasa bicara dengan sih beruang kutub ini. Iss... sempat batal puasaku tadi.
Vera berusaha menahan suaranya agar tak ngedumel seperti biasanya. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela menikmati pemandangan jalan. Menurutnya...melihat perpohonan lebih baik dari pada melihat suaminya.
Beberapa menit di jalan, kini mobil Drag memasuki kawasan kampus. Drag segera memarkirkan mobil miliknya. Setelah terparkir, Vera mengambil tasnya dan segera turun dari mobil. "Salam dulu Vera." ucap Drag menyodorkan tangannya. Dengan cepat Vera mengambil tangan itu lalu menciumnya. Tanpa basa-basi ia Vera segera pergi meninggalkan Drag. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ke kelas.
"Huh." Drag menghela nafas kasar lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju ruangannya.
Di dalam kelas terlihat Grisela dan Glow menatap satu sama lain seakan mengisyaratkan sesuatu. "Ups sorry." ucap Grisela ketika dengan sengaja nya ia mengulur kan kakinya menyandung Vera. Vera yang tak siap pun terjatuh tepat di depan Grisela yang tersenyum sinis kearahnya.
Vera membersihkan tubuhnya lalu segera bangkit. Vera menatap Grisela dengan sengit. "Pagi-pagi jangan cari masalah ya nenek lampir!" bentak Vera menampilkan wajah yang tak bersahabat. Amarahnya di rumah terbawa hingga ke kampus.
"Sudah berani loh ya." bentak Glow sembari mendorong bahu Vera dengan kuat. Dari jauh terlihat Lucy berjalan ke arah Glow. Dengan kasar Lucy menjauhkan tubuh Glow dari Vera.
"Eh-eh... minggir." ucap Lucy menampilkan senyum jenaka nya pada Glow. Lucy diam sejenak lalu mengalihkan matanya menatap Grisela dengan tajam. Grisela dan Glow berhenti dan langsung terdiam ketika Lucy sudah berada di hadapannya.
Aduhh... ninja tomboy ini pakai ikut campur segala lagi. Ngeselin banget sih! awas ya lo Vera! batin Glow melirik tajam ke arah Vera.
"Matanya mbak!" tegur Lucy tersenyum devil di balik cadar nya.
"Ganggu saja ni kurang-kurang ninja!" gumam Grisela pelan tetapi masih bisa di dengar Lucy.
"Kau bilang apa." tanya Lucy dengan gaya menantang nya. Kini tangan Lucy sudah menarik kerah baju Grisela.
"Nggak ada kok. Salah dengar kau Lu." ucap Grisela berdalih. Saat ini dia benar-benar takut berhadapan dengan Lucy.
"H." degus Lucy melepaskan cengkraman nya dengan kasar.
Setelah Lucy melepas cengkraman nya, dengan cepat Grisela merapikan kembali penampilannya.
"Duduk Vera." ucap Lucy dengan datar.
"Minggir!" ucap Lucy dengan nada yang tidak bersahabat. Di kampus itu tidak ada satu orang pun yang berani dengan Lucy di sebabkan keberanian dan penguasaan bela dirinya. Sudah beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi korban Lucy.
Beberapa mahasiswa segera duduk di kursi nya masih-masing ketika melihat Drag akan masuk ke kelasnya. "Selamat pagi. " ucap Drag dengan kaki yang masih melangkah.
Vera, Lucy, Glow dan Grisela langsung duduk di tempatnya masing-masing. Grisela dan Glow duduk dalam keadaan cemberut dan kesal. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa apa ketika Lucy sudah ikut campur ke dalam urusan mereka.
__ADS_1
Pagi ini Drag memulai pelajarannya. Dia menjelaskan pelajaran hari ini dengan sangat detail. Di kursi belakang terlihat, Vera sedang melihat handphonenya yang selalu mengeluarkan notifikasi pesan WhatsApp.
Tumben banget banyak pesan masuk. Kira- kira siapa ya yang mengirim pesan sebanyak ini? batin Vera bingung dengan mata yang masih setia menatap layar handphone miliknya.
"Vera." sentak Drag sangat kuat dari arah depan.
Vera yang mendengar bentakkan itupun terkejut dan refleks mengangkat kepalanya menatap Drag.
"I-iya Pak." ucapnya terbata. Ia sedikit takut melihat wajah garang Drag yang seperti ingin menerkam nya.
"Saya sibuk menjelaskan di depan, kamu pun juga ikut sibuk main handphone di belakang." tegur Drag mengimitasi Vera.
"Ma-maaf Pak." ucap nya terbatas dengan kepala menunduk takut. Ia tak tau harus berbuat apa jika mengalami hal seperti ini. Saat ini Vera menjadi pusat perhatian satu kelas di mata kuliah Drag.
Malu bangettt... batin Vera meremas ujung bajunya.
"Sekarang jelaskan kembali apa yang saya jelaskan tadi." perintah Drag dengan sangat tegas. Para mahasiswa lainnya bergidik ngeri melihat Vera di marahin dosen terkiller di kampus.
Vera yang di minta untuk menjelaskan ulang apa yang di sudah di jelaskan Drag hanya bisa diam membisu. Tangan kiri Vera memegang handphone sedangkan tangan kanannya meremas ujung bajunya dengan keras. "Cepat vera!" ucap Drag menggelegar di ruangan itu. Lucy menatap datar ke arah Vera, sedangkan Grisela dan Glow tersenyum senang melihat itu.
"Maaf Pak." dua kata yang keluar dari mulut Vera membuat Drag semakin marah. Mata tajam Drag tak lepas melihat gadis nakal itu.
Vera masih diam di tempatnya tanpa berfikir untuk keluar. Jangankan keluar, bergerak pun ia takut.
"Keluar saya bilang!" teriak Drag membuat Vera terkejut. Para mahasiswa lain tidak ada yang membantu Vera. Mereka juga ikut takut dengan kemarahan dosen killer itu.
"Baik Pak." ucap Vera dengan nada pelan lalu segera mengambil tasnya dan keluar dari kelas itu.
Drag dan mahasiswa lain nya melihat kepergian Vera. Terlihat glow dan grisela tersenyum senang dan puas melihat penderita Vera.
Hhhhh... rasain lo! batin Grisela puas dengan mata yang terus menatap kepergian Vera.
"Kasihan bangettt ya... rasain tu!" sindir Glow ketika Vera melewati kursinya.
"Is..." Ingin sekali rasanya Vera mencakar wajah mengesalkan Glow.
"Hahaha..." Grisela dan Glow tertawa bersamaan dengan nada yang sedikit pelan.
"Grisela, glow!" tegur Drag pada kedua gadis centil itu. Grisela dan glow langsung terdiam ketika Drag menegur mereka.
***
__ADS_1
"Ah malas banget aku" gumam Vera terus melangkahkan kakinya tanpa arah.
"Dasar suami ngeselin, nggak punya perasaan, dingin kayak es, datar kayak tembok, galak kayak badak. Orang nggak ada salah langsung di seruduk. Itulah banteng!" umpat Vera mengata-ngatai Drag.
Setelah cukup lama berjalan, Vera pun tiba di dalam kantin. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di salah satu meja sembari menatap ibu kantin. "Buk, es dingin dan bakso satu ya." teriak Vera pada ibu kantin.
"Siap mbak Vera." ucap Ibu kantin dengan bibir tersenyum dan jempol yang terangkat.
"Ih." decit Vera masih kesal dengan kelakuan suami galak nya itu.
"Tring." terdengar dering telepon dari handphone milik Vera.
"Mama." gumam Vera senang, matanya berbinar ketika melihat nama yang tertera di handphone miliknya. Vera yang rindu dengan mamanya segera menggeser tombol hijau di layar handphone nya.
"Assalamu'alaikum mamaku sayang..." ucap Vera terlihat senang dan gembira. Wajah suramnya kini berubah terang mengalahkan sinar mentari.
"Wa'alaikumussalam sayangnya mama." ucap Sela dari ujung telepon. "Sayang kamu bisa kan ke sini." tanya Sela berharap Vera bisa menemui nya.
"Memang kenapa ma?" tanya Vera ingin tau.
"Memang nya harus ada alasan ya kalau mama ingin bertemu anak mama sendiri?" ucap Sela dengan nada sedih.
"Eh bukan begitu ma." bantah Vera pelan.
"Terus apa namanya?" tanya Sela berpura- pura ngambek.
"Maaf ya mamaku sayang, ya uda deh,Vera ke sana ya.' ucap Vera mengiyakan ucapan bidadari tuanya.
"Ya sudah sayang. Kamu jangan lupa dandan yang cantik ya." ucap Sela dari ujung sana.
"Kenapa harus make-up ma?" tanya Vera mengerutkan dahinya. Ia bingung, tak biasanya mamanya menyuruhnya untuk berdandan.
"Malam ini kita ada acara kumpul kumpul dengan keluarga suamimu nak. Makanya mama suruh kamu ke mari." ucap Sela menjelaskan.
"Baiklah ma." Vera menyetujui keinginan mamanya dengan tubuh yang lunglai.
"Jangan lupa izin sama suami mu ya sayang. kalau nggak di izinin jangan pergi ya. Ya sudah mama matikan dulu teleponnya. Wassalammualaikum sayang... jangan lupa sarapan." ucap Sela penuh perhatian. Vera yang mendapat perhatian kecil itu tersenyum manis mengingat wajah bidadari tuanya.
"Iya mamaku sayang. Wa'alaikumussalam." ucap nya lalu memutuskan sambungan telepon nya.
Tumben sekali ada acara. Ntah lah, nanti aku fikirkan itu, yang penting sekarang aku makan! titik nggak pakai koma. batin Vera sembari melirik pesanan yang sudah datang.
__ADS_1